Pergaulan Bebas Itu Menyengsarakan

Postingan kali ini penulis mencoba untuk sedikit berbagi tentang bagaimana menyikapi pergaulan bebas yang ada disekitar kita. Penulis kerap kali melihat pasangan muda-mudi yang melampaui batas kewajaran dalam menjalani hubungan. Data yang penulis ambil ini berdasarkan pengamatan tidak langsung dan sharing dengan teman, boleh dibilang data semi primer. Penulis berada di sebuah kota yang ada di Jawa Tengah, dari hasil pengamatan ini penulis beranggapan akan sangat berbeda bahkan jauh di atas penemuan yang ada di kota tempat penulis berada. Pada dasarnya penulis ingin mencoba membukakan mata hati, khususnya bagi para kawula muda dan pembaca tentunya. Dasar yang penulis pakai juga berdasarkan pengalaman pribadi yang mungkin cukup suram dan melenceng dari hakikat norma yang ada. Dengan alasan untuk kebaikan dan perubahan gaya hidup di kalangan muda maka penulis berniat membagikan tulisan ini kepada pembaca sekalian.

Hal yang Biasa
Beberapa kali penulis kerap menemukan pasangan muda-mudi yang berjalan, berkumpul bersama ke suatu tempat. Jika boleh dibilang ada suatu tempat khusus yang memang digunakan untuk melepas kangen atau melepas penat selama sepekan menjalani aktivitas. Di tempat seperti ini memang kerap kali dijadikan ajang kumpul dengan teman dan pacar untuk saling berbagi, bercerita atau sekedar senang-senang. Pusat kota, taman-taman kota sering dijadikan tempat spesial untuk berkumpul bersama.

Penulis yang sekarang masih berkuliah dan menginjak semester akhir cukup memiliki gambaran tentang pergaulan bebas yang terjadi di kota tempat penulis berada. Penulis mengambil satu obyek sasaran di dunia perkuliahan, memang obyek ini lebih umum dan sering terlihat pergaulan yang sangat bebas. Dari sini penulis juga sedikit menyebar ke anak-anak sekolahan, yang ada disekitaran kampus tempat penulis belajar.

Gaya pacaran masa sekarang ini cenderung lebih hiperaktif dan sekedar mengikuti trend. Penulis menyatakan demikian karena kerap kali mendengar dan menemukan perbincangan yang serupa. Pacaran hanya digunakan untuk sekedar life style dan mengumbar nafsu belaka. Penulis berani mengatakan demikian karena melakukan pengamatan secara tidak langsung terhadap obyek yang diambil. Banyak teman-teman penulis sendiri yang mengatakan demikian, “pacaran itu dibuat have fun aja, jangan diambil pusing toh juga kita bisa mendapatkan suatu hal yang nikmat…”, kalimat yang terlontar dari teman penulis. Di luar sana khususnya disiplin ilmu psikologi mungkin telah banyak melakukan penelitian serupa dengan data lapangan. Di sini penulis menyatakan apa yang dialami, melihat disekitar dan penulis beranggapan diluar sana juga tidak jauh berbeda.

Beberapa kalangan muda bilang melakukan ciuman dan free sex itu adalah hal yang biasa. Bagi sebagian orang mungkin sependapat, ada yang mengatakan ini adalah ungkapan kasih sayang kepada seseorang yang dicintai. Hal yang penulis tidak habis pikir adalah saat melihat ada pasangan muda yang sedang berciuman di tempat umum. Kondisinya memang dimalam hari yang mungkin tidak terlalu terlihat dengan jelas oleh sebagian orang. Sikap seperti ini kerap kali dianggap hal yang biasa dan sempat penulis bertanya pada seorang teman,”…itu sudah menjadi kebutuhan…”, jawaban dari teman. Mungkin ini memang benar adanya, penulis juga tidak munafik akan hal seperti ini. Keadaan seperti ini memang kerap kali dijadikan alasan yang kuat untuk pembuktian akan rasa kasih sayang.

Beberapa kali penulis juga mendengar dari obrolan teman tentang pergaulan yang ada dikalangan kampus. Memang tidak dipungkiri dunia kampus itu dunia yang sangat berbahaya, ada surga dan neraka. Banyak artikel dewasa yang kerap kali melakukan posting tentang cerita cinta dikampus. Penulis sendiri kurang yakin dengan postingan tersebut, namun jika ditelusuri kejadian seperti itu memang kerap ada. Bagi penulis dunia kampus atau dunia mahasiswa adalah suatu tempat yang sangat berharga. Satu sisi dapat untuk menimba ilmu, pengalaman, kerja dalam arti yang “positif”, namun di sisi lain banyak yang memanfaatkan kampus sebagai ajang pergaulan bebas yang berujung pada free sex.

Penulis sendiri memang belum melihat secara langsung mahasiswa yang melakukan free sex, namun dari perbincangan teman penulis pikir ini memang benar adanya. Ada sindikat penawaran tentang “ayam kampus”, bahkan “ayam SMA dan SMP” juga kerap kali penulis dengar saat ngobrol-ngobrol di cafe. Hal seperti ini mungkin memang sudah biasa di kalangan mahasiswa dan mungkin wajar adanya. Namun penulis yang hampir terjebak di “dunia jahat” seperti ini menemukan suatu hal yang dapat berdampak buruk bagi sikap mental dan intelektual mahasiswa.

Peredaran film-film panas juga marak beredar, kalau hal seperti ini penulis pikir di lingkungan anak-anak sekolah juga kerap kali tersebar. Semakin berkembangnya teknologi informasi yang sangat cepat maka pertukaran data atau untuk mendapatkan film-film seperti ini sangatlah mudah. Di masa sekolah penulis masih ingat perkataan dari seorang guru yang menyatakan, teknologi informasi itu bisa menjadikan pengguna semakin pintar dan bijak namun bisa juga menjadikan pengguna semakin murka dan khilaf. Penulis berfikir ini memang benar adanya, pasalnya penulis sendiri pernah terjerumus didalamnya.

Efek Buruk
Sesuatu hal itu pasti ada positif dan negatifnya, dari semua tulisan diatas memang tidak secara keseluruhan yang ada dilapangan. Bisa jadi lebih parah atau tidak separah yang tertulis diatas, namun sebenarnya penulis ingin membukakan mata hati para pemuda di negeri ini. Penulis berani untuk mengatakan demikian karena dari pengalaman pribadi penulis yang telah sadar bahwa apa yang dilakukan dahulu itu salah dan berakibat buruk bagi penulis sendiri dan orang lain tentunya.

Banyak teman-teman penulis beranggapan jika pacaran belum ciuman, belum “grepe-grepe”, belum ML, bukan pacaran namanya. Sebenarnya penulis juga bingung tentang definisi atau arti kata pacaran ini, apakah memang seperti itu atau definisinya telah disalah artikan karena arus globalisasi. Jika mengunduh ke bagian negara kita, Indonesia adalah negara timur yang dari kesemuanya menganut tradisi timur dimana menghargai nilai-nilai kesopanan dan tata-krama yang ada di masyarakat. Penulis berfikir apa memang tradisi timur itu adalah seperti ini yang mungkin mirip tradisi di barat yang menganggapnya biasa.

Sepertinya ini adalah akibat dari arus globalisasi yang yang cepat masuk ke negeri ini. Semakin mudah mendapatkan informasi lewat internet dan jika tanpa batasan serta tempengan iman yang kuat maka bisa jadi tradisi orang timur sedikit demi sedikit akan bergeser dan mengikuti kebiasaan orang barat. Penulis juga tidak bisa memprediksikan akan hipotesa ini, namun pada dasarnya saat ini sedang proses menuju ke sana. Ironis memang jika setiap pemuda mempunyai anggapan pacaran seperti itu dan semuanya tanpa memperdulikan norma-norma yang ada.

Dari pengalaman penulis sendiri hal kecil seperti menonton film biru akan berakibat buruk bagi kebiasaan bahkan minat belajar anak-anak muda. Kondisi dilapangan menyatakan bahwa menonton seperti ini merupakan pembelajaran untuk masa depan. Dulu penulis juga sempat terjebak dari paradigma ini, namun setelah mengetahui efek yang sangat buruk maka penulis mulai sedikit demi sedikit hengkang dari aktivitas ini. Penulis menyadari akibat dari aktivitas negatif ini dapat mengakibatkan tingkat konsentrasi belajar menjadi menurun. Secara konkrit pernah dalam satu semester nilai indeks prestasi mengalami penurunan. Bukan hanya dari indeks prestasi, ini bisa berdampak pada tingkat pemahaman akan suatu hal. Saat kita sedang mengobrol dengan teman, berdiskusi akan suatu hal maka otak tidak bisa menerima dengan sempurna karena dikepala adanya hanya film..film..dan film. Oleh karena itu penulis mulai menyadari akan suatu hal bahwa imbas dari menonton film biru bisa berakibat buruk bagi konsentrasi dan pemahaman akan suatu hal.
Dari bersosialisasi dimasyarakat hal ini juga bisa menimbulkan dampak yang sangat buruk. Biasanya orang yang sudah kecanduan terjerumus ke hal-hal yang negatif maka cenderung terlihat menyendiri, saat bergabung dengan teman-teman untuk mengobrol maka daya serap otak menjadi berkurang dan terkesan tidak nyambung. Jika membicarakan hal yang negatif maka otaknya akan merespon dan raut muka terlihat penuh semangat dengan nada yang menggebu-gebu. Dari sedikit penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan statistik, penulis mencoba memberikan gambaran tentang efek negatif yang didapat dari hal yang dianggap biasa tadi.

Untuk Generasi Penerus
Penulis menyatakan hal ini semua lewat sebuah tulisan yang diharapkan menjadikan suatu pengalaman positif sebelum terlalu jauh melangkah. Pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Tuhan itu adalah makhluk yang sempurna dan yang membedakan dari makhluk yang lain adalah manusia memiliki akal pikiran. Nikmat yang diberikan Tuhan berupa pikiran, otak yang sangat bagus dan cerdas jangan sampai disia-siakan untuk kegiatan yang tidak berguna dan terkesan semu belaka. Kemampuan otak yang sangat luar biasa ini baiknya digunakan untuk hal-hal yang positif, jika saja semua pemuda di Indonesia berpegah teguh pada tradisi timur, norma-norma agama, masyarakat serta bimbingan dan pergaulan yang benar maka ada kemungkinan akan tercetak generasi penerus bangsa Indonesia yang sangat luar biasa.
Penulis yang hanya bercerita tanpa sejumlah bukti yang dapat ditampilkan disini hanya berharap akan adanya perubahan. Singkirkan globalisasi barat yang buruk, ambil yang positif dan berguna serta tetap menjaga apa yang ada di bumi pertiwi Indonesia ini. Penulis yang juga mengaku sebagai generasi penerus Indonesia juga berusaha melakukan perubahan dari pergaulan yang salah ke yang benar. Semuanya belum terlambat, selagi bisa dan selagi mampu untuk membuat perubahan maka segeralah. Teman-temanku, saudara-saudaraku pemuda Indonesia mari kita perkuat persatuan dan kesatuan dengan pondasi iman dan taqwa dengan dibekali ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa Indonesia dan dunia internasional.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in pengamatanku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Pergaulan Bebas Itu Menyengsarakan

  1. Angelina Damayanti says:

    betul itu kalau tidak pinter2 cari teman malah justru menyesatkan….
    “mendukung”…
    jangan salah pilih teman….
    ^_^

  2. arief eka setiawan says:

    hm….ya memang benar mas Agus, cuma pemikiran seperti mas Agus ini yang bisa berbahaya. Mas Agus seperti tidak memiliki kepedulian kepada sesama. Sikap acuh seperti ini tentu tidak akan menyelesaikan masalah, ya..memang benar kebiasaan para remaja dalam menikmati setiap lekuk cinta banyak yang salah mengartikannya. Dewasa ini proses penjalinan hubungan sering kerap ditempeli dengan pergaulan bebas yang berujung pada free sex dan narkoba. Sungguh sangat disayangkan betapa banyak penelitian mengatakan, remaja Indonesia yang telah banyak melakukan hubungan sex diluar nikah. Sungguh sangat memprihatinkan, aku berfikir seperti ini mas….semua ini bisa berkurang dengan kekuatan iman,agama dan peran serta orangtua dan lingkungan. memang masih terkesan konkrit, tapi ini dipikir bisa sedikit mengurangi hal yang dianggap telah menjadi budaya…budaya yang kotor dan budaya tak berbudaya

  3. arief eka setiawan says:

    angel, coba baca juga commentku sebelumnya…
    mencari teman jangan dibatasi, pada dasarnya memiliki banyak teman itu bagus dan ini adalah awal dari jejaring komunikasi. Cuma yang harus diperhatikan adalah dalam bergaul…tentunya angel bisa membedakan mana yang baik dan buruknya……..semangat,,,

  4. Ayu says:

    “sesuatu yang dilarang, akan semakin menantang” – that’s Free sex..

  5. arief eka setiawan says:

    hm…ayu, sebenarnya itu bukan bagian dari pelarangan, hanya saja beberapa masih terikat pada etika kesukuan. Mengingat Indonesia condong ke etika timur sehingga untuk hal seperti free sex tentu satu dari banyak hal yang secara umum dianggap tabu oleh beberapa kalangan. Lantas hal inilah yang memicu generasi muda untuk seakan berani untuk mencobanya, dan inilah cikal bakal rusaknya moralitas pemuda-pemudi dewasa ini. Kuncina hanya pada penerapan diri di lingkungan dan karakter yang dibentengi dengan iman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 8?