Saat diberi kebahagiaan dan kabar gembira, saya sekaligus ingin belajar sesuatu.
“Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dimuntahkan”

Petuah dalam pelajaran bahasa Indonesia zaman SD ini berarti bahwa; yang manis bisa saja beracun. Seperti dalam cerita Putri Salju yang diberi apel manis oleh nenek penyihir yang ternyata berisi racun.
Dan yang pahit, seperti obat. Memang rasanya tak enak, tapi itu hanya sesaat dan pasti akan menyembuhkan, membebaskanmu dari rasa sakit.

Pesan ini mengajarkan qita untuk tidak terlena menerima segala kebaikan. Kita bisa mengukur dalamnya laut, tapi kita takkan pernah benar-benar tau kedalaman hati seseorang.

Kita bukan tak menghargai kebaikan orang lain. Kita hanya berusaha berjaga2 karena selalu ada penghianat di setiap kelompok, kata Tan Malaka. Maka belajarlah menjaga dirimu sendiri, belajarlah menyayangi hatimu sendiri, dan belajarlah menghargai pikiranmu sendiri. Karena hanya kamu yang bisa melakukannya, bukan orang lain di luar dirimu.

Temanmu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Berdamailah dan bekerjasamalah.

Tags: , ,



Akan tiba saatnya
di mana kita harus berhenti mencintai
bukan karena kita putus asa mencintai
melainkan karena kita menyadari
orang yang kita cintai
lebih bahagia apabila kita melepaskannya

Walaupun aku dan dia tidak bersama
Namun aku puas dengan rasa
rasa cinta untuk mencintai dia
rasa yang membuatku bahagia
rasa yang membawaku melayang ke udara
rasa yang menggelora di dada
rasa yang membuatku buta

Terkadang aku tidak mngerti
rasa di dalam hati ini
yang selalu menghiasi
keseharianku hidup di bumi

Andaikan dia tahu dan mau mengerti
bahwa hanya dia yang ada di hati
hanya dia yang bisa mengisi
mengisi hati sanubari
yang membuatku selalu berseri

Namun semuanya tinggal penyesalan
semua tinggal khayalan
kekasih yang dicinta mungkin telah berganti hati
tak lagi menerima diri ini kembali

Memang semua adalah salahku
salah akan kekhilafanku
khilaf akan semua kata kataku
yang membuatnya bernafsu memutuskanku

tapi itulah kehidupan
kita masih muda, muda akan pengalaman
muda akan segala hal
dengan ego yang tinggi dan mau menang sendiri

Nasi telah menjadi bubur
namun rasa cintaku tak akan luntur
akan tetap kusimpan walaupun dunia ini hancur
atau aku hanya ngelantur

Padahal aku ingin kembali
kembali seperti dulu lagi
tapi semua hanya mimpi
dia tak mau kembali

Memang cinta tak harus memiliki

Tags: , ,



Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo
dulu”
kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”,
ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama
sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami,
bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra,
yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah,
mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari
menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada
ibuku,
tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk
dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa
menusuk-nusuk
hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa
teriris-iris
dan
jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari
Allah
SWT
atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat
bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang
dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena
ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar
dan
kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum
kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang
aku
berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku
dengan
khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas
mandi
dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi
mendidih”
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah
siap”
kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar
mandi,
aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu
membawa
handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas
dan
mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar
mandi
dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti
yang
dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati
pakai
apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil
menuntunku
ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “
Kalau
begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil
tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya.
Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya
yang
halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran
dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi
tak
semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi
bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di
istananya.”
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu”
kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang
pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku
mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat
Mona
Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu
mempersilakan
aku
duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat
duduk,
tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat
Isya”
kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “
Maafkan
aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih
Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun
cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi
semakin
tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi
apakah
dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat
Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara
lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” MaâEUR¦.maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku
D..DinâEUR¦Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya
Mas!”
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
“dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “TeâEUR¦terima kasihâEUR¦DiâEUR¦dinda,
kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku
dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima
kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu
bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri
di
dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.

bersambung…

Tags:



gURU bertanya kepada murid-muridnya, “Siapa yang pandai membilang?”

Seman mengangkat tangan.

“Betul ke kamu pandai membilang?”

“Tahu BU gURU. Ayah yang ajarI saya.”

“Baik, coba kita lihat. Sehabis tiga, berapa?”

“Empat.”

“Bagus. Sehabis enam?”

“Tujuh.”

” Sehabis sembilan?”

“Sepuluh…”, jawab Seman.

“Bagus sekali. Rupanya ayah kamu benar-benar tahu bagaimana mengajar membilang. Selepas sepuluh berapa?” tanya guru lagi.

Dengan senyum penuh keyakinan, Seman menjawab, “Jack, Queen, dan King.”

guru :&*)&(&*^&%$%^#$&&(&*())()

Tags:



Datang engkau menyulam Mimpi dan Rembulan di pangkuanku
sejuk rayumu adalah nyanyian Dari Surga
terkait masih berlangsung Yang membuai hati mendengarnya
Aku bersimpuh Padamu cinta
Saat senyum indahmu Menyapa
mendadak hari hariku
Penuh wangi bunga

Saat mencintaimu
adalah Saat Terindah
Aku serupa menemu Belahan jiwa
Saat mencintaimu
Saat Aku adalah Pembongkaran Dilaporkan ADA
KESAWAN keindahan Yang Beda
ahhh … Kekasih
Maka Cintailah Aku
sebagaimana Aku mencintaimu
Sebelah bawalah padaku Hatimu
dan Sebelah hatiku kukirim
mari Kita rasakan denyut asmara Yang menggoda
Merindu Saat Kita Bersama.

Tags: ,



Seharusnya qu ni .. tq Pembongkaran
Menjadikan Mue sbg penguasa hati qu ..
WLW pun Diri Mue n diameter tlah Bersama ..
Namu aq tq Bisa lupakan Kenangan itu ..
Bila aq Bahagia di Samping Mue ..
Kan aq beri yg Terbaik utk Mue ..
SELAMANYA … …

Tags: ,



ASAL USUL RAJA NEGERI JAMBI (part 1)


Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo Belaslah yang paling berpengaruh.

Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan hidup mereka pun semakin berkembang. Melihat perkembangan itu, maka muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur, harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka. Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Mukomuko) untuk bermusyawarah.

”Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Menurut kalian, apa kriteria raja yang baik itu?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

”Menurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita,” jawab sesepuh dari Desa Tujuh Koto.

”Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin,” tambah sesepuh dari Desa Petajin.

”Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan dihormati,” sahut sesepuh dari Desa Muaro Sebo.

”Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.

”Setuju!” jawab peserta rapat serentak.

Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni harus memiliki kelebihan di antara mereka.

”Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara kita?” tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto.

”Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya,” jawab sesepuh Desa Batin Duo Belas.

”Bagaimana caranya?” tanya sesepuh Desa Petajin penasaran.

”Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?” tanya sesepuh Desa Batin Duo Belas.

Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Mereka bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang dianggap paling sakti di antara mereka.

Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan seterusnya diundi terlebih dahulu.

Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. Ia pun dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya tidak melepuh sedikit pun. Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam lalu disulut dengan api dan ditembakkan. Ia pun terpental dan jatuh beberapa depa. Ia segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa. Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto itu.

Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan gagal menjadi raja Jambi.

Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto.

”Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang,” kata salah seorang panitia mempersilahkan.

Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju.

”Mana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!” seru salah seorang panitia.

“Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!” tambahnya.

Merasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju.

“Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato menyerah!” seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang.

Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. Ia berhasil melalui ujian pertama hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal menjadi raja Jambi.

Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti oleh Desa Petajin dan Muaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka pun kembali mengadakan musyawarah.

bersambung  dhe,…….

sumber:

Kaslani. Buku Cerita Rakyat dari Jambi 2. Jakarta: Grasindo. 1997.

http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/asal-usul-raja-negeri-jambi.html

http://dongeng.tk/



Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si Buta. Kali ini si Buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tersebut. Kali ini, si Buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Sahabat, hari ini kita belajar tentang KEBIJAKSANAAN, KEPEDULIAN DAN KERENDAHAN HATI… Betapa gelap dan butanya kita tanpa pelita kebijaksanaan… betapa banyak orang saling bertabrakan karena keegoisan, keserakahan tanpa ada kepedulian bagi sesama… Betapa gampangnya kita menghakimi dan menyalahkan “si Penabrak”, padahal mungkin saja pelita kita yang padam.. bukankah diperlukan kerendahan hati untuk minta maaf??… Ah.. seandainya di dunia ini banyak orang yang saling mendukung dan saling mengingatkan !!..
Selamat bekerja, hati-hati jangan menabrak… jaga lilin kebijaksanaan agar tidak padam…

Tags:



Seorang Ibu Guru Sekolah Dasar membagikan Daftar Isian murid-murid, mengenai data-data murid itu sendiri dan kedua orangtuanya.

Ada seorang murid yang selalu bertanya karena ingin “mengerjai” Gurunya.

Murid: “Bu, nama orangtua ditulis, ya?”

Guru: “Ya, ditulis.”

Tidak lama kemudian, murid tersebut bertanya lagi…

“Bu, alamat orangtua ditulis?”

Jawab Gurunya mulai kesal…

“Ya, ditulis!” katanya.

Belum tiga menit si murid bertanya lagi…

“Bu, jenis kelamin orangtua ditulis?”

Jawab Ibu Guru itu, yang kekesalannya telah sampai ke ubun-ubun…

“Nggak!! Digambar!!!”

Tags:



Kisah Sedih Si Gadis Miskin Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaanberupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun iarasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha.Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung danratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telahkami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis.Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda danbersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankahia juga berhak merasakannya

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupandengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalampengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadiseorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taatberagama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untukmendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernahhabis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yangmemaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datangmeminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronisitu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agamadan akhlaknya…kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu halyang sangat penting. Tetapi mengapa

Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yangakan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknyawanita lain

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemudamemberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya disalah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan morilyang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahandan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untukmenanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat sipenjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gauntersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang punyang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.

Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayapputihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangatbahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi iaakan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasaada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihatadanya kecerahan dalam kehidupan.

Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuatpenampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannyayang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.

Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikitperbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat sipenjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahitmeminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi.Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan,hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dansebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya takterpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yangterbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwasetengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambilgaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaunitu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit danmengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaanbahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwaterpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagidiri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar daribadan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulansdatang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada diatas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia.Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu.Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai kerumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekalipun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebabketerlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agarmemberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarangsedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muhabanyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasihkepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itubenar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaanyang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumahsakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calonpengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu danmati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malamyang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu,berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnyakegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiadayang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaunitu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pastiakan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.

Tags: