TAARE ZAMEEN PAR: A Movie to Learn Dyslexia and Multiple Intelligences


TZP1 TAARE ZAMEEN PAR: A Movie to Learn Dyslexia and Multiple Intelligences

What do you feel if you were born as a dyslectic boy with a super genius brother?

Kalau orang  itu saya, mungkin saya akan menutup diri terhadap siapapun.

Lahir dan bersekolah dalam lingkungan yang menganggap prestasi dan kepandaian adalah terukur melalui angka-angka, Ishaan Awasthi (diperankan oleh Darsheet Safary) merasa ia menjadi pembanding bagi kakaknya yang super jenius, Yohan. Sang kakak menjuarai semua mata pelajaran seperti Aljabra, Geometri, Sejarah, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi terkecuali kecuali bahasa Hindi (juara 2 di kelasnya). Ishaan yang kesulitan dalam belajarnya, dianggap orang tua dan guru yang mengajarinya dengan metode pengajaran yang ortodok sebagai MALAS atau BODOH. Tak jarang guru di sekolah mengucapkan kata-kata destruktif semacam “Shameless Boy!”, “King of Moron”, “Lazy”. Sedangkan di rumah, sang ayah yang merasa Ishaan sebagai produk gagal sering menyebutnya IDIOT.


Bagi seumuran siswa SD kelas 3, Ishaan menghadapi permasalahan pelik yaitu kesulitan membaca dan menulis. Alhasil, dalam semua mata pelajaran, Ishaan selalu gagal sebab dia tidak memahami apa yang ia baca.

Sang ibu yang telaten mengajari Ishaan menulis pun putus asa pada anak tersebut. Sang ibu mengira Ishaan tidak mau bersungguh-sungguh belajar menulis. Ibu tidak pernah tau bahwa ada permasalahan yang lebih pelik yang dialami Ishaan.

Tertekan oleh sikap sang Ayah yang selalu bangga ketika anaknya memenangkan kompetisi, tertekan oleh guru dan teman-teman di sekolah, tertekan oleh teman-teman sebayanya di lingkungan tempat tinggalnya, Ishaan menjadi semakin tertutup. Hingga suatu hari sang kepala sekolah memanggil orang tua Ishaan untuk memindahkan Ishaan ke sekolah lain.

Ishaan sang dyslexia inipun memasuki sekolah asrama yang begitu kaku dalam sistem pengajaran di kelas. Guru menjadi sumber ilmu utama, buku adalah sumber bacaan utama, dan meniru ucapan guru adalah kewajiban utama. Seperti burung beo, begitulah guru mengkondisikan siswa-siswanya. Jawaban yang tidak sama dengan guru adalah salah, seberapapun logisnya itu. Gambar yang tidak sama dengan guru berarti hukuman.

Ishaan menjadi semakin depresi hingga seorang guru Seni pengganti mengenali gejala dyslexia Ishaan. Dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, sang guru ini berhasil mengajarkan baca tulis kepada Ishaan melalui cara yang sangat kreatif, sesuai dengan bakat alami Ishaan, yaitu menggambar.

httpv://www.youtube.com/watch?v=F-PAI2HnQUo&feature=related

TZP2 TAARE ZAMEEN PAR: A Movie to Learn Dyslexia and Multiple Intelligences

Multiple Intelligences

Multiple Intelligences dalam Ishaan

Di luar kesulitan membaca dan menulisnya, Ishaan yang dianggap anak keterbelakangan mental ini, mempunyai beberapa tipe kecerdasan yang tidak diapresiasi oleh lingkaran pendidikan di sekolah dan di rumah (oleh sang Ayah). Mengambil istilah Multiple Intelligences yang digagas oleh Howard Gardner, Ishaan sang dyslexia mempunyai beberapa kecerdasan yang luar biasa di antaranya:

1. Kecerdasan Visual

Ishaan mempunyai kemampuan menggambar dan melukis (painting) di atas rata-rata. Goresan kuasnya sangat tegas dan perpaduan warnanya sangat unik. Sangat superb. Dia juga memvisualisasikan apa yang dia pelajari melalui imajinasinya yang sangat kreatif.

2. Kecerdasan Natural

Ikan, anjing, burung, sangat disukai Ishaan. Ia sayang sekali pada binatang dan memelihara ikan di akuariumnya. Ia sering memperhatikan tingkah laku binatang dan takjub akannya.

3. Kecerdasan Sosial

Bisa dibilang Ishaan berasal dari keluarga ekonomi menengah atas India yang cukup sejahtera. Namun, ia begitu peduli pada orang-orang yang kurang beruntung di sekitarnya. Ia begitu empati pada anak-anak asongan, para buruh kasar, pedagang-pedagang kaki lima, hingga para gelandangan. Ia bisa menatapi mereka selama beberapa saat dengan tatapan ingin menolong.

4. Kecerdasan interpersonal

Ishaan adalah seorang perenung dan pemikir. Ketika ia melihat gerak polah ikan, atau melihat induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Perasaannya juga sangat sensitif, ia memikirkan apa yang salah dengan dirinya hingga semua orang mengecapnya buruk, kecuali ibunya yang juga tidak tahu kelainan apa yang dia alami.

5. Kecerdasan eksistensial

Hampir sama dengan kecerdasan interpersonal, namun lebih menyangkut pada hal lain di luar diri pribadinya. Terlihat ketika Ishaan menginterpretasikan sebuah puisi yang dibacakan oleh salah seorang teman di kelasnya. Ishaan menjelaskan puisi itu seperti seorang sastrawan atau filsuf. Sayangnya, gurunya menolak jawaban Ishaan.

Jadi, Ishaan hanya lemah dalam Kecerdasan Linguistik, khususnya untuk membaca dan menulis. Dalam mendengarkan dan berbicara, Ishaan tidak mengalami kendala.

Sayangnya, hanya karena lemah dalam satu jenis kecerdasan ini ditambah dengan sistem pendidikan yang hanya mengapresiasi baca tulis hitung sebagai ukurannya, Ishaan dicap sebagai anak berketerbelakangan mental, bodoh, atau idiot. Padahal, ia unggul di lebih banyak jenis kecerdasan daripada teman-temannya.

TZP4 TAARE ZAMEEN PAR: A Movie to Learn Dyslexia and Multiple Intelligences

Disleksia

Dyslexia, Gejala dan Penanganannya

Thanks God saya menonton film keren ini, bahkan di kampus saya belum pernah belajar menangani ABK (anak berkebutuhan khusus). Aamir Khan yang berperan sebagai guru Seni, yang juga kebetulan mantan penderita dyslexia, memaparkan ciri-ciri dyslexia kepada orang tua Ishaan.

1. Kesulitan membaca dan menulis

Dalam menulis tangan, ada pola kesalahan yang konstan, misalnya pada huruf yang jika dicerminkan sama P dan B (kecil), penulisan angka 7, huruf R, S yang terbalik. Untuk membaca, ia tidak bisa karena huruf-huruf yang dibuku seakan teracak dan tidak bisa dipahami.

2. Kesulitan memperkirakan ukuran, jarak, dan kecepatan

Ishaan sering terantuk (kejedot), tidak bisa melempar atau menangkap bola, serta sering terperosok ketika berjalan.

3. Kesulitan memahami perintah yang kompleks

Seperti misalnya, buka halaman 9 paragraf 4 baris ke 5. Ishaan kesulitan mengatasinya.

4. Kemampuan gross motoric dan fine motoric yang rendah

Gross motoric berkaitan dengan gerakan seluruh anggota badan, sedangkan fine motoric berkaitan dengan keterampilan yang menggunakan jari (tangan).

Sang guru yang ternyata mantan disleksis mengajari Ishaan menulis, membaca, dan menghitung dengan cara yang out of the box, melalui pintu kecerdasan yang sudah dimiliki Ishaan, yaitu natural dan visual, seperti:

1. Menulis huruf di pasir, menulis dengan jari pada kulit tangan, menulis sembari mewarnai, menulis sembari membuat kerajinan tangan dari clay (lilin malam).

2. Memanfaatkan audio book bersamaan dengan textbook.

Ishaan mendengarkan rekaman di kaset sembari merunuti tulisan yang ada di buku bacaannya. Ishaan juga menuliskan huruf yang disebutkan sang guru dengan mata terpejam.

3. Diktat (dictation)

Setelah Ishaan mengenal huruf dan angka, sang guru mendikte Ishaan dengan beberapa kata, kemudian lambat laun beberapa kalimat.

4. Mengajari berhitung dengan naik turun tangga dan gerakan kinestetik lain

Sang guru menuliskan angka-angka di anak tangga, kemudian mengajari Ishaan penambahan dan pengurangan dengan naik turun tangga itu.

TZP3 TAARE ZAMEEN PAR: A Movie to Learn Dyslexia and Multiple Intelligences

Interactive Teaching

MORAL LESSONS

Banyak sekali hal yang membuat saya berpikir, merenung, sekaligus menangis ketika melihat film ini. Sebagai guru, film ini adalah tamparan bagi saya untuk tidak menganggap seorang muridpun bodoh atau tidak bisa. Howard Gardner membagi kecerdasan menjadi 7 atau 9 jenis, bukan untuk mengkotak-kotakkan murid, namun sebagai pengingat kepada setiap guru dan orang tua, bahwa setiap anak itu unik dengan bakat kecerdasan bawaannya.

Kecerdasan yang unik ini menjadi jalan masuk pertama, bagi pengembangan jenis-jenis kecerdasan yang lain. Kecerdasan yang unik ini sebagai barometer untuk tidak memaksakan metode pengajaran tertentu yang tidak sesuai dengan tipe kecerdasan murid. Murid dengan kecerdasan interpersonal misalnya, jika disuruh untuk presentasi mungkin akan kesulitan. Namun, jika dia diminta menulis, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik.

Suatu kali saya pernah memiliki seorang murid spesial. Sepertinya dia menunjukkan ciri-ciri autis. Kecerdasan sosial dan interpersonal dia sangat rendah, namun kecerdasan matematis-logis, musikal, dan linguistiknya sangat tinggi. Ketika dia selesai mengerjakan soal latihan, dia akan membuat gaduh dengan menggoda teman-temannya. Yang saya lakukan adalah membawakannya “back up plan”, berupa riddle, soal cerita matematika dalam bahasa Inggris, dan extra lesson. Alhasil, dia tidak mengganggu lagi.

Bagi orang tua, film ini mengajarkan untuk mengenali jenis kecerdasan anak mereka sejak dini. Seperti Ishaan ini, jika disleksia dikenali sejak dini, penanganan yang segera bisa dilakukan. Sejak disleksia lebih kepada kesulitan daripada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, dengan penanganan lebih dini, anak akan bisa menghadapi kesulitan itu dengan caranya. Masih ingat film The King’s Speech? Andai dari kecil dia bisa mengatasi kesulitannya, niscaya dia tidak akan depresi karena diejek teman sebayanya.

Orang tua wajib tau jenis kecerdasan anaknya, lalu mengkonsultasikannya kepada guru, agar guru bisa mencari alternatif metode pembelajaran, jika metode biasa tidak berhasil kepada anaknya. Hal ini yang sering saya lakukan dengan orang tua murid, saya tanyai orang tua mereka, di rumah hobinya apa, pintar dalam hal apa, ikut ekstrakurikuler apa, dan sebagainya. Ini saya manfaatkan untuk menyesuaikan gaya mengajar saya dengan tipe kecerdasan siswa.

Untuk sekolah, film ini menegur, agar meninggalkan sistem pengajaran konvensional dimana siswa hanya duduk, diam, menirukan, menulis, membaca, dari tempat duduknya, sedangkan guru tidak pernah berpindah dari singgasananya. Terapkanlah Cooperative language teaching, collaborative learning, Multiple Intelligence Approach, Communicative Approach, dan sebagainya untuk mengapreasiasi “warna warni” murid yang berbeda.

Tidak boleh ada kata-kata yang menjatuhkan dari seorang guru seperti BODOH, IDIOT, PEMALAS, TAK TAU DIRI, dan sebagainya. Apresiasi anak ketika ia melakukan sesuatu yang baik, dan semangati anak ketika dia merasa lemah.

Buka Mata, Setiap anak itu Spesial!


, , , ,

  1. #1 by business loans on 04/10/2014 - 8:04 pm

    Actually no matter if someone doesn’t be aware of after that its up to other visitors that they will help, so
    here it takes place.

  2. #2 by Selina on 06/10/2014 - 11:27 pm

    Great post. I was checking constantly this blog and I’m inspired!

    Very helpful information specifically the last
    section :) I deal with such info a lot. I was seeking this particular info for
    a very lengthy time. Thanks and good luck.

  3. #3 by enagic ukon on 13/10/2014 - 5:53 am

    They should be relatively challenging, but you should ensure that
    you can meet them, with a minimum of pain, every time.
    Most of them are full of sugar and processed flour.
    Ryan Blair is the CEO and is the embodiment of the Vi – Salus vision.

  4. #4 by Honestowl.Net on 18/11/2014 - 7:56 am

    This cannot be sustained in the long run and will ultimately break the bank if the favorite team comes out victorious.
    Well, blog writing is an art, which you need to learn to
    become a successful blogger. Broadly speaking,
    all of these reasons can be classified under either the heading “personal” or the heading “commercial”.

  5. #5 by arnis.silvia on 11/11/2011 - 4:12 am

    Alfonsus D. Johannes :

    Wah, ada film tntang pndidikan lagi
    Harus dcari nih.
    Mantep reviewnya mba
    Mengingatkan bhwa stiap anak itu spesial

    Film lama Cil.. 2007..
    Tapi wajib tonton :D
    Every child is special, jangan paksakan gaya belajar pada tipe kecerdasan yang berbeda :)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

Earth orbits the ...


  1. Administrasi Kepala Sekolah | Format Administrasi Kepala Sekolah
  2. Info Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas