Jangan Panggil Saya “Ukhti”


PROLOG

just call me Nisa :)

just call me Nisa :)

Sungguh, jangan panggil saya “ukhti” atau memberi saya sebutan “akhwat”. Walau saya mengerti bahwa itu hanyalah kata bahasa arab biasa, yang berarti wanita atau pria. Tapi kini panggilan itu mengalami generalisasi makna menjadi aktivis dakwah. Ah, terlalu berat sebutan itu untuk saya sandang. Saya merasa masih terlalu hijau, merasa belum melakukan apa-apa, dan masih banyak dosa.Belum terlalu pantas untuk dicontoh. Ah, dakwah. Kata yang begitu indah. Begitu luas. Begitu suci.

Bukankah dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas pengajian, keputrian, dan hal-hal lain sejenis itu yang hanya melibatkan sekelompok /komunitas tertentu yang menganggap dirinya eksklusif dan paling benar?

Sebenarnya, akhwat atau pun ikhwan, hanyalah kata bahasa arab biasa. Yang berarti wanita atau pria.

Apakah justru kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar?

Apakah justru, kata itulah yang telah mempersulit dakwah?

Apakah justru, kata itulah yang membuat dikotomi sesama umat Islam?

Apakah justru dengan kata-kata itu sudah terjadi pembedaan?

Apakah justru, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat?


…………………………………………………………………………………………..

Saya lahir di keluarga dengan basic agama yang cukup kental. Abah, ayah saya, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren. Orangtua saya pun membesarkan saya dengan bekal agama yang tidak sedikit, walau saya bersekolah di sekolah umum. Saya tetap mengikuti TPA di dekat rumah, kajian-kajian Islam, hingga masuk ke dalam organisasi remaja masjid sejak SMP. Walaupun masa kecil saya bisa dibilang cukup tomboy dengan hobi basket dan main musik, tapi saya tidak melupakan kodrat saya. Saya berjilbab sejak berumur 13 tahun dan alhamdulillah konsisten hingga saat ini. Sejak berjilbab pun aktivitas saya justru makin luas, bahkan bisa ikut lomba tilawah, hadrah, samroh, dan pramuka. Organisasi sekolah seperti OSIS, teater, dan KIR juga saya ikuti.

Termasuk organisasi “para akhwat dan ikhwan”, yang sebenarnya orangtua saya tidak terlalu setuju saya mengikuti organisasi itu karena mengkhawatirkan saya mungkin akan menjadi “ekstrim”. Saya menceritakan bagian ini sebagai pendahuluan agar anda tidak menganggap saya mengarang cerita,  karena dulu saya benar-benar pernah masuk ke dalam komunitas-komunitas tersebut.

Hingga akhirnya saya menyadari suatu hal. Banyak hal. Bahkan kurang pantas untuk disebutkan disini. Saat itu saya merasa bahwa bukan visi-misi organisasinya yang salah, tapi hanya “oknum”nya yang kurang bisa menempatkan diri. Ya, karakter tiap orang memang beragam, tapi saya mengamati karakter dominan dari para akhwat dan ikhwan ini adalah : merasa paling benar dan paling tahu tentang urusan agama.

Ya, saya merasa ada atmosfer kesombongan di dalam diri mereka. Menyombongkan keimanan. Merasa bangga saat dipanggil “akhi” atau “ukhti”, bahkan membanding-bandingkan ilmu agamanya dengan orang-orang lain. Saya  ingat cerita seorang teman yang disebut “akhi”:

—-“Banyak akhwat yang aku kenal. Dulu saat aku masih senang dengan cara jahiliah, yaitu mengetes akhwat. Banyak akhwat yang sering aku telepon. Dan banyak juga, akhwat yang dengan nada santai tetapi benar-benar menghanyutkan. Bicaranya santun, tetapi topik pembicaraannya tidak pantas untuk dibicarakan oleh seorang akhwat apalagi kader dakwah. Ada lagi seorang akhwat yang tergesa-gesa menjelaskan sesuatu masalah, lebih-lebih lagi si akhwat memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling beriman. Ada juga akhwat yang menjelaskan agama Islam, tetapi si akhwat menjelaskannya layaknya seorang marketing. Sungguh memang benar-benar lucu. Dan kadang pula menjengkelkan dengan para akhwat yang sok suci dan sok yang paling tahu itu.”—

Olala…. Miris mendengarnya, tapi ingin tertawa juga. Tidak menyangka pandangan para “akhi” itu masih begitu remehnya. Padahal mengakunya sebagai muslim sejati. Mengetes akhwat? Seorang muslim sejati tidak akan memposisikan dia sebagai orang yang paling pintar dan beriman, seorang muslim sejati tidak akan memberi sebuah penjelasan layaknya seorang marketing produk. Hihihi…, mengajak orang dengan “paksaan tak kentara” itu namanya. Padahal Islam adalah agama perbuatan, maka perbuatanlah yang akan mencontohkan muslim yang baik atau muslim yang buruk. Ya, perbuatan atau sikap, dan sikap adalah sesuatu yang tidak bisa ditutupi dengan kalimat-kalimat manis berkedok cerita-cerita religius. Cerita-cerita seperti itupun sudah bisa dihafal oleh adek-adek yang masih TK, tapi sikap dewasa dan bijak akan langsung terlihat tanpa perlu membahanakan kereligiusan seseorang kan?

Ah, saya mulai jengah berada dalam komunitas seperti itu. Kukira saya akan mendapatkan ketenangan batin dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti itu. Tapi sepertinya saya tidak nyaman dengan sikap sok eksklusif dan merasa paling benar itu. Seolah-olah tidak terjamah dosa. Dan melihat orang diluar komunitasnya adalah orang-orang “kafir” yang perlu diluruskan.

Hai, bagaimana mungkin menilai muslim lain sebagai “orang tidak beriman” hanya karena rambut bercat merah? Atau merasa dirinya lebih beriman hanya karena jilbabnya lebih lebar? Atau merasa dirinya lebih beriman hanya karena celananya lebih pendek dan jenggotnya lebih panjang?

Yang saya pahami, manusia tidak sedikitpun berhak menilai kadar keimanan.

Bukankah kadar keimanan adalah RAHASIA yang hanya bisa dinilai oleh Allah? Manusia terlalu kecil dan bodoh untuk menilai kadar keimanan-keimanan orang lain. Bahkan merasa bangga dengan kadar keimanan yang dimilikinya.

Kejadian-kejadian itu tidak hanya saya  temui saat berada di sekolah menengah saja, bahkan di lingkungan kampus pun demikian. Saya tidak akan menyebutkan organisasi apa, dengan penampilan seperti apa,…tapi saya tidak menyukai sikap sok eksklusif itu.

Jangan panggil saya “ukhti” atau memberi sebutan “akhwat”. Bukan karena saya tidak senang dipanggil dengan bahasa arab atau sebutan yang mencerminkan keislaman. Sungguh, bukan seperti itu.

Saya hanya takut sombong.

Saya takut sombong.

Saya takut sombong.

Jadi untuk siapapun yang biasanya memanggil saya “ukhti”, mohon hentikan.

Sejak dulu, saya memegang wujud “kadar keimanan” dalam dua hal : hablum minallah dan hablum minannas. Keduanya jelas saling berkaitan dan saling mendukung. Tapi bentuk dukungannya jelas bukan dengan membawa-bawa hubungan dengan Tuhan dalam hubungan dengan sesama manusia sehari-hari, alias pamer ibadah, hehehe…, bahkan membicarakan pahala-pahalanya dengan orang lain. Semua orang yang mendengarkan justru akan menertawakan dalam hati. Wallahu ‘alam.

Jangan panggil saya “ukhti”, cukup dengan nama saja.  Bukankah nama Annisa’ sudah cukup menunjukkan kebanggaan saya dengan nama terindah yang diberikan oleh keluarga tercinta yang mengenalkan saya pada Islam sejak saya lahir? Ya, jangan panggil saya “ukhti”, kecuali kita sedang sama-sama berada di Arab, hehe…

Saya manusia biasa, sama seperti anda, sama seperti mereka. Saya mungkin tidak lebih beriman daripada anda, tapi saya akan berusaha menjadi manusia baik dan bermanfaat untuk Islam.

Saya mungkin tidak memiliki pengetahuan seluas anda, tapi saya akan berusaha dan belajar untuk bisa tahu banyak hal.

Saya tidak akan segan mengatakan pada anda,”saya mungkin salah, mohon koreksi”, “ajari saya”, ataupun “beritahu saya”, karena saya manusia biasa, sangat biasa, bukan komunitas eksklusif  manapun. Dan saya sepenuhnya menyerahkan penilaian keimanan saya kepada Allah, bukan kepada siapapun yang menilai kadar keimanan seseorang hanya dari penampilan luar.

Karena saya manusia biasa yang sama sekali tidak eksklusif,sama seperti anda, dan masih harus banyak belajar. Jadi panggil saya “Annisa”, cukup itu saja.

*repost from my another blog

,

  1. #1 by Denuzz Heruwanda on June 28, 2010 - 8:23 pm

    Subhanallah gua setuju banget dengan tulisan mabk di atas. Tulisan yang sangat realistis. Tanpa ada kesalahan sedikitpun, setidaknya menurut pandangan gua nih.

    Semua fenomena itu benar. Apalagi di kehidupan kampus dewasa ini. Kita melihat banyak sekali oknum yang “bangga” dengan panggilan “ukhti,akhi,ane,antum, dsb”. Hampir di semua kampus di negeri ini terdapat komunitas seperti ini.

    gua setuju pula tuh kalo kata2 sejenis itu udah mengalami generalisasi habis2an. Aktivis dakwah! semua tugas yang benar-benar suci. sepengalaman gua banyak banget gua temui mereka yang udah berani bilang kalo diri mereka aktivis dakwah kampus. Tapi ilmu agama mereka masih blank! masih mendingan gua. ini bukan dalam artian gua sombong. emank begitu. gua tau di kampus gua di cap orang urakan yang pantas mereka jauhi. tapi selama hidup gua nggak pernah jauh dari agama. cuma jalannya aja yang beda dengan mereka.

    gua mau sedikit cerita. di kampus gua di palembang. para “aktivis dakwah kampus” ini gencar banget mengejar kursi-kursi penting kampus, presiden mahasiswa, gubernur, himpunan, badan otonom, dll. mereka beralasan untuk mempermudah jalan dakwah. nah parahnya lagi jalan mereka itu semua KOTOR. mereka berpolitik yang nggak cantik. gua berani bilang gitu karena gua pernah terjun langsung sebagai calon presiden mahasiswa melawan calon mereka. mereka banyak melanggar konstitusi kampus.
    bayangkan darimana mahasiswa rantau itu dapat banyak dana kampanye. sekarang di kampus gua para akltivis itu lekat banget dengan satu organisasi, nggak perlu gua sebutin, dan organisasi itu bisa dikatakan anak dari sebuah partai politik. itu yang gua nggak suka! jelas2 dengan media MUSHOLA mereka mengadakan kampanye parpol!

    mereka terkesan sombong dan menganggap diri mereka yang paling benar dalam segala hal kehidupan di kampus. paling suci. padahal, maaf, rata2 nilai kuliah mereka jelek!!!!

    parahnya lagi gua pernah melihat dengan mata kepala langsung aktivis kampus yang “suci” itu jalan di mall dengan berpegangan tangan dan pelukan. itukah islam yang sebenarnya???

    mbak, saya mohon ijin copy tulisan mbak buat referensi dan diberikan kepada beberapa sahabat….

    visit

  2. #2 by soikhurojib on June 29, 2010 - 10:10 am

    siiip….menurut saya panggilan akhi dan ukhti biasanya muncul karena didorong oleh rasa persaudaraan seiman dan seislam. Diharapkan dengan panggilan ini akan dapat terjalin rasa persaudaraan yang lebih erat sebagai sesama Muslim. walaupun saya bukan aktivis dakwah kampus namun saya kira menunjukan keislaman di dalam kehidupan se-hari-hari bukankah suatu yang baik? :) Contoh penyebutan ‘astaghfirullah’ kan jauh lebih enak didengarnya daripada ‘busyet’…(he he bukan sok ya) Jadi ngga ada salahnya kalau sedikit2 kita belajar dan membiasakan diri berbahasa Arab. saya kira panggilan tidak menjadi masalah yang jadi permasalahan adalah sikap mereka yang “sok eksklusif dan merasa paling benar” itu lho yang perlu di ubah ….he he he salam kompak prend…..

  3. #3 by kaqfa on July 1, 2010 - 10:55 am

    Ummmm,
    saya sependapat dengan anda,
    Saya cuma mo sedikit nulis hanya untuk memperjelas bagi orang2 yang mungkin bisa salah paham dengan tulisan ini.
    Yap, sebenarnya kita (aslinya) bukan orang yang antipati dengan panggilan “akhi”, “ukhti”, “antum”, dll. Hanya saja setelah lama berinteraksi dengan temen2 di organisasi seperti yang diceritakan mbak nisa (saya menyebutnya “minhum”), saya jadi agak gimana kalo denger kata2 seperti itu. Pasalnya sebutan itu seolah2 adalah kasta manusia beragama, kalo yang tergabung dalam golongan mereka (yang mereka rasa paling benar) berhak dipanggil dengan sebutan tersebut, sedangkan orang di luar itu sepertinya tidak perlu mendapat panggilan seperti itu. Bahkan pernah diceritain temen ada minhum yang bilang “orang itu dulunya akhwat sekarang udah nggak”, hey what’s going on? Yah mungkin secara sadar mereka tidak bermaksud seperti itu, tapi bagaimanapun juga kesan itulah yang akhirnya saya tangkap.
    Saya juga sering berinteraksi dengan orang2 keturunan arab yang lebih sering menggunakan istilah2 bahasa arab seperti itu, tapi saya merasa nyaman, karena mereka nggak menggunakan panggilan itu untuk membanggakan diri, tapi memang karena kebiasaan mereka. Tidak pula ada maksud untuk bersikap eksklusif.

    Makasih kepada mbak Annisa yang secara nggak sengaja udah ikut ngeluarin uneg2 saya di blognya. Semoga mbak bukan hanya menjadi Annisa biasa namun juga bisa menjadi Anisah (wanitas yang menetramkan hari)

  4. #4 by deny prabowo on July 21, 2010 - 10:55 am

    saya sangat setuju dengan pendapat anda.Ibarat ilmu padi,jika seseorang semakin berisi maka dia akan semakin merunduk.Begitu juga dengan tingkat keimanan kita sebagai seorang hamba Allah SWT.Semakin kita beriman maka sudah sepantasnya kita merunduk,karena sesungguhnya agama bukanlah sesuatu yang pantas untuk dipertontonkan dimuka umum sebab bisa menimbulkan prasangka sok suci dan dikotomi dalam Islam,urusan Agamaku hanya Allah SWT dan diriku sendiri yang tau.Kalaupun memang niatnya ingin memanggil dengan sebutan ukhti,akhi,ane,antum maka sebaiknya menggunakan panggilan itu untuk memanggil semua hamba Allah SWT,bukan memanggilnya untuk orang tertentu (dalam organisasi) saja.Bukankah kita dihadapan Allah SWT semuanya sama.Ilmu Agama Islam dengan ilmu sosial memang harus disinkronkan secara bijaksana,bukan secara ekstrimisme.Tetapi memang itulah kekuasaan Allah SWT didalam Al-Qur’an yang menerangkan bahwa umat Islam nantinya pasti akan hancur bukan karena umat lain,melainkan karena umat Islam itu sendiri dimana didalamnya akan terjadi perbedaan pandangan sehingga menimbulkan gesekan yang mengakibatkan perpecahan.Subhanallah…..

  5. #5 by Syamsul on August 17, 2010 - 11:30 pm

    Assalamualaikum,
    Tulisan yang menarik,
    menurut sederhana saya, panggilan2 tersebut sebenarnya bukanlah membuat kasta dalam agama, justru panggilan2 seperti itu hanyalah sebuah ekspresi kebanggaan akan islam itu sendiri… kalau ada yang merasa risih dengan panggilan seperti itu wajar saja kok, karena gag biasa… saya ambil contoh saja dengan kata “antum” klo dalam kaidah bahasa memanggil seseorang dengan kata antum, merupakan penghormatan yang tinggi terhadap orang tersebut… hanya saja banyak diantara kita yang mungkin kurang mengerti…

    yang perlu kita garis bawahi, mungkin adalah penempatan dalam menggukan kata-kata seperti itu saja yang mesti tepat sasaran, karena gag semua orang suka/paham…. jadi menurut saya pribadi sah-sah saja penggunaan kata-kata itu, hanya saja ketika penggunaan itu tidak ditempatnya maka ini yang perlu diperhatikan… karena “pola hidup islam telah jauh ditinggalkan, makanya segala macam pola hidup islam yang muncul dihari ini akan terlihat asing”

    da’wah penting tapi usaha atas da’wah itu agar tetap berlangsung jauh lebih penting
    waallahualam…

  6. #6 by Abe on September 30, 2010 - 12:41 am

    comment nya panjang2… ~.~

  7. #7 by ave on October 26, 2010 - 12:03 am

    siiipp notenya mbak,, izin copas yaaahh

  8. #8 by Liena on July 3, 2012 - 10:19 am

    subhanallah ..:)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 multiplied by 8?