Asiyah Nurrahmajanti

My Life My History

Serba-Serbi

Tentang Sebuah Penghargaan

Waktu menunjukkan pukulĀ  7.20. telat 20 menit dari waktu yang ditetapkan untuk panitia berkumpul. Hari ini adalah puncak acara Kegiatan Seminar Nasional di Jurusannya. Dengan tentengan sertifikat dan seminar kit ditangan kanan dan kirinya. Ia berlari secepat mungkin agar tidak terlambat sampai di lokasi. Posisinya sebagai OC kestari mengharuskannya bekerja ekstra terutama dalam seminar ini. Semalaman suntuk ia bekerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaanya di sie kestari. Ia melupakan kesehatannya yang baru sembuh dari sakit. Sarapan pun lewat. Obat yang harus ia konsumsi masih tergeletak di atas meja makan. Mamahnya sudah lelah mengingatkan ia untuk selalu menjaga kondisi badannya. Namun, nasihat mamahnya selalu masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Gedung seminar didepan mata. Terlihat panitia dari sie yang lain yaitu sie keamanan sudah standby di depan gedung. Tanpa babibu sie keamanan mencatat keterlambatan waktu selama 20 menit dan juga denda yang harus diterima. Dengan napas ngos-ngosan ia melapor atas keterlambatannya disebabkan oleh alasan apa saja. Namun sie keamanan tidak mau tahu dan menyatakan bahwa ini sudah kesepakatan dari awal. Ia tidak mau berdebat dengan sie keamanan tak ada gunanya melawan. Saat ini yang paling penting adalah tugas yg dibebankan kepada dirinya harus terlaksana.

Seminar dimulai pada pukul 8.00. sebagai OC sie kestari dia memastikan semua tugas sie kestari sudah terlaksana dgn baik sampai akhir acara seminar yang berlansung selama 6 jam lamanya. Syukur tak ada yang miss. Pada sesi evaluasi panitia, dengan gamblang dia memaparkan mulai dari job desc, kendala, dan solusinya. Begitu pula dari sie yang lain. Ditengah sesi evaluasi ia merasa kecewa semua pengorbanan dan pembelaanya terhadap keberlangsungan kegiatan ini malah diabaikan oleh yang lain dan terutama ketua OC. Padahal pengorbanan kesehatan, waktu, tenaga, pikiran dia curahkan utk kegiatan ini. Namun apa yang ia terima malah olokkan. Di akhir sesi evaluasi semua panitia menghadiri syukuran utk kesuksesan seminar. Kekecewaaanya yang besar membuatnya tak berselera mengikut syukuran dan memutuskan utk pergi tanpa pamitan dengan yang lain.

Dari ilustrasi di atas mungkin bagi orang-orang yang aktif organisasi sudah tidak asing lagi. Mungkin kita pernah merasakan diposisi sebagai OC kestari tadi atau malah menjadi orang yang abai akan pengorbanan kestari tersebut. Dalam organisasi sudah sewajarnyalah kita mengorbankan apa yang kita miliki. Waktu, pikiran, materi,bahkan kesehatan pun kita korbankan hanya demi keberlangsungan dan kesuksesan acara. Memang itulah organisasi. Semuanya saling bahu membahu membentuk team work yang solid untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam perjalanannya mungkin banyak kendala yang ditemui. Mulai dari kemunduran semangat masing-masing orang, kejenuhan berorganiasi karena tidak ada progress, timbul prasangka sehingga merenggangkan tali silaturahim,dan masih banyak lagi kasus yang serupa. Disinilah peran seorang pemimpin diperlukan ya itu tadi utk mengencankgan yang renggang, menumbuhkan semangat, dan menghilangkan penat. Memang pemimpin itu harus merangkap smenjadi beberapa peran. Disisi yang lain menjadi seoran motivator, disisi yg lain menjadi organisator, dan or-or yang lain. Terlepas dari itu semua satu poin yang sangat penting adalah sebagai seorang apresiator.

Kecenderungan manusia untuk ingin diperhatikan dan dihargai segala apa yang diinginkan dan dilakukan. Pada saat yang sama orang-orang dalam organisasi yang telah banyak mencurahkan dan mengorbankan dirinya utk kemajuan organiasi itu dihargai. Jangan sampai timbul kekecewaan. Memang hal sepele namun dampaknya luar biasa. Dengan adanya penghargaan atas hal positif yang ia lakukan maka akan menimbulkan rasa diakui setelah itu akan muncul rasa peduli sehingga akan meningkatkan rasa semangat dalam dirinya. Setelah timbul semangat tentu akan mudah seorang pemimpin utk memberikan pengaruh tentu pengaruh positif dalam pencapaian tujuan bersama.

Tak ada sulitnya menghargai. Dengan memberikan terima kasih dan pujian itu sudah cukup untuk mengekspresikan rasa pengahargaan. Tentu pujian yang sewajarnya. Karena sebenarnya menurut Umar Bin khatab RA ketika saudara muslim memuji saudara yang lain berlebihan maka dia seperti menebas kepala saudaranya sendiri. Tentu ngeri kan,, nah memang segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik walaupun tujuan awalnya baik. Kembali pada penghargaan. Detik ini juga mulialh utk memberikan penghargaan terhadap orang-orang yang telah berjasa bukan hanya di ranah organisasi namun di berbagai ranah kehidupan yang lain. Semangat menghargai^^

Hargai orang lain sekecil apapun hal positif yg ia lakukan maka berlipat penghargaan orang lain terhadap dirimu.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 multiplied by 4?