Aku suka jalan kaki.
Aku menempuh 2 kilometer dari rumahku yang terletak di dalam gang menuju jalan raya dengan berjalan kaki. Di jalan raya itu baru aku akan mencari bus untuk menuju ke kampus.
Aku menempuh 10 menit dengan berjalan kaki untuk menuju gedung kampusku.
Bahkan di siang hari yang panas aku tetap berjalan kaki.
Mereka yang mengenalku bertanya, ”Kenapa aku tidak naik angkot?”
”Kenapa aku tidak naik ojek?”
”Kenapa aku sangat suka berjalan kaki?”
”Kenapa?”
”Kenapa?”
”Kenapa?”

Aku suka jalan kaki.

Seorang tante yang bertemu denganku dalam perjalananku pulang dari kampus menyapaku dan bertanya, ”jalan kaki lagi? Kok nggak naik ojek?”
Aku membalas sapaannya dan hanya memberikan senyumanku sebagai jawaban.

Seorang teman sekelas yang kebetulan bertemu ketika aku sedang berjalan menuju kampus menghentikan motornya dan memberiku tumpangan.
Setelah aku aman di boncengannya, dia berkata, ”Jalan dari perhentian bus ya?”
Aku mengangguk dan mengiyakan jawabannya.
”Nggak pernah naik angkot ya? Lumayan jauh, lho, dari perhentian sampai ke kampus.”
”Kalau sudah biasa juga nggak terasa jauh,” jawabku.
”Hobi banget jalan?”
”Iya. Irit, banyak angin, sehat.”
“Tapi kalau panas gini, kan, menderita juga.”
Ban sepeda motornya mendecit dan kami bergegas masuk ke ruangan kelas yang sejuk oleh pendingin ruangan.

Di dalam kelas, seorang sahabat menanyakan hal yang sama dan aku menjawab, “aku suka jalan kaki. Aku suka ketika angin menghembusku. Sejuk. Aku suka bermain-main bersama mereka.”
”Ketika aku berjalan, aku punya banyak waktu untuk diriku sendiri. Aku bisa memikirkan ini dan itu. Aku bisa melewati tempat-tempat yang kusukai yang mungkin nggak bisa dilewati oleh angkot ataupun ojek.”
”Aku suka jalan kaki.”

Tapi…
Jika kau yang bertanya padaku, ”Kenapa kau suka berjalan kaki?”
Aku akan menjawab, ”ketika aku berjalan kaki, aku memiliki banyak waktu untuk diriku sendiri. Memikirkan apa yang ingin kupikirkan. Memikirkanmu dan saat-saat kita bersama. Memikirkan masa depan yang mungkin terjadi (atau tidak terjadi) bagi kita.”
”Ketika aku berjalan kaki, aku merasakan angin yang menghembusku. Satu unsur alam yang menandai pertemuan pertama kita. Satu unsur alam yang begitu kau sukai. Satu unsur alam yang kau gambarkan sebagai bidadari yang terus menari dengan indah. Satu unsur alam yang kau berikan padaku sebagai peranku.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa berharap bertemu denganmu lagi. Berharap kau akan menghentikan motormu di sampingku lagi dan menawariku boncengan. Hingga aku bisa sekali lagi merasakakan kehangatan ketika berada dekat denganmu. Sekali lagi merasakan senyummu untukku. Sekali lagi mendengar suara lembutmu menyebut namaku. Sekali lagi merasakan detak jantungmu berada dalam satu garis lurus dengan jantungku. Sekali lagi mencium bau tubuhmu meski telah disengat matahari. Sekali lagi menikmati dari dekat tubuhmu yang mungil dan kokoh pada saat bersamaan.

Sekali lagi meletakkan keselamatanku dalam kendali motormu.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa menuju tempat-tempat di mana kita pernah bertemu. Tempat kau pertama kali mengajakku bicara.
Aula tempat kita pernah latihan drama bersama.
Mengingat kembali saat kau memberiku nasi bungkus itu pada hari terakhir latihan kita. Merasakan kembali kebaikan yang kau beri padaku. Menghangatkan hatiku.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa menyusuri lagi jalan yang pernah kita lewati bersama. Mengulang semua memori dan rasa yang pernah ada.”

Beberapa yang tahu bertanya padaku mengapa aku memilih jalan memutar yang lebih jauh untuk menuju kampus. Aku memberitahu mereka bahwa aku suka jalan kaki. Bahwa jarak bukanlah masalah bagiku.

Tapi jika kau bertanya padaku akan kujawab, ”Karena dengan menempuh jalur itu aku bisa melewati gedung tempat kau berada. Berharap kau sedang keluar dari sana hingga kita berpapasan.”
”Karena dengan menempuh jalur itu, aku merasakan dirimu.”
Meski kau tak di sisiku.
Meski rasanya jalan hidup kita hanya berpotongan di satu titik.
Kemudian saling menjauh hingga kita tak akan pernah bertemu lagi.

Saat aku berjalan, aku menyaksikan banyak hal.
Sepasang kakek dan nenek yang berjalan dengan saling menuntun.
Burung yang terbang berpasangan, bersama meninggalkan dahan pohon.
Bahkan aku tahu ada berbulir-bulir serbuk sari menghampiri kepala putik pada kuntum-kuntum mawar di tepi jalan.
Dan aku melihatmu, di antara mereka semua.

Setiap kali aku berjalan, aku menitipkan salamku pada sang angin. Berharap dia menyampaikan kerinduan dan sayangku padamu.
Namun angin yang kembali padaku hanya angin dingin milik hujan. Menggigit dan menusukku.
Meski begitu, aku tidak pernah berhenti.
Aku masih menempuh 2 kilometer dan 10 menit itu.

Aku suka jalan kaki karena saat aku berjalan aku merasa bersamamu.
^_^

Tags: , ,



Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: “Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku.”

Peter: “Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang.” (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: “Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?”
Peter: “Eh? permainan apaan?”

Tina: “Eng… gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?”

Peter: “Baiklah…. lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan.”

Tina: “Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya… semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?”

Peter: “Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus”

Tina: “OK dech…. Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya…
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru.”

Peter : “Boleh juga…” (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)

Hari ke 2:

Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:

Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:

Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:

Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:

Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:

Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang”, kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:

Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm

Tina: “Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar.”

Peter: “Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?”

Tina: “Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya”

Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.

15:30 pm

Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Peter : “Ada apa pak?”

Orang asing: “Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu”

Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm

Dokter: “Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya.”
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter…
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.

Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya. Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58

Peter: “Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.. Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, Aku sayang kamu…!”

Jam dinding berdentang 12 kali…. jantung Tina berhenti berdetak.

Hari itu adalah hari ke 100…

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.

Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Source : Catatan sahabat

Tags: ,