Menulis itu Obat Penawar Depresi

Pernahkah ketika pikiran tidak bisa memikirkan suatu hal, ketika tubuh merasa sudah lelah dan bimbang tidak tahu akan berbuat apa. Ketika syaraf otot mulai mogok untuk berkontraksi, ketika jarak pandang mata mulai tak terarah. Ketika hati tidak bisa merasakan arti rasa, ketika panca indera yang ada merasa tak berguna lagi.

Kejadian seperti ini bisa jadi menimpa setiap orang saat sedang dilanda masalah yang sangat besar. Saat semua organ tubuh menjadi mati suri yang sebenarnya merupakan efek dari depresi yang sangat luar biasa. Orang yang terlihat seperti ini mungkin sering bertingkah aneh dan diluar hal yang biasa dilakukannya. Adanya indikasi menderita depresi yang berat, secara fisik mungkin tidak terlihat dengan jelas namun karakter dan tingkah laku serta kebiasaan bisa terlihat dengan jelas.

Manfaat Menulis
Penulis pernah mengalami hal yang demikian, dan seakan sudah tidak ada semangat untuk melakukan aktivitas apapun. Hal ini mengakibatkan aktivitas yang harusnya bisa dilakukan menjadi tersendat ketika depresi mulai menjalar. Pernah mengalami bukan langsung menjadi dasar bahwa penulis adalah orang yang mudah depresi. Secara umum setiap orang pasti mempunyai masalah disetiap kehidupannya. Tinggal bagaimana setiap orang menyikapi setiap masalah yang datang menghampirinya.

Kosong, dan sepertinya memang kosong. Bingung akan berbuat apa ?, ingin melakukan apa ?, ingin bertingkah seperti apa juga bingung. Pengalaman penulis mengatakan kondisi seperti ini bisa terjadi dalam dua kategori. Bisa dalam keadaan depresi karena sebuah tekanan yang berat, bisa juga karena sebuah depresi karena cinta indah tapi menyakitkan. Penulis membedakan menjadi dua ini berdasar pengalaman pribadi yang mungkin berbeda dengan teori yang ada di buku-buku.

Saat kondisi seperti ini, penulis biasanya meluapkannya melalui sebuah tulisan. Bukan berarti saat tulisan ini ada penulis sedang mengalami depresi, itu tidak benar. Memang banyak cara untuk meluapkannya, bisa melalui curhat dengan sahabat atau orang yang dipercayai, pergi ke suatu tempat spesial dan teriak-teriak dengan tidak jelas, makan dan minum dengan tidak aturan, nangis sendiri tanpa sebab yang jelas, corat-coret abstrak, merusak barang dan lewat sebuah goresan kata demi kata yang menjadi sebuah tulisan.

Berbagai cara pelampiasan diatas mungkin masih banyak lagi, namun disini penulis tidak membahas hal itu. Penulis lebih fokus pada meluapkan depresi lewat sebuah tulisan. Bagi penulis sebuah tulisan mempunyai makna dan arti serta manfaat tersendiri. Selain untuk mengurangi kadar depresi yang berat, menulis bisa menjadikan otak kembali ke jalurnya. Hal yang paling penulis suka dalam menulis adalah bisa melatih otak untuk berfikir secara terus menerus tanpa berhenti. Penulis mengetahui kemampuan otak yang sangat luat biasa, daya imajinasi yang tercipta dari otak juga sangat cantik. Dari tulisan juga bisa menjadikan sebuah dokumentasi dan bacaan iseng saat sela-sela waktu kosong. Itulah mengapa ketika sedang mengalami depresi yang berat, penulis lebih condong untuk menulis.

Tidak menjadi dasar bahwa ketika sedang menulis itu menandakan sedang mengalami depresi. Ini adalah sebuah cara untuk mencari salah satu obat penawar depresi yang sering dialami manusi ketika menghadapi suatu masalah. Menulis itu adalah hakikat manusia untuk berkarya, pengetahuan tercipta lewat tulisan, dedikasi tercipta lewat tulisan, bahkan sejarahpun juga tercipta lewat tulisan. Bagi penulis, menulis itu adalah obat penawar depresi dan menulis itu sungguh pekerjaan yang menyenangkan.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in pengetahuan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Menulis itu Obat Penawar Depresi

  1. Wana Darma says:

    mantab gan!
    nice inpoh lah!
    ane juga sering ngerasa gitu soalnya!

  2. Angelina Damayanti says:

    obatnya pah mas????
    hehehehe

  3. arief eka setiawan says:

    sebuah kejujuran, hilangkan kemunafikan….percaya pada diri sendiri. Kalau aku ni memang suka menulis, apapun itu pasti aku tulis. Karena aku yakin dalam menulis itu aku dapat menemukan kebebasan yang hakiki dan tentunya menulis buatku merasa bebas dari masalah yang sedang kuhadapi…ya sedikit melepas stress…….dan kepenatan,.

  4. sarry says:

    siiipppp kak

  5. arief eka setiawan says:

    mantabs…..dicoba yak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 times 8?