Browsing the Cerita-Cerita category...


Ini adalah cerita dari salah satu KRU RCTI.terima kasih kepada baban sarbana dan group pecnta kisah nyata,..

cerita ini adalah kisah nyata.dibalik pencarian tim UANG KAGET.
semoga bermanfaat dan mengambil hikmah dibalik semua cerita ini..

Saya menemui Ibu Ela di rumahnya, depan mesjid jami Al Hidayah di Darmaga Lonceng, Bogor. Menemuinya tidak butuh waktu lama, karena hampir semua orang di dekat mesjid itu kenal Ibu Ela. Rumahnya ada di dalam gang, sedikit di bibir sungai.

Saya mengucap salam dan dijawab oleh tetangganya.

Mas.. cari bu Ela ya? Iya, orangnya ada Bu? tanya saya. Oh.. dia lagi di sungai” kata ibu tadi. Ngapain Bu..?? saya bertanya lagi. Mungkin sedang mencuci pakaian, pikir saya. Memang kerjaannya tiap hari ke sungai, mungutin sampah-sampah plastic dari botol kemasan sabun atau shampoo, bentar lagi juga pulang” Jawab ibu tadi panjang lebar.

Informasi yang saya terima ternyata benar adanya. Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya memang mengumpullkan sampah plastic dari kemasan. Cuma saya tidak terbayang, bahwa untuk memperolehnya, dia harus memungut di sungai.

Tak beberapa lama, datang wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya. Ibu Ela. Mengenakan baju bergambar salah satu calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 lalu. Saya langsung menyapa. “Assalamu”alaikum”.. Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?? tanya Ibu Ela.. ‘Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu?’ saya menjelaskan, dan mengunakan Tabloid An Nuur sebagai penyamaran. Oh.. boleh, silahkan masuk! Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka. ‘Silahkan masuk!’ Saya masuk ke dalam ruang tamu yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir.

Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya. Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu!’ kata Ibu Ela. Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan di atasnya ada sebuah panci yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.

‘Iya Bu.. ngga usah repot-repot…! Kata saya ngga enak. Kami pun mulai ngobrol, atau wawancara.

Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya tanya aktivitasnya selain mencari plastic, Mengaji, katanya. ‘Hari apa aja Bu??? Tanya saya. Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu’ jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibu yang dirawat di rumahnya. Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela. Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.

Saya tanya lagi, Paling jauh pengajiannya dimana Bu?? ? Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih” kata Ibu Ela. ‘Kesana naik mobil dong..?? tanya saya. ‘Saya jalan kaki’ kata Ibu Ela ‘Kok jalan kaki??? tanya saya penasaran. Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari.

Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari. ‘Iya.. mas, saya jalan kaki dari dini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz” Ibu Ela menjelaskan. ‘Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?? Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati. ‘Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz buat sedekah.’ Kata Ibu Ela, datar. ‘Kenapa Bu, kok dikasihin?? saya masih bengong. ‘Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah.

Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat. Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak! Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding! Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.

Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak. Wawancara yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.

Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat merinding.. Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.

Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money) Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ? bintang? di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya. Ibu Ela mendapatkan ganti Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah ganti di akherat kelak. Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak… Sudahkah kita menyisihkan ongkos ke akherat?

baban sarbana

(a true story)

Tags: , , , , , , , , , , ,



Kelima jari terdiri dari Jempol, Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis, dan Kelingking. Si Jempol berbangga hati karena meskipun dia pendek dan gemuk, dia adalah Si Ibu Jari. Apapun yang sifatnya bagus dan istimewa, dia yang bekerja. Dengan mengacungkan Jempol, orang-orang tahu bahwa sesuatu adalah istimewa. Iya kan?

Si Telunjuk berbangga hati karena dia menunjukkan kekuasaan. Bukankah orang menyuruh seseorang menggunakan telunjuknya?

Si Jari Tengah berbangga hati karena dia yang paling tinggi. Siapa yang dapat menyangkal?

Si Jari Manis berbangga hati karena dia yang paling manis. Bukankah cincin yang indah pun dilingkarkannya di jari manis?

Bagaimana dengan Si Kelingking? Si Kelingking tidak istimewa, tidak gemuk, tidak tinggi, tidak berkuasa, tidak manis pula. Apanya yang bisa dibanggakan? Sungguhkah Si Kelingking tidak berharga?

Tapi Tuhan memang Maha Adil. Jempol yang istimewa, Telunjuk yang berkuasa, Jari Tengah yang paling tinggi, dan Jari Manis yang manis tidak bisa bekerja sendirian. Cobalah suruh mereka menyuapkan nasi, tidak akan bisa mereka lakukan sendiri. Kerja sama dua jari juga masih sulit. Kerja sama tiga ataupun empat jari mungkin bisa tapi tidak akan maksimal. Nah, kerjasama lima jari bersama dengan kelingking, barulah sempurna. Si Kelingking yang sekilas tidak memiliki kelebihan apa-apa, tampil sebagai penyempurna.

Intinya adalah kerja sama itu indah. Jika kita mampu mengalahkan ego kita masing-masing dan mau menghargai serta bekerjasama dengan orang lain, maka hidup terasa lebih mudah dan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Orang yang sekilas terlihat lemah bukan berarti tidak memiliki kelebihan, bukan berarti pula harus kita sisihkan. Yang perlu dilakukan adalah meletakkannya pada tempat yang tepat sehingga semuanya menjadi indah luar biasa.

mari bekerja sama ya sahabat!!…
kerja sama itu indah..

Tags: , , , , , , , , , , , ,



Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya darikebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas daripenderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak,aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping saya

dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata

:”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang

dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata: “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah

kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim

balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian

memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang

ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan

kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Dari : Jambi Facebook Community (oleh : Dr. Sudarmono)

Tags: , , , , , , , , , , , ,



Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yang lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke Dalam bus mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di linkungannya. Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita-citakan.

Merasa tak berguna dan tak ada seorang pun yang sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. “Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam kedalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta.

Burhan tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit. Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dengan terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa. Tapi Burhan membimbing Jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile.

Dengan sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan Susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dengan seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. “Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Yasmin. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.” Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri. Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada.

Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas. Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu Diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar. Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “saya sungguh iri padamu”. Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?” ” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”. Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? “Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. “Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

~Author Unknown~

Sahabat BESWAN DJARUM, kita ibarat orang buta. Yang diperintahkan bekerja dan berusaha. Kita adalah orang buta. Yang diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja. Kita tak bisa melihat tuhan. Tapi yakinlah, Dia Maha Pengasih, Dia terus membimbing, seperti dalam cerita. Dia memompa semangat kita Cemas dan khawatir dengan langkah kita Dan tersenyum puas Melihat kita berhasil melewati ujian-Nya.

Jangan bersedih… ALLAH sangat dekat dengan kita….

Tags: , , , , , , , , , , , ,



Di sebuah kota di jawa barat, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama fahdi. fahdi gemar bermain bola kakil. Ia bermain pada sebuah tim sepak bola di sekolahnya dalam league antar sekelah. fahdi bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu
hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat fahdi dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri , ibu fahdi, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada 2 tahun saat fahdi berusia tiga tahun. suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk
tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat fahdi. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga fahdi akan selalu bersikap optimis. Setelah fahdi kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha
menjadi seorang ayah bagi fahdi.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada fahdi, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, fahdi datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”, panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?” Pelatih mempertimbangkan keinginan fahdi. fahdi masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, fahdi berhasil memasukkanl bola dan memberikan umpan searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan
sportivitas fahdi, dan fahdi tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. “Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, “Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu.” Hati fahdi bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore
itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil mencetak 3 gol dan memberikan umpan kepada teman nya 2 kali dan berbuah gol. teanya pun berhasil meraup angka penuh 5-0 dan memenangkan pertandingan Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat fahdi bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik fahdi ke pinggir lapangan. “Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada fahdi. “Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang
membuatmu jadi begini?” fahdi tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. fahdi menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,……Ibuku meninggal.” fahdi kembali menangis. Kemudian fahdi menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…….”. fahdi kembali menangis terisak-isak.Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan fahdi bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan fahdi yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak…..Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita fahdi, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari fahdi.

Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya…………fahdi baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya……..

Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya……………

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk
membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia sahabat saat ini ?

Apakah sahabat masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya………?

Raihlah prestasimu sahabat-shabatku,jerih payah mereka,tak akan mampu terbalaskan,walaupun bumi dan isinya shabat berikan,hanya satu yang membuat mereka bahagia,kelak mereka melihat sahabat telah berhasil menggapai cita-cita.kelak telah berhasil mengenakkan toga baju berwarna hitam saat wisuda,,dan sahabat pun berkata”ini untuk mu ayah dan ibu.

Ibuku mengajariku melukis

hingga bisa kuwarnai hari

Ibuku mengajariku berlari
hingga terus kukejar mimpi

Ibuku mengajariku berdoa
berharap selalu ingat dan tak pernah lupa

Ibuku mengajariku tersenyum
mengingatkanku untuk tak selalu sendiri

Ibuku mengajariku diam
membangunku dalam kebijaksanaan

Ibuku masih terus mengajariku
tentang dunia yang tak kukenal
Untukku menatap siang dan malam

Tapi ibuku lupa mengajariku
untuk mengingat jasa-jasanya
Aku tak mampu mengantar kepergianmu
Langit mendung turut berduka
Orang-orang riuh rendah becerita
Tentang segala amal kebaikanmu

Aku datang kepadamu, ayah
Semilir di bawah kamboja dan nisanmu
Aku menangis dan berdoa
Mengenang segala salah dan dosaku kepadamu

Kepergianmu seketika mendewasakan aku
Mengajarkan aku betapa penting arti hidup
Untuk menjadi berguna bagi sesama

Kepergianmu mengajarku
Bagaimana harus mencintai dan menyayangi
Bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar
Bagaimana harus berjuang demi anak-anaknya
Hingga saat terakhir hayatmu
Engkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu

Hari ini aku menemuimu, ayah
Lewat sebait puisi untuk mengenangmu
Bila datang saatnya nanti
Kan kuceritakan segala kebesaran dan keagunganmu
Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya



Tags: , , , , , , , , ,



Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,

Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?

“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..

cinta ayah 2Ketika kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….

Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:

“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..

Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal ….

bahagialah kalian yang masih mempunyai orang tua,,, bahagiakan mereka sebelum bendera KUNinG berada di depan rumah mu…

from:sahabat simple boyz..

Tags: , , , , , , , ,



Di sebuah dusun, tinggallah keluarga yang memiliki anak yang sangat Jelita. Jelita telah memiliki seorang kekasih. Namun sayang, sejak semula keluarga Jelita tak menyetujui hubungan mereka. Dengan berbagai alasan dan latar belakang bahwa Jelita akan menderita seumur hidupnya, jika dia tetap menjalin hubungan dengan pemuda tersebut.

Dengan kekerasan hati, Jelita memaksa untuk tetap terus bersama dengan pemuda tersebut. Namun karena tekanan dari keluarga membuat hubungan mereka sering di lalui dengan pertengkaran. Komentar – komentar dari keluarga membuat Jelita sering marah dan kesal. Semua kekesalan dia lampiaskan padanya. Dan sang pemuda selalu menerima dengan penuh kesabaran.

Selang beberapa tahun, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Dia bermaksud melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia bermaksud melamar Jelita. “ Saya tidak tahu bagaimana cara merangkai kata – kata manis,yang saya tahu saya mencintaimu.” Dan jika kamu setuju saya ingin menjagamu seumur hidup. Maukah kau menikah denganku ? Soal orang tuamu aku akan berusaha keras meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita .“

Jelita setuju, dan berkat kegigihan sang pemuda,akhirnya hubungan mereka direstui. Sebelum berangkat, mereka berdua bertunangan terlebih dahulu. Dan Jelita tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja.

Suatu hari saat Jelita akan berangkat kerja. Sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam tubuhya. Saat tersadar, dia menemukan diriya telah berada dirumah sakit, dan seluruh keluarganya berkumpul dan menangis. Namun Jelita bersyukur bahwa dia masih hidup,Tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa dia tak dapat bicara sama sekali. Kecelakaan telah merusak syaraf otaknya sehingga Jelita dinyatakan oleh dokter akan bisu seumur hidupnya. Menyadari hal tersebut Jelita hanya bisa menangis.

Saat dia pulang dai rumah sakit, hari – harinya selalu dia lewatkan dengan melamun dan menangis.Setiap bunyi dering telepon dia menjadi pilu.Saat ini dering telepon telah menjadi mimpi buruknya. Dia tak bisa mengabarkan kepada kekasihnya dan menjadi beban untuknya. Akhirnya Jelita mengirim sepucuk surat untuk kekasihnya dan mengabarkan bahwa dia tidak mau lagi menunggunya. Jelita menganggap hubungannya telah berakhir dan dia juga telah mengembalikan cincin pertunangan mereka.

Melihat penderitaan putrinya, orang tuanya memutuskan untuk pindah rumah, agar Jelita bisa melupakan segalanya dan bisa hidup bahagia. Di rumah barunya Jelita mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan kekasihnya. Hingga suatu hari sahabatnya menceritakan bahwa sang pemuda telah kembali dan mencarinya kemana–mana. Dia meminta sahabatnya agar tidak memberitahukan dimana dia berada.

Selang beberapa tahun, pemuda tersebut hilang tanpa kabar. Hingga suatu hari sahabat Jelita mengabarkan bahwa sang pemuda akan segera menikah. Sahabatnya menyerahkan surat undangan. Dengan hati pedih, Jelita membuka undangan tersebut. Betapa kagetnya dia saat menemukan namanya tercantum dalam undangan tersebut. Sebelum sempat bertanya kepada sahabatnya. Sang pemuda muncul, dengan bahasa isyarat yang kaku sang pemuda menyampaikan bahwa telah setahun dia mempelajari bahasa isyarat untuk memberitahukan padamu bahwa aku belum melupakan janji kita,berdua, berikan aku kesempatan,biarkan aku menjadi suaramu “. I LOVE YOU…..”

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya, Jelita tersenyum dan meneteskan air mata bahagia. Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu..,baru kamu akan belajar cara memberi. Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu..,,baru kamu akan belajar cara menghargai. Jangan pernah menyerah. Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak resiko. Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata : “Aku mencintaimu “

“karena cinta mengajarkan kita untuk ikhlas,bahagia,sedih,tersenyum,bahkan segalanya”

Tags: , , , ,



Kalau aku meninggalkan kamu sendiri, menangiskah kamu?

Hari itu ada keinginan untuk mengirim pesan padamu. Sekadar ingin tahu apa reaksimu. Reaksi kamu kalau mendengar aku akan meninggalkanmu.

Sedihkah kamu? Menangiskah kamu?

Kalau aku sudah tak ada, masihkah kamu ingat aku?

“Ibu, saya harap ibu tidak kaget. Tapi penyakit ibu sudah stadium lanjut. Kami tim dokter di Rumah Sakit ini sudah mencoba, tetapi kami memperkirakan Ibu masih bisa bertahan sekitar 6 bulan. Mungkin kalau kondisi ibu baik, bisa mencapai satu tahun…”

Seterusnya, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa. Aku bisa melihat wajah prihatin dokter baik hati yang selama ini merawatku. Aku melihat dokter dermawan itu masih berbicara dengan lembut mengenai penyakitku. Tapi aku sudah tidak bisa mendengar sepatah katapun dari mulutnya. Kupingku rasanya berdenging.

Setelah itu, aku tak ingat lagi. Tahu-tahu aku sudah berjalan sendiri. Aku raba pipiku. Tak ada air mata di sana. Kepalaku terasa ringan. Sebenarnya, seluruh badanku terasa ringan. Rasanya aku sedang separuh melayang.

Tiba-tiba aku ingat dia. Teman tempatku berbagi. Sahabat tempatku menangis. Orang yang dulu selalu berbagi tawa dan air mata.

Barry…

Sayangnya, terakhir kali bertemu, kami bertengkar hebat.

Dia tak setuju aku berhubungan dengan Dante.

Dia tak tahu, aku berhubungan dengan Dante hanya untuk mencoba membuat dia marah. Karena aku juga tak suka dia berhubungan dengan Lani. Malah merencanakan akan bertunangan. Sejujurnya aku cemburu.

Sejak itu, tiga tahun yang lalu, kami tidak pernah saling kontak.

Dan tahun lalu, sejak aku tahu kalau aku mengidap penyakit ini. Penyakit yang mengerogoti paru-paruku. Yang membuat aku sering batuk-batuk tanpa sebab. Padahal aku sama sekali tidak merokok. Dante yang merokok. Terus menerus, tanpa henti. Walaupun aku sudah meminta, merayu. Dia tetap tak mau berhenti merokok.

Satu setengah tahun menjadi perokok pasif rupanya membuat paru-paruku tak tahan.

Dokter memvonisku terkena kanker paru-paru.

Makin lama penyakit ini makin menyebar. Karena aku tidak bersedia untuk dioperasi.

Dan sekarang penyakit ini sudah menyebar sampai ke hati.

Kata dokter, kanker hati masih sulit disembuhkan karena belum ada obat yang pasti. Dokter itu menyayangkan keputusanku untuk menunda operasi.

Jadi, hari ini, aku kirim pesan untukmu lewat alamat e-mail-mu. Aku harap kau belum mengganti alamat e-mail lamamu..

“Barry, kalau aku mati, kamu sedih gak???”
Salam,
Lisa Wulandari

Hanya sebaris. Tapi itu yang ingin kutahu selama ini.
Dua hari kemudian aku cek e-mail-ku. Kutemukan jawaban dari Barry.

Aku tersenyum sedih. Ternyata dia masih mengingatku. Ternyata dia akan sedih. Dia marah-marah karena e-mail-ku yang tidak karuan, katanya…

Aku jadi bertanya-tanya, akankah dia masih mengingatku, kalau aku sudah tak ada.

Kalau aku mati, aku tidak mau menghabiskan waktu yang lama di tempat tidur, sambil menahan rasa sakit yang berkepanjangan.

Kalau aku mati, aku ingin kematian itu datang dengan cepat. Kalau bisa memilih aku ingin mati dalam tidurku. Aku tak ingin orang-orang yang aku sayangi meratapi kepergianku.

Aku tak ingin orang-orang yang ku sayangi mengingatku waktu aku sedang tersenyum, bukan mengingat wajah sakitku.

Malam ini, ada keinginan yang kuat untuk bertemu dengan Barry. Jadi aku membeli tiket kereta api paling pagi ke Bandung. Bandung, tempat Barry bekerja selepas dari kuliahnya.

Di kereta, aku menyempatkan mengirim SMS kepada Barry, mengabarkan bahwa aku sedang di kereta untuk menemuinya.

Aku tak sempat menunggu SMS balasan dari Barry, karena mataku terasa berat. Rupanya tidak tidur beberapa malam ini cukup membuatku lelah. Aku tertidur dengan pulasnya.

….

Bandung, siang harinya…

Barry dengan tidak sabar menunggu kedatangan kereta api dari Jakarta. Seharusnya kereta itu sudah datang sejam yang lalu. Tapi entah kenapa, sampai saat ini kereta itu belum juga tiba.

Setelah menerima beberapa e-mail aneh dari Lisa, serta SMS mengabarkan kedatangannya, rasanya tidak sabar untuk bertemu dengannya. Biarlah hari ini aku tidak masuk kerja. Lagipula rindu rasanya setelah sekian lama tak bertemu dengan Lisa. Aku sangat menyesal bahwa pertemuan terakhir kami tidak begitu baik. Salah Lisa juga sih, sudah dibilang jangan berhubungan dengan Dante. Dante kan playboy cap kapak. Bisa-bisa dia patah hati gara-gara Dante. Aku kan tidak rela. Walaupun kalau dipikir-pikir aku tak pernah rela kalau Lisa berhubungan dengan pria manapun. Mungkin ini salahku, yang tidak berani bilang kalau sebenarnya aku mencintainya, lebih dari sekedar sahabat.

90 menit… Rasanya hampir gila. Baiknya aku tanya ke petugas stasiun saja, ya.

“Pak, maaf, numpang tanya. Kereta dari Jakarta kapan sampainya, ya???”

“Maaf pak, kereta dari Jakarta mengalami kecelakaan. Keretanya terguling di perbatasan Bandung. Tadi sudah kami umumkan. Mungkin Bapak tidak memperhatikan. Apa Bapak menunggu Saudara atau kerabat?”

Deg…

Rasanya jantungku berhenti berdetak. Kecelakaan. Apa Lisa…???

“Para penumpang, baik yang terluka atau tewas semua dilarikan ke RS Hasan Sadikin, Pak. Tapi kami belum mendapat kabar mengenai identitas yang lengkap dari petugas kami di lapangan. Mungkin Bapak bisa langsung ke Hasan Sadikin untuk mencari kerabat Bapak di sana.”

“Oh, baik. Terima kasih, pak.”

RS.Hasan Sadikin, Bandung…

Bagian Informasinya penuh dengan keluarga penumpang yang mencari tahu keberadaan keluarganya. Seorang petugas menempelkan sehelai kertas di papan informasi.

Aku berusaha mendekat untuk membacanya. Rupanya daftar penumpang yang mengalami musibah barusan.

Daftar Penumpang yang terluka berat dan ringan:
1. …
2. …
3. dst.

Tak ada nama Lisa Wulandari di sana.

Dengan tangan yang terasa makin dingin, aku menyusuri daftar nama penumpang yang dinyatakan tewas sambil terus berdoa dalam hati.

Daftar Penumpang yang tewas:
1. …
2. …
3. dst.

Sampai pada no.9 pada daftar,
9. Lisa Wulandari, asal Jakarta

apa tanggapa anda tentang artikel ini?
apa pelajaran yang dapat sahabat  petik dari artikel ini?

KIRIMKAN KOMENTARNYA,,

THANKS…

Tags: ,



Selasa malam (1 Februari 2005), Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.
Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.
Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?”
Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ” Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.
Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.
“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. an Alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.
Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.
“Ya” jawab saya singkat.
“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.
“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.
Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.
Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.
Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.
Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.
Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.
Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya.
Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.
“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala..
Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis ;
” Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.
Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.

Tags: ,



Aku suka jalan kaki.
Aku menempuh 2 kilometer dari rumahku yang terletak di dalam gang menuju jalan raya dengan berjalan kaki. Di jalan raya itu baru aku akan mencari bus untuk menuju ke kampus.
Aku menempuh 10 menit dengan berjalan kaki untuk menuju gedung kampusku.
Bahkan di siang hari yang panas aku tetap berjalan kaki.
Mereka yang mengenalku bertanya, ”Kenapa aku tidak naik angkot?”
”Kenapa aku tidak naik ojek?”
”Kenapa aku sangat suka berjalan kaki?”
”Kenapa?”
”Kenapa?”
”Kenapa?”

Aku suka jalan kaki.

Seorang tante yang bertemu denganku dalam perjalananku pulang dari kampus menyapaku dan bertanya, ”jalan kaki lagi? Kok nggak naik ojek?”
Aku membalas sapaannya dan hanya memberikan senyumanku sebagai jawaban.

Seorang teman sekelas yang kebetulan bertemu ketika aku sedang berjalan menuju kampus menghentikan motornya dan memberiku tumpangan.
Setelah aku aman di boncengannya, dia berkata, ”Jalan dari perhentian bus ya?”
Aku mengangguk dan mengiyakan jawabannya.
”Nggak pernah naik angkot ya? Lumayan jauh, lho, dari perhentian sampai ke kampus.”
”Kalau sudah biasa juga nggak terasa jauh,” jawabku.
”Hobi banget jalan?”
”Iya. Irit, banyak angin, sehat.”
“Tapi kalau panas gini, kan, menderita juga.”
Ban sepeda motornya mendecit dan kami bergegas masuk ke ruangan kelas yang sejuk oleh pendingin ruangan.

Di dalam kelas, seorang sahabat menanyakan hal yang sama dan aku menjawab, “aku suka jalan kaki. Aku suka ketika angin menghembusku. Sejuk. Aku suka bermain-main bersama mereka.”
”Ketika aku berjalan, aku punya banyak waktu untuk diriku sendiri. Aku bisa memikirkan ini dan itu. Aku bisa melewati tempat-tempat yang kusukai yang mungkin nggak bisa dilewati oleh angkot ataupun ojek.”
”Aku suka jalan kaki.”

Tapi…
Jika kau yang bertanya padaku, ”Kenapa kau suka berjalan kaki?”
Aku akan menjawab, ”ketika aku berjalan kaki, aku memiliki banyak waktu untuk diriku sendiri. Memikirkan apa yang ingin kupikirkan. Memikirkanmu dan saat-saat kita bersama. Memikirkan masa depan yang mungkin terjadi (atau tidak terjadi) bagi kita.”
”Ketika aku berjalan kaki, aku merasakan angin yang menghembusku. Satu unsur alam yang menandai pertemuan pertama kita. Satu unsur alam yang begitu kau sukai. Satu unsur alam yang kau gambarkan sebagai bidadari yang terus menari dengan indah. Satu unsur alam yang kau berikan padaku sebagai peranku.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa berharap bertemu denganmu lagi. Berharap kau akan menghentikan motormu di sampingku lagi dan menawariku boncengan. Hingga aku bisa sekali lagi merasakakan kehangatan ketika berada dekat denganmu. Sekali lagi merasakan senyummu untukku. Sekali lagi mendengar suara lembutmu menyebut namaku. Sekali lagi merasakan detak jantungmu berada dalam satu garis lurus dengan jantungku. Sekali lagi mencium bau tubuhmu meski telah disengat matahari. Sekali lagi menikmati dari dekat tubuhmu yang mungil dan kokoh pada saat bersamaan.

Sekali lagi meletakkan keselamatanku dalam kendali motormu.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa menuju tempat-tempat di mana kita pernah bertemu. Tempat kau pertama kali mengajakku bicara.
Aula tempat kita pernah latihan drama bersama.
Mengingat kembali saat kau memberiku nasi bungkus itu pada hari terakhir latihan kita. Merasakan kembali kebaikan yang kau beri padaku. Menghangatkan hatiku.”

”Ketika aku berjalan kaki, aku bisa menyusuri lagi jalan yang pernah kita lewati bersama. Mengulang semua memori dan rasa yang pernah ada.”

Beberapa yang tahu bertanya padaku mengapa aku memilih jalan memutar yang lebih jauh untuk menuju kampus. Aku memberitahu mereka bahwa aku suka jalan kaki. Bahwa jarak bukanlah masalah bagiku.

Tapi jika kau bertanya padaku akan kujawab, ”Karena dengan menempuh jalur itu aku bisa melewati gedung tempat kau berada. Berharap kau sedang keluar dari sana hingga kita berpapasan.”
”Karena dengan menempuh jalur itu, aku merasakan dirimu.”
Meski kau tak di sisiku.
Meski rasanya jalan hidup kita hanya berpotongan di satu titik.
Kemudian saling menjauh hingga kita tak akan pernah bertemu lagi.

Saat aku berjalan, aku menyaksikan banyak hal.
Sepasang kakek dan nenek yang berjalan dengan saling menuntun.
Burung yang terbang berpasangan, bersama meninggalkan dahan pohon.
Bahkan aku tahu ada berbulir-bulir serbuk sari menghampiri kepala putik pada kuntum-kuntum mawar di tepi jalan.
Dan aku melihatmu, di antara mereka semua.

Setiap kali aku berjalan, aku menitipkan salamku pada sang angin. Berharap dia menyampaikan kerinduan dan sayangku padamu.
Namun angin yang kembali padaku hanya angin dingin milik hujan. Menggigit dan menusukku.
Meski begitu, aku tidak pernah berhenti.
Aku masih menempuh 2 kilometer dan 10 menit itu.

Aku suka jalan kaki karena saat aku berjalan aku merasa bersamamu.
^_^

Tags: , ,