Setan Berwujud Arjuna (Eps. I)

Berpuluh bulir keringat tercipta dan mengalir membasahi sekujur tubuhnya. Ia menyeruak di antara kumpulan orang yang sedang lalu lalang. Padat. Pagi mulai panas. Ia harus bergegas. Semakin terengah nafasnya, semakin cepat ia memacu langkahnya dan memaksa pembuluh jantung dan segenap persendian untuk bekerja lebih keras. Wajahnya sudah memerah, bibirnya melafalkan sesuatu berulang-ulang, matanya nanar seakan menatap ke dunia yang jauh dari sana. Sesekali langkahnya terantuk keramaian sehingga badannya oleng, namun ia tersadar sedetik kemudian dan malah menghempaskan tangan-tangan orang yang berniat menolongnya. Gerutuan terdengar di sekitarnya berikut tatapan sinis. Tapi ia hanya merespon dengan mendengus dan melempar tatapan lebih sinis sebelum pergi berlari lagi.

Laki-laki itu semakin kerasukan kekuatan tak kasatmata. Seisi pasar pagi itu pun kini dapat melihat api yang membakar rusuk-rusuknya sampai ke punggungnya. Perlahan tanduk merah mulai muncul dari kepalanya, semakin tumbuh dan mengeras. Matanya sekarang merah darah, tidak ada putih setitikpun yang tertinggal. Ia mulai tertawa terbahak-bahak sampai badannya berguncang-guncang. Kerumunan pasar pagi sekarang menepi menjauhinya, seakan ada medan tak kelihatan tercipta dengan tiba-tiba. Anak kecil mulai menangis. Setan, kata mereka. Para orangtua berkomat-kamit membaca doa, ada yang menyumpah-nyerapah. Seseorang menghubungi polisi. Wartawan berdatangan. Semua ketakutan, namun tak satu pun yang beranjak dari tempatnya. Tak juga ketika laki-laki itu menggelepar dan terkapar di tanah, tubuhnya mengejang. Namun tak ada yang berani mendekat dengan semakin masifnya gumaman dari setiap mulut orang-orang yang hadir, menyimfonikan satu kata: Setan.

Lalu seiring memelannya koor tersebut, memelan pula nafasnya. Sekarang tak ada yang berani berkedip, takut kehilangan momen langka barang sedetik saja. Sekarang benar-benar sunyi, napas terakhirnya berlalu dan menghilang bersama semilir angin yang melintas. Sentakan keingintahuan melanda bagai gelombang, kebekuan pecah, kerumunan tersebut mulai bergerak mengelilingi laki-laki berwujud setan itu. Kemudian wujudnya berangsur-angsur kembali normal seperti sebelum api muncul dari rusuknya. Kini perhatian semua orang tertuju pada satu titik. Seseorang mengenalinya,

“Arjuna!”

_______________________

Arjuna duduk di hadapan laptop-nya. Merenggangkan badan dengan mata terpejam. Sudah pukul 23.10, sorot keletihan tersirat di gurat wajahnya, namun sekilas kemudian ia tersenyum. Sudut pikirnya me-rewind adegan saat makan siang tadi. Gelombang rileks perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Potongan-potongan gambar dan selipan suara berseliweran di kepalanya. Semua berpusat pada satu objek. Seruni.

Apa yang membuat wanita ini begitu membuatnya merasa ada sesuatu yang tak benar dengan sekitarnya, seakan udara mendadak tersedot dari sekelilingnya saat mereka berada dalam ruang yang sama? Namun ia rela menukar semua jatah udara yang ia punya demi terus memiliki objek tersebut dalam jarak penginderaannya. Apalah arti sekedar tak bernafas jika gantinya adalah kebutaan dan kelumpuhan bila wanita itu tak ada! Arjuna senang dengan sensasi seperti jatuh dari ketinggian namun tak pernah sampai ke dasar bumi saat mereka berinteraksi, apalagi untuk imbalan sebersit senyum Seruni, Arjuna rela melakukan apapun, ia melayang.

Seruni. Seruni. Seruni. Bahkan dendang lagu dari winamp-nya pun seriama dengan namanya. Malaikat yang baru diutus Tuhan untuk bekerja di perusahaan yang sama dengan Arjuna. Ia adalah suntikan semangat dengan takaran yang tak dapat dijelaskan. Ia adalah alasan untuk berangkat kerja sebelum waktu kantor direktur perusahaan pada umumnya. Ia adalah jawaban mengapa semua dasi terlihat kusam menjemukan dan semua kemeja di lemari kamar Arjuna menjadi membosankan, juga jawaban mengapa Arjuna jadi rajin bercukur dan memakai parfum dengan agak berlebihan. Seruni wanita yang cerdas dan memiliki pengetahuan luas, karenanya Arjuna mulai menggilai segala macam jurnal, artikel-artikel online yang bahkan tidak sedikitpun dilirik sebelumnya, serta segepok buku-buku bisnis bersampul tebal. Kinerja Arjuna makin membaik, ia kecanduan kerja, ia kecanduan Seruni.

Namun ada sesuatu yang misterius tentang Seruni. hal itu mengusik bawah sadar Arjuna, ia tak tau itu apa, namun ia yang sedang termabuk cinta mendorong perasaan itu jauh-jauh ke dasar pikirannya sampai ia benar-benar lupa. Ia malah jadi makin bergairah dan terobsesi dengan kemisteriusan itu sendiri. Baginya, wanita adalah ruangan tertutup yang menyimpan banyak rahasia, semakin sulit akses membuka pintu ruangan tersebut, akan semakin banyak pula rahasia menakjubkan yang akan dia temukan nantinya. Seruni jarang bicara, ia tipe orang yang sangat introvert, namun senyumnya tak pernah meninggalkan bingkai wajahnya. Arjuna makin menggila, seluruh dayanya ia kerahkan demi mendekati wanita pujaannya itu.

Waktu memang terkadang menjadi teman yang baik bagi mereka yang sabar dan mau berusaha. Seruni cukup peka untuk mengerti sinyal-sinyal yang diberikan Arjuna, ia membalas. Arjuna senang bukan kepalang. Maka lahirlah chemistry antara mereka berdua. Namun mereka cukup lihai untuk menyembunyikan hubungan baru mereka atas alasan takut merusak profesionalisme. Tak ada seorangpun di kantor yang membauinya. Sejauh ini, semua terkendali. Pasangan ini dimabuk asmara, sekali lagi cupid cinta berhasil menancapkan panahnya kepada dua cucu adam.

Bagi Arjuna, sentuhan Seruni adalah hal paling dibutuhkannya. Menakjubkan bagaimana dengan satu sentuhan saja ia mampu membuat segala kepenatan sirna. Terkadang Arjuna berani bersumpah ia melihat sepasang sayap putih keluar dari punggung Seruni, dan wajahnya bersinar keemasan seperti rembulan. Namun meski Seruni bilang bahwa malaikat itu hanya ada di dunia dongeng, Arjuna tetap saja yakin bahwa Seruni adalah malaikat, dan ia mencintai malaikat itu. Bahkan jikalau Seruni adalah setan yang mempunyai tanduk di atas kepalanya sekalipun, ia akan tetap mencintainya.

Suara deritan pintu membuat Arjuna terjaga, ia langsung duduk sigap. Sejurus kemudian tubuhnya merileks, Seruni ada di depannya dan menutup pintu kembali. Mereka berdua bertatapan dan serentak tersenyum. Dalam sayupnya malam, mereka bercinta.

bersambung………..

Tags: , ,