Ayah, Ibu, ketahuilah…Aku juga mencintaimu dengan segenap jiwaragaku…..

Di sebuah kota di jawa barat, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama fahdi. fahdi gemar bermain bola kakil. Ia bermain pada sebuah tim sepak bola di sekolahnya dalam league antar sekelah. fahdi bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu
hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat fahdi dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri , ibu fahdi, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada 2 tahun saat fahdi berusia tiga tahun. suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk
tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat fahdi. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga fahdi akan selalu bersikap optimis. Setelah fahdi kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha
menjadi seorang ayah bagi fahdi.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada fahdi, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, fahdi datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”, panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?” Pelatih mempertimbangkan keinginan fahdi. fahdi masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, fahdi berhasil memasukkanl bola dan memberikan umpan searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan
sportivitas fahdi, dan fahdi tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. “Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, “Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu.” Hati fahdi bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore
itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil mencetak 3 gol dan memberikan umpan kepada teman nya 2 kali dan berbuah gol. teanya pun berhasil meraup angka penuh 5-0 dan memenangkan pertandingan Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat fahdi bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik fahdi ke pinggir lapangan. “Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada fahdi. “Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang
membuatmu jadi begini?” fahdi tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. fahdi menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,……Ibuku meninggal.” fahdi kembali menangis. Kemudian fahdi menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…….”. fahdi kembali menangis terisak-isak.Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan fahdi bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan fahdi yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak…..Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita fahdi, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari fahdi.

Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya…………fahdi baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya……..

Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya……………

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk
membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia sahabat saat ini ?

Apakah sahabat masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya………?

Raihlah prestasimu sahabat-shabatku,jerih payah mereka,tak akan mampu terbalaskan,walaupun bumi dan isinya shabat berikan,hanya satu yang membuat mereka bahagia,kelak mereka melihat sahabat telah berhasil menggapai cita-cita.kelak telah berhasil mengenakkan toga baju berwarna hitam saat wisuda,,dan sahabat pun berkata”ini untuk mu ayah dan ibu.

Ibuku mengajariku melukis

hingga bisa kuwarnai hari

Ibuku mengajariku berlari
hingga terus kukejar mimpi

Ibuku mengajariku berdoa
berharap selalu ingat dan tak pernah lupa

Ibuku mengajariku tersenyum
mengingatkanku untuk tak selalu sendiri

Ibuku mengajariku diam
membangunku dalam kebijaksanaan

Ibuku masih terus mengajariku
tentang dunia yang tak kukenal
Untukku menatap siang dan malam

Tapi ibuku lupa mengajariku
untuk mengingat jasa-jasanya
Aku tak mampu mengantar kepergianmu
Langit mendung turut berduka
Orang-orang riuh rendah becerita
Tentang segala amal kebaikanmu

Aku datang kepadamu, ayah
Semilir di bawah kamboja dan nisanmu
Aku menangis dan berdoa
Mengenang segala salah dan dosaku kepadamu

Kepergianmu seketika mendewasakan aku
Mengajarkan aku betapa penting arti hidup
Untuk menjadi berguna bagi sesama

Kepergianmu mengajarku
Bagaimana harus mencintai dan menyayangi
Bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar
Bagaimana harus berjuang demi anak-anaknya
Hingga saat terakhir hayatmu
Engkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu

Hari ini aku menemuimu, ayah
Lewat sebait puisi untuk mengenangmu
Bila datang saatnya nanti
Kan kuceritakan segala kebesaran dan keagunganmu
Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya



Tags: , , , , , , , , ,