Asiyah Nurrahmajanti

My Life My History

Asiyah_Cendikia

KARTINI

Pagi-pagi sekali, dia sudah bersiap-siap belanja. Selepas sholat subuh dia bergegas berangkat ke pasar dengan ditemani sepeda tua peninggalan ayahnya. Tak lupa dia berpamitan dengan Emaknya yang sangat dia cintai.

“Mak, Tini berangkat dulu!!”
“Iya Tin!” Suara Emak lirih.

Tangan Kartini mengelus lembut leher Emaknya. Ada benjolan di leher  keriput Emak. Sudah beberapa tahun benjolan itu muncul. Awalnya Emak batuk-batuk, sesak napas, dan mengeluhkan rasa panas ditenggorokkan, lama kelamaan suara Emak menjadi serak dan terdengar aneh seperti suara robot. Emak dibawa ke puskesmas dan diperiksa oleh dokter umum bernama Bu Vera yang mendiagnosis ini merupakan kanker tenggorokkan dan merujuk Emak ke Rumah sakit besar untuk diangkat kankernya. Dokter Vera berbaik hati melunasi biaya pengobatan Emak. Karena beliau adalah tetangga kami. Alhamdulillah masih ada orang sebaik beliau. Walaupun kanker sudah diangkat namun suara Emak masih serak seperti robot dan lirih. Emak tak pernah mengeluhkan suaranya itu. Hal ini sudah lebih dari cukup dibandingkan tak pernah bisa berbicara sama sekali.

“Sudah Tin nanti kamu kesiangan” Ucap Emak membuyarkan lamunan Kartini sambil menggenggam tangannya.

“Maaf Mak, Assalamu’alaikum,!”

“Waalaikumsalam, Ati-ati ya Tin!”

Emak merengkuh Kartini. Pelukan singkat namun hangat dari Emak mengantarkan Kartini berangkat ke Pasar. Dengan berbekal  Tas belanjaan yang dia letakkan di keranjang depan stang sepeda,daftar belanjaan yang dia butuhkan untuk berjualan , dan beberapa lembar rupiah. Tak pedulikan hawa dingin menusuk tulang, dia kayuh sepeda secepat mungkin menyusuri jalanan berlubang. Dengan ahli dia menghindari genangan penuh air sisa hujan lebat semalam. Stelan sweater, celana, dan rok panjang melingkupi tubuhnya. Jilabnya melambai-lambai ditiup angin. Hawa dingin Pegunungan tak membuatnya gentar, walaupun sesekali terdengar gemelutuk gigi menahan dingin. Kabut putih tak menghalangi bosehan sepeda tuanya.

Akhir Maret, Musim hujan dengan intensitas ringan sampai tinggi seperti enggan beranjak. Menurut penuturan Pa Endang, salah satu pengajar di langgarnya saat menyampaikan ceramahnya, yang menyebabkan cuaca dunia tak menentu ialah karena global warming atau pemanasan global, sehingga suhu global berubah, tentu saja peningkatan suhu mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia di dunia salah satu contohnya ialah berubahnya siklus tahunan musim penghujan.

“Ah kasihan bumi ini, seakan dia sedang sakit” desahnya, sambil terus mengayuh, dia terus memikirkan cara bagaimana dia bisa melakukan sesuatu yang dapat dia lakukan untuk mncegah global warming.

“Nanti tanya ucup sajalah, dia kan pintar”. Sesimpul senyuman mengembang di wajah kuning langsatnya. Teringat satu-satunya saudara yang dia punya yang usianya terpaut beberapa bulan saja, tepatnya adalah seorang kakak laki-laki yang tampan dan cerdas, tak hanya itu dia juga sholeh, dibuktikan dengan rajinnya ucup sholat berjamaah di masjid dan bacaan al-qur’an yang fasih dan indah baginya itu sudah cukup memenuhi kriteria seseorang menyandang gelar sholeh di matanya. Ucup sedang mengenyam pendidikan pesantren di pondok pesantren. Sebentar lagi dia akan haflatul wada (diwisuda). Kartini yakin Ucup akan menjadi santri yang hebat. Ucup juga guru ngajinya. Dia bertekad akan hafidz Quran bulan depan, 21 April, tepat saat dirinya berumur 20 tahun.

Ya, nama dirinya Kartini, diambil dari nama salah satu pahlawan wanita  yang memperjuangkan persamaan hak wanita di Indonesia sering disebut sebagai emansipasi wanita, yaitu R.A Kartini. Karena waktu kelahirannya sama yaitu 21 April. Buku favoritnya yang berjudul ‘Habis gelap terbitlah terang’ yang berisi surat-surat Kartini dan sahabatnya di Belanda bernama J.H. Abendon, hadiah dari Ucup saat dirinya berumur 17 tahun. Ucup bercerita bahwa semula dia iseng memberikan buku tersebut namun ketika menelusuri lebih dalam lagi terdapat dalam Kitab suci agama Islam yaitu Al-quran surat Al-Baqarah 257 terdapat penggalan ayat yang berbunyi “..minadzulumaati ilannuur..” yang artinya “..dari kegelapan ke dalam cahaya..” makna dari ayat ini bahwa Allah-lah yang mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan kekafiran menuju cahaya Allah berupa iman dan ilmu yang terang benderang yang akan menuntun manusia ke jannah-Nya kelak di yaumil akhir.

Kata-kata atau lebih tepatnya nasihat dari Ucup tersebut selalu terngiang-ngiang samapi saat ini. Buku pemberiannya pun masih dia simpan di dalam lemari kecilny walaupun sudah ada beberapa bagian dari buku itu yang sudah lepas karena sering dibuka. Pernah suatu ketika, dia menghilangkan buku tersebut dan dia hampir frustasi karena beberapa hari tidak menemukannya. Emak dan Ucup juga sudah membantu mencarinya dimana-mana, namun tak kunjung ditemukan. Ucup bahkan berjanji jika sempat dia akan mencarikannya, karena buku tersebut sudah langka. Kalaupun ada di perpustakaan itu hanya sebatas pinjam dan tak boleh jadi kepemilikan. Kartini hanya mau buku yang itu, karena buku itu pemberian Ucup, entah mengapa dia tak mau kehilangan buku itu.

Lebih dari sepekan Kartini murung jika sendiri, walaupun di luar Kartini terlihat senang-senang saja jika bertemu dengan orang lain. Sungguh Emak sangat mengetahui kondisi Kartini dan sangat mengerti. Emak diam saja, hanya sebatas menghibur.

“Sudahlah Tin, itu hanya sebatas buku. Ucup janji sama Emak kalau dia akan mencarikannya untukmu. Insyaallah kalau dia dapet langsung kasih ke Tini ya” Bujuk emak sambil mengelus pundak Tini. “yang penting kan Tini sudah tau seluruh ceritanya dan kamu juga hafal isinya, jadi kamu ga usah khawatir, karena buku itu udah ada di kepalamu Tin, bahkan ceritanya lebih indah kalau kamu yang cerita. Mudah-mudahn hilangnya buku itu jadi ladang amal buat Tini bagi yang baca, jadi orang-orang semangat lagi. Kayak Tini dulu sehabis baca buku itu jadi rajin dan semangat 45” Tutur Emak membesarkan hati disusul tawa renyah Kartini.

Hingga kini buku itu belum ditemukan. Hilang entah kemana. Kartini juga sudah ikhlas atas kehilangan buku itu. Dia berharap orang yang menemukannya akan membaca dan mendapat inspirasi yang sama seperti dirinya. Ucup sudah tak mencarinya lagi, sekarang dia sedang disibukkan dengan kegiatan di pesantren. Sesuai dengan cita-citanya Ucup lulus dengan predikat mumtz (cumlaude). Wisudanya dilaksanakan bulan depan. Tentu saja Ucup ingin Kartini dan Emak datang untuk mellihat prosesi wisudanya itu.

Suasana hilir mudik pembeli sudah terlihat di kejauhan. Suara riuh pedagang menjajakkan dagangannya dengan iming-iming diskon terdengar seantero pasar.  Suara ibu-ibu yang menawar hingga harga rendah, yang tak jarang menghasilkan percekcokkan antar pedagang-pembeli. Hari ini malah lebih ramai dari hari-hari sebelumnya, jika tidak salah dengar terjadi kelangkaan sembako sehingga harganya mahal. Suara linggis dan talenan yang beradu untuk memotong-motong segala jenis daging, dan tentu saja semakin mendekati pintu pasar bau khas segala rupa semerbak tercium mencemari atmosfer pagi hari.

Setelah memarkirkan sepeda di parkiran umum, kartini bergegas membeli keperluannya di penjual sayur langgananya. Ceu Ilis. Sahabat karib Emak sewaktu masih Remaja, namun sekarang sudah jarang bertemu mengingat Ceu Ilis orang yang sangat sibuk pada bisnis sayurannya. Ceu Ilis sangat baik dan ketika tau bahwa Emak membuka warung nasi, tak keberatan Ceu Ilis memberikan diskon khusus saudara, katanya. Pemberian ini bukan pemberian Cuma-Cuma namun lebih kepada potongan harga untuk rekanan bisnis. Emak tentu tak keberatan. Jadilah mereka bak saudara bisnis. Ceu Ilis jarang ada di tokonya, namun pekerja-pekerjanya sudah hafal bahwa Kartini adalah anak rekan bisnisnya.

Sering pekerja-pekerja di sana menggodanya sebagai mantu Ceu Ilis. Anak laki-laki Ceu Ilis bernama Asep-lah yang menjadi korban sindiran mereka. Dan kartini hanya bisa tertawa. Diakui Kartini, Asep, sesuai dengan namanya dalam budaya Sunda yaitu Kasep, memang rupawan, baik dan berpendidikan. Dengan latar belakang kuliah di salah satu Universitas ternama dan memiliki bisnis pribadi berupa rumah makan disalah satu daerah perkantoran elit di kota sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi buah bibir di seluruh pasar. Saat pertama kali bertemu Asep, Kartini hanya menyangka dia adalah pekerja Ceu Ilis karena penampilannya yang sangat sederhana. Dia melayani pembeli dengan ramah. Bahkan ketika tahu bahwa Kartini hanya menaiki sepeda, Asep langsung menawarkan diri untuk mengantarkan belanjaannya. Awalnya kartini menolak, namun Asep terus memaksa mengingat barang belanjaanya yang begitu banyak dan berat jika dibandingkan dengan tubuh Kartini yang lebih kecil. Akhirnya Kartini manut saja. Kartini diantar dengan mobil jeep putih, belanjaan di jok belakang, dan sepeda tua Kartini di ikat dengan rantai di bagian belakang mobil. Sesampainya di rumah, Emak langsung menhampiri dan kaget luar biasa mengetahui bahwa laki-laki yang mengantarnya adalah Asep. Emak ternyata sudah mengetahui Asep dan juga sebaliknya. Mereka bercakap lama sekali seperti ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu. Kartini hanya diam termangu. Sadar, emak dan Asep mengabaikan Kartini. Emak lantas bercerita bahwa Asep adalah putra sahabat karibnya, Ceu Ilis. Kartini akhirnya tahu dan meminta maaf karena telah merepotkannya. Asep hanya tersenyum.

Suasana seperti biasa ketika sampai di toko Ceu Ilis. Pembeli sudah ramai mengantri. Para pekerja repot melayani pembeli. Tanpa mengetahui kedatangan Kartini. Tapi Kartini tak perlu mengantri lama-lama karena, Saidah, salah satu pekerja Ceu Ilis sudah mnyiapkan pesanan Kartini dua hari lalu. Dan seperti biasa daftar keperluan belanjaan dia serahkan ke Saidah. Setelah menyelesaikan belanjaannya, Kartini segera pamit. Menurut kabar terakhir Ceu Ilis beserta keluarga akan pergi haji tahun ini, Asep pun turut serta. Terbersit rasa iri dalam diri Kartini. Andai saja dirinya menjadi orang kaya, pasti dia akan melakukan hal yang sama. Namun, segera dia menepis hal itu dan Berpikir jika Allah berkehendak maka tak ada yang bisa menghalangi. Kun Fayakun. Orang-orang yang tak mampu pun bisa naik haji jika dia bercita-cita dan sungguh-sungguh ingin naik haji, terus berdo’a dan sempurnakan ikhtiar dengan menabung misalnya, sisanya tawakal saja mudah-mudahan Allah berkenan mengabulkan do’a.

Beban sepeda bertambah berat, 4 tas besar belanjaan yang harus dia bawa unutk memenuhi kebutuhan warung selama dua hari. Karena dia akan berbelanja dua hari sekali. Dua tas dia sampirkan di kanan kiri stang, satu tas dikeranjang depan, dan satu tas lagi diboncengan belakang. Mang Ujang sebagai penjaga sepeda-motor merasa iba melihat Kartini.

“Tini, banyak ya belanjaannya. Mang antar ke rumah yah!!”

“ ga usah mang. Bisa ko bawanya!”

“Bener? Gimana kalau nanti ada apa-apa?”

“jangan bilang gitu Mang. Mang Ujang kan lagi jaga sepeda-motor kalo nganterin Tini siapa yang mau jagain?”. Sambil menyodorkan uang  Rp 2.000 sebagai imbalan jaga sepeda. Namun, segera mang Ujang menolak. Kartini tau bahwa mang Ujang selalu menolak, oleh karena itu jika mang Ujang berkunjung ke rumahnya, dia akan menyuguhi mang Ujang dengan baik. Mang Ujang sudah Tini anggap sebagai saudara sendiri.

“ga usah. Sudah nanti kamu kesiangan. Salam untuk Emak ya!”

“Siap Mang, Assalamu’alaikum”

“Ati-ati Tin, Waalaikumsalam”

Kartini berlalu sambil menaiki sepedanya. Belanjaanya membuatnya agak keberatan mengayuh. Jalannya menjadi lebih pelan. Jalanan sudah ramai oleh lalu lalang kendaraan, Bising kendaraan dan bau knalpot. Memasukki jalanan perkampungan mulai jarang kendaraan dan udara sedikit lebih bersih. Kabut pagi tadi sudah mulai menipis, semburat sinar matahari malu-malu mulai muncul disela-sela dedaunan menerangi jalanan. Genangan air di jalan masih ada, membuat Kartini ekstra hati-hati menghindarinya mengingat dia sedang membawa belanjaan yang cukup berat. Berkali-kali dia harus berhenti untuk membenarkan posisi belanjaanya saat melewati jalanan perkampungan yang tidak rata dan rusak. Malangnya roda sepeda tuanya bocor, tak kuat menahan beban belanjaan yang berat. Dengan terpaksa dia menuntun sepedanya sampai rumah karena sepanjang jalan dia tidak menemukan bengkel.

Emak menyambut kartini diteras rumahnya bersama secangkir teh hangat dan sepiring kecil Kue Nagasari. Emak tahu Kartini sangat lelah dan kehabisan energi. Benar saja setelah mengucap salam dan mencium tangan Emak, Kartini langsung menyerbu hidangan itu. Emak hanya tersenyum melihat tingkah laku anak gadisnya itu. Emak membawa masuk belanjaan ke dapur untuk langsung dimasak dan segera di hidangkan di warung nasi miliknya dekat dengan , disusul kartini kemudian dengan mulut dipenuhi nagasari.

“Mwak, Wucuwp kwpawn pwlng ya?”(Mak Ucup kapan pulang ya?). Sambil mengyimpan belanjaan Emak terheran-heran mendengar suara anak gadisnya, yang baru tau ternyata dimulutnya penuh makanan.

“Habiskan dulu makananmu, baru bicara, kirain emak kamu kenapa,”.”Belum tau dia belum kasih kabar, memangnya ada apa?”

Sambil berusaha menelan sisa-sisa makanan. “Ngga apa-apa. Oya Mak bulan depan Tini ada tes tahfidz quran dilanggar. Yang ngetes Pak Kyai. Emak harus datang buat nemenin Tini ya”. Tini memeluk Emak.

“Alhamdulillah Insyaallah Tin”. Emak sangat terharu dan bangga telah dikaruniai seorang anak yang sholehah dan juga berbakti. Lama sekali anak beranak ini berpelukkan saling mendoakan. Kartini anugerah terindah Emak. Emak sangat sayang Kartini, begitu pula sebaliknya. Sepeninggal suaminya, tak ada hal lain yang lebih berharga selain Kartini. Sudah genap 15 tahun suaminya pergi meninggalkan dirinya dan Kartini. Suaminya di panggil oleh Yang Kuasa karena kanker paru-paru akut. Suaminya seorang perokok berat. Emak hanya perokok pasif karena terus-menerus menghirup asap rokok. Suatu ketika saat tengah asik merokok dan menyeruput secangkir kopi hitam di beranda depan rumah, suaminya batuk hebat sampai dadanya berguncang-guncang. Secangkir kopi yang tersaji habis karena tumpah bukan karena di minum. Emak hanya memberinya air putih dan tak tau harus berbuat apa. Batuknya kian hari makin bertambah parah terkadang dibarengi darah. Emak sudah memperingatinya untuk berhenti merokok saat itu juga, namun hal itu sangat sulit karena suaminya sudah kecanduan rokok. Perlu beberapa waktu untuk menterapi kebiasaanya dengan perlahan mengurangi jumlah rokok. Saat diperiksakan ke dokter ternyata suaminya terkena kanker paru-paru dan sudah tingkat parah, karena sudah dokter hanya menyarankan terapi dan memberi obat pereda rasa nyeri. Suaminya hanya bertahan hidup beberapa bulan saja. Saat terakhir suaminya meminta maaf karena tak bisa menemainya sampai hari tua dan berpesan untuk membesarkan anak semata wayangnya, Kartini, yang saat itu baru berusia 5 tahun. Dan bertambah Yusuf.

Sepeninggal ayahnya, Kartini terus-menerus dirundung kesedihan di usianya yang masih belia dan butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Tergambar jelas kesedihan yang menggelayuti dirinya. Hati Emak lebih hancur lagi, tumpuan hidupnya telah tiada, dan dia harus menanggung beban hidupnya sendiri, Yusuf, dan juga Kartini. Materi yang ditinggalkan suaminya tidak lah seberapa mengingat pekerjaanya sebagai pekerja buruh pabrik sepatu dan sudah habis untuk biaya pengobatannya. Sedikit sisa materi itulah yang Emak gunakan untuk membuka warung nasi kecil-kecilan yang berlangsung hingga saat ini dan mencukupi untuk menyambung hidup dan menyekolahkan Kartini dan Yusuf dari MI, MTs, sampai MA. Emak berkomitmen untuk menyekolahkan Kartini dan Yusuf disekolah agama agar wawasan pada Agama Islam lebih luas dan mendalam.

Jam menunjukkan pukul 10.00, segala macam lauk pauk seperti semur kangkung, sayur tempe tahu, kentang, capcay, ikan goreng, pekredel, tempe-tahu, goreng ayam dll telah tersaji dan dipajang di etalase roda jualanya di depan rumahnya. Alat makan telah dicuci bersih ditata dengan apik, tissue makan di bentuk sedemikian cantik didekat sendok garpu. Tak lupa nasi liwet khas Emak di dalam termos nasi. Jalanan di depan rumah Emak selalu ramai, diantaranya di lewati pa tani dan bu tani yang akan ke sawah, anak sekolahan dari berbagai jenjang, guru-guru, para pekerja pabrik garmen di ujung jalan. Kedua anak beranak ini saling bergantian meladangi pembeli. Dan sering bekerja berdua karena warung selalu ramai. Setiap hari Minggu mereka meliburkan diri utnuk mengambil jadwal istirahat. Pasalnya, dagangna Emak selalu laris diburu para pekerja ini. Syukur Alhamdulillah atas karunia rezeki yang berkelimpahan, ucap Emak disalah satu doanya. Begitulah hari-hari yang Kartini dan Emak jalani. Sederhana dan penuh syukur.

Waktu terus berlalu hingga tibalah saatnya kartini akan di tes hafidz Quran oleh pa Kyai di langgar. Hari yang dia tunggu selama ini. Cita-citanya untuk menghadiahkan mahkota syurga untuk kedua orang tuanya akan segera terwujud. Segala persiapan di langgar telah dilakukan. Pengujian akan segera dimulai. Para peserta menunggu panggilan satu-persatu. Kartini gugup luar biasa. Tapi dia pantang mundur. Semenjak umur 12 tahun dia sudah diasah untuk menghafal Quran, namun baru sekarang dia mau diuji. Tibalah giliran Kartini. Dengan dibekali do’a dari Emak dan Yusuf dan kepercayaan diri, kartini di uji oleh pa Kyai. Pengujian memakan waktu cukup lama. Namun setelah diuji Kartini terlihat sumringah. Pa Kyai meluluskannya dengan predikat mumtaz. Alhamdulillah ucap ketiganya. Untuk merayakan kelulusan Ucup dan Kartini. Emak sengaja membuat tumpeng lalu membagikan ke tetangganya.

Malam menjelang. Ketiganya duduk melingkar di bawah temaram lampu bohlam. Pendaran sinar kuning menambah semarak kebahagiaan mereka. Makan malam mereka lakukan bersama. Suasana begitu ceria sampai akhirnya Ucup membuka perbincangan.

“Emak, Tini. Ucup pernah bernazar kalau Ucup sudah lulus pesantren, Ucup mau menikah.” Hati-hati Ucup mengutarakan pemikirannya. Emak sangat bahagia mendengarnya. Namun, entah mengapa Kartini terlihat murung.

“Lantas kamu sudah punya calonnya Cup?” tanya Emak pura-pura ingin tahu.

“Sudah Mak. Emak bahkan sudah sangat mengenal calonnya. Tak perlu Ucup ceritakan kepribadiannya.”

Entah apa yang dirasakan Kartini saat itu. Dia hanya terdiam disaat seharusnya dia bahagia bahwa saudaranya akan menikah. Apakah karena dilangkahi? Tentu bukan. Apaakah karena kehadiran sosok lain di sisi Ucup? Entahlah mungkin iya. Apakah dia cemburu? Ah bagaimana mungkin. Dia tepis pemikiran itu jauh-jauh.

“Emak ucup minta restu Emak. Ucup ingin melamar Kartini sebagai pendamping Ucup di dunia dan akhirat.” Ungkap Ucup dengan tenang berkebalikan dengan Kartini yang sangat kaget.

“Mmmaksud Ucup apa? Tini ga salah denger? Pendamping? Ucup dan Tini kan saudara? Emak maksudnya apa tolong jelasin. Kita kan sedarah mana mungkin kita menikah Mak. Dalam Islam pernikahan sedarah itu diharamkan. Ucup pasti tau itu kan?” Sergah Kartini kebingungan.

“Tini, Emak tau itu. Ucup juga pasti sudah tau. Ada hal yang belum Emak kasih tau sejak dulu, menunggu waktu yang tepat. Dan Emak pikir saat ini. Ucup dan Tini bukan saudara sedarah. Tini anak kandung Emak, tapi Ucup bukan. Walaupun Ucup sudah Emak anggap sebagai anak sendiri. Ucup adalah anak dari sahabat Bapakmu semasa masih hidup. Tapi keduanya telah meninggal dunia karena kecelakaan saat Ucup berumur 3 tahun. Karena Ucup ga punya siapa-siapa lagi. Bapak jadi inget Kartini yang seumuran. Biar Tini ada teman main, kata Bapak. Kebetulan Bapak juga ingin punya anak laki-laki. jadi Bapak membawa Ucup ke Rumah. Emak tentu menerima dengan senang hati. Sekarang kalian bukan anak-anak lagi, tapi sudah dewasa. Emak harap Tini mengerti.” Papar Emak.

Bulir-bulir air mata menetes di pipi Kartini. Dia belum siap mendengar itu semua. Berita yang sangat mengejutkan. Hatinya penuh sesak. Pikirannya kalut. Kartini tak tau harus bicara apa dan harus bagaimana.

“Emak, Ucup. Tini permisi dulu.” Kata-kata yang akhirnya terucap dengan susah payah. Tak ada tempat lain yang dia tuju dirumahnya selain kamar mungilnya. Menyendiri. Cepat-cepat dia menutup kamar dan menumpahkan segala rasa. Menangis dan terus menangis sampai dadanya lega. Ya Rabbi bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menerima atau menolak?. Apakah aku mencintainya?. Apakah ketidakrelaanku ada sosok lain di sisi Ucup pertanda bahwa aku mencitainya?. Ucup dan Emak memakluminya. Emak mengerti Kartini kecewa. Ucup merasa tidak enak hati karena merusak suasana. Ucup tak bisa berbuat. Keputusan ada ditangan Kartini. Dia sudah tau berita ini sejak lama saat sebelum masuk pesantren. Benih-benih itu muncul lama kelamaan. Saat di rumah Tini dan Ucup selalu ditemani Emak tak pernah berduaan. Dan interaksi antar keduanya pun dijaga dengan menjaga jarak. Keduanya telah mengerti.

Esok pagi adalah wisuda Yusuf di pesantren. Dia harus kembali ke Asrama dan mempersiapkan segalanya. Tanpa pamit dengan Kartini, namun hanya Emak dan meminta kedatangan keduanya di acara wisudanya. Yusuf pergi dengan hati berat. Apapun keputusan Kartini dia akan menerima. Emak akan membantu dirinya untuk membujuk Kartini. Tapi dia harap, Kartini menerima dia karena keinginannya.

Pagi-pagi sekali Emak dan Kartini berangkat menuju pesantren Ucup. Suasana sudah ramai oleh orang banyak. Kursi-kursi sudah dipenuhi para wisudawan, para guru, dan undangan. Kartini memilihkan duduk di barisan belakang, namun ketika meminta Emak duduk duluan, Emak menghilang entah kemana. Setelah beberapa saat Emak tiba-tiba sudah duduk disebelahnya. Saat ditanya akan kepergiannya. Emak menjawab ke kamar mandi.

Acara segera dimulai. Laki-laki berstelan jas hitam maju membuka acara. Beliau bertugas membawakan acara dari awal sampai akhir. Setelah pembukaan, sambutan-sambutan, dan pelepasan para santri oleh pimpinan pesantren. Laki-laki itu memanggil satu nama yang Kartini kenal yakni Muhammad Yusuf Al-Irsyad untuk memberikan pidatonya sebagai santri yang lulus dengan predikat mumtaz atau santri terbaik. Yusuf melangkah dengan tenang menuju podium. Pidatonya singkat saja, namun bagian akhir dari pidato itulah yang membuat Kartini tak dapat berkata-kata.

“… Sebelum masuk pesantren saya telah bernazar untuk menikahi wanita yang saya cintai. Yang saya hormati. Yang saya kenali kepribadiannya saat lulus dari pesantren. Dari kecil hingga saat ini kami hidup satu atap, tapi kami sangat menjaga hijab diantara kami. Dan kini saat saya lulus dari pesantren saya akan membayar nazar saya untuk menikahi wanita tersebut yang bernama Kartini sebagai pendamping saya dunia maupun akhirat kelak. Jazzakallahu telah menerima lamaran saya. Wassalamu’alaikum wr wb.”

Yusuf menutup pidatonya dan menuruni podium diiringi tepuk tangan yang sangat meriah. Senyuman lebar bergelayut di wajahnya. Awalnya Kartini terkaget. Bagaimana Ucup tau kalau Kartini menerimanya?. Emak yang duduk disebelahnya tersenyam-senyum. Kartini mengerti bahwa Emak yang memberi tahu saat tadi menghilang sebentar untuk ke kamar mandi. Kartini malu layaknya gadis dipingitan. Sungguh hidup penuh kejutan. Kematian, rezeki, dan jodoh adalah takdir Tuhan. Kini Hati Kartini buncah dipenuhi kebahagiaan. TAMAT.

 

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?