Pelajaran untuk Mahasiswa dari Penjahat Intelektual Millenium

Mahasiswa,…orang beranggapan mahasiswa adalah kaum intelektual, manusia beruntung yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ini adalah sebuah keberuntungan dan penghargaan ditengah kerasnya hidup di dunia ini. Mahasiswa tidak mengenal umur dan status serta jabatan. Mahasiswa adalah hak kepada setiap manusia yang mampu dari segi lahir dan batin. Terkadang mahasiswa hanya dijadikan sebagai topeng agar dianggap sebagai orang yang berpendidikan. Selain itu mahasiswa terkadang dijadikan sebagai pra syarat untuk bisa mengenyam pekerjaan yang layak dikemudian hari. Tidak hanya itu, mahasiswa juga dijadikan sebagai batu loncatan agar menjadi seorang pengusaha yang berpendidikan tinggi. Mungkin masih banyak lagi alasan kenapa orang-orang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Tantangan Hidup Sekarang ini
Dalam menjalani hidup yang keras ini manusia memang dituntut untuk bersaing. Banyak orang bersikeras agar bisa bertahan hidup dikemudian hari secara mandiri. Salah satu cara yang ditempuh adalah menjadi mahasiswa, mungkin ini alasan sederhana untuk bisa berkarya di dunia kerja kelak. Sejatinya menjadi mahasiswa tidak hanya semata-mata untuk berkarya di dunia kerja, namun akan ada beban berat yang digenggamnya kelak. Latar belakang mahasiswa yang bermacam-macam mengisyaratkan karakter-karakter dari setiap orang untuk menjawab pertanyaan,”mengapa menjadi mahasiswa…?”. Pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang yang ingin jadi mahasiswa tersebut.

Indonesia sendiri memiliki beragam wadah untuk mewadahi orang-orang tersebut agar menjadi mahasiswa, baik di universitas negeri atau swasta ada di negeri ini. Berbagai sistem diterapkan agar lulusan-lulusan dari universitas tersebut dapat menjawab pertanyaan mengapa mereka ingin jadi mahasiswa. Tentu hal ini berujung pada tujuan mereka berkuliah dan sudah menjadi rahasia umum bahwa standar rata-rata bursa kerja memang membutuhkan lulusan-lulusan sarjana.

Berbagai jurusan dan fokus disiplin ilmu yang beragam ini memang memberikan
kesempatan bagi mahasiswa untuk mendalami secara mendalam disiplin ilmu yang ditekuninya. Aspek sosial, politik, keuangan, seni, sastra, teknik, keguruan, ilmu alam, ilmu bumi, ilmu agama adalah sekian dari banyak jenis disiplin ilmu yang bisa digeluti oleh mahasiswa. Hal ini tentu menjadi pertanyaan kepada mahasiswa,”untuk apa mengambil disiplin ilmu ini…?”, dan pertanyaan ini memang hanya bisa dijawab oleh mahasiswa itu sendiri.

Gejolak politik dan moral yang melanda negeri ini membuktikan bahwa mahasiswa sejatinya tidak hanya cendekia dalam disiplin ilmu tapi juga bersosialisasi, negosiasi dan ini semua tercakup dalam keorganisasian yang jujur. Mereka-mereka yang duduk didalam pemerintahan maupun perusahaan sudah tentu dari kaum intelektual yang dahulu juga berjuang dan menenteng beratnya gelar mahasiswa. Media-media jurnalis di negeri ini rutin mengiformasikan berbagai kejadian dan hal yang sedang terjadi, baik dari segi ekonomi, sosial, politik dan budaya Indonesia. Tentu media jurnalis sangat membantu sekali dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Para jurnalistik ini dulunya juga mahasiswa yang sama-sama berjuang dalam menjalani perkuliahan dan kegiatan masyarakat kampus. Sedikit dari kutipan ini mungkin sedikit mengarah ke jawaban dari pertanyaan, “mengapa menjadi mahasiswa?”.

Antara Sikap dan Kaum Intelektual
Kita ingat kembali kasus-kasus yang pernah ada di negeri ini, mulai dari kasus korupsi, kejahatan perusahaan, kejahatan perbankan, kejahatan pada rakyat, artis dan narkoba dan masih banyak lagi. Saat ini yang paling terbaru adalah rencana pembangunan gedung baru anggota dewan di DPR. Pembangunan gedung yang menghabiskan dana yang luar biasa itu memang menimbulkan banyak kontorversi. Lalu kasus kejahatan perbankan yang dilakukan oleh Malinda dengan penggelapan dana nasabah juga tak kalah ramainya menjadi perbincangan masyarakat.

Kejadian ini adalah buah hasil kerja keras mereka selama menjadi mahasiswa dulu. Perjuangan keras yang dilakukan dahulu saat menjadi mahasiswa dengan menekuni bidang sesuai disiplin ilmu. Teringat kata orang tua dulu bahwa mencari orang pintar dan cerdas itu memang mudah dan banyak, namun mencari orang cerdas, pintar dan jujur serta mempunyai sikap itu sungguh sulit. Kasus seperti dalam pembangunan gedung DPR dan kejahatan perbankan itu mungkin tidak akan terjadi jika pelaku-pelaku yang terlibat didalamnya memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan yang paling penting kecerdasan spiritual.

Melihat dari kasus-kasus kejahatan intelektual yang terjadi di negeri ini tentu harus menjadi perhatian utama para mahasiswa. Mahasiswa memang dididik agar menjadi pribadi yang intelektual namun jika kecerdasan spritualnya tidak diasah dan dijaga maka ke depan akan ada kasus-kasus serupa bahkan lebih parah lagi. Mahasiswa harus bisa membuka mata hatinya. Jika seluruh mahasiswa hanya berfikir kuliah sebagai batu loncatan agar ke depan bisa berkarya dan menjadi sukses maka dapat dipastikan akan ada kejadian serupa seperti yang sekarang ini. Kejahatan intelektual lebih berbahaya dari kejahatan lainnya, ini adalah sebuah kejahatan moral bagi para kaum intelektual. Jika orang-orang pintar berfikir untuk melakukan tindak kejahatan seperti ini hanya untuk kepentingan pribadi semata maka Indonesia akan menjadi gudang persediaan kaum penjahat intelektual yang berdasi. Sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk membuat perubahan besar di kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat istitusi pendidikan untuk menjadi pribadi dan lembaga yang tidak hanya bersih namun juga harus memiliki kecerdasan intelektual dan emosi serta wajib mengasah kecerdasan spiritualnya.
Mari membangun Indonesia yang bersih dan jujur.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in Indonesiaku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 8?