Coretan Aul

JALAN-JALAN KE PARE

Teman-teman yang ingin pergi ke Kampung Inggris Pare, baik dengan tujuan mulia untuk berguru di goa-goa terdekat maupun yang cuma ingin bilang ke orang tua “mak, saya mau ke Pare” tapi akhirnya lanjut ke Bali, tentunya perlu transfortasi untuk kesana. Jangan ngarep bisa naik pesawat atau Elang dan sejenisnya karena gak bakal ada yang sanggup mendarat disana. Jadi kalau gak pake kendaraan pribadi, ya pastinya harus naik Bis, karena berita terkahir yang saya baca, persahaan-perusahan Beca ternama juga udah nutup jalur kesana.

Disini saya mau berbagi tips dengan cerita-cerita sedikit mengenai kepergian saya ke kampung “yang katanya” inggris itu, mudah-mudahan bisa jadi referensi biar gak “salah jurusan” bagi teman-teman yg mau kesana.

Pertama, harus diingat, Kampung inggris Pare itu terletak di kabupaten Kediri, jawa timur, tepatnya di desa Tulung Rejo kecamatan Pare, letaknya sekitar 10 km dari kota Kediri, hanya sekitar 1 jam menaiki bus mini umum atau satu hari jika jalan kaki. Jadi bagi anda-anda yang mungkin dar jauh sana mau kesitu, aksesnya bisa dari malang atau Surabaya dulu, bagusan mana? Mari simak cerita berikut ini:

Kebetulan saat itu saya berangkat dari Kota Denpasar, setelah mendapat saran dari beberapa teman kuliah, saya memutuskan untuk pergi ke Pare via Malang. Saya memilih jasa calo tiket juga berdasarkan saran dari beberapa teman, dimana saat-saat low-season, penumpang bis akan sangat sepi dan para calo tiket ini akan menurunkan harga demi terjualnya tiket-tiket tersebut, hal itu pun terbukti saat saya mendapatkan tiket Denpasar-Malang seharga Rp 110.000,- dimana yang saya tahu harga tiket normal adalah Rp 150.000 jika membeli di Loket resmi.

Membeli tiket pada seorang calo sama hal seperti membeli ikan di pasar tradisional, harganya tidak pernah konsisten dan harus dilsayakan dengan trick-trick khusus. seorang Calo tiket akan terus berusaha untuk melabui kita dengan seolah-olah mereka tidak sedang dalam posisi sulit, selain itu jumlah mereka yang banyak dan menawarkan jasa secara bersamaan akan membuat kita kebingungan dan bahkan bisa-bisa tertipu dengan membeli tiket jurusan yang salah atau bus yang tidak sesuai dengan yang telah dijanjikan.

SetibanyaTerminal Ubung Denpasar, layaknya seekor rusa yang masuk ke kolam buaya, para calo tiket langsung mengerumuniku. Hal ini harus dihadapi dengan tenang, saya diam saja dan cukup berkata “tidak, saya udah beli tiket” kepada mereka. Namun mereka tetap saja menawarakan tiket-tiketnya seolah saya tidak mendengar perkataan ku tadi.

Saat itu saya diantar seorang sahabatku, Reindy, setelah memarkirkan sepeda motornya, dia langsung membuka jacketnya, dan kebetulan ia mengenakan baju thank-top yang secara langsung memperlihatkan Tato besar di lengan kanannya. Ternyata Hal itu cukup membantu mengusir kerumunan calo-calo tiket tersebut, dengan perlahan mereka pun bubar dan mencari orang lain yang memungkinkan dijadikan mangsa.

Saat di bangku tunggu, saya tetap bergaya seolah memang sudah memiliki tiket dan bersiap untuk berangkat, hal ini akan menghindari para calo yang juga berkeliaran di bangku-bangku tunggu. Sambil membakar sebatang rokok, dengan nada rendah, saya memanggil salah satu calo yang berada di dekatku.

“Mas, ke Malang berapa?”. “Seratus lima puluh mas, ini udah langsung mau berangkat, mau berapa orang”. Dasar calo tiket, ditanya sederhana, jawabannya tetap saja berlebihan. “Gila, mahal banget, yang benar aja dong mas”. Saya mulai melancarkan negoisasi. “seratus saya mau, gimana?” “Waah, gak bisa mas” “Ayolah mas, saya mahasiswa ini, gak punya uang lagi”. Para calo biasanya selalu memberikan penawaran rendah jika mengetahui kita seorang pelajar. “yaudah dek, seratus sepuluh aja dah, biar berangkat aja nih”. Setelah menunjukkan bis yang saya naiki, saya pun setuju. Lumayan, bisa hemat Rp 40.000,- dari harga normal yang sudah termasuk makan malam satu kali di pasir Putih Situbondo.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tiga belas jam, akhirnya sampai juga di terminal Arjosari Malang. Ternyata kondisi disana tidak jauh berbeda dengan di terminal Ubung Denpasar, karena perut sudah terasa kosong langkahku langsung saya tujukan ke warung nasi Jawa yang tidak jauh dari tempat berhentinya bis.

Ternyata untuk mendapatkan bus ke Pare, saya harus ke Terminal Landungsari yang letaknya cukup jauh dari situ, dengan menaiki mikrolet dengan Inisal AL menuju stasiun Landungsari. AL merupakan akronim dari kata Arjosari-Landungsari, dimana secara garis besar, inisial angkutan kota Malang diambil dari initial Terminal yang ada di daerah tersebut seperti A: Arjosari, L : Landungsari, G : Gadang dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan menuju Terminal, saya sempatkan untuk menikmati keindahan kota malang, dari dalam saya bisa melihat arsitekturalnya bangunan Balai kota Malang, megahnya kampus Universitas Muhammadiah Malang, banyaknya orang yang lulu lalang di sekitar stasiun kereta malang, dan beberapa orang berseragam sekolah sedang berjalan dan menunggu angkutan umum yang mungkin akan membawa mereka pulang.

Sesampainya di stasiun Landungsari, bus kecil Puspa Indah yang bermesin Diesel tua telah menunggu untuk segera dinaiki, jika saya bandingakan kondisi fisiknya tidak jauh berbeda dengan bus Kopaja di Jakarta. Ramainya penumpang membuat saya harus rela berdiri sepanjang perjalanan, kondisi jalan yang berkelok-kelok membuat kakiku serasa beku dan ingin segera keluar dari bus itu, namun tidak ada pilihan lain, ini bus satu-satunya menuju Pare, ditambah lagi setelah bertanya ke orang disebelahku, ternyata bus ini memang tidak pernah sepi.

Setelah kurang lebih 3 jam lamanya, dengan membayar ongkos bus Rp 20.000 akhirnya saya injakkan juga kakiku di daerah yang terkenal dengan dengan kampung inggrisnya ini. Diperempatan jalan telah berjejer becak-becak dayung yang siap mengantarkan ku masuk ke komplek perkampungan kampung inggris Pare. Dengan membayar Rp 10.000.- saya pun diantarkan ke tempat kursus yang telah saya pesan sebelumnya.

Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan pun dengan seketika hilang ketika melihat suasana di kampung inggris Pare. Hilir mudik sepeda-sepeda Onthel terlihat begitu menyenangkan, apalagi setelah saya tahu bahwa, kebanyakan orang-orang yang lulu-lalang itu adalah murid-murid les yang datang dari beberapa daerah di Indonesia.

Setelah memesan kamar Dhormitory (biasanya disingkat dengan Dorm) saya bertemu dengan beberapa teman satu mess yang sudah beberapa minggu lebih dahulu dari saya. Dari sala satu topik pembicaraan, ternyata dapat saya simpulkan, seharusnya saya ke Pare via Surabaya, ini disebabkan bus dari Surabaya ke Malang jauh lebih bagus dan banyak, pake dengan harga yang hanya lebih tinggi Rp 5.000,- kita sudah dapat menikmati kursi bus yang dilengkapi AC.

Nah begitu ceritanya, untuk, mengetahui lebih lengkap tentang info perjalanan menuju Pare, check disini aja.

gate kalo melihat gerbang ini, saya pastikan anda sudah berada di kampung nggris. enjoy it..

Category: Travelista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?