Asiyah Nurrahmajanti

My Life My History

PANTAI SETROJENAR

IMG-20170628-WA0001

Pasca satu hari lebaran, umummya masyarakat dan para pemudik khususnya yang sedang pulang dari tanah perantauannya, disibukkan dengan aktivitas yang baru. setelah hari sebelumnya berkeliling untuk halal bi halal antar keluarga dan kerabat saling maaf-memaafkan. Tidak sedikit masyarakat yang memilih meluangkan waktunya untuk memanjakan diri atau sekedar refreshing dengan keluarga dan orang-orang terdekat lainnya dengan memanfaatkan lokasi-lokasi wisata didaerah tersebutt.

Pantai Setrojenar, yang terletak di kecamatan Bocor Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, menjadi pilihan destinasi wisata lokal yang diminati oleh wisatawan baik lokal maupun domestik. Selain harga masuk yang murah hanya dikenakan tarif Rp3000, jarak yang tidak terlalu jauh dari jalan utama melalui jalur pantai selatan pun menjadi alasan. Untuk mengaksesnya dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, kendaraan pribadi maupun umum.

Pantai ini sebenarnya langsung terhubung dengan salah satu samudera yang membelah Indonesia dengan Benua Australia yaitu Samudera Hindia, sehingga sangat wajar jika ombak yang bergulung dipantai ini sangat besar. Ketika penulis datang dari jam 7.00 – 9.30 intensitas ketinggian ombak terus meningkat dan makin besar. Kegiatan yang dilarang di pantai ini ialah berenang karena khawatir terseret ombak. Oleh karena itu, wisatawan lebih memanfaatkan area di bibir pantai.

Bermain dengan ombak dan pasir, berkuda ditepi pantai, membuat rumah-rumahan atau replika bangunan dipasir, atau hanya sekedar ber-selfie ria adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh wisatawan. Namun, bagi para orang tua yang membawa anak-anak, terdapat kolam renang – kolam renang kecil berair tawar penuh dengan balon mainan dan serodotan yang dapat digunakan untuk bermain anak. Jauh lebih aman dan menyenangkan bagi anak-anak dan orang tua.

Salah satu kegiatan yang menarik ialah mencari hewan sekeluarga dengan kepiting. masyarakat lokal menyebutnya sebagai undur-undur. disebut sebagai undur-undur karena saat bersembunyi, ia menggunakan tubuh dan ekor bagian belakang untuk membenamkan dirinya kedalam pasir. Para pencari undur-undur mencari hewan ini dengan cara mengorek-orek pasir dan memanfaatkan adanya ombak untuk menggemburkan pasir sehingga lebih mudah. Undur-undur yang diperoleh diolah menjadi rempeyek yang kita temukan isiannya dengan kacang tanah, dipepes, maupun digoreng biasa.
Satu hal yang disayangkan dengan pantai ini ialah, manajemen dan pengelolaan pantai diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat lokal. memang bagus, namun alangkah baiknya jika pemerintah daerah ikut terlibat dalam pengelolaanya maka dapat dibangun sistem pelayanan baik dari ticketing, parkir, pembangunan kedai makanan dan minuman, maupun kolam-kolam kecil lebih tertata dan lebih teratur.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 7?