Mahasiswa dan Sikap

Ketika menulis artikel ini penulis merasakan beban yang cukup berat, hal ini terjadi karena selang beberapa waktu sebelum tulisan ini terbit penulis terlibat dalam kegiatan aras fakultas yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran. Penulis mulai sedikit merenung tentang setiap kejadian yang penulis alami ketika berada di bangku sekolah hingga ke perkuliahan. Penulis mencoba memaknai setiap detik nafas yang keluar dalam kehidupan yang semu ini.

Di sela-sela aktivitas yang padat, penulis mencoba mengekspresikan setiap penglihatan menjadi sebuah rangkain kata yang syarat akan makna. Dalam kehidupan manusia pada dasarnya terjadi fragmentasi nyata untuk saling menonjolkan sikap yang dimiliki. Suatu proses pemaknaan dalam memunculkan citra diri kepada orang lain. Bagaimana pencitraan tersebut tergantung orang yang bersangkutan. Satu dengan yang lain tentu beda dalam memunculkan sikap seperti ini.

Terkadang perlakuan seperti adalah suatu usaha seseorang untuk merasa agar diakui keberdaaan dalam lingkungannya. Sikap yang ditunjukkan seseorang untuk memunculkan citra diri kepada orang lain lebih cenderung mengikuti aliran jaman. Mungkin beberapa dalam memunculkan citra diri hanya dijadikan sebagai pelampiasan akan masalah yang mungkin pernah atau sedang dialami. Ketika seseorang yang mempunyai masa lalu yang kelam dan dikemudian memunculkan pencitraan diri yang sebenarnya bukan dirinya.

Pemalsuan
Perilaku-perilaku mahasiswa cenderung mengikuti trend dalam berpenampilan, bersikap, berucap dan banyak hal lainnya. Mahasiswa terlalu mudah terprofokasi oleh hal-hal yang dianggap berkelas dan bergengsi. Padahal sejatinya ini bukanlah suatu primerisasi dalam kehidupan perkuliahan mereka. Mahasiswa juga manusia yang membutuhkan suatu pengakuan dari orang lain dan memunculkan citra akan dirinya. Penulis sering kali melihat beberapa teman kampus yang mulai merelokasi setiap citra dalam dirinya.

Banyak terdapat perbedaan dalam perilaku mahasiswa ketika masih dalam tahun pertama, pertengahan dengan tahun terakhir perkuliahan. Penulis berfikir ini adalah sebuah sikap pencitraan diri mahasiswa dalam menemukan jati diri yang sesungguhnya. Bagi penulis ini adalah sebuah proses yang wajar yang dialami setiap manusia di dunia ini. Kenyataan seperti ini yang membuat penulis merenung bahwa dalam proses seperti ini akan ada masa transisi dari citra buruk ke baik dan sebaliknya citra baik ke citra buruk. Perubahan ini jelas saja bisa terjadi karena seseorang tersebut terbawa oleh lingkungan. Lingkungan dimana seseorang berpijak kerap kali dijadikan sebagai alasan bagaimana bisa merubah citra diri seseorang.

18876_105885129430095_100000258267795_141064_2156981_nBeberapa hal seperti inilah yang menjadikan penulis mengamati bagaimana suatu sikap seseorang dapat berubah seiring dengan perkembangan lingkungan disekitarnya. Perubahan dan perkembangan memang pada dasarnya baik dengan seiring perkembangan trend dan teknologi yang ada. Penulis merasa ini adalah sebuah kemajuan dan kemauan yang keras dari mahasiswa yang mau belajar dan menyesuaikan dengan perubahan jaman. Penulis hanya menyayangkan proses perubahan yang terjadi kenapa harus diikuti juga dengan perubahan citra diri seseorang. Mahasiwa terkadang tidak ingin jika dalam lingkungannya dikatakan tidak gaul, tidak mengikuti jaman dan sebagainya. Seperti halnya seorang mahasiswa yang kesehariannya taat berkuliah dan bersosialisasi namun karena salah dalam pergaulan maka mahasiswa tersebut terjerumus dalam pergaulan bebas yang tiada batas.

Kehidupan bermahasiswa adalah kehidupan yang keras dan penuh pengorbanan. Mereka yang bisa berfikir secara sehat tentu tidak akan terjerumus dalam kepalsuan yang dapat merusak masa depan. Penulis banyak menemukan beberapa teman yang terjerumus kedalam kehidupan semu perkuliahan. Mereka yang melakukan pemalsuan terhadap citra diri hanya untuk sekedar pengakuan dari teman dan lingkungan. Penulis mempunyai pemikiran mahasiswa yang seperti itu tidak memiliki sikap independensi dalam menjaga karakter diri. Intinya mahasiswa yang seperti ini seperti dedaunan yang terbang tak punya arah tujuan saat terbawa angin. Ada yang ke utara ikut ke utara, ada yang ke selatan ikut ke selatan.

Sikap dan Tantangan
Mahasiwa adalah siswa yang maha, dari pemotongan kata ini tentu mahasiswa dapat diartikan sebagai pelajar yang tertinggi. Pelajar memang mempunyai tugas untuk belajar dan mahasiswa juga demikian. Mahasiswa juga merupakan generasi penerus bangsa yang akan mengatur, memerintah dan menjaga kestabilan ekonomi, politik, sosial, budaya bangsa Indonesia. Ini merupakan tanggungjawab yang sangat besar bagi generasi penerus bangsa.

Para penerus bangsa memang harus dibekali dengan ilmu yang bisa digunakan kelak. Penulis berfikir tidak hanya ilmu saja yang harus dibekali, namun sejatinya sikap akan tindakan itu yang paling utama. Bagaimana jadinya jika penerus bangsa memiliki ilmu yang bermanfaaat namun tidak memiliki sikap etos kerja dan kejujuran. Hal yang sama mungkin akan terjadi seperti bangsa sekarang ini. Penulis hanya khawatir apa yang terjadi dalam pemerintahan bangsa saat ini merupakan cerminan dari pemerintahan kelak.

Sebuah ketakutan besar buat penulis yang juga merupakan generasi penerus bangsa. Retorika politik yang penulis alami dalam kehidupan bermahasiwa juga hampir tidak jauh berbeda dengan permainan politik negara ini. Ini adalah sebuah sikap dan tantangan bagi penerus bangsa kelak agar bagaimana kondisi pemerintah saat ini tidak terulang dikemudian hari. Sebenarnya bukan pemerinatahannya yang disalahkan namun orang-orang didalamnya yang mungkin memiliki sikap etos kerja dan kejujuran yang kurang.

Seperti paragraf sebelumya saat penulis menjabarkan bagaimana pemalsuan dalam pecitraan diri mahasiswa untuk mendapatkan pengakuan di lingkungannya maka tidak akan berbeda jauh dengan sikap pengakuan diri di orang-orang yang ada di pemerintahan sekarang. Penulis bukannya menyatakan adanya pemerosotan dalam kepemimpinan pemerintahan namun lebih kepada sikap etos kerja yang terbentuk.

25thPenulis yang juga merupakan Beswan Djarum merasa pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh Djarum Bakti Pendidikan dapat sedikit menjadikan kami untuk bertahan dalam sikap dan karakter kami. Pembekalan setiap training menjadikan diri kami menjadi semakin terpacu untuk meningkatkan kemampuan dan skills kami dan bukan untuk mengganti sikap dan karakter hanya untuk sebuah pengakuan.

Situasi ini merupakan tantangan yang berat bagi penerus bangsa Indonesia. Banyak perilaku-perilaku yang seharusnya tidak ditunjukan oleh pemerintah namun dipertontonkan kepada masyarakat yang sebenarnya itu bukan merupakan sikap para pemimpin. Media massa memiliki sorot mata yang tajam, wartawan mempunyai telinga yang peka dalam pekerjaannya. Masyarakatpun juga mempunyai mata, telinga, dan hati untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang yang ada di pemerintahan. Penulis berharap khusus kepada seluruh Beswan Djarum Se-Indonesia agar dapat menjadi penutan bagi semua dan jangan sia-siakan pelatihan dan pembekalan yang telah didapat. Beswan Djarum dan generasi muda ada untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in aktivitas beswan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Mahasiswa dan Sikap

  1. misbahulihsan says:

    Wah eka, udah ikut aktif ngeblog dan mendaftar kompetisi blog, semangat ya… :-)

    jangan lupa berkunjung balik.. :-)

  2. pratiwicristinharnita says:

    kangen pake jas almamater itu…
    ternyata kamu mahasiswa yang paham betul akan makna dari mahasiswa itu sendiri. wah..sebagai alumni bangga juga. Cepat lulus ya…lalu masuk ke dunia profesional. ayo buktikan pada dunia…o iya, sukses di blog copetitionnya ya..semoga menang. kalo mbak iseng2 ne ikutan..tp sayang sedikit waktu untuk nulis lagi….keep writing ya! happy bloggin’ anyway!!!

  3. arief eka setiawan says:

    siap kak tiwi, ini saya lagi proposal.
    Hm..sebenarnya belum paham betul sich…cuma pemaknaan kata aja yang saya alami di kemahasiswaan.
    Semangat juga buat kakakku, makasih banget buat doanya…Sukses

  4. Angelina Damayanti says:

    hew keyennn….
    semangad y mz EKA, mudah2n Beswan Djarum bisa memotifasi generasi muda menjadi lebih kreatif lagi…..
    _Good Luck & GBU_

  5. friska d says:

    keeeeereeeeennnnnnnn……………

  6. hapsari oktaviana says:

    .wessss,,, apik mas apik,,
    lanjutkannn,,
    .semoga menginspirasi generasi muda,,,
    .semoga menanggggggg masss

  7. arief eka setiawan says:

    sebenarnya bukan semata beswan djarum, tetapi seluruh lapisan elemen masyarakat yang terlibat dalam dunia kampus. Semuanya akan kembali ke roda normal jika semua pihak dapat menyadari dan menghilangkan kemunafikan demi keberlangsungan yang hakiki.

  8. arief eka setiawan says:

    siap mas ihsan…pasti…semangat…

  9. Angelina Damayanti says:

    owg ya aku mau tanya visi misi dari beswan sendiri tu apa tog???

  10. prassetyo says:

    semangat buat kompetisinya ya…!!!
    guud luck…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?