Manusia Cerdas adalah Manusia yang tidak Serakah

Dilema elite politik negeri ini seakan tidak ada habisnya seiring pemberitaan media yang kian mencuat. Setiap hari mendengar celoteh manis dari pelaku media-media membuat penuh sesak dada manusia yang melihat dan mendengar. Menit tiap menit berganti dan setiap kejadian atau fenomena muncul bak pahit di telinga. Lagi-lagi tentang kasus dugaan suap dan wacana korupsi.

Negeri ini adalah negeri yang kaya akan limpahan sumber daya alamnya. Sumber yang tiada batas manfaat surgawi yang diberikan Tuhan untuk makhluk-Nya. Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku di negeri ini, manusia malah menjadi perusak dengan kecerdasan yang dimiliknya.

Mungkin ini adalah musim kehancuran moral dimana manusia yang diberi kecerdasan tidak bisa berbuat bijak. Manusia-manusia cerdas adalah manusia yang terpilih untuk menjadi pionir dalam menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup bersama. Tentunya hal ini akan terjadi jika manusia-manusia terpilih ini tidak mengagungkan dewa kata ekonomi, “…sumber daya yang terbatas namun kebutuhan manusia tidak terbatas”. Susah jika setiap manusia yang cerdas menggunakan kalimat tersebut untuk tampeng dalam kehidupannya.

Memang tidak dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sekarang ini memaksa manusia untuk maju. Banyak manusia berkompetisi untuk bertahan dalam kehidupan yang keras ini. Banyak media dan survey yang memperlihatkan tentang kesenjangan ekonomi masyarakat negeri ini. Bahkan sering terdengar kata,”…yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin…”. Ini adalah kalimat sederhana yang sebenarnya memiliki makna yang dalam.

Permasalahan disini sebenarnya ada pada “hati nurani” manusia-manusia cerdas yang seharusnya merakyat. Andai kata “dewa kata ekonomi” tidak dijadikan sebagai tampeng utama maka akan ada kemungkinan “…yang miskin tidak selamanya makin miskin”. Tentunya hal ini perlu kesadaran yang hakiki di tiap sanubari manusia-manusia cerdas terpilih. Tidak hanya manusia cerdas terpilih saja yang melakukannya, manusia awam tak terpilihpun harus melakukannya dengan tetap menjunjung akidah agama.

Konseptual di atas adalah semacam penggerak sanubari manusia-manusia agar lebih bijak dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Jika setiap manusia bersedia melepas baju jabatan untuk saling menggenggam tangan dan bergandengan tangan tentu keharmonisan akan terjalin dengan sendirinya. Mulailah merubah pola pikir dari sekarang untuk negeri yang makmur dan sejahtera.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in Indonesiaku and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Manusia Cerdas adalah Manusia yang tidak Serakah

  1. arnissilvia says:

    Nice post..
    dan generasi cerdas adalah generasi yang bersih dan jujur..

    I wrote the similar article: Pendidikan Calon Koruptor

    Salam kenal,

    Arnis Silvia
    Beswan Jember 2007-2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?