Browsing the Cerbung (Cerita Besambung) category...


Akhrinnya…hari rabu 27 oktober ntah kenapa hati ku begitu gundah,resah,ku terima kabar bahwa ibu sedang sakit,ibu membutuhkan ku dikampung,,aku pun pulang,,
Sampai nya dirumah,masyrakat sudah ramai dirumah ku,kulihat pak rt,kakakku,aku disambut dirumah itu kecuali kakaku,yang pergi saat ku datang..
Ku yakin kan diriku tak terjadi apa-apa..aku memasuki kamar ibuku,kulihat orang tua selama ini yang mengasihiku terbujur lemas diatas tempat tidurnya,aku berjalan menuju tempat tidurnya,ni aku bu,,aku sudah pulang,apa yang terjadi dengan ibu…ibu tersenyum,, ku peluk ibuku karena tak tega melihat ibuku sperti itu,.maafkan aku ibu,,aku salah selama ini,,.ya nak”ibuku menghapus air mataku,,’sambil tersenyum”nak buatkan ibu nasi goreng,ibu kangen nasi goreng buatan mu..”ya bu”ku hapus air mata ku,,”ku beli alat-alat nasi goreng,..tepat jam 09 malam, nasi goreng ku selesai,bergegas ku antarkan pada ibu,kusuapkan nasi kemulutnya,ibu makan begitu lahap,,aku menagis,teringat akan kesalahanku,tak kuasa kutaha air mata ku,”nak kamu harus selesaikan SImu ya..ibu ingin lihat kamu memakai toga,,’iya bu,,mana kakakmu,entah dari mana kakakku,tahu –tahu dia telah disamping.ada apa ibu”ujar kakaku.”jaga adik mu..”jangan marah lagi sama dia ya..”kasian dia,,ibu yakin dia tidak salah dia hanya terpengaruh lingkungan”iya,,kakakku menangis,akupun menangis,ku ingat aku menjual baju ibu ku dipasarr,aku ingat aku marahkan dia,air mata ini tertahan lagi,,,ibu begitu sayang pada ku,walaupun aku marah sama ibu,ku jual bajunya,dia tetap sayang pada ku,,,engkau malaikat ku ibu,,,aku menangis sejadi-jadinya,,,
Ibu ingin tidur di dipelukkan mu nak.”ya bu,, aku angkat tubuh ibuku, kujadikan paha ku sebagi bantal untuknya,, dia pun tertidur…lelah senyum yang indah,,,.wajah yang sudah mulai keriput,tapi begitu bersih,, berseri,,,beliau tertidur selamanya dalam pangkuan ku..aku menangis sejadinya –jadinya.aku berteriak.ibu,,, kenapa begitu cepat kau tinggalkan ku,,,’maaf kan aku ibu,, maaf kan bu,,,
Masih tercium olehku,aroma nasi goreng yang ku buat,masih terbayang olehku akan susahnya ibu mencari uang dengan bekerja sebagai buruh tani,,masih ku ingat kumalan Lumpur sawah mengotori wajahnya dan bajunya.
ibu..kembali lah ibu,,,
Tuhan ..a mbil nyawaku,, jangan ambil nyawa ibuku,,tak ku hiraukan warga yang ada di rumah ku….
Ibu anak mu telah berbuat salah,,anakmu telah durhaka padamu,
Ampuni aku ya ibu,, ampuni aku ya allah…..
Aku terus berteriak..
Terakhir,ku lihat senyuman ibuku,,,

Setelah kepergian ibuku,,aku senang menyendiri,,aku stress akan keadan ku,,
Tapi ada satu orang yang tak meninggalkan ku yaitu sahabat ku “leli.”ingat pesan ibumu,jangan menyerah,ibumu ingin lihat kamu bergelar SI dan memakai toga seperti anak –anak yang lain..aku bangkit,sedikit demi sedkit,, aku ingin membuktikan pada ibuku dan kakakku,,
Aku kembali berangkat kekota,,aku lihat jadwal ujian skiripsi,aku belum terlambat masih sempat 1 bulan ini,skripsi ku harus selesai…berusah,bekerja keras,tak kurasakan letih ini,aku tempelkan poto ibuku bekerja disawahyang penuh Lumpur itu,saat aku mulai lelah,kulihat poto ibu,rasa lelah hilang seketika,,,,akhrinya tepat satu bulan aku ujian ,dan lulus,dan akhrnya aku di wisuda,,inilah anakmu ibu… inilah dia gumamku dalam hati,,,
Pada acara wisuda hadir kakakku dan isterinya,anak-anaknya,dan tak lupa sahabatku,,kakaku telah berhasil mempunyai bisnis yang maju,,
Aku peluk kakakku,, maaf kan aku kak,,”
Kakakaku,, pun tersenyum… inilah dirimu yang sebernarnya…
Aku masuk balairung tempat wisuda yang begitu besar ada 1.345 mahasiswa yang diwisuda saat itu aku terenyah..air mata ku keluar,andaikan ibu ada disini,andaikan ibu melihatku,.andaikan ibu melihatku pakai toga seperti yang diinginkan nya,,aku berhasil,
Tuhan memang maha kaya,tuhan memang tidak pernah bohong akan janjinya,bahwa doa ibu akan selalu didengarkan oleh tuhan,saat pengumuman wisudawan terbaik,semua diam,kecuali aku yang asyik berbicara dengan teman ku,,”wisudawan terbaik dengan IPK 3,98 bernama ahmad jadda husein”
Ya itulah namaku,,’tepuk tangan diberikan padaku,dari ribuan mahasiswa yang hadir dari orang tua,dan senat,semua penasaran akan diriku,teman-teman memelukku,ku tak percaya semua ini,lidah ku pun kaku,air mata ini kembali menetes..”saudara ahmad disilahkan kedepan dan memberikan kata sambutan>”
Kembali tepuk tangan itu kurasakan,, teman-teman menangis terharu,ya karena mereka tahu akan kehidupanku,, tepuk tangan tak berhenti,,”aku belum siap’ujarku dalam hati”..kulihat kakaku meneteskan air mata tepuk tangan yang semangat di bberikan pada ku..kulihat isteri kakaku pun ikut terharu,dan sahabatku,disamping kakakku.seakan ada sosok yang kukenal ,, mengenakan pakaian putih bersih ,memakai kerudung putih,orang itu adalah ibuku,,beliau tersenyum,maju lah nak,majulah,,aku bangga pada mu”..suaranya terdengar diteelingaku…
Ibu,,,ibu,,,,,

Aku maju kedepan,meneteskan airmata ,tepuk tangan diberikan pada ku tanpa henti,rector berdiri langsung memelukku,
Aku pun dipersilahkan menyampaikan pidatoku”ini buat mu ibu, air mata ini kembali keluar,’ini buat mu,ku persembahkan untukmu,orang tua yang rela bangun jam 6 pagi pulang jam 6 sore,yang rela mengotori tubuhnya dengan Lumpur,tak pernah mengeluh,orang yang rela berdesakan di pasar hanya demi aku,orang yang rela berjualan keliling pasar,orang yang tegar,sabar,orang yang paling ku banggakan seumur hdiupku,orang yang kusayang lebih dari menyayangi apapun didunia ini,dialah ibuku,, walaupun dia telah tiada,walaupun dia telah pergi,aku yakin ibu ada disini,,……

Semua tepuk tangan padaku,, kakakku berulang kali mengatakan adikku,adikku itu,,,,
Aku turun dari mimbar,,,aku duduk ditempat dudukku kembali,,
Kembali tuhan melihatkan kekuatan nya.. disaat aku keluar,disaat acara telah selesai,aku disambut oleh 33 utusan perusahaan , mereka menawarkan ku bekerja untuk perusahaan nya.., menawarkan cek,tulis gaji yang anda mau,anda siap kerja besok,a menyodorkan langsung,kami gaji anda 60 juta per 2 minggu, aku menangis,,, inikah doa mu ibu??
Inikah dirimu tuhan??
Terima kasih ya allah..
Saat ini ku bekerja di salah satu perusahaan VIRGINIA NEWYORK,AKU INGIN PULANG KE INDONESIA,
Aku mempersunting sahabatku leli jadi istriku,dan mempunyai anak 1 orang,,,
Ini semata –mata untukmu ibu….

Ya allah …kutitipkan ibuku padamu,,,
Jagalah dirinya…
Tempatkan ibuku ditempat yang indah disisimu..
Jaga lah selalu dirinya ya allah..
Dan apabila nyawaku engkau ambil ya allah,
Pertemukan diriku dengan dirinya,
Aku ingin memeluknya..
Amien..
tamat..

Tags: , , ,



aku pamitan dengan kakak,tetangga,tak lupa teman dekat ku dikampung seorang cewek,jaga dirimu,,belajar yang rajin,jangan kuatir denga ibu,ibu ada kakak yang jaga,’akupun semakin yakin untuk kekota,aku pamit dengan teman dekat ku,dia memberikan sebuah kalung yang indah,;jaga baik-baik ya,,,aku pun tersenyum..
bersambung…..

Aku pergi semua,,,kakaku membantu ku mengangkat barang-barangku,,,saat ku membuka pintu mobil nya.ku melihat ibuku berlari,,dengan bajunya dipennuhi Lumpur coklat,Lumpur sawah,,dengan membawa cangkulnya…sepontan aku kembali turun dari mobil..kupeluk ibuku,,sambil menangis,begitu hebatnya ibu,rela bangun pagi,banting tulang hanya untukku…”ibu menepati janji kan?’ibu ingin melihat mu nak,,”
Aku menangis…
Tak teras baju ku kotor..aku tak menghiraukan itu..ibu berjalan kerumah mengambil sesuatu,terbungkus didalam kain merah.aku tak tau apa itu,jaga baik-baik nak hanya ini yang bisa ibu berikan untukmu.lalu ku buka ,aku terkejut isinya adalah sebuah baju untukku,baju berwarna merah seperti warna kesukaanku,kembali aku menangis,aku tau betul bahwa ibu tak punya uang,upah buruhnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore RP.4500.ini ibu tabung,uangnya,,ibu belikan untukmu,/..langsung kupakai baju itu, kulepaskan baju yang kotor itu,ibu ku meneteskan air mata,,jadi anak yang baik disana,,aku pun tersenyum,pasti bu..:
Aku pun berangkat,,dengan penuh keyakinan,,dilepas oleh ibu,kakak,sahabatku,dan tetangga,..di kejauhan kulihat kebelakang,kulihat seorang wanita berdiri,dengan penuh Lumpur,wajah yang sudah mulai keriput,bekerja banting tulang untuk anaknya,kutekadkan dalam hati,aku harus menjadi orang yang berhasill,,”

Dkkota aku hidup dirumah kontrakan,rumah yang ku kontrak bersama teman-teman yang kukenal saat ospek,..masak yang ku lakukan sendiri,mencuci pakaian yang kulakukan sendiri,semua kulakukan sendiri,tidak sperti dikampung ,semua serba beres,..
Tapi itu ku nikmati bersama,teman-teman ku,,
Hari demi hari..tak terasa ku hidup dikota sudah 4 tahun ,aku pun menepati janji pada ibu,IP ku dari semester satu sampai semester tujuh 3.98,tidak pernah kurang dari itu,,
Aku pun bangga,,ibu pun merasa tak sia-sia menyekolahkan ku,,
Diikampus akupun aktif di berbagai organisasi,dari BEM,SILAT,dll
Hari demi hari,aku bertemu salah seorang pria sebut saja namanya rio,awalnya rio begitu baik pada ku,akhirnya kami berteman begitu dekat dan menjadi teman yang baik,pada suatu hari rio menawarkan ku barang,yang belakangan ini aku tahu yaitu pil ekstasi,aku terjebak oleh rayuan si rio,beggitu nikmatnya pil itu,,aku terasa terbang,,,aku pun ketagihan..awalnya nya rio memberikan gratis,lama kelamaan aaku harus membEli, satu pill RP200.000,aku tak punya uang sbanyak itu,uang kiriman ibuku , ku habiskan untuk beli pill itu,aku tak punya uang lagi kuliah kupun terlantar padahal aku hanya tinggal menyelesaikan skripsi,,
Aku pun menjadi berubah 180 derajat,aku yang tadinya terkenal baik,sekarang sudah sering nongrong di simpang –simpang kota,aku memeras orang yang lewat,kadang ku ancam dengan golokku yang ku beli dipasar,tadinya aku yang rapi, sekarang berubah jadi kusut,tak beraturan,lingkungan telah merubah hidupku,ibuku sudah mulai sakit,aku tak menghiraukan nya,sifat iblis didalam diriku,telah mebuat aku melupakan ibuku,pernah suatu ketika aku pulang kampung,aku marah-marah pada ibu,karena aku ingin uang,ibu tak memberikannya,aku banting seluruh yang ada dirumah,aku lempar, keluar,aku maki –maki ibuku,,ibuku meneteskan air mata,dia tak sanggup melawan ku,tak ada uang,akhrinyya tak habis akal,aku bungkus baju ibuku ,hanya kusisakan dua,aku jual dipasar baju bekas, aku berhasil mendapatka uang walaupun sedkit hanya RP5000..
Tidak puas dengan itu dipasar aku melihat seorang wanita kaya,aku rampas tas nya,aku berhasil kabur dari kejaran massa,aku berpesta dengan teman-temanku dikota..
Aku pun kembali kekampung,tak terima aku perlakukan ibu seperti itu aku ditendang oleh kakakku,dihajar habis habisan,aku terjatuh,terluka,hampir dibunuh,tapi ibu menyelamatkan ku, ibu memeluk aku,kalau kau ingin bunuh dia,bunuh saja aku”kata ibuku,”kenapa masih membela anak durhaka sperti ini,anak tak tau di untung,anak tak tau malu,anak durhaka,”ibuku menangis,tapi anehnya,aku tak mengeluarkan air mata sedikit pun rasa mennyesall…
Aku terus di nasehati ibu,dan tak ketinggalan sahabat baikku,dia tak bosan-bosan mengingatkku,,,tapI itu percuma..nafsu iblis,,tak bisa kulepaskan begitu saja,,,

bersambung,,,

Tags: , , , ,



banyak pelajaran yang harus kita ambil dari kisah nyata ini,terkadang kita lupa siapa diri kita sesungguhnya.selamat membaca sahabat-sahabat ku..

aku terlahir dari desa yang sangat terpencil dipenghujung provinsi.aku memiliki satu orang saudara lebih tua dariku,aku terlahir dari keluarga yang sederhana,rumah yang sederhana,ayah ku telah pergi meninggalkan kami.aku tak tau ayah ku dimana saat ini ,ayahku pergi disaat aku berumur 6 tahun waktu itu aku masih SD.otmatis yang mengambil alih sebagai kepala keluarga dirumaah kami adalah ibuku,,ibuku bekerja siang malam,seorang buruh tani,kadang jualan keliling dipasar,itu hanya ibu lakukan untuk aku dan kakakku,
hari demi hari saat aku menginjak kan kaki di smp,kakakku menikah dengan wanita pilihannya,dan tanggungan ibu ku berkurang bagiku,tapi tidak bagi ibuku.karena biaya pendidikan kian mahal,aku pernah meminta pada ibu”aku tak ingin sekolah lagi bu,,sudah cukup bagiku ilmmu ini,”ibu sangat marah,”biar ibu mengemis dijalan,biar ibu pertaruhkan nyawa ini,ibu tak ingin kamu putus sekolah,ibu tak ingin kamu jadi seperrti ibu hanya sekolah sampai SD,itupun tak tamat”dalam hati aku terdiam mendengar kata-kata ibu.
Hari demi hari aku beranjak dewasa menjadi anak yang lincah,pandai bergaul,itu terbukti saat aku duduk di bangku sma aku terpilih menjadi ketua osis,tapi prestasi ku dibidang akademik tidak terlalu bagus,aku hanya aktif di organisasi,aku lupa tujuan utama ku.
Masa sma ku kulalui hari demi hari,ibuku selalu menasehati ku”jangan terlalu terlena dengan organisasi,diimbangi,organisasi baik untuk hidup,dan belajar baik juga untuk hidup,seimbangkan lah apa yang kamu lakukan nak,, aku pun menjawab dengan santai”ya bu…”
Hanya itu keluar dari mulutku…dan berikutnya tak terasa aku telah lulus sma,aku bangga ,dan ibuku pun bangga karena aku diterima di salah satu pergguruan tinggi negeri Indonesia.aku mendapatkan undangan,aku sangat senang,tapi ada kendala dari itu semua,ibu tidak mampu membiayai kuliah ku,”aku bantu ibu saja jadi petani ya bu,kuliah nya tahun depan kan bisa.”ibu ku begitu marahnya,tidak bisa,lanjutkan kuliah mu,,ibu masih bisa membiayai mu,akhirmya akupun jadi kuliah di uneversitas negeri itu,ibu ku mendapatkan uang dari seorang rentenir dikampung kami,bunga nya sangat tinggi,
Hari senin tanggal 23 masih ku ingat sbelum aku berangkat kekota untuk melanjutkan kuliahku,selesai shalat subuh,ibuku bergegas berangkat kesawah,Bantu tetangga , aku tatap wajah ibuku yang sudah tua,keriput,rambut yang sudah mulai beruban.,air mataku menetes,,aku tau sekali hari itu ibuku sedang sakit,tapi ibu memaksakan diri,,air mata ini tak tertahan lagi,begitu berat tanggungan ibu menggantikan peran seorang ayah,,,kemana ayah pergi bisik ku dalam hati?.”kenapa meninggalkan kami?’apa salah kami’,ternyata ibuku meilihat diriku yang sedang menagis,ibu memeluk diriku..nanti kalau sudah sampai dikota kuliah yang rajin ya,”jangan seperti ibu,yang tak tamat sd ini”ibu bangga padamu,jangan hura-hura disana,ingat ibu disini,,nanti siang ibu usahakan cepat pulang,ibu ingin lihat kamu berangkat kekota”,aku peluk ibuku erat-erat,ku cium dirinya,aku tak bisa berbicara lagi,lidahkupun kaku,…..ibu ku pun meneteskan air mata nya,”kamu harus berhasil nak”dengan nada yang begitu rendah,tak menampakan dia sedang sedih,,’aku bangga punya ibu spertimu..”ibuku tersenyum”.
Senyuman hangatnya yang tak pernah kulupakan..rapikan baju mu ya nak,ibu berangkat kerja dulu:
Kuantarkan ibu sampai didepan pintu rumahku.pintu yang hampir copot,.ku bukakan pintu itu untuk ibu,ibu bergegas berangakat,dan tak lupa ibu membawa cangkul,..ibu pergi dengan penuh semngat walaupun ibu sedang sakit saat itu..siang harinya,,mobil untuk mengantarkan ku kekota telah datang.kakakku sudah siap dengan barang ku,hati ku gundah ,aku menunggu ibu pulang,tapi ibu tak kunjung pulang.kulihat dari pintu rumah ku,beliau tetap tidak ada,ayo cepat nak,masih banyak yang mau dijemput”ujar pak sopir,,
Ya pak tunggu sebentar,,..aku pamitan dengan kakak,tetangga,tak lupa teman dekat ku dikampung seorang cewek,jaga dirimu,,belajar yang rajin,jangan kuatir denga ibu,ibu ada kakak yang jaga,’akupun semakin yakin untuk kekota,aku pamit dengan teman dekat ku,dia memberikan sebuah kalung yang indah,;jaga baik-baik ya,,,aku pun tersenyum…
BERSAMBUNG…..

Tags: , , ,



Kata orang cinta sejati itu adalah gabungan dari keintiman, hasrat, dan komitmen. Arjuna tahu ia memiliki hasrat terhadap Seruni, juga keintiman yang bahkan sudah tak bisa dipisahkan lagi dari hidupnya, sekarang Arjuna ingin berkomitmen. Ia merasa di umurnya yang sekarang bukan saatnya lagi bermain-main dengan cinta. Ia ingin memiliki Seruni untuk selamanya. Keinginan untuk memiliki itu sedemikian berakar dalam dirinya. Di tengah kesibukannya, ia menyelidiki masa lalu Seruni yang tidak pernah berhasil diketahuinya langsung dari wanita itu. Seruni menyimpan sesuatu, Arjuna tahu itu.

Cincin bertahatakan berlian itu masih tersimpan rapi di kotak merah elegan. Waktu demi waktu, cincin itu tetep berada di balik lemari Arjuna. Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di luar sana. Yang pasti, sebulan setelah malam itu, Seruni tak pernah lagi nampak lagi di manapun. Di kantor, di rumah, di pusat perbelanjaan favoritnya, tak ada lagi yang pernah melihat Seruni. Semua orang mulai berspekulasi tentangnya. Di tengah kebingungan yang melanda kantor tempatnya bekerja, topik pembicaraan sedang berfokus membahas tentang Seruni. Tak ada yang memperhatikan bahwa direktur mereka pun sudah tiga hari absen. Tidak ada juga yang melihat kedua hal ini sebagai sesuatu yang saling berkaitan. Bahkan, belum ada yang tahu perihal hubungan spesial yang telah tercipta antara Seruni dan Arjuna.

Padahal di suatu sudut kamar sebuah apartemen, seorang laki-laki terduduk diam dengan tatapan mata kosong, menyender ke lemari yang di dalamnya terdapat cincin berlian yang sempat dipersiapkan untuk melamar orang yang dicintainya. Laki-laki itu sudah duduk diam selama 2 jam dengan posisi seperti itu. Ia tak beranjak sedikitpun. Rambutnya awut-awutan, kemeja yang dipakainya kusut tak karuan, matanya berkantung, badannya gemetar tak karuan. Sesekali air mata mengalir begitu saja dari kelopak matanya, namun ia masih tidak berekspresi. Namun kali lain, ia malah tertawa sendiri sambil membenamkan kuku-kukunya yang panjang ke pipinya hingga berdarah. Lalu ia menangis lagi, sambil tertawa. Ia menjambak rambutnya sendiri. Ia membenturkan kepalanya ke tembok. Ia berteriak, tapi tak ada yang mendengarkan karena apartemennya itu kedap suara.

Laki-laki yang hampir gila itu adalah Arjuna. Ia menderita amat sangat. Hanya dia yang tahu kemana sebenarnya Seruni pergi.

___________________________

Arjuna mengumpulkan semua informasi yang bisa ia dapatkan tentang masa lalu Seruni. ia googling, namun anehnya tetap tidak bisa menemukan jejak Seruni sebelum masuk kantornya. CV yang digunakan wanita itu untuk melamar kerja pun ditelusurinya. Namun ternyata seluruh riwayat institusi pendidikan yang tertera di dalamnya pun palsu. Tidak pernah ada yang bernama Seruni Rahmaya di SD, SMP, dan SMA yang diakui sebagai sekolah wanita itu. Arjuna semakin bertanya-tanya. Siapakah wanita ini sebenarnya?

Sampai suatu ketika ia nekad pergi ke Singapura untuk mencari informasi tentang universitas Seruni dan kehidupan masa perkuliahannya, Arjuna mendapati fakta yang membuatnya sangat terpukul dan tertohok. Seruni Rahmaya ternyata adalah seorang transeksual yang dulunya bernama Dhimas Rohmana. Ia mengubah penampilannya dengan berkali-kali operasi, kemudian pengadilan mengabulkan status legal perubahan jenis kelamin yang diajukannya. Jadilah mulai saat itu ia memasuki babak baru dalam hidupnya sebagai seorang wanita.

Arjuna shock bukan kepalang. Orang yang dicintainya ternyata aslinya berjenis kelamin laki-laki. Kelebatan adengan percintaannya terbayang dengan jelas di memorinya. Ia telah berciuman, bercumbu, dan tidur dengan laki-laki. Bahkan ia hampir saja menikahi penipu bangsat yang telah menawan cintanya itu. Jijik ia! Sekujur tubuh Arjuna bergetar menahan amarah. Tak ada lagi rasa cinta tersisa. Berganti dengan kebencian yang mengalir dengan kuat di setiap aliran darahnya. Saat itulah Setan datang kepadanya.

Seruni menunggu di apartemen Arjuna. Ia telah menyiapkan makan malam romantis untuk menyambut kekasih yang baru pulang dari perjalanan bisnis yang melelahkan. Ia berdandan cantik sekali malam itu. Langkah kaki terdengar, pintu apartemen dibuka. Arjuna datang dengan senyuman. Seruni menghambur ke pelukannya dengan rindu yang teramat sangat. Ia memeluk kekasih pujaannya itu dengan penuh rasa cinta dan senyuman. Namun sejurus kemudian, senyuman itu pudar. Ekspresinya kaget. Kesakitan yang teramat sangat menghiasi wajahnya. Arjuna masih tersenyum simpul. Dihujamkan lagi pisau besar di tangan kanannya ke punggung Seruni. Seruni terjatuh ke lantai, dengan sesak ia berusaha berteriak, namun apartemen itu kedap suara. Darah segar mengaliri lantai keramik dan dengan segera membentuk genangan sungai merah.

Dengan segala daya yang masih ia punya, Seruni dengan lemah menjangkau vas bunga yang berada di atas meja, kemudian melemparnya ke kepala Arjuna. Vas itu pecah dan pelipis Arjuna mengeluarkan darah segar. Habis sudah akal sehatnya. Arjuna makin kalap, ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bagian tubuh Seruni yang dapat dijangkaunya. Mulut Seruni diinjaknya sehingga wanita itu berhenti berteriak. Seruni menggeliat mencoba melawan, namun Arjuna terlalu kuat, Setan yang bercokol di dirinya membuat kekuatannya berlipat ganda. Rintihan pilu menyayat seiring tangan-tangan Setan membantu Arjuna menghabisi Seruni. Kemudian setelah menit-menit penuh penyiksaan, pisau laknat itu dihujamkan Arjuna tepat ke jantung Seruni.

Lalu yang tersisa di ruangan yang memerah itu tinggal desah nafas Arjuna yang memburu dan degub jantungnya yang sangat cepat dan kuat. Jiwa Arjuna ikut mati bersama Seruni, ikut pergi ke tempat yang jauh. Karena itu ketika Setan yang dari tadi tertawa melihat pembunuhan itu masuk ke tubuh Arjuna, ia tak melawan sama sekali. Setan berwujud Arjuna itu memotong-motong tubuh Seruni menjadi beberapa bagian, kemudian dimasukkannya ke dalam tas besar. Lalu Setan membersihkan dirinya sendiri, mengganti bajunya yang berlumuran darah, mencuci badannya yang juga berlumur darah, kemudian mematut diri di depan kaca. Matanya merah, sudut bibirnya naik, ia tersenyum dengan senyum Arjuna.

Kemudian tas besar berisi jasad Seruni tersebut dimasukkannya ke dalam mobil. Setan mengemudi ke tempat yang jauh dari pusat kota. Di tepi sebuah sungai yang sepi, ia membakar tas itu sampai menjadi abu. Setan girang bukan main, api adalah permulaannya, api adalah alasan atas ketiadaan. Saat ini, Setan tahu bahwa sekali lagi ia yang bermula dari api telah berhasil menghancurkan jiwa manusia yang bernama Arjuna ke dalam ketiadaan seiring dengan abu di hadapannya yang mendingin dan tertiup angin.

tamat,,

Tags:



Berpuluh bulir keringat tercipta dan mengalir membasahi sekujur tubuhnya. Ia menyeruak di antara kumpulan orang yang sedang lalu lalang. Padat. Pagi mulai panas. Ia harus bergegas. Semakin terengah nafasnya, semakin cepat ia memacu langkahnya dan memaksa pembuluh jantung dan segenap persendian untuk bekerja lebih keras. Wajahnya sudah memerah, bibirnya melafalkan sesuatu berulang-ulang, matanya nanar seakan menatap ke dunia yang jauh dari sana. Sesekali langkahnya terantuk keramaian sehingga badannya oleng, namun ia tersadar sedetik kemudian dan malah menghempaskan tangan-tangan orang yang berniat menolongnya. Gerutuan terdengar di sekitarnya berikut tatapan sinis. Tapi ia hanya merespon dengan mendengus dan melempar tatapan lebih sinis sebelum pergi berlari lagi.

Laki-laki itu semakin kerasukan kekuatan tak kasatmata. Seisi pasar pagi itu pun kini dapat melihat api yang membakar rusuk-rusuknya sampai ke punggungnya. Perlahan tanduk merah mulai muncul dari kepalanya, semakin tumbuh dan mengeras. Matanya sekarang merah darah, tidak ada putih setitikpun yang tertinggal. Ia mulai tertawa terbahak-bahak sampai badannya berguncang-guncang. Kerumunan pasar pagi sekarang menepi menjauhinya, seakan ada medan tak kelihatan tercipta dengan tiba-tiba. Anak kecil mulai menangis. Setan, kata mereka. Para orangtua berkomat-kamit membaca doa, ada yang menyumpah-nyerapah. Seseorang menghubungi polisi. Wartawan berdatangan. Semua ketakutan, namun tak satu pun yang beranjak dari tempatnya. Tak juga ketika laki-laki itu menggelepar dan terkapar di tanah, tubuhnya mengejang. Namun tak ada yang berani mendekat dengan semakin masifnya gumaman dari setiap mulut orang-orang yang hadir, menyimfonikan satu kata: Setan.

Lalu seiring memelannya koor tersebut, memelan pula nafasnya. Sekarang tak ada yang berani berkedip, takut kehilangan momen langka barang sedetik saja. Sekarang benar-benar sunyi, napas terakhirnya berlalu dan menghilang bersama semilir angin yang melintas. Sentakan keingintahuan melanda bagai gelombang, kebekuan pecah, kerumunan tersebut mulai bergerak mengelilingi laki-laki berwujud setan itu. Kemudian wujudnya berangsur-angsur kembali normal seperti sebelum api muncul dari rusuknya. Kini perhatian semua orang tertuju pada satu titik. Seseorang mengenalinya,

“Arjuna!”

_______________________

Arjuna duduk di hadapan laptop-nya. Merenggangkan badan dengan mata terpejam. Sudah pukul 23.10, sorot keletihan tersirat di gurat wajahnya, namun sekilas kemudian ia tersenyum. Sudut pikirnya me-rewind adegan saat makan siang tadi. Gelombang rileks perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Potongan-potongan gambar dan selipan suara berseliweran di kepalanya. Semua berpusat pada satu objek. Seruni.

Apa yang membuat wanita ini begitu membuatnya merasa ada sesuatu yang tak benar dengan sekitarnya, seakan udara mendadak tersedot dari sekelilingnya saat mereka berada dalam ruang yang sama? Namun ia rela menukar semua jatah udara yang ia punya demi terus memiliki objek tersebut dalam jarak penginderaannya. Apalah arti sekedar tak bernafas jika gantinya adalah kebutaan dan kelumpuhan bila wanita itu tak ada! Arjuna senang dengan sensasi seperti jatuh dari ketinggian namun tak pernah sampai ke dasar bumi saat mereka berinteraksi, apalagi untuk imbalan sebersit senyum Seruni, Arjuna rela melakukan apapun, ia melayang.

Seruni. Seruni. Seruni. Bahkan dendang lagu dari winamp-nya pun seriama dengan namanya. Malaikat yang baru diutus Tuhan untuk bekerja di perusahaan yang sama dengan Arjuna. Ia adalah suntikan semangat dengan takaran yang tak dapat dijelaskan. Ia adalah alasan untuk berangkat kerja sebelum waktu kantor direktur perusahaan pada umumnya. Ia adalah jawaban mengapa semua dasi terlihat kusam menjemukan dan semua kemeja di lemari kamar Arjuna menjadi membosankan, juga jawaban mengapa Arjuna jadi rajin bercukur dan memakai parfum dengan agak berlebihan. Seruni wanita yang cerdas dan memiliki pengetahuan luas, karenanya Arjuna mulai menggilai segala macam jurnal, artikel-artikel online yang bahkan tidak sedikitpun dilirik sebelumnya, serta segepok buku-buku bisnis bersampul tebal. Kinerja Arjuna makin membaik, ia kecanduan kerja, ia kecanduan Seruni.

Namun ada sesuatu yang misterius tentang Seruni. hal itu mengusik bawah sadar Arjuna, ia tak tau itu apa, namun ia yang sedang termabuk cinta mendorong perasaan itu jauh-jauh ke dasar pikirannya sampai ia benar-benar lupa. Ia malah jadi makin bergairah dan terobsesi dengan kemisteriusan itu sendiri. Baginya, wanita adalah ruangan tertutup yang menyimpan banyak rahasia, semakin sulit akses membuka pintu ruangan tersebut, akan semakin banyak pula rahasia menakjubkan yang akan dia temukan nantinya. Seruni jarang bicara, ia tipe orang yang sangat introvert, namun senyumnya tak pernah meninggalkan bingkai wajahnya. Arjuna makin menggila, seluruh dayanya ia kerahkan demi mendekati wanita pujaannya itu.

Waktu memang terkadang menjadi teman yang baik bagi mereka yang sabar dan mau berusaha. Seruni cukup peka untuk mengerti sinyal-sinyal yang diberikan Arjuna, ia membalas. Arjuna senang bukan kepalang. Maka lahirlah chemistry antara mereka berdua. Namun mereka cukup lihai untuk menyembunyikan hubungan baru mereka atas alasan takut merusak profesionalisme. Tak ada seorangpun di kantor yang membauinya. Sejauh ini, semua terkendali. Pasangan ini dimabuk asmara, sekali lagi cupid cinta berhasil menancapkan panahnya kepada dua cucu adam.

Bagi Arjuna, sentuhan Seruni adalah hal paling dibutuhkannya. Menakjubkan bagaimana dengan satu sentuhan saja ia mampu membuat segala kepenatan sirna. Terkadang Arjuna berani bersumpah ia melihat sepasang sayap putih keluar dari punggung Seruni, dan wajahnya bersinar keemasan seperti rembulan. Namun meski Seruni bilang bahwa malaikat itu hanya ada di dunia dongeng, Arjuna tetap saja yakin bahwa Seruni adalah malaikat, dan ia mencintai malaikat itu. Bahkan jikalau Seruni adalah setan yang mempunyai tanduk di atas kepalanya sekalipun, ia akan tetap mencintainya.

Suara deritan pintu membuat Arjuna terjaga, ia langsung duduk sigap. Sejurus kemudian tubuhnya merileks, Seruni ada di depannya dan menutup pintu kembali. Mereka berdua bertatapan dan serentak tersenyum. Dalam sayupnya malam, mereka bercinta.

bersambung………..

Tags: , ,



Tanpa suatu penjelasan apapun. “Ah… sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula! Saya adalah seorang yang terpelajar… sudah selayaknya saya mendapatkan seorang gadis dari keluarga terhormat!” Semakin lama Andri memikirkan hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman…

Bersambung . . .

Keesokan harinya… Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan setianya. Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli. Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang menggendongnya berteriak-teriak : “Pembunuh! Pembunuh!” Kegemparan pun segera menyebar ke seluruh penjuru pasar…

Sementara itu, Andri dan pelayannya telah lenyap dari tempat kejadian. “Kau berhasil membunuh dia?” tanya Andri terengah-engah. “Tidak,” jawab pelayannya. “Begitu saya menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba. Saya rasa saya hanya melukai mukanya, dekat alisnya.” Andri segera meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera terlupakan oleh masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat menuju ibukota. Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri memutuskan untuk berhenti memikirkan perkawinan.

Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar.. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik. Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota lain.

Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota terpelajar. Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di desa, Andri menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala persiapan pernikahan.

Selama beberapa hari, Andri berkeliling mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu. Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi buta. Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak untuk dijadikan istri.

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda, tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun segera dilangsungkan. Namun malang tak dapat ditolak… tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari tangga dan mati. Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri. Andri menjadi fatalis. Ia tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja dan bekerja. Sekarang ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya. Mengabdikan diri pada tugas dan sama sekali berhenti memikirkan pernikahan. Tapi ia bekerja dengan sangat baik, sehingga atasannya, Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya… hingga mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat menyakitkan Andri. “Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada saya! Saya terlalu tua untuk menikah.” Pejabat itu menasehati Andri tentang keburukan membujang. Lagipula menikah adalah sunnah Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias…

Andri benar-benar tidak melihat istrinya sampai pernikahan benar-benar selesai dilangsungkan. Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya. Tingkah lakunya sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah istri yang sangat baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bila di rumah, istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas, sehingga menutupi pelipis kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut seperti itu istrinya kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran juga…

Tak kurang dari satu bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Suatu saat ia bertanya, “Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut sekali-kali? Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?” Istri Andri menyibakkan rambutnya dan berkata, “Lihatlah!” Ia menunjuk ke luka di pelipis kanannya. “Bagaimana bisa begitu?” tanya Andri lagi Sang istri menjawab, “Aku mendapatkannya saat berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di kantornya, sedangkan ibu dan abangku meninggal dunia pada tahun yang sama. Kemudian aku dirawat oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat kantor ayahku. Suatu hari, seorang pencuri tanpa alasan apa pun, mencoba membunuhku. Kami sama sekali tidak mengerti, kami tidak pernah punya musuh. Untung ia tidak berhasil membuatku mati, tapi ia meninggalkan luka di kepala sebelah kananku.

Karena itulah aku selalu menutupinya darimu.” “Apakah ibu susumu hampir buta?” “Ya. Kok tahu?” “Akulah pencuri itu. Ah, tapi bagaimana mungkin! Semua begitu aneh… Semua terjadi begitu saja, seperti ada yang telah mentakdirkan.” Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Istrinya juga bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun, pamannya menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal bersama keluarganya di Shiang-Chow.

Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta’ala. Andri menangis. Ia malu pada Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir… …dan pada saat itulah, Andri menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ? Saat itu juga, Andri melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah, kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur…

Setahun kemudian lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya dengan sangat baik. Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar. Usahanya di bidang perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan terkenal akan kedermawanannya. Ketika sang anak menjadi Gubernur, Andri telah lanjut usia. Anak dan istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di tempat mereka pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.

Tags: ,



Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
ubundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan
Raihana
lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal?
Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa
cinta
yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta
seperti
yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar
hangat.
Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku
di
mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan,
kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan
sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir
tentang
keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada
tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.

Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah
begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan
mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin
manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu
aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam
dan
mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas
an
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita,
tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no
pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam
hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa
arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.
Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa
arab
dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu
pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah
menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan
orang
mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya
pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan
perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. “
Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku
melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir
itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa
terjadi?”. ” Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank
arena
terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini,
Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke
Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya
lulus
dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan
rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak
gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan
pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh
Fadhil.
Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu
atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika
saya
menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini,
sama-sama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar
yang
hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada
dengan
YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk
menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin
menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang
mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali
ke
MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di
Indonesia.
KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun
pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke
Mesir
menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan
YAsmin.
Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga
lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk
berhemat.
Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku
mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah
terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul
penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang
hidup
dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa
berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa
yang
mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir
biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan,
maka
rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang
lalu,

Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru,
rindu
dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua…

Update : Waktu saya posting cerita ini saya tidak mengetahui ini sebagai sebuah buku, saya baru tau ternyata ini isi dari salah satu kumpulan cerpen habiburahman el zirazy, jadi mohon maaf ceritanya saya potong, silahkan beli bukunya sejudul dengan postingan ini.

thanks ya sob,,,

Tags: ,



Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo
dulu”
kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”,
ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama
sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami,
bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra,
yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah,
mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari
menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada
ibuku,
tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk
dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa
menusuk-nusuk
hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa
teriris-iris
dan
jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari
Allah
SWT
atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat
bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang
dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena
ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar
dan
kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum
kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang
aku
berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku
dengan
khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas
mandi
dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi
mendidih”
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah
siap”
kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar
mandi,
aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu
membawa
handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas
dan
mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar
mandi
dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti
yang
dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati
pakai
apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil
menuntunku
ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “
Kalau
begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil
tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya.
Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya
yang
halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran
dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi
tak
semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi
bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di
istananya.”
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu”
kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang
pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku
mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat
Mona
Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu
mempersilakan
aku
duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat
duduk,
tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat
Isya”
kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “
Maafkan
aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih
Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun
cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi
semakin
tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi
apakah
dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat
Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara
lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” MaâEUR¦.maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku
D..DinâEUR¦Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya
Mas!”
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
“dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “TeâEUR¦terima kasihâEUR¦DiâEUR¦dinda,
kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku
dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima
kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu
bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri
di
dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.

bersambung…

Tags:



Andri telah beranjak dewasa. Sudah saatnya ia mencari gadis yang baik untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil. Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat musim panas mulai bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Andri memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan yang berada di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu. Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andri untuk mencoba melamar anak gadis keluarga Surya. Menurut temannya itu, keluarga Surya adalah keluarga yang status sosial ekonominya sederajat dengan Andri. Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar. Andri girang bukan main. Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya dengan ‘Pak Comblang’ dari keluarga Surya, esok pagi. Pak Comblang inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut. Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan. Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri.

Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh. Baru kali ini Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati, dengan kepasrahan yang murni… Ah… Tak terasa air mata Andri berjatuhan. Diam-diam menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu’ dan dapat merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan serius yang harus ia hadapi? …..

Waktu subuh belum lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi menemui Pak Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya… Di bawah sinar bulan sabit yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali… Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar sendirian. Di tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari bangunan itu. Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul di sela-sela kaca jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya. Andri berjingkat ke arah jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah…

“Hei, masuklah!” “Jangan mengintip seperti itu!” Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu. “Ayo, masuklah. Jangan takut!” Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri melangkah ke dalam. “Kemarilah!” ajaknya tanpa melihat muka Andri. Andri memperhatikan dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi wajahnya memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari seluruh aliran darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia pengemban amanah yang luar biasa, pikir Andri. Laki-laki itu duduk di atas permadani sambil membaca sebuah buku. Lalu ia berkata perlahan : “Belum saatnya Andri …. Belum saatnya.” Andri menatap wajahnya dengan penuh kebingungan. Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan.

Kali ini ditatapnya Andri dengan ketajaman jiwa. “Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan ibunya, Allah Ta’ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya… Hmmmm….. seperti benang sutera.” “Ya, seperti benang sutera yang diikatkan di antara mereka berdua. Kepada kaki laki-laki atau bayi perempuan yang lahir dan ditakdirkan berjodohan satu dengan yang lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak ada suatu hal pun yang dapat memisahkan mereka.” “Salah seorang diantara mereka mungkin saja berasal dari keluarga yang miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang kaya. Atau mereka terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang berasal dari dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya, bila saatnya telah tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada suatu hal pun yang dapat mengubah takdir itu.” Laki-laki itu terdiam sesaat. Andri kini sudah sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya. Kalimat demi kalimat disimaknya dengan seksama.

“Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti… Bayangkan… Dua anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali pernikahan.” “Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul di antara keduanya, ia akan terjatuh. Ia tak akan mampu melewati bentangan tali sutera yang telah diikatkan pada mereka…. Ah, kau pasti pernah melihat orang yang patah hati bukan? Hhhhh, sebagian orang yang bodoh dan tak kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang memilihnya untuk bunuh diri… Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar menanti saat pertemuan itu datang.” “Ketahuilah,Andri… Masalah jodoh adalah rahasia Allah… Kau harus dapat berdamai dengan takdirmu.”

“Bagaimana dengan aku!” sela Andri. “Apakah aku akan berhasil menikah dengan anak gadis dari keluarga Surya? Apakah ia takdirku?” tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu tersenyum. “Belum saatnya Andri… Belum saatnya! Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak, setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua orang tuanya, meskipun kalian sudah tua renta nanti… Hal ini tak lepas dari peranan ibunya dalam mendidik anak itu.” “Tapi itu nanti. Bila calon istrimu telah mencapai usia 17 tahun. Sayangnya, saat ini dia masih berumur 7 tahun.” “Hah!” Andri kebingungan. “Jadi saya harus membujang selama 10 tahun??!” Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya kemungkinan karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di sana… Tapi semua sia-sia… Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit pun. Dan Andri menyadari semua adalah kebenaran. “Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon istri saya? Tolonglah?!” Andri memohon padanya. “Oh, gadis itu tinggal dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita itu datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan.”

*******************
Kukuruyukkkkk….!! Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan… Andri tersentak. Kukuruyukkkkk….!! Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari tidurnya. Ah.. rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah… Alhamdulillah, waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu… Sehabis sholat subuh, Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi teka-teki. Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk menyingkap tabir mimpi itu, cuma ada satu cara yang bisa dilakukannya : mencari gadis kecil yang katanya calon istrinya itu! Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit, bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan ia berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang.

Fajar telah lama merekah saat Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya. Pembeli mulai berdatangan. Ramai… Namun belum seramai satu jam yang akan datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya. Matanya berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di samping kios ikan. Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan. Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas sambil menggendong bocah kecil di dadanya. “Oh, tidak!! Bagaimana mungkin?! Ini pasti kekeliruan!” Andri menatap kembali bocah terlantar yang kurus kering itu. Hatinya hancur… Ah, mimpi semalam benar-benar hanya bunga tidur. Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan saja ia kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah gelandangan, tapi juga karena ‘Pak Comblang’ dari keluarga Surya tidak datang pada pertemuan yang ia janjikan.

Tanpa suatu penjelasan apapun. “Ah… sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula! Saya adalah seorang yang terpelajar… sudah selayaknya saya mendapatkan seorang gadis dari keluarga terhormat!” Semakin lama Andri memikirkan hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman…

Bersambung . . .

Tags: