Asiyah Nurrahmajanti

My Life My History

Mikir Atuh Maneh Teh

Pada suatu momen, salah seorang temanku dinasihati oleh seorang dosen di kampus kami, saat dia sedang berpusing-pusing ria mengerjakan tesisnya. Uhuk ngomongin tesis ko jadi berat gini ya nulisnya. Abaikan. Dosen tesebut memberi masukan mengenai berpikir kepada temanku ini. Dia hanya manggut-manggut saja akan nasihat dari beliau. Dia menceritakan kepadaku tentang isi nasihat itu. Kurang lebih begini “Ayolah sekali-kali kamu harusnya berpikir tentang sesuatu gitu. Jangan dicekokin terus” Kata beliau. Baginya nasihat itu ibarat sindiran akan hasil kerja labny ayang kurang memuaskan. Namun bagiku, nasihat itu benar-benar terpatri dalam ingatanku.

Aku jadi teringat analogi “Berpikir”. Ya pikir = akal. Satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam firmannya Alloh selalu menyebutkan bahwa Alloh akan meninggikan kedudukan manusia itu di mata Alloh bagi orang-orang yang berilmu. Manusia diberikan potensi yang luar biasa yaitu akal untuk berpikir. Menurut ilmu mantik (yang saya dengar dari dosen Ushuluddin), mengatakan bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir. Sehingga bisa disimpulkan jika manusia tidak berpikir maka dia bisa disebut hewan yang bergerak.

Berpikir apa sih sebenarnya yang dimaksud?. Tentunya bukan berpikir sembarangan ya. Di ayat surat lain Al-A’rof : 179 Alloh bahkan menyatakan secara tegas bahwa manusia dan jin yang tidak mau berpikir itu sama halnya dengan binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. A.k.a disamakan dengan babi dong yang idupnya dilumpur bekas kotorannya sendiri, mau?. Na’udzubillah secara retoris tentu tidak mau. Namun faktanya manusia banyak yang memiliki karakter tersebut. Memangnya apa yang menjadi alasan?

Pada saat penciptaanya manusia diberikan potensi aqliyah sepaket dengan jasadiyah dan ruhiyahnya. Udah paket komplit lah. Ketika udah paket komplit dan special yang diberikan, masa idupnya sama kaya makhluk yang lain?. Inget tentara aja yang ada pasukan khususnya itu tugasnya lebih berat dan khusus bukan? Nah makannya hei manusia jangan mau disamakan dengan makhluk lain. Gimana caranya agar ga disamakan dengan makhluk lain dan jangan sampai dikatakan lebih sesat lagi?.

Inget kuncinya di QS. Al-A’rof : 179, yaitu kita pergunakan pendengaran kita untuk mendegarkan ayat-ayat Alloh, menggunakan penglihatan yang luar biasa ini untuk melihat tanda-tanda kebesaran Alloh, menggunakan hati (qolbu) dan aqal untuk memikirkan dan membenarkan kekuasaan Alloh. Ya itulah yang harus manusia lakukan. Berpikir akan penciptaaan dirinya yang spesial untuk apa. Jangan sampai potensi khusus yang Alloh berikan terbuang percuma dan sia-sia. Mari kita sama-sama renungkan hakikat penciptaan diri.
Asiyah Al-faqiru Al-Ilmi
(Abaikan judul yang kasar, yg penting esensinya )

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 2?