Selayang Pandang Kenaikan BBM di Daerah

Bahan bakar minyak atau yang sering disebut BBM telah menjadi trend hangat di Indonesia. Informasi yang menyatakan bahwa BBM akan naik per 1 April 2012 dari 4500 rupiah menjadi 6000 rupiah. Kenaikan sebesar 1500 rupiah atau sekitar 33% ini dirasa memberatkan banyak pihak terutama masyarakat kecil di Indonesia. Hal ini cukup wajar, pasalnya masyarakat bertopang dari harga BBM untuk melihat harga-harga kebutuhan lainnya. Masyarkat menilai jika harga BBM naik maka korelasinya harga-harga sembako dan kebutuhan lain akan naik juga.

Faktor terbesar dalam kenaikan BBM adalah berujung pada situasi global dan naiknya harga minyak mentah yang mencapai US$ 122 per barel pada bulan Februari (finance.detik.com). Dalam ilmu ekonomi kenaikan suatu harga barang/jasa berkorelasi dengan kelangkaan suatu barang/jasa tersebut. Jika ditarik benang merah terkait BBM naik, maka saat ini BBM sedang terjadi kelangkaan dan pasar global yang memang lagi naik. Jika memang demikian maka yang merasakan dampak besar kenaikan BBM adalah kehidupan masyarakat kecil di Indonesia. Mereka harus bisa bertahan dan mencari alternatif lain untuk menyiasati keadaan ini.

Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai bantuan langsung tunai (BLT) memang harus dilakukan dengan tidak diambil dari anggaran subsidi BBM (finance.detik.com). Masyarakat kecil tentu cukup lega mendengar berita ini, namun tetap saja mereka akan was-was tatkala BLT tidak sampai pada sasaran. Dalam hal ini masyarakat memang harus berjuang untuk mencari alternatif sebagai substitusi ketika BBM naik nanti. Saya berpendapat ketika Pemerintah Indonesia mempunyai kebijakan untuk menaikkan harga BBM tentu sudah ada pertimbangan tersendiri. Meski demikian masyarakat Indonesia juga memiliki hak untuk mengetahui alasan kenaikan harga BBM selain dari segi kenaikan harga minyak mentah.

Kondisi di perbatasan
Akhir- akhir ini memang banyak media baik cetak maupun elektronik memberitakan tentang demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Seluruh lapisan masyarakat mungkin terlibat dalam aksi demonstrasi tersebut. Namun dalam informasi di media, para pelaku demonstrasi adalah mahasiswa dan organisasi masyarakat yang rata-rata berada di Pulau Jawa. Mungkin hanya sedikit berita yang dipublikasikan soal penolakan masyarakat di daerah yang juga terkena dampak kenaikan BBM.

Dalam media elektronik yang saya kutip menuliskan artikel tentang “warga perbatasan yang sudah biasa membeli BBM dari Malaysia 10.000 rupiah/liter”. Dalam detikfinance masyarakat Nunukan sudah biasa membeli premium dengan harga 10.000 per liter. Pasalnya masyarakat di perbatasan sulit untuk mendapatkan pasokan BBM dari Pertamina. Mereka menganggap kenaikan BBM sekarang ini tidak berdampak besar pada kehidupan sehari-hari. Mengingat untuk pasokan Pertamina saja susah dan langka masuk di Nunukan.

SPBU KaimanaTerkait kenaikan BBM ada cerita yang berbeda dengan masyarakat di Kaimana, Papua Barat. Di tengah maraknya demonstrasi kenaikan harga BBM di Indonesia, masyarakat Kaimana sepertinya adem ayem saja. Kendaraan yang dipadati dengan sepeda motor untuk ojek motor memang menjadi pelanggan setia BBM selain kendaraan lainnya. Di Kaimana hanya terdapat satu SPBU Pertamina sehingga masyarakat yang ingin membeli BBM harus rela antri. Saya mengamati masyarakat Kaimana sangat tertib dalam mengantri untuk mendapatkan BBM, meski SPBU ini tidak buka 24 jam. Boleh dibilang SPBU ini buka pada jam-jam tertentu saja dan biasanya jam 5 sore waktu setempat SPBU ini sudah tutup.

Ketika SPBU sudah tutup dan masyarakat membutuhkan BBM untuk kendaraannya maka mereka harus membeli dari kios eceran yang ada di sepanjang jalan dengan harga 10.000 rupiah per botol air minum ukuran 1500ml. Mungkin inilah salah satu faktor lain masyarakat rela antri untuk mendapatkan BBM. Di luar dari itu kita sebagai masyarakat Indonesia yang tentu saja bagian dari Negara Indonesia harus mendukung kebijakan ini demi tujuan bersama dengan tetap meminta kepada Pemerintah untuk solusi atas kebijakan yang diambil.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in pengamatanku and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?