Asiyah Nurrahmajanti

My Life My History

Archive for June 24th, 2017

Kereta Api Kelas Ekonomi

Mulai H-5 adalah masa masa bagi para perantau utk pulang ke kampung halamannya masing-masing. banyak alternatif kendaraan yang digunakan untuk sampai ke rumah mereka. dari kendaraan pribadi maupun umum. baik kendaraan roda dua, empat, delapan, sampai roda yang digunakan dilandasan pacu.

Saya sekeluarga sejak dahulu lebih memilih kendaraan umum yaitu kereta api untuk mudik dari jabar ke jateng. Ya kendaraan bergerbong-gerbong yang memuat banyak penumpang. Dalam satu gerbong terdapat 106 penumpang jika ada 10 gerbong maka sekali keberangkatan bisa memuat 1000an orang. ups ini sih untuk kereta kelas ekonomi.

Kelas ekonomi menjadi pilihan kami saat ini. harganya murah? betul sekali. fasilitasnya kurang! eits jangan salah. Jika dibandingkan dengan sistem perkeretaapian kelas ekonomi sebelum tahun 2012an silam. coba tanyakan kepada orang-orang yang pernah menaiki kereta kelas ekonomi sebelum tahun tersebut apa reaksinya?.

Mlari saya coba ceritakan. memang aturan satu gerbong utk 106org, namun saat itu tidak ada batasan berapa orang yang naik. bisa jadi dua kali lipat. ini serius karena saya sendiri beberapa kali pernah ada dalam kondisi ini. orang2 bahkan sampai banyak yang duduk diatas lantai, disepanjang jalan gerbong, dicelah celah gerbong, naik sampai diatas gerbong, bahkan duduk dipinggiran lokomotif. Bukan hanya itu, orang-orang berdesak-desakan dengan para penjual makanan dan minuman yang hilir mudik sepanjang jalur gerbong. jika ada 10 gerbong ya sangat melelahkan harus berhimpitan dengan penumpang. Tak jarang hewan macam burung piaraan, ayam, kucing dll ikut berebutan oksigen juga. atau bahkan pd saat pemeriksa karcis memeriksa tiap karcis penumpang, keringatnya sampai bercucuran sampai topi dinasnya miring tak tentu arah, malah dijadikan kipas.

ya itulah secuil kisah tentang kereta api kelas ekonomi sebelumnya. pada saat jabatan tertinggi diperkeretaapian ini diduduki Pak Ignasius Jonan, wajah perkeretaapian Indonesia benar-benar berubah 100%, lagi-lagi kelas ekonomi yang jd percontoan. bagaimana tidak, jika kalian saat ini (baca : diatas tahun 2013) memakai jasa kereta api ekonomi, maka kalian tidak akan menemukan kasus seperti paragraf sebelumnya. dari sistem pemakaian jasa, pelayanan, dan fasilitas berubah total. jauh lebih tertib, lebih tepat waktu, suasana gerbong yang layak, ber AC, dan jangan lupakan yang paling utama ialah WC yang bersih. Masih panjang daftar kekurangannya sampai banyaj kisah menemani perjalanan perubahan ini.

memang tidak seperti saudaranya kelas bisnis ataupun eksekutif yang beberapa fasilitasnya berbeda. untuk kelas-kelas tersebut biasanya waktu tempuhnya lebih singkat dari kelas ekonomi. lha wong kereta ekonomi harus rela menyingkir dluan alias berhenti tiap stasiun hanya untuk membiarkan kelas saudaranya lewat duluan. Ya resiko murah. Ya Alhamdulillah kami diperlakukan selayaknya manusia. yang pasti worthed bangetlah pengalaman ini pra pembenahan sampai pasca pembenahan.