Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jatuh Cinta #1

Ini sungguh diluar dugaan. Perjalanan yang semula amatlah menyenangkan sampai lupa waktu dan lupa order tiket travel menuju Bandung, sekarang seperti kunjungan menuju… entah, kepala Mika tak sanggup menemukan perumpamaan yang sepadan.

Jalan ini tak lagi seramai jalan-jalan protokol di tengah kota. “Ini sudah masuk daerah Cinere. Sebentar lagi kita sampai, kamu jangan laper dulu ya he-he,” dia di balik kemudi bicara tanpa menoleh. Mika yang melirik seadanya dan ikut tersenyum samar. Continue reading

Sudah Waktunya

Mia meraih ponsel pintarnya. Jenuh dengan pekerjaan yang serupa siklus, tidak ada henti-hentinya. Kemudian telunjuk berhenti menyentuh layar. Matanya tertuju lurus pada sebuah nama dan foto kecil di sisinya. Ini selalu terjadi setiap kali ia membuka aplikasi chatting tersebut. Berulang kali tertegun. Berulang kali mengerjap. Berulang kali terjun ke kolam penuh memori indah dan menenggelamkan diri disana. Begitu menyentuh dasar realitas, ia menyembul dari kolam dan berenang ketepi. Continue reading

Panggung

Entah aku cukup berkapasitas untuk membicarakan hal ini atau tidak. Pantas atau tidak.

Intinya aku resah dan butuh menulis. Itu saja.

Bila ternyata ada yang tidak berkenan, silahkan tinggalkan komentar atau bisa hubungi aku via email yang tertera dalam widgets blog ini. Yang jelas aku paling tidak suka berdebat. Beradu pengetahuan sampai beradu kedudukan siapa yang paling tinggi. Berani taruhan! Yang merespon sinis pastilah orang-orang yang merasa tersindir dan ingin membela diri. Continue reading

Nyari Kerja Malah Dikerjain

Yah beginilah hidup.

Setelah selesai masa kontrak sejak awal Januari lalu, aku kembali jadi jobseeker di Balikpapan tercinta. Berdua bareng Nilam (kembaran beda silsilah keluarga dipertemukan saat MOS SMA dan ketemu lagi di Beswan Djarum angkatan 27) menelusuri kota Balikpapan pakai sepeda motor dan nge-drop CV dari pos satpam ke pos satpam. Dari lobi ke lobi. Dari resepsionis ke resepsionis. Nggak jarang juga kita sama-sama dipanggil untuk interview atau test di kantor yang sama. Continue reading

Diversitas Tanpa Batas

Yes! Finally the day is coming.

Udah lama banget pengen nulis atau sharing seputar menghilangnya aku dari dunia maya dan segenap dunia nyata he-he. Entah kenapa, ada kekuatan Maha Dasyat yang menekan sepuluh jari ini untuk sekedar cerita bagaimana kehidupan aku setahun terakhir ini. Dulu sih panik, tapi sekarang sudah selow. Pasti ada sesuatu yang harus diendapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya aku tulis di blog. Continue reading

As You Wish

Hati Ben sedang berbunga-bunga. Mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan sampai gosok gigi sambil senyam-senyum. Pagi ini Ben memilih atasan kaos dan jeans warna khaki kesukaannya. Santai memang, karena hari ini akan sangat melelahkan. Selesai mematut diri, Ben kembali membaca pesan singkat dari Dika. Pujaan hati yang cukup lama ia rindukan.

“Jam sepuluhan ya, dad. Kita langsung ketemu disana aja.”

                                                            -Mommy Dika- Continue reading

Hak Waktu

Ponselnya bisu sejak tadi pagi. Tidak ada notifikasi. Terakhir cuma pesan dari pacar, dia bilang selamat pagi dan maaf tidak bisa mengantar ke kantor karena Vice Presiden tempatnya bekerja tahu-tahu datang dari Singapure dan mengadakan meeting pagi-pagi buta. Itu saja sudah bikin nafasnya berhembus berat. Jalan ke terminal Trans Jakarta makin terasa berat. Saat terpaksa lembur sesore inipun masih terasa berat. Kepalanya juga berat. Continue reading

Jauh

Pemandangan diluar jendela selalu menarik. Bila ada waktu, kapanpun, ia akan menoleh sebentar ke jendela. Barang semenit-dua menit kemudian kembali berpijak lagi ke bumi yang ia arungi. Seperti setiap pagi dari jendela kamar indekos lantai tiga. Waktu menyibak tirai untuk memastikan apakah matahari sudah hadir. Seperti cipratan pagi yang menyilaukan sudut mata dari jendela kopaja. Sangat menarik untuk ditilik sebentar saja. Continue reading

Sistem Error

Anganku terlalu optimis. Yakin bahwa segalanya dapat berjalan dengan baik. Mengalir dengan benar dan terjadi dengan tepat. Begitu mendarat di bumi realitas, mental polos ini berguncang hebat. Betapa setiap detail semesta yang ditemui saling bertentangan satu sama lain. Walau berada di wadah yang sama. Bernaung di titik koordinat yang sama. Tapi saling menentang dengan idealisme masing-masing. Continue reading

Budget

Sedikit flashback ke belakang. Ketika kesempatan itu ada. Tidak ada sekat. Hanya batas untuk melindungi pergerakan. Tidak ada kekang yang menghalangi pergerakan. Sehingga setiap neuron dalam otak bebas berkembang seperti ragi dalam adonan roti.

Ini sangat membahagiakan… bila dibandingkan dengan orang lain yang sibuk meraba-raba dinding karena terlalu sering dipapah.

Kini roda berputar. Rotasi yang bisa berbalik. Continue reading

Idiot

Tok.. tok.. tok…

Chris tersenyum di ambang pintu. Daun pintunya terbuka setengah. Berjalan masuk dengan sekantung plastik makan malam praktis. “Sudah berapa lama kamu seperti?” Chris menatap peratalan kimia bergantian. Gelas ukur mulai dari 5 ml, 10 ml, sampai 1 liter. Gelas kimia dengan berbagai diameter. Pipet berbagai bentuk. Dan semuanya transparan tanpa warna. Bening saja. Yang berwarna hanyalah cairan yang tertampung di dalamnya. Semua didominasi warna hijau tosca. Warna pekat hingga pudar sebening air putih. Continue reading

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir hujan di sore ini.

Menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi.

Aku masih melihatmu begini. Terus menulis tanpa henti. Kamu pernah cerita, bahwa kamu ingin menulis hingga tua nanti. Saat itu aku membatin. Aku akan tetap disini, melihatmu menulis. Ikut tersenyum saat kamu terbawa suasana dan resah saat kau tak kunjung temukan ending cerita yang tepat. Continue reading

Kosong

Belakangan Dira banyak diam. Mengunci diri di dalam kamar. Dulu dia tidak begitu. Dulu wajahnya penuh tawa. Ucapannya penuh kelakar yang menghangatkan banyak hati. Sepasang mata yang menyipit setiap kali terbahak dengan candaan yang ia buat sendiri. Yang lain tidak ikut tertawa, Dira tidak peduli. Selama itu lucu, dia tertawa. Continue reading

Dokter Hans #2

Michael bisa lihat sesuatu yang menyenangkan di dalam sana. Di dalam kelopak mata yang menutup. Di dalam seutas senyum yang mengembang. Michael bisa lihat dua gigi kelinci yang juga ikut bersahaja di bawah hujan laser LED biru dan bulir kertas berkilau berbentuk bintang yang ia biarkan buram. Karena fokus matanya hanyalah makhluk kecil ini. Yang semula ia pikir sedang tenggelam di lautan manusia. Tidak. Dia punya caranya sendiri untuk menikmati pecahnya penampilan diva galaksi malam itu. Continue reading

Myle #1

Suasana sudah mulai gelap. Tubuh mungilnya di tengah-tengah lautan manusia. Walau begitu, ia masih bisa melihat sekelompok band di atas panggung. Sudah dimulai, batinnya. Seorang vocalist mulai memegang mic. Satu-satunya lampu sorot tertuju pada sang diva. Diva pada pertunjukan malam itu. Orang-orang disekitarnya turut membuka mulut, sama persis seperti sang vocalist. A… i… u… e… o… Bukaan mulut mereka sama. Semua orang ikut bernyanyi, batinnya lagi. Ya, satu graha sedang berdendang. Sesuai tebakannya. Continue reading

Rahasia Josh #20

Semakin hari selaput ini tak terelakkan. Ia saksikan sendiri hingga terbiasa. Dipojok bengkel galeri, sambil bersembunyi di balik laptop, Josh sedang memahami. Bagaimana Naya menikmati setiap sapuan kuasnya. Berdiri di sisi Wira. Kadang-kadang menenggelamkan wajah di dalam sketch book. Bagaimana Wira tak sanggup menahan senyum setiap kali melirik Naya di sisinya. Naya jelas tidak sadar, Wira malingkan sedikit wajahnya. Tapi Josh melihat.  Continue reading

Realistis

Tangan kurusnya tadi lembab. Menahan keringat dingin. Ia remas sekuat tenaga supaya jangan sampai kram. Sepucuk amplop merah gelap meminta disambut. Tergeletak di atas meja ruang tamu. Kisar diam mematung. Duduk termangu di sofa. Memijat-mijat kedua telapak tangan. Hanya ditatap dengan segenap tenaga yang tersisa. Nafas yang tersisa. Tubuh yang tersisa. Kepala yang tersisa. Continue reading

Kanya, aku Kaca

Bukan hadir karena pertemuan cinta dan kasih yang saling melengkapi. Ia diciptakan karena memang banyak yang butuh. Hari-harinya tertanam bersama komponen selubung bangunan. Setiap atom tubuhnya sudah direncanakan sedemikian rupa. Sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan takdirnya. Ketebalan tertentu agar sanggup berhadapan dengan ganasnya atmosfer ibu kota. Agar enggan rubuh waktu angin riuh akibat perubahan tekanan udara. Dia dirancang untuk itu semua. Continue reading

Percaya Siklus

Pupil cokelat almond melirik Emp yang masih terpaku di depan komputer. Lalu kembali tenggelam dalam abu-abu cokelat lembaran novel “Dunia Sophie”. Tidak benar-benar Amy membaca. Kepalanya sudah pening. Menelaah perjalanan hidup si Sophie yang sedang bermain-main dengan Alberto. Menurutnya Alberto ini semacam arwah dari abad pertengahan. Menyeberangi zaman hanya untuk curhat. Continue reading

Kertas Putih

Tungkai kecilnya bermain-main di udara. Punggung mungilnya bertumpu di kasur seharga nyaris sejuta. Bantal empuk menopang tengkuk dan kepala yang penuh dengan detail semesta. Ia serap saat menghirup udara sore atau sekedar menyimak cerita Emp tentang orang-orang hebat di dunia maya. Orang-orang hebat itu nyata, tapi Emp simak riwayat hidup mereka di jejaring sosial. Continue reading

Siluet

Silau di tepi punggung yang gelap. Dia lebih suka bekerja di ruang yang remang. Hanya butuh terang di depan mata. Selebihnya gelap untuk memusatkan perhatian. Aku berselimut gelap. Memperhatikan dari belakang. Punggungnya hitam karena terang jatuh di depan dada. Gemericik sepuluh jemari di atas keyboard dan sesekali klik dari tombol mouse. Continue reading

Terima Kasih, Mela #10

Niatnya, sesampai di apartemen. Cepat-cepat menanggalkan tas dan pergi ke kamar mandi. Membilas tubuh dengan air hangat nampak menggiurkan. Tapi niatnya menguap entah kemana. Baru membuka pintu, ia terpana cukup lama. Ada sepucuk surat terselip di bawah daun pintu. Ketika jemari menyambut, ukuran amplop tidak seperti biasanya. Ada plastik transparan membungkus di bagian luar. Sepertinya lembar di dalam amplop cukup tebal. Continue reading

Karena Kidal #7

“Gerald~~ Ini permohonanku yang terakhir.”

Gerald masih membisu. Antara ingin menyumpal telinganya atau mencari penjelasan yang lebih masuk akal agar Mela enggan melengkapi kalimatnya. Namun ia tak kuasa memutuskan sambungan langsung jarak amat jauh. Setelah sekian lama berkutat dengan jarak semenjak Mela mengikuti keinginan keluar besar di belahan dunia yang lain. Saat ia tertidur maka Mela terjaga, begitu juga sebaliknya. Mengantarkan hubungan yang lebih mirip main kucing-kucingan. Continue reading

Ikatan Batin #1

Sore ini jadi korban utama. Atas perhatiannya yang hanya jatuh pada satu titik. Hanya satu dan hanya titik. Bahkan segala jenis permulaan berasal dari satu titik. Satu titik tempatnya berbalik pada kekeliruan hingga dapati hidup yang jauh lebih baik. Jadi ini adalah saat-saat untuk berbalas budi. Pada sang titik yang bawa ia kembali di garis takdir yang sempat dipungkiri. Continue reading

Wahana Keempat #6

Belum tau nih, wahana keempat bakal melipir kemana. Naik lagi ke lantai atas deh. Eits!! Sebentar. Sepertinya ini poster sama seperti poster panjang yang aku lihat di lantai atas. Ternyata di lantai bawah juga ada. Beberapa relawan sekedar mampir untuk melihat-lihat, membaca serius dan menempelkan sticker di atas poster. Aku penasaran, jadi aku pilih melihat lebih dekat. Ternyata poster panjang ini merupakan profil tempat-tempat pengajar muda ditempatkan untuk mengajar sekaligus tujuan seluruh surat dan paket yang akan dikirim setelah dikemas di FestivalGIM ini. Continue reading

Wahana Ketiga #5

Mari menulis suraaattt  *\(^_^)/*, lagi. Ternyata wahana Surat Semangat untuk Guru dan Kepala Sekolah gak seramai Surat Semangat untuk Murid di lantai atas. Dari segi dekotari juga gak jauh berbeda dengan wahana “kembarannya”. Mungkin bedanya, disini gak ada fish bowl dimana aku bisa ngambil kartu alamat surat yang akan aku tuju. Justru alamat surat sudah tertempel di muka amplop. Seperti sebelumnya, ada selembar kertas polos warna-warni, papan scaner sebagai alas. Lagi-lagi aku dapat kertas warna kuning hhmm… Continue reading

Wahana Kedua #4

Dari 10 wahana, baru beres satu wahana. Hhhmm… tolah-toleh ke kanan dan ke kiri. Gak ada wahana yang sepi dari antrian panjang. Semakin siang, relawan yang datang juga semakin banyak. Kalau aku kelamaan clingukan kayak anak hilang, bisa sampai sore bengong mulu. Baiklah, aku mendekat ke balkon lantai 2. Satu teman hyperactive (mas Johan) sudah ditemukan. Dia berkutat di Surat Semangat untuk Kepala Sekolah. Nah! Yang satu lagi nongkrong di wahana apa ya dia?? Continue reading

Original Chocolate & Vanilla Late #4

Selesai sudah urusan barang. Satu tarikan ringan, risleting koper tertutup rapat. Bryan menghampiri meja. Sebuah amplop ia gapai. Bersandar di tepi tempat tidur sambil mengeja deret angka di dalamnya. Memastikan ia tidak salah baca tanggal dan jam keberangkatan. Hitungan detik, lipatan kertas kembali masuk ke dalam amplop.

Melihat sekitar kamar. Tidak ada lagi barang tertinggal. Continue reading

Bagaimana kabarku saat ini?

Setahun belakangan – Indekos – Bandung

Bangun tidur. Kucek-kucek mata. Guling-guling. Buka leptop. Lampu modem kedip-kedip. Buka Google Chrome. Melipir ke member area. Nongkrong di dashboard. Klik new post. Sepuluh jari menari-nari di atas keyboard leptop. Isi kepala berdendang ria, mengeja setiap lafal aksara untuk membahasakan seluruh keinginan jiwa sampai raga. Alhasil, 2-4 posting dalam sehari. Continue reading

Kota Kecil

Ini tentang sebuah kota kecil. Dan kadang karena ia kecil. Di dalamnya hanya ada bagian-bagian kecil.

Tempatku bernaung juga hanya pesisir kecil. Butir pasir yang juga kecil-kecil. Tapi mereka lembut. Mataharinya terik dengan kelembaban udara tinggi. Jika mengusap kedua telapak tangan, rasanya lengket. Tapi kelembaban itu memeluk. Sama lembut. Ombaknya kecil. Sampai bibir pesisir jadi sekedar debur sekilas. Tapi deburnya membelai~~dengan lembut. Sore hangat selepas siang. Continue reading

Ayah

Tubuhnya banyak kehabisan tenaga. Perhatiannya juga tak berdaya. Fokus pun bisa lemah. Ia jalankan tuntutan dengan sangat baik. Hingga tiba waktunya. Tuntutan tahap awal butuh pertanggungjawaban. Dihadapannya saat itu, terduduklah dosen pembimbing beserta co-bing. Dalam hati penuh harap karena tak ingin dikecewakan. Di deret kursi yang sama. Seorang penguji. Tugasnya menguji. Continue reading

Hasil #15

Kepala sekolah berdiri tegap di belakang standing microphone. Entah bicara apa. Yang Naya tahu, sejak tadi terus berkicau panjang lebar. Menyuarakan kedatangan hari yang telah dinanti. Mengumandangkan rasa bahagia atas segala proses yang telah dilewati. Sudah sebanding lurus dengan kuatnya intensitas cahaya matahari yang jadi latar cahaya. Pagi memang cerah. Awalnya ceria. Tapi kalau begini terus, sama aja dijemur. Continue reading

Rekam #13

Bilik mungil. Tak banyak ornamen. Sekedar tempat tidur single, satu set meja belajar dan lemari pakaian. Selebihnya biar dinding polos yang berwarna. Dulu putih polos biasa. Kemudian ia bujuk rayu sang ayah agar putih boleh berisi warna lain. Beruntung darah seni memang mengalir darinya. Dan sejak saat itu, Naya tak pernah keluar kamar selama hampir sebulan. Sepulang sekolah, masuk kamar sebentar untuk berganti baju lalu makan siang, kemudian masuk kamar lagi sampai esok pagi. Alhasil, dinding putih berbagi kekuasaan dengan warna lain.  Continue reading

Pagiku #11

Pidiiip… Pidiipp… Pidiiip… Pidiiip…

Melengking dengan ketukan teratur. Lengkingannya sampai ke telinga Naya. Posisi tidur menyamping dengan tangan kiri jadi alas kepala. Belum apa-apa lengkingan itu akan lebih dulu menjentik telinganya. Dirinya tersentak. Alam bawah sadar beserta mimpi seketika jatuh bersama gravitasi. Masuk lagi ke dalam kepala. Sepasang pelupuk yang tadi tertutup harus beradu dengan lengketnya kelopak mata. Tubuhnya masih ingin tidur. Continue reading

Sejarah Tawa Riang #8

Langit cerah. Birunya segar. Dibasuh semburat sinar matahari bersama kilau keemasan. Secerah nuansa hati Naya bersama seluruh siswa-siswi kelas 2 lainnya. Pagi penuh keceriaan untuk menyambut liburan singkat. Beberapa hari kedepan. Menyambut datangnya minggu Ujian Nasional bagi siswa kelas 3. Tak hanya sekedar 3 hari kosong tanpa kegiatan belajar di sekolah. Ada kegiatan berkemah ke daerah puncak, Bogor. Siapa yang tak riang menyambut indahnya pagi ini. Naya dan beberapa kawan sebaya tak habis tenaga untuk terus tersenyum dan tertawa. Continue reading

Bodoh

Di luar sana hujan. Ada air yang berderai pecah dari gumpalan embun, awan. Mendinginkan segala yang sempat memanas karena infra merah sinar matahari. Sudah jadi rahasia umum. Ultra violet yang datang, kembali ke selimut bumi yang tebalnya ada tujuh lapis, lalu berkelok lagi hantam segala yanga ada di muka tanah. Sesaat kemudian dihantam lagi dengan hujan pecah bersama petir. Seperti awan melewati proses retak sebelum air di dalamnya tumpah. Continue reading

Sahabat #2

Ini untuk yang kesekian kali dirinya melirik. Adik perempuan satu-satunya hanya duduk tenang, earphone di telinga, dan jari telunjuk yang mengetuk-ketuk chasing handphone. Duduk di sampingnya. Sambil terus memandang satu titik ke luar kaca waiting room. Ada banyak pesawat sedang parkir. Selebihnya sibuk bergerak maju-mundur untuk masuk dan keluar dari tempat parkir. Bahkan Key tak banyak bicara sejak acara lauching buku pertamanya semalam. Continue reading

Sahabat

Dalam benaknya ada banyak keluh kesah. Bibirnya terkatup rapat cukup lama. Beringsut masuk ke dalam perbendaharaan kata. Bisa saja ia pilih salah satu dan berucap seperti biasa. Bahkan ketakutan mendominasi. Membuatnya dungu berdiri sekian jam disana. Hilang kemampuan memilih mana kata yang tepat. Berulang kali Liz gagal berucap segala keluh kesah yang dirasa. Jadi cuma bisa megap-megap. Setiap temukan satu kata yang tepat, tertelan lagi. Karena takut.  Continue reading

Diam

Jemarinya meratapi tanah luas membentang dari puncak lutut. Sejak beberapa menit lalu menggesek-gesekkan telapak tangan di sekitar lutut. Merasakan permukaan black jeans agak longgar. Tak sekasar canvas tapi ini lebih baik. Minimal ada kehangatan setelah itu. Setelah hangat, kini kelima jemari salah satu tangan bergemeletuk. Sebenarnya tak ada yang ia tunggu. Continue reading

Sendiri

Dia ingin hingar-bingar. Kegalauan yang membawanya datang bersama gelap. Padahal ada hujan cahaya dimana-mana. Lampu berbagai warna memancar kemana-mana. Berpendar padahal, tapi sudut gelap tetap ada. Beberapa bola bergantung dan berputar. Tak hanya satu. Cukup banyak. Tubuh bola terpecah-pecah mengikuti permukaan yang melengkung sempurna. Permukaan berkilau. Potongan kaca berukuran serupa melekat erat. Melempar keras setiap cahaya yang datang. Saat lampu sorot bermekanik menjatuhkan sinar padanya. Berbendar. Memecah. Menghujani setiap kepala yang bergoyang di bawahnya. Continue reading

Filsafat

Meskipun filsafat adalah kegiatan olah nalar, yang sebenarnya digumuli di sana adalah kebutuhan terdalam ruh dalam dinamika jatuh-bangunnya pengalaman: kebutuhan mendasar atas makna dan arah kehidupan, kebutuhan tentang bagaimana misteri-misteri kehidupan bisa dijelaskan dan dipahami, kebutuhan untuk mengerti apa yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa itu sendiri. Sering kali pada titik terdalam ruh tersentuh dan terisi bukan oleh hal-hal material, bukan oleh kekuasaan dan kedudukan, bukan oleh sukses karier spektakuler atau popularitas, bahkan bukan juga oleh doktrin agama, melainkan oleh rasa penasaran, petualangan pencarian, keharuan, keheranan, atau kekaguman, yang sering demikian misterius. Dalam kerangka itulah, pemikiran-pemikiran filosofis yang abstrak dan pelik dapat menjadi perangsang-perangsang bagus yang membimbing kita ke dasar kebutuhan batin itu.

Continue reading

Pertunjukan

Tubuhnya meringkuk. Duduk menekuk lutut dan agak membungkuk. Mendekap sepasang tungkai dalam sudut 30 derajat. Kedua tangan mengunci. Duduk bungkuk di atas pasir putih. Menatap segala yang ada di hadapannya. Memunggungi belasan teman sejawat yang tertawa bersama. Musik menyentak material padat. Bass juga menyentak tapi teredam prematur. Berdegum-degum. Getarnya berdegum sampai dada. Lama-lama sesak.

Continue reading

Suara Uap

Aku dengar banyak suara. Banyak yang bicara. Sumber bising dimana-mana. Nyaris menghampiri kacau. Aneh. Aku diam, duduk manis di tengah-tengah sana. Telinga bebas tanpa selaput rajut atau helai rambut. Aku bisa diam bersama pengamat. Bersama mata. Partner pengamat.

Padahal yang dibicarakan gak lebih dari uap.

SD Sindang Sari 5 #4

Kondisi gedung sekolah yang bikin aku banyak mikir. Mereka upacara bendera dimana? Bahkan tiang bendera beserta selembar kain merah-putih pun gak nampak berkibar di sekolah ini. Kalau bukan karena keberadaan makhluk-makhluk mungil berkostum putih-merah, aku pikir tempat ini sebatas gang kelinci di tengah-tengah kepadatan kota Bandung. Inilah sekolah yang akan menjadi saksi langkah pertamaku menuku Kelas Inspirasi. Sebelum aku lulus. Sebelum aku mengganggur. Sebelum aku menemukan satu pekerjaan hingga menjadi profesional. Berjalan bersama waktu.

Continue reading

Jatim Park 2 (Museum Satwa) #5

Ragu kalau dalam waktu hitungan jam aku tetap bisa pergi ke sana. Tapi tetap gak akan tau kalau gak dicoba. Sayangnya hari itu teman-teman Dalang 27 sudah punya jadwal masing-masing. Mau coba bujuk dengan cara apa pun yah percuma. Kan aku sudah bilang, aku datang di tengah momen-momen akademik yang sakral. Alhasil aku cuma pergi berdua sama Rahmat. Kebetulan penelitiannya gak berlaku di hari sabtu. Waktu itu 19 Januari 2012.

Continue reading

Ria Djenaka #4

Belum sampai jam 9 malam, Ove sudah harus pamit duluan. Masalah pintu kosan yang tutup jam 9 malam dan doi gak megang kunci duplikat. Gak harus pulang juga bisa sih, semacam nginep di kosan temen juga bisa. Masalah baru, Ove belum pulang ke kosan sejak beberapa hari yang lalu dan itu jadi bahan omongan makhluk-makhluk seantero indekos nya. Dasar makhluk kurang kerjaan. Tapi yah sudahlah, memang begitu adanya, jadi Ove harus pulang duluan.

Continue reading

Aku Gak Mau Karokean Lak Gak Karo Koe #3

Dari kemarin pengen banget karokean bareng Dalang 27. Mungkin masalah waktu dan memang aku datang di tengah-tengah momen skripsi, sidang proposal skripsi dan KKN. Yah mau bagaimana lagi, sekalinya aku punya kesempatan justru gak semulus yang aku kira. But its okay, aku juga paham dan sejauh ini gak ada masalah. Bisa ngumpul bareng kalian lagi juga sudah puas batin hahahaa…

Continue reading

Alun-alun Batu #1

Bermodal googling dan kekuatan imajinasi. Tetap berbentuk juga segala deskripsi lengkap. Deretan adegan yang aku tuangkan dalam tulisan. Terdorong dari keinginan hati yang ingin berkunjung ke sana. Tapi apa daya, urusan dunia kampus luar biasa menyita. Dunia kampus? Bahkan kampus aku buatkan skala dunianya sendiri. Gedung-gedungnya memang gak seberapa, tapi jadwal dan urusan yang gak kasat mata sering minta dipentingkan. Menjadi penting. Kalau aku abaikan, aku fix jadi manusia laknat berstatus mahasiswa.

Continue reading

Labuan Bajo – Denpasar #37

Pagi di Labuan Bajo.

Biasanya aku selalu penasaran dengan sumber cahaya yang mencuat dari celah pintu kamar. Ingin cepat-cepat mengimpun nyawa kemudian mencelat hingga tepi jemuran di depan kamar. Berjinjit. Ingin lihat deburan ombak. Sebenarnya itu hempasan air tenang yang terbelah kacau karena MV Yohanes III berlayar dengan perkasa. Atau sekedar memutar otak kecil berporos tentang keberadaan pusaran air. Atau terkejut dengan riang begitu melihat ubur-ubur transparan menyapa dari permukaan laut. Atau berlari ke muka boat, mendapati mas Manto lagi ngerayu gagak hitam dengan potongan roti.

Continue reading

Snorkelling Lagi Lagi Lagi #32

Selamat pagi. PAGI!!!

Apa yang kami lakukan pagi ini? Melaksanakan misi tentunya. Yeah! Aku sudah bilang sebelumnyakan. Walau makan malam perpisahan sudah terselenggara dengan heboh di atas atap boat, bukan berarti di keesokan harinya kami menjalani hidup liburan dengan mati gaya hahhaaa… Gak dong. Say no to mati gaya selama #KomodoTrip ini. Jadi, apa misi kesembilan kali ini? Ini misi yang menyenangkan tentunya hehehee… Misi bermain-main, narsis sambil snorkelling ahhahaha… 

Continue reading

Manta #31

Setelah puas main-main air, akhirnya boat kembali berlayar menuju Karang Makasar tempat para Manta berenang. Selama perjalanan kami bertanya ini itu kepada bang Syarif. Kata bang Syarif, Manta dewasa itu punya lebar tubuh membentang sampai 4 meter. Wah!!! Lebar badannya 4 meter. Lebar banget dong.  Jelas aja lebar, karena ikan ini sejenis ikan pari laut.

Continue reading

Penulis?

Dan pada akhirnya berbagai jenis pikiran membombandir seisi blog. Kemudian aku disebut-sebut penulis. Maaf, tapi aku gak merasa demikian.

Semua bisa menulis. Buktinya? Lihat berapa banyak pemilik akun twitter. Berapa banyak pemilik aku blog. Berapa banyak buku di etalase toko buku. Jadi analoginya, semua orang adalah penulis. Jadi? Apa bedanya aku dengan kalian. Dengan manusia pada umumnya

Genre

Masalah genre tulisan aku gak pernah milih atau menentukan. Apa yah? Refleks. Setiap kali aku menulis maka yang tertulis sudah berbentuk narasi. Dari bahasa, banyak yang bilang bahasa penulisanku seperti novel. Memang aku terbiasa dengan bacaan novel. Entah disebut apa genre tulisanku ini. Sejauh yang aku tau hanya narasi. Ya, narasi. Karena aku terbiasa dengan setting.

Blog

Berjalannya waktu. Aku masih tetap menulis. Laporan praktikum dan tugas besar mata kuliah perencanaan. Mata kuliah sulap, bagaimana caranya meramalkan pertumbuhan penduduk sampai puluhan tahun kedepan? Memang masih menulis, tapi gak lagi tentang keluh kesah. Pola pikir mengalami banyak perubahan. Berkembang pesat. Karena aku juga sudah cukup lama keluar dari rumah. Aku kuliah di luar kota.

Continue reading

Meng-Gili Lawa-Tawa #28

Ada yang spesial nih. Apaan tuh? Yang pasti bukan nasi goreng pake telor, tapi ini sunset pake tracking ke puncak bukit Gili Lawa. Wow! Habis main air, berbasah-basah keringat lagi demi mengejar momen sunset. Selama ini kami sudah sering banget tracking, tiap hari malah. Nah! Apa bedanya sama tracking kali ini? Aku juga penasaran, ihiiiyyy… Pantengin aja terus deh cerita aku hehheee..

Continue reading

Membeku

Barusan ada yang lewat di kepala. Dua istilah yang aku rasa punya kesamaan makna namun berbeda konotasi. Mengkristal dan membatu. Analoginya sama-sama berubah wujud menjadi padat, tapi pasti dua istilah ini punya konotasi yang berbeda. Menurutku kristal itu wujuh zat yang membeku namun memiliki nilai yang sangat tinggi, punya bentuk yang indah dan diinginkan banyak orang. Kalau batu? Apa bedanya dengan batu bata? Batu kerikil?

Continue reading

Perjalanan

Perjalanan yang gak pernah aku duga sebelumnya. Membayangkannya aja udah gak tertarik, tapi toh ini yang menjadi cikal-bakal segala metamorfosa bulir angan dalam fantasi. Melewati tahap konversi, jadi nyata. Bukan bayangan nyata. Wujudnya nyata. Kenyataannya mendekati sempurna untuk sesaat lagi. Tapi seribu sayang. Bisa dikatakan aku salah jalan. Salah track. Tapi apa daya, aku juga gak kuasa berjalan dengan track yang sudah semestinya. Ini untuk tahap awal. Selanjutnya aku pilih trackku sendiri.

Continue reading

Go To The Pink #26

Kami mau ke pink beach. Yeeeeeeeyyy… Pertama kali tau pink beach itu dari tv. Kalo gak salah dari program tv yang memamerkan gaya liburan artis-artis yang sekedar main air di pantai berpasir pink ini. Awalnya sempat ragu. Emang bener pink warnanya? Kenapa bisa pink? Selain warna pasir yang gak biasa, apa lagi yang bisa dilihat disana? Banyak nih pertanyaan di kepala. Tetap aja gak akan tau gimana medan misi ke lima ini kalau belum menginjak pantainya.

Continue reading

Misi Kelima di Loh Liang #25

Yeah. Bayanganku masih berkutat di Loh Buaya. Jadi maklum saja kalau apa-apa yang aku lihat selama tracking, selalu aku banding-bandingkan dengan kondisi di Loh Buaya. Termasuk perburuan kali ini. Dilihat dari kondisi vegetasi di area ini, terlihat jauh lebih kering dan gersang bila dibandingkan dengan Loh buaya. Nuansa kemarau memang kerasa banget disini. Berasa di afrika deh hehehee…

Continue reading

Babercue #22

Seneng deh bisa menyelesaikan dua misi dalam sehari. Cape, pegel, keram, kulit nyut-nyutan itu seperti terbayar lunas hehehee… Selesai snorkelling waktunya mandi. Kali ini pake air tawar. Dan dari sinilah aku punya niat untuk potong rambut. Karena setelah kena air asin dan panas, rambut berasa kaku. Ntar deh kalo udah pulang ke Bandung. Alhasil memang jadi potong rambut ehehhee.. Okay, skip!

Continue reading

On The Way Boat (re:Home) #20

Third mission complete! Setelah misi pertama di air terjun Cinca Rami dan misi kedua di desa Pasir Panjang pesisir Pulau Rinca. Lega? Tentu saja. Keliatannya aja cuma seperti jalan-jalan, tapi siapa yang tau rasanya betis keram dan keringat terjun bebas sampai baju sudah nyaris basah. Khusus aku, ini muka sudah gak tau gimana rasanya. Antara perih dan nyut-nyutan. Kayanya Loh Buaya ini cocok banget jadi lokasi pembuktian berbagai merk pelembab yang koar-koar di layar tv. Hehehee…

Continue reading

Bukit Mi’un #19

Liat komodo? Udah. Liat pohon palem ajaib? Udah. Terus? Yah, sekarang waktunya mas Budi menepati janjinya. Itu lho tentang kejutan di akhir tracking kami kali ini. Kaki masih terus gerak jalan lincah ke depan. Penasaran? Pasti! Track makin kerasa panjang karena gak nyampe-nyampe. Lihat kanan-kiri udah gak keliatan lagi satwa setempat mulai dari komodo, burung gosong, atau kerbau. Gak ada sama sekali, cuma pohon-pohon dan ilalang yang sekarat karena kering.

Continue reading

Next #16

Dermaga Pasir Panjang nyaris rata. Sama seperti pesisir pulau yang sudah-sudah. Boat berenang memecah ketenangan air laut. Ini yang paling aku suka. Setiap kali boat berlayar, seperti menabrak fluida angin yang mati suri. Ketika boat berhenti, jangan harap akan ada angin sepoi-sepoi seperti di pantai pada umumnya. Aku pun gak paham kenapa ada laut dengan angin seminim ini.

Continue reading

Senam Pagi #12

Jalan setapak menuntun kami ke sebuah sekolah dasar. Aku pikir sebentar lagi akan ada pemandangan bocah-bocah aktif yang duduk manis di bangku sambil menggerak-gerakkan pensil atau pulpennya. Ternyata aku salah. Mereka sudah berkumpul, berbaris rapih di lapangan sekolah. Upacara? Kayanya saat itu bukan hari senin. Tapi ada sound system dan ada beberapa siswa yang menggunakan pakaian olah raga. Oh ya senam pagi.

Continue reading

Pagi Indah #10

Buka mata. Senyap luar biasa. Nampaknya malam sudah beres. Itu ada semburat terang dari sela-sela pintu. Sudah pagi. Entah jam berapa waktu itu. Nengok jam tangan sudah gak kepikiran. Turun dari ranjang kayu. Aku tidur di ranjang bawah, teh Putu tidur di ranjang tingkat atas. Aku sudah cerita kan, aku dan teh Putu akan terus sekamar. Wanitanya cuma kami berdua heheee.

Continue reading

Atap Boat #8

Entah dari mana datangnya ide untuk naik ke atas atap boat. Karena penasaran, lompat juga sampai atap (hebatkan). Tapi ada yang kurang nih kayanya. Aku turun lagi untuk ambil jaket dan camera. Angin ketika boat melaju, berpotensi mengakibatkan masuk angin. Ditambah lagi kondisi bajuku yang masih setengah basah akibat guyuran air hujan dan keringan sehabis menaklukan jalur luar biasa di desa Wae Lolos.

Continue reading

Misi Pertama, Air Terjun Cinca Rami #6

Lalu lintas di Labuan Bajo ini gak sebanding dengan kondisi di Jakarta dan Bandung yang macetnya merembet kemana-mana. Kalo di Bandung wajar aja macet, banyak jalur satu arah dan jalan terlampau sempit untuk jangkauan kuantitas kendaraan bermotor. Jakarta apa lagi, tol udah sampai bertingkat-tingkat tetep aja macet. Di Labuan Bajo itu terlewat lapang. Bahkan selama perjalanan dari Treetop ke lokasi air terjun, jarang aku lihat mobil lain yang berlalu lalang. Kalaupun ada cuma sepintar trs ilang ditikungan.

Continue reading

Rempong Dikit Terus Capcus ke Ubud #2

Pemandang luar biasa dari jendela pesawat, CHECK! Sekarang waktunya turun.  Terus terang aku lupa gimana nuansa udara Bali. Denpasar khususnya. Analogi aja lah yah, landasan pesawatnya tetanggaan sama pantai, berarti hhmm… panas. Dibanding Bandung, ya panas. Sambil bisik-bisik lirih ke kulit sendiri. Selamat berjuang kulit tipis, persedian sunblock semoga cukup sampai seminggu kedepan.

Continue reading

Namanya Wira #7

Bel tanda istirahat memporak-porandakan kesunyian gedung sekolah. Bunyi cempreng sukses merambat, memantul, bergema dan beresonansi dengan benda seirama. Siswa-siswi kelaparan juga sudah berhambur ke sudut-sudut kantin untuk mengisi ulang amunisi. Yang lain sekedar berlarian di lapangan bersama hentakan ringan bola basket memantul. Direbut sana-sini. Berlari sekaligus memantul kemudian slam dunk. Tim yang menang bersorak-sorai. Ibarat selebrasi.

Continue reading

Kelas 2 Ipa 1 #6

Seingatnya, beberapa menit lalu ada niat ingin menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang. Pekerjaan rumah? Bukan. Layout yang ia bawa pulang. Lantas yang ia lakukan kini?

Duduk agak membungkuk. Tubuhnya condong kedepan sedikit. Kedua siku tangannya berpangku pada permukaan meja. Meja yang menahan beban pc beserta tikus wirelessnya. Kalau Naya termangu begini, beban meja bertambah sekian newton. Masih kuat. Sudah kodratnya di timpa beban ini itu, disini-disitu.

Continue reading

Kedua di Lapangan Upacara #5

Pantulan cahaya berbagai warna. Sempat biru lembut yang berbinar lalu berganti cepat dengan rona kemerahan. Berpindah cepat lagi. Kini lembayung menyelimuti keseluruhan wajah Naya. Mungkin bagian mata tak ikut terpapar. Ada lensa anti radiasi, jadi cahaya datang balik mantul. Standby hampir satu setengah jam di sana. Nyantol di tulang mancung hidung . Bagian tangkai melengkung juga bersandar di tulang rawan telinga perempuan ini. Tertutup lembaran cokelat berkilau lembut. Selembut rambut bayi.

Continue reading

Hari ini

Kamis. Kuliah Sumber Daya Air yang ternyata dosen berhalangan hadir (lagi). Kemudian dilanjut dengan kuliah Desain Pengolahan Biologi sampai menjelang sore. Sempat beberapa kali hujan besar, terus gerimis kemudian washout lalu hujan lagi karena langit mendungnya masih bersisa. Begitu terus, tapi gak masalah. Aku bawa jaket, pake kupluk dan bawa payung. Sudah siap basah. Tapi bukan berarti basah-basahan kaya iklan pompa. Video clip india aja sekalian. Haaha…

Continue reading

Kotak Mungil#3

Kemana perginya orang-orang kantor? Seketika jadi jauh lebih sunyi. Sepulangnya dari rooftop ternyata sudah cukup malam, jadi tak ada urusan lain yang bisa dilakukan pegawai kantor. Sudah pulang ke rumah masing-masing.

Hentakan langkah berat yang sekedar berjalan jadi dentuman langkah raksasa. Walau masih ada manusia tersisa, mungkin langkah raksasa lain juga ikut meramaikan. Tak satu pun. Satu-satunya saingan ya denting jarum jam dinding. Menantang beradu kencang dari berbagai sudut dinding ruang kerja. Lantai dua. Lantai para drafter. Ruang lama bagi Wira.

Continue reading

Origami & Rooftop#2

Kedua kaki kokohnya masih bernyanyi. Nyayian dengan beat kencang. Pertama-tama berdentang saat meninggalkan Pak Aji berdiri melongo di sekitar lorong keberuntungan. Baginya yang sedang beruntung hari ini. Hentakan sol sepatu converse setengah merah dan sisanya hijau kusam. Entah kapan terakhir kali niat dicuci. Niat pun dipertanyakan. Lantas pernahkah dicuci? Biarkan Wira mengingat momen terakhir mencuci sepatu hebatnya. Sepatu segala medan itu hebat baginya.

Continue reading

Jangan Seperti Ini, Rea #61

Jordan sudah tak injak lagi pedal gas, tapi mesin mobil masih meraung pelan. Beralih pada pedal rem, ia injak pelan. Alasan yang sederhana. Agar mobil yang ia kendarai dapat berhenti pelan-pelan. Ada aku duduk di sisinya. Agar aku juga tetap merasa nyaman saat mobil berhenti. Tangan kiriku tak harus berhenti membelai puncak perutku karena terkejut. Berhenti di depan kantor. Jordan mengantarku sampai depan loby kantor. Setiap hari juga seperti itu.

Continue reading

Arsitek Hebat #56

Sesekali meremas telapak tangan kanan. Kalau sudah bosan tangan kiri yang jadi korban berikutnya. Kedua telapak tangan sudah jenuh. Keringat dingin, indikator kejenuhan. Berubah gerakan, sekarang jadi seperti berada di peraduan Bandung dalam hawa beku dataran tinggi Lembang. Mengusap satu sama lain sampai hangat. Telapak tangan kanan dan kiri beradu kemudian panas dengan sendirinya. Gesekan antar kulit yang disengaja. Tapi pemilik kedua tangan tak sedang di belantara dinginnya Lembang. Bukan.

Continue reading

Menjenguk #55

Meninggalkan bunda, ia akan sendiri. Siapa tega? Walau saat aku dan Jordan menyatakan siap hidup bersama di atas altar, aku tahu, bunda berat melepaskanku. Aku? Tak pernah terpikirkan untuk terlepas saja dari rona hangatnya. Kalau selama ini aku lah satu-satunya alasan mengapa bunda tak ingin menikah lagi, karena segala hal tentang ayah tertanam dan tumbuh dengan baik dalam diriku. Kini segala hal tentang ayah tak akan menemani hari-harinya. Aku menemukan konflik baru.

Continue reading

When I Feel Comfort With This

Introvert dan extrovert. Bisa dibilang aku memiliki keduanya. Hanya saja masalah waktu dan penempatan. Extrovert, saat bertemu dengan orang-orang baru yang (menurutku)  menyenangkan dan aku bebas bertingkah sesuai dengan kepribadianku. Teramat-sangat introvert ketika berhadapan dengan hal yang (menurutku) gak penting . Biasanya introvert ini kambuh di zona tak nyaman. Sepertinya wajar tapi aku punya kriteria tentang zona tersebut.

Continue reading

Bertanya

Hei. Apa bedanya terbakar emosi dan semangat membara? Berani taruhan, keduanya hadir karena pemicu dan kelak akan hilang ditelan waktu, kecuali pemicu itu hadir lagi untuk meng-konstan-kan keduanya. Lantas, apa pemicunya? Amarah itu sendiri? Mungkin iya, kalau saya ibaratkan dalam bentuk api.

Bentuk lain?

Job #49

Aku sudah siap dikala waktunya tiba. Waktu tak akan datang atau pergi. Hanya terus bergerak, aku antara mengejar atau tertinggal. Itu saja, sesimpel itu sebenarnya. Waktu untuk mendengar tentang satu kesimpulan instan. Hidup dalam bayang-bayang ayah. Ayahku, Antonio Abraham. Pernyataan ini sebentar lagi akan menggema seantero indera pendengaranku. Masa bodoh. Tinggal ku kerahkan instruksi untuk tuli dan semuanya selesai.

Continue reading

Sarjana Teknik Arsitektur #48

Tak ada yang tak luar biasa untuk seorang Lia. Teman semasa bocah putih abu-abu hingga dewasa prematur. Dewasa karena proses selama hidup di kampus dan berbagai interaksi dengan manusia hebat semacam dosen. Usia belum sentuh 25 tahun tapi pemikiran seperti sudah melampau batas usia yang akan semakin menua. Dewasa juga adalah keputusan. Dewasa prematur. Prematur sekalipun, tak ada yang salah. Bagiku bukan sebuah kecacatan fisik atau tindakan terlalu dini. Ini keputusan.

Continue reading

Email (sebelum sidang) #47

Segalanya mengalir dengan tenang. Ibarat angin dan air yang bergerak sesuai dengan ketetapan fluidanya. Damai-damai saja.

Mulai dari berita tentang sidang yang akan kuhadapi dalam hitungan hari dan membuat cup cake bersama bunda. Bentuk celebration sederhana bersama bunda. Tak ada yang terlewat barang sekata. Semuanya kubiarkan mengalir dalam ceritaku. Cerita dalam email. Jordan pasti sesenang hatiku saat ini.

Continue reading

I Call Them Simple British In Me (Geek Glasses)#1

Hi Guys… Aku posting ni heheehe… tapi posting yang ini agak berbeda dari yang udah-udah. Kan selama ini aku posting tentang liputan event di sekitar kehidupan aku kaya festival, choir, beswan dan lingkungan (disamping aku jurusan teknik lingkungan hehehee :) ). Posting cerita pendek atau Rea Story yang gak kelar-kelar. Nah!! Kali ini aku mau cerita. Agak curhat sih tapi gak akan colongan kok (naon sih??). Agak curhat tapi bukan curcol ahahha…

Continue reading

Braga Festival 2012 #2

Wihiiiiiww… Minggu sore memang asik. Tiap sore itu selalu asik, apalagi ngerasain angin Bandung kaya gini hahahaaa.. Aku sama Amal melanglangbuana pake si Violet Scoppy (punya Amal). Biasanya sih aku yang bawa tapi berhubung lagi gak mood jadi Amal aja yang nyetir si Scoppy hehehe.. Dari Jl. Lodaya (lokasi Keuken) ke Jl. Braga gak terlalu jauh. Karena Bandung kebanyakan one way jadinya musti muter. Tapi yang ada di otakku waktu itu cuma satu. Braga. Aku bakal kesana lagi.

Continue reading

Peluk (maaf) Bunda #46

“Hai bunda”

Kudapati pintu kamar bunda tak terkunci. Bahkan terbuka sedikit. Hanya lirikan kecil dari ekor mata sudah terlihat bunda duduk di depan cermin meja rias. Dari celah antara pintu dengan bingkainya. Memoles lekuk mata, alis, pipi hingga dagu dengan kapas. Berputar kemana-mana. Membersihkan wajah dengan milk cleanser. Tak bergeming saat setengah tubuhku muncul diantara celah pintu.

Continue reading

The Last Fisioterapi #5

Ini baru Bandung. Deskripsi yang melekat dan muncul disetiap angan-angan, tentang Bandung. Sejuk. Lembab. Terik tapi hangat karena beradu dengan kelembaban tinggi. Beberapa hari ini aku lebih memilih kaos oblong dan menanggalkan jaket tebal panjang. Bandung gerah. Minimal sekarang aku bisa kenakan lagi sweater ungu favoritku. Washout setelah diguyur hujan semalam. Berbagai bentuk polutan di udara sudah terbilas habis sama hujan dalam beberapa jam. Kondisi Washout yang masih bertahan sampai menjelang malam. Semoga sampai seterusnya. Amin.

Continue reading

Tugas Akhir #45

Seisi perutku berputar-putar bak bianglala. Harusnya perutku lebih pantas pusing ketimbang kepalaku. Aku sudah melewatkan momen makan siang. Tetap berdalih bahwa aku gak akan menunggu lebih lama lagi. Awalnya jantungku berdentum seperti bass drum tapi termakan oleh waktu. Tadi gugup, sekarang mengantuk. Mataku mulai malas untuk fokus. Untung sofa di salah satu ruang tunggu dosen lumayan empuk. Cukup nyaman untuk sekedar mengandarkan otak kecil berikut isinya. Menatap langit-langit. Aku bahkan sudah bosan dengan warna dan bentuk langit-langit ruangan ini. Putih gading.

Continue reading

Fisioterapi (Scaling)#3

Agak beda yah judul posting kali ini. Sebenarnya ini lanjutan dari FISIOTERAPI #2 tapi kali ini bukan tentang fosioterapi. Yang mau aku bahas itu lebih ke ceritaku kontrol ke dokter bedah mulut, hasil rontgen kondisi rahang terbaru, dan pengalaman pertama aku menjalani scaling. Maka dari itu judul postingnya tetep fisioterapi (biar gampang ngikutin ceritanya) cuman ketambahan dalam kurung aja. Yeah, begitu lah prolognya sebelum aku masuk ke cerita.

Continue reading

Fisioterapi

Hey guys… its not about anyone’s story… its about me. Bukan Rea, Jess atau tokoh2 lain yang sebelumnya pernah muncul diberbagai tulisanku. Ini ceritaku. Bisa dibilang sebagian dari sejarah kesehatan aku kayanya yaah hehehee..

Bukan masalah serius kayak penyakit bersifat kasinogenik,  virus menular, waterborne disease, airborne disease or something else. Uuumm.. aku bingung gimana mulainya… oohh wait.

Continue reading

Pantai Senja

Awalnya aku ragu kalau siluet yang tertangkap mataku itu benar-benar bocah yang sedari tadi aku cari. Ragu karena jaraknya yang lumayan jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya minus di mataku sedikit bertambah. Sambil memicingkan mata aku dekati sosok itu perlahan. Berjalan mengendap, berjalan santai dengan ritme yang konstan, semakin lama semakin cepat dan kini aku sedang berlari.

Continue reading

Jess dan Cintanya

Semburat senyum yang perlahan muncul dari persembunyiannya. Tak sulit untuk melakukan ini, toh Jess bukan tipikal manusia pemurung yang enggan tersenyum dalam berbagai kondisi. Kedua celah pupil matanya sedang asyik menerima bayangan maya dari objek yang ia pandang. Sudah hampir 2 jam tapi hanya ini yang ia lakukan. Menatap layar leptop di pangkuannya. Bukan semata-mata hanya layar tapi lebih tepatnya foto gadis mungil yang baru beberapa minggu ini wajah dan tingkah lucunya mondar-mandir dalam bilik otak Jess.

Continue reading

Stasiun Kereta Api #42

Antara sol sepatu dan tanah berbatu yang beradu. Jalur yang pernah ia lalui. Masih segar, baru semalam. Jalan yang mengantarkan lelaki ini hingga titik ego dan kemarahan terpuncak. Dual hal yang tak terkendali karena hawa dingin semalam membekukan otaknya. Nalarnya.

Sampai saat ini, kenangan di tempat itu masih membebani seiisi kepalanya. Sama persis seperti terakhir kali ia menapakkan kakinya. Bedanya kini lebih berwarna karena hari bukan lagi malam. Namun sisa embun malam masih tersisa sedikit.

Continue reading

Kenangan #41

“Ibu Tiwi pamit yah”

“Hati-hati ya, Wi”

Pemandangan yang lagi-lagi hanya bisa kusaksikan dengan kebisuan. Nampak tah kuasa bersuara melihat anak dan ibu yang berpelukan, tak ingin berjauhan satu sama lain. Dengan lembutnya tante Diah membelai rambut Tiwi dari ubun-ubun hingga punggung. Aku dan Tiwi kebetulan memiliki rambut yang sama panjangnya, namun Tiwi lebih bergelombang.

Continue reading

Denpasar & Bocah Tujuh Tahun

Aku baru pulang dari kampus sore itu. Belum semenit duduk selonjoran di kamar kos, Bibi berteriak dari lorong.

“Ada paket dari Balikpapan neng?” kata Bibi sambil menyerahkan amplop cokelat padaku. Amplopnya agak lecek.

Ini dia paket yang aku pesan khusus dari kampung halaman, Kota Balikpapan. Aku memastikan alamat dan nama pengirimnya, semua benar. Tepat di sudut kanan atas amplop, ada sesuatu yang menarik perhatian manik mataku untuk meliriknya. Cap biru kusam, Pos Express Balikpapan

Continue reading

Ternyata (keputusan ditanganku) #40

Pintu terbuka. Aku ayun sekuat tenaga hingga hampir jatuh terjerembab, tapi belum sampai jatuh. Kepalaku langsung menghadap sosok berwajah cemas yang duduk di atas sofa ruang tamu.

Isi hati dan kepalaku sudah berantakan kaya kapal pecah. Tapi aku menata wajahku sedemikian rupa agar terlihat datar. Minimal Tiwi gak semakin cemas. Diam-diam menata nafas setelah sedikit berlari. Cukup berhasil.

Continue reading

Sedikit Celah #36

Message sent

Aku balas cerita Jordan kali ini dengan rentetan kesibukan yang aku lalui di Semarang selama jadi LO. Bangun lebih pagi dan tidur lebih awal. Mengatur barang-barang bawaan peserta di hari pertama. Mengatur segala bentuk konsumsi mereka yang diberikan pada jam-jam tertentu. Mengabsen dan memastikan peserta selalu lengkap berikut dengan apa-apa yang harus mereka bawa. Semuanya. Semuanya?

Continue reading

Terapi #31

Gibs dan perban yang menyelimuti sekujur kaki kiriku kini sudah lenyap. Berbulan-bulan aku harus menanggung beban berlebih yang nangkring di kaki kiri ini. Tapi lupakan sajalah, gibs itu sudah berlalu. Tapi bukan berarti aku bisa kembali berlaga dengan kostum tim basket putri di SMA kebanggaanku. Belum saatnya. Sampai saat ini, kostum itu masih tergantung dengan gagahnya di dalam lemari.

Continue reading

Pergi (tidak mau atau tidak akan) #29

“Re, masih packing?”

Aku lihat Nadia sudah siap. Koper di samping kakinya sudah tertutup rapat bersama satu gembok mungil mengunci resletingnya.

“Tinggal sedikit Nad. Bentar lagi juga beres”

Aku hanya lihat Nadia sekilas setelah dia menanyakan proses packing ku yang tak kunjung selesai. Pandanganku kembali ke dalam isi koper yang masih berantakan. Sebenarnya sudah mau selesai. Tinggal disusun ini itu sampai rapi.

Continue reading

Akrab #27

“Laper, Re?”

Pertanyaan Gery cukup mengagetkanku tapi mulut ini masih tetap gak berhenti mengunyah. Gak cukup kaget sampai menghentikan pergerakan rahangku. Aku hanya mengadahkan kepala sampai kedua mata ini sejajar dengan mata Gery. Melihat wajah Gery. Wajahnya datar. Mulutnya terkatup dengan sedotan dari segelas soft drink bergelantung disana, tapi matanya memandangku heran. Aku tahu itu ekspresi wajah keheranan Gery. Cukup satu anggukan aku rasa cukup menjawab pertanyaan Gery. Aku kelaparan. Dan kembali fokus pada ayam goreng chrispy dan gumpalan nasi sebesar kepalan tangan di atas piringku.

Continue reading

Dua Tahun Kemudian #11

Selembar kertas di atas meja. Ada logo di kop surat yang sudah aku kenal sejak lama. Surat undangan. Sebuah surat undangan untuk menghadiri sebuah konser pre-competition Festival Paduan Suara 2012.

This is July 2012.

Segala kesibukan di perkuliahan, berbagai rentetan event nasional dari Beswan Djarum dan kegiatan kemahasiswaan di kampus benar-benar menyita perhatianku untuk yang satu ini.

Continue reading

Wisuda #10

Masih ingat sama tujuan awalku? Ini dia saatnya.

Aku akhirnya berkesempatan bernyanyi bersama dengan jinggaswara di gedung serba guna kampus ITENAS. Tepat dihari kelulusan seseorang yang selama ini mensupport segala hal positif yang aku pilih dan aku jalani. Kelulusan pacarku. Angga Pradipta.

Mungkin sebagian yang tahu kalo Angga Pradipta itu salah satu anggota Beswan Djarum 24 Teknik Mesin ITENAS Bandung.

Continue reading

Belum #9

Sekitar jam 10 malam handphoneku berdering. Ada sms. Kabar tentang hasil kompetisi FPS 2010.

Tahun itu (2010) belum saatnya Jinggaswara menang. Aku bilang belum. Belum. Itu artinya masih ada kesempatan lain. Kesempatan di Tahun 2012 nanti.

Yang pasti segala hal yang sudah kami lewati adalah perjalanan yang gak mudah. Ada perselisihan. Ada air mata. Ada keringat dan kelelahan. Ada canda tawa riang gembira. Ada pengorbanan. Dan pastinya ada evaluasi dari setiap kesalahan yang menjadi guru terbaik di waktu yang akan datang.

Continue reading

The Day #8

Akhirnya saat itu tiba juga. Festival Paduan Suara 2010.

Pagi-pagi jam 7 sudah standby di kampus untuk make up. Saat itu aku belum bisa make up sendiri jadi aku lebih baik datang lebih awal. Teh Nanda yang bantu aku make up.

Belum selesai make up, kami harus pindah ke rumah Teh Nanda di Ranggagempol karna Mas Wan dan beberapa teman yang lain sudah menunggu di sana. Peralatan latihan seperti keyboard dan speaker juga sudah ada di sana. Meluncurlah kami dengan kendaraaan seadanya. Yang pasti bukan angkot. Gila aja pake angkot bisa pake macet ke Ranggagempol.

Continue reading

I Won’t Stop, No Way #6

Semangat harus konstan karena perjuangan masih panjang. Memang sudah di depan mata tapi bukan berarti diabaikan.

Aku inget banget waktu ada jadwal latihan seperti biasa jam 5 sore di lantai 3 gedung perpustakaan. Hujan besar dan harus menunggu beberapa saat supaya teman-teman yang masih berjuang dengan hujan di sana bisa tetap hadir. Ternyata terjadi kesalahan teknis. Bukan kesalahan sih tapi ada yang rusak. Ya, speaker gak bisa berfungsi dengan semestinya. Keyboard was not working without sound system.

Continue reading

Jinggaswara Goes To Ranggagempol #5

Karantina. Langkah ini dipilih Kak Ijal sebagai ketua Jinggaswara untuk lebih mengefektif dan efisienkan waktu latihan yang hanya tinggal beberapa bulan lagi menuju FPS 2010.

Rumah yang digunakan untuk karantina ini rumah Teh Nanda Tarda di daerah Ranggagempol, Bandung. Termasuk aku yang selalu menyempatkan waktu untuk stay di sana sampai beberapa hari. Bahkan bukan cuma jadi tempat karantina, tapi rumah ini udah jadi saksi bisu kegigihan teman-teman Jinggaswara latihan. Entah tetangga harus terganggu atau justru menikmati suara kami semua heheheheee… semoga mereka menikmati.

Continue reading

Dendam Sopran #4

Terus berpegang teguh dengan keyakinan bahwa aku bisa lebih baik dari JB Maunier yang hanya bocah 14 tahun. Kelak suaranya pasti akan menurun, toh ujung-ujungnya gak akan jauh dari Tenor. Aku? Aku perempuan dan dianugrahi Tuhan suara sopran. Ini wilayah kekuasaanku. Ini range suaraku.

Ya pikiran ini yang terus aku ulang-ulang sampai mantap. Sampai paten. Sampai jadi harga mati. Sampai-sampai aku punya satu selogan yang selalu aku serukan ke teman-teman sopran. Dendam sopran. YEAH!!!

Continue reading

Kabar #23

“Ini dia!”

Sadar akan suaraku yang nyaris menggelegar seantero perpustakaan, aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku rasa ini cuma sugesti semata. Ratusan rak buku yang ditata nyaris berdempetan. Bagaimana kalau ratusan rak buku yang tingginya lebih dari dua meter ditata berjejer dan jarak antar rak kurang dari setengah meter. Lebih tepatnya seperempat meter. Yang ada suaraku gak akan sampai bergema seperti di dalam goa karena terhalang rak buku raksasa ini.

Continue reading

Keluarga Pratama (potongan kenangan ayah) #21

Suara ramai seperti menggumpal di ruang tengah. Bernard dan om Pratama sudah datang.

Bernard yang langsung menatapku lekat-lekat begitu aku dan Jordan nampak di hadapannya. Sama seperti yang aku lihat di foto. Tinggi badannya hanya sekian centi lebih tinggi dari jordan. Wajahnya setengah bule tapi masih dominan Indonesia. Rambut dan alisnya cokelat tua, cocok dengan namanya, Bernard Brown. Kulitnya putih pucat seperti bule pada umumnya tapi ada yang menarik dari Bernard. Iris matanya biru, biru cerah. Membawa kesan ceria.

Continue reading

Malaikat #20

Ada suara jepretan kamera dari arah pintu. Gak kaget, lapisan cream cheese yang sudah hampir selesai juga masih rapi. Aku menegakkan kepala dan Jordan sudah di tepi pintu dapur dengan kamera dari handphone blackberry yang menghadap kearahku. Senyum tipisnya sudah nangkring di wajah dewasanya sejak mata ini tertuju pada si sumber suara.

Continue reading

Rainbow Cake #19

Rainbow cake. Ya, tante Rina lagi bikin rainbow cake. Begitu aku sampai di dapur sudah tercium wangi cake berbagai rasa. Namanya juga Rainbow cake pasti punya lebih dari dua lapis slice, gak seperti cake pada umumnya. Tante Rina buat enam slice. Merah, kuning, orange, hijau, biru dan ungu.

Sekarang tante lagi mixing sesuatu di dalam mangkuk raksasanya. Tebakanku itu pasti cream cheese.

Continue reading

Jordanio Pratama #18

Memang gak butuh waktu yang lama untuk Jordan memutuskan langkah apa yang akan dia pilih setelah menempuh sarjana S1 di bidang kedokteran.

Senyum bahagia Jordan dengan kostum kelulusannya. Satu tangannya melingkar di bahuku yang mengenakan gaun biru. Aku berdiri tepat di sampingnya. Tangan jordan yang lain menggenggam rangkaian bunga. Jordan gak menggunakan topi toga karena topinya menclok di kepalaku. Kebesaran. Dengan senyum malu-malu aku menahan topi toga Jordan sebelum topi ini menutupi setengah wajahku.

Continue reading

Makan Malam (demam) #17

Seluruh sudut tubuhku sakit. Engsel-engsel tulangku nyeri seperti enggan bekerja sesuai dengan fungsinya. Kepala ini kenapa? Seperti berat atau leherku yang tak punya daya untuk menopang lagi?

Sayup-sayup aku dengar percakapan dua orang. Nampak tak jauh dari ku. Suara wanita, ibu-ibu, dan satu lagi suara laki-laki. Mata ini masih lengket dan enggan secepatnya melek jadi ini sedikit menyusahkan aku. Menyusahkan aku untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Aku tiba-tiba hanya mendengar suara percakapan walau seluruhnya terlihat hitam.

Continue reading

Alunan Musik Angklung #15

Segala yang ada dihadapanku ini benar-benar menyita perhatian hampir seluruh panca inderaku. Mata, ibarat kamera yang hanya fokus pada objek yang ada di depan sana. Telinga, dengan kekuatan penuh menangkap berbagai gelombang bunyi yang dihasilkan si objek. Kulit, ya aku merinding melihat sekumpulan anak-anak kecil yang bernyanyi, bermain angklung dan menari begitu lincah. Ada yang ekspresinya datar, ada yang loncat-locat kesana-kemari dengan riangnya, ada pula yang pandangan matanya nanar kemana-mana memandangi penonton yang terpukau oleh pertunjukannya, termasuk aku.

Continue reading

Rappelling #14

“udah siap?”

Aku hanya menatap instruktur simulasi tempur. Nafasku berantakan. Bibir bawah mungkin sebentar lagi akan berdarah, aku gigit sekuat tenagaku. Segalanya sudah siap. Tali pengaman sudah melilit kencang dilingkar panggulku. Sarung tangan sudah hinggap sempurna dikedua tanganku. Ya, tinggal meluncur ke bawah. Meluncur dari ketinggian 8 meter dari permukaan tanah.

Sorak sorai teman-teman regu 8 menyemangatiku dari bawah sana. Tetap aja aku sulit untuk memulai.

Continue reading

Aku Disini #13

Berkali-kali aku perhatikan, itu memang Gery. Name tag di dadanya makin meyakinkanku. Tertulis ‘Gery’ dengan huruf kapital yang tegas terlihat jelas walau aku berdiri hampir 5 meter darinya.

Masih berusaha menenangkan lonjakan emosi didadaku. Mendadak sedikit sesak. Untungnya masih ada beberapa peserta yang berdiri di depanku. Yah minimal Gery tidak melihat keberadaanku. Entah lah, aku belum siap. Belum siap kelak dia akan tersenyum lebar ke arahku lagi. Lagi? Yah, setelah yang pertama kali dia lakukan di bawah langit PRPP yang berwarna-warni.

Continue reading

Disana #12

Pagi-pagi buta, masih dingin, luar biasa dingin. Sayup-sayup gemuruh suara ribut dalam barak putri sudah sampai ke telingaku. Walau berat. Lengketnya ampun-ampun tapi bagaimana pun caranya mata ini harus bisa terbuka.

Masih blur dan samar-samar, Tika yang tidur tepat di sampingku sudah lenyap dari ranjangnya. Sleeping bed miliknya juga sudah dilipat rapi. Mungkin dia sedang mandi.

Continue reading

Next National Event #11

Gemuruh suara lantai bus. Ditempa hentakan belasan pasang kaki yang sibuk berjalan kesana-kemari. Bus sudah berhenti dengan sempurna. Sekarang giliran isi dari bus yang harus turun. Termasuk aku. Butuh dua langkah yang lebar agar aku bisa sampai ke tanah. Kenapa anak tangga bus terlalu tinggi? Atau kenapa tubuhku yang terlalu mini? Yeah, tanyakan saja pada rumput basah. Basah habis diguyur hujan. Sekarang pun masih gerimis.

Continue reading

Email #10

Bandung habis diguyur hujan deras. Sangat deras dan ujung blue jeans dekat sepatu, masih sangat basah. Sepatuku juga basah. Sudah pasti kaos kakiku basah kuyup tapi kulit kakiku belum sampai keriput. Mungkin sebentar lagi. Setiap kali aku hentakkan kaki ini ke lantai, seperti ada bekas di lantai. Bekas cipratan air yang mencuat saat sepatu ini benbenturan dengan lantai bus. Ya, aku sedang di dalam bus. Sudah sekitar setengah jam yang lalu aku berada dalam bus ini. Perjalanan Bandung – Cikole aku rasa gak butuh waktu yang lama seperti Bandung – Jakarta.

Continue reading

Selamat Ulang Tahun Rea #9

“Re”
“Ya?”

Suara panggilan Gery yang lebih mirip seperti berbisik, mengusik perhatianku dari kembang api yang masih berkelap-kelip di sana. Aku pikir setelah memutarkan kepala aku akan melihat wajah Gery. Tapi ada yang menutupi penglihatanku. Kecil dan buram.

Lensa mataku seketika menyesuaian diri karena objek ini berjarak kurang dari 20 cm dari batang hidungku. Kecil. Silver. Berkilau. Itu bintang kecil berkilau berwarna silver. Bukan. Ini seperti deretan baru yang berkilau. Cantik. Aku fokuskan kembali penglihatanku pada Gery yang menjadi background objek ini.

Continue reading

Kembang Api #8

“Kenapa tertawa?”
“Heheheee..”

Setelah menunggu tidak terlalu lama, akhirnya aku dan Gery naik di salah satu gerbong atau apa lah namanya. Yang pasti masih bagian dari bianglala ini. Seperti kotak yang tak terlalu besar dan bisa menampung maksimal 4 orang untuk ikut berputar searah jarum jam.

Aku dan Gery duduk berhadapan.

Aku baru sadar kalau nafas Gery mengeluarkan uap yang lebih mirip seperti asap. Tempat ini benar-benar dingin. Tanpa sadar aku sedikit terkekeh karena biasanya uap yang keluar dari mulut dan hidung terlihat seperti asap kalau aku berada di Ciwidey atau Cikole. Tapi sekarang itu terjadi, berarti tempat ini memang benar-benar dingin.

Continue reading

Geraldyansyah Gumilang #6

“thanks yah Gery”

Bibirku basah karena buru-buru meneguk air minum dalam kemasan botol. Iyah botol yang tadi menghalangi penglihatanku. Untuknya gak sampai tumpah ke baju. Punggung tangan kiri mengusap sisa air minum di sekitar bibir dan tangan kanan menyodorkan botol air minum ke Gery. Selesai melipat sempurna kedua lengan bajunya, Gery secepat kilat menyambar botol dari tanganku. Dan tiba-tiba… Entah itu ekspresi apa tapi aku mendadak tertawa terbahak-bahak karena wajah Gery aneh.

Continue reading

Namanya Geraldy (Gery) #5

Mungkin ini untuk yang sekian kalinya aku melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kiriku. Berbagai bentuk sudut yang dibentuk oleh dua jarum yang ada di sana. Sembilan puluh derajat, enam puluh derajat, tiga puluh derajat. Benar-benar membosankan. Apalah yang dijelaskan si pembicara dan isi slide show yang sedari tadi menghiasi pemandangan mataku. Aku lirik Tiwi yang serius mencatat setiap detail materi. Pulpen di tangannya tidak berhenti bergerak-gerak. Kalau kontes tari mungkin sudah berbagai gaya digerakkannya. Buku kecilnya yang gak jauh beda ukurannya dengan handphone blackberry ku benar-benar ajaib. Lembar kertasnya gak habis-habis. Benar-benar ajaib? Itu hanya istilah lebay ku aja yang hiperbola.

Continue reading

Sepupu (keluarga Abraham) #2

Tok… tok…

Pintu terbuka perlahan tapi pasti.

“Assalamualaikum, ibu”
“Waallaikumsalam, Tiwiii”

Seorang ibu dengan daster batik panjang menjuntai hingga mata kaki, lengan bajunya juga panjang hingga setengah telapak tangannya pertutup. Kacamata bacanya yang sedikit turun ke hidung dan cepol kecil di belakang kepalanya. Langsung memeluk erat Tiwi begitu keluar dari balik pintu. Bahkan menjawab salam dari Tiwi pun nyaris histeris. Nyaris.

Continue reading

Namaku Rea #1

“bangun Re. Sebentar lagi kita sampai”

Itu suara Tiwi. Dengan susah payah, beberapa kali tarik nafas akhirnya mata ini bisa terbuka walau belum sempurna. Buru-buru aku lihat posisi dua buah jarum di dalam jam tanganku. Entah itu posisi apa tapi seperti jam 7 yang belum sempurna posisinya. Mungkin jam 7 kurang beberapa menit. Malas memfokuskan mata. Dengan mata minus 1 dan silinder sekian (aku lupa), mata ku nanar memandang sekeliling. Buram.

Continue reading

Kelas Agama (pertemuan ketiga)

Pertemuan ketiga membahas tentang Manusia dan Agama.

Aku baru tahu kalo dulu ada proses sebelum akhirnya terbentuklah agama dan umat. Ternyata dulu manusia juga mencari keberadaan Tuhan melalui ciptaannya. Yah siapa lagi sih yang bisa bikin alam semesta segini megahnya kalo bukan Tuhan. Secara kalo ada manusia yang bisa bikin alam semesta ituu.., MUSTAHIL!!! Dan aku baru tahu kalo manusia itu punya sisi Sense of Theistic, ketika ada sesuatu yang tidak dapat diciptakan oleh manusia maka itu adalah ciptaan Tuhan.

Continue reading

Kelas Agama Kuliah Pengganti (pertemuan kedua)

Hei guys..

Aku posting lagi heheheee

Sebenarnya ini sedikit aneh. Yeah bisa liat sendiri kan, judul posting aku pun aneh (menurutku aneh). Apa pun yang akan kalian temukan dalam posting aku ini, bukan untuk menyudutkan suatu hal ato mengesampingkan berbagai hal tapi ini lebih ke..  yeaahh.. just my opinion. Gak jauh dari apa yang aku pikirkan, yang aku lihat dari sudut pandang lensa Kaca Mata Saya. Gak ada kebenaran atau kesalahan yang mutlak. Bagaimana dan dari sudut mana mata memandang akan muncul sebuah atau berbuah-buah statement. Silahkan protes, kritik, saran, tambahan atau apa pun di comment.. Aku mah santai orangnya hehehee…

Continue reading

You’ll Be In My Heart

Berawal dari beswan djarum. Ajang beasiswa bergengsi dan diinginkan oleh banyak orang. Saya beruntung terpilih menjadi salah satu orang-orang terbaik di dalamnya. Be one of the Best One.

Banyak akang-teteh yang bilang kalo beswan adalah satu keluarga besar. Keluarga? Cuma bisa angkat sebelah alis waktu pertama kali dengar istilah itu. Cuma senyum angkuh yang menghiasi wajahku. Memangnya apa yang terjadi sampai bisa dikatakan keluarga? Yeah, saat itu saya tertawa dalam hati karena menurut saya itu lebay. Saya gak percaya istilah itu akan ada disuatu saat nanti. Gak akan pernah ada kalo menurut saya.

Continue reading

Jember

Layout tampak atas. Potongan A tampak atas. Potongan F tampak depan. Dimensi ruangan. Well, satu ruangan kenapa jadi banyak potongannya gini? Emang rumit ni ruangan yah, banyak banget yang mesti dirombak.

Sebentar. Mana yah kalkulator? Kesana kesini mata dan tangan sinergis bergerak cepat. yah berusaha cepat, udah kaya kompetisi mana yang lebih dulu temukan kalkulator, walaupun kepala sudah mabok dan perut sudah pusing. Nahan kantuk dari sekian jam yang lalu. Entah dari jam berapa aku lupa. Continue reading

Sang Seleb dan Rumournya

Well, dengan merebaknya berita tentang seorang seleb di salah satu media sosial yang menjual barang pemberian fans, saya jadi gatel untuk ikutan nulis soal tanggapan saya.

Saya salah satu subscriber di channel-nya. Nggak ada alasan khusus kenapa saya subscribe channel-nya. Saya juga subscribe channel-channel  anak bangsa yang lain dimana mereka menunjukkan kreatifitas mereka di sana dan pantas untuk diapresiasikan. Ini salah satu cara saya mengapresiasi karya-karya mereka, subscribe. Continue reading