Namatota, Senja di Ujung Kaimana-Papua Barat

kampung-namatotaBelum genap satu bulan menginjakkan kaki di Kaimana, Papua Barat, saya diajak oleh rekan dari Satlantas Polres Kaimana untuk memancing sambil rekreasi di laut. Tepatnya pada awal maret lalu saya dan beberapa rekan-rekan menerjang ombak di lautan lepas untuk pergi memancing. Sebelumnya kisah perjalanan ini pernah saya posting beberapa waktu lalu dengan judul “Memancing di Kaimana, Kota Senja di Papua Barat”. Sedangkan pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang kisah saya saat singgah di sebuah pulau kecil di ujung Selatan Kaimana, yaitu Pulau Namatota.

Senyum Ceria
Minggu pagi saya dan rekan-rekan dari Satlantas Polres Kaimana, pemilik gerai HP (handphone), dan rekan dari anggota dewan perwakilan daerah pemilik perahu motor yang kami tumpangi siap berangkat ke lokasi. Berbagai persiapan memancing seperti pancing, kail pancing, umpan, hingga fishing box tempat ikan telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Dengan membawa bekal bensin campur 3 drum atau sekitar 125 liter dan makanan untuk bekal kami selama di laut.

Kami yang berjumlah 12 (dua belas) orang di atas perahu motor ini bernyanyi sambil berfoto ria untuk mengisi kejenuhan saat dalam perjalanan. Beberapa diantara kami sedang mempersiapkan kail pancing dan umpan untuk berperang dengan ikan-ikan penghuni lautan papua. Disepanjang perjalanan saya melihat hamparan pulau-pulau yang masih perawan. Perjalanan ini adalah kali kedua saya selama di Papua. Perjalanan pertama saya saat berada di Jayapura awal Januari lalu dan akan menuju ke Tablanusu, salah satu teluk di ujung Kota Jayapura yang sangat indah panoramanya. Tempat ini mirip dengan wisata bahari di Raja Ampat, Sorong, cocok untuk snorkling sambil menikmati keanekaragaman ikan dan karang-karang nan eksotik.

Namatota oh Namatota
Beberapa saat diatas perahu motor kecil dengan deburan ombak laut Arafura disertai angin membuat perut saya terasa sedikit mual. Keadaan seperti ini membuat kisah perjalanan saya semakin menantang nyali di laut dan menarik untuk dikisahkan nanti. Mata saya tidak pernah lepas dari pemandangan bahari papua yang sangat indah. Sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan dengan kepulauan kecil yang tersusun secara alami oleh lukisan alam laut Papua.

Hamparan pohon-pohon yang tumbuh subur di pulau-pulau kecil di sepanjang laut semakin mencitrakan keindahan tanah papua. Sungguh pesona alam Indonesia yang sangat indah, dengan keragaman kekayaan hayati yang dimiliki membuat saya semakin bangga menjadi Pemuda Indonesia. Ditambah lagi saya diberi kepercayaan untuk bertugas di Papua, ini merupakan berkah dan anugerah dalam hidup saya.

balai-kampung-namatotaPulau Namatota adalah salah satu pulau kecil dari 7 (tujuh) Distrik yang ada di Kabupaten Kaimana. Istilah Distrik ini baru saya dengar saat berada di Kaimana dan ternyata distrik itu kata lain dari kecamatan. Untuk menuju ke Namatota dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam naik perahu motor. Beberapa Distrik di wilayah Kabupaten Kaimana memang dipisahkan dengan laut Arafura. Sehingga untuk bepergian dari satu distrik ke distrik yang lain transportasi yang bisa digunakan adalah perahu motor atau kapal perintis yang disediakan oleh pemerintah setempat. Namun jika ingin bepergian menggunakan kapal perintis harus menunggu jadwal kapal, jika ingin lebih cepat bisa menyewa perahu motor milik warga sekitar.

Sekilas pulau Namatota mirip sebuah perkampungan kecil di tepi pantai dengan dihuni beberapa keluarga saja. Sejak perahu motor menepi di muka pantai sudah terlihat perkampungan sederhana. Di sekitar pantai yang berwarna putih bersih terdapat beberapa perahu motor, mungkin itu perahu milik masyarakat Namatota. Sebagian besar warga memang bermatapencaharian sebagai nelayan. Tidak mengherankan jika memilih pekerjaan ini, pasalnya laut di daerah ini sangat kaya akan ikan dan hasil laut lainnya.

Rasa penasaran membuat saya ingin menjelajahi kampung ini, ternyata hanya jalan beberapa langkah saja saya sudah berada di sisi pantai yang lain. Kampung ini memotong pulau dari panti sisi utara ke sisi selatan. Sejauh mata memandang terdapat beberapa rumah dengan dihiasi antena tenaga surya. Panel surya ini ternyata digunakan warga untuk menyerap energi matahari pada siang hari yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik pada malam harinya. Wajar saja jika menggunakan panel surya, pasalnya tidak ada jaringan PLN yang sampai ke daerah ini.

anak-anak-namatotaUntuk urusan kesehatan di kampung ini terdapat satu unit klinik pelayanan kesehatan. Klinik disini sangat kecil sekali, sayang waktu berkunjung ke kampung ini tidak terlihat aktivitas pelayanan kesehatan. Saat berjalan mengelilingi kampung terlihat satu bangunan sederhana diatas bukit dan tenyata itu gedung sekolah dasar di sini. Usut punya usut di kampung ini hanya terdapat sekolah dasar saja, jika anak-anak ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi harus ke Kota Kaimana. Daerah terpencil dan jauh seperti ini memang sulit akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat.

Dari perjalanan ini saya banyak belajar tentang arti kata bersyukur, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta. Masa kecil saya yang lahir dari komplek militer hingga sebutan “anak kolong” yang selalu melekat, saya masih bisa merasakan pendidikan sampai perguruan tinggi tanpa harus bersusah payah pergi melintasi lautan. Meski saat saya kecil juga merasakan sulitnya bersekolah karena ekonomi, namun rasa syukur selalu terucap karena di sini, di Namatota masih banyak anak-anak yang mungkin tidak seberuntung saya. Keindahaan pulau Namatota, keindahaan alam Tanah Papua ternyata menyimpan kisah pilu juga soal pelayanan pendidikan dan kesehatan.

About arief eka setiawan

Arief Eka Setiawan, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang militer, TNI-AD. Menempuh pendidikan dari SD hingga Sarjana di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada tahun 2011. Memulai karir di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Papua pada 2 Januari 2012. Tugas pertama dipercayakan sebagai Pelaksana Administrasi Samsat Kaimana dari Januari 2012 sampai Februari 2013. Menginjak bulan Maret 2013 dipindah ke Kantor Cabang di Jayapura sebagai Pelaksana Samsat Mobil hingga bulan Januari 2014 dan sekarang dipercayakan menjabat Pelaksana Administrasi Iuran Wajib.
This entry was posted in Jalan-Jalan Kaimana and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Namatota, Senja di Ujung Kaimana-Papua Barat

  1. Ardi says:

    saya juga ingin sekali eee pakde bisa jalan ke Namatota, trus Yamoor, hitung2 sebelum slesai tugas di Kaimana,, tp yahhhhhh,, begitu sudah hehehe

  2. arief eka setiawan says:

    @ardi : hahaha… itu sepertinya waktu awal2 saya di Kaimana pak Ardi, maret 2012 sepertinya. Niatnya sih memancing tapi berubah haluan jadi jalan-jalan, hahahaha…
    @Lassota : iya dik, tetap bangga dengan Indonesia, bangga menjadi masyarakat dan pemuda-pemudi Indonesia. Siapa tau sekolahanmu mau studi wisata ke Papua, bisa tuh..hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 * 9?