Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Lokasi Seminar Bisnis #4

Tiwi terlalu antusias. Pagi-pagi jam setengah 5 sudah bangun, bergegas ini itu, mandi, dan teriak-teriak membangunkan aku yang nyawanya masih melang-lang buana entah kemana. Tapi yang buat aku langsung berjingkat dari tempat tidur dan bergegas ini itu bukan lah teriakan Tiwi, aroma masakan tante Diah yang cihuy mendadak buat aku lapar (lagi, dan untuk yang kesekian kalinya).

Aku kurang tau seberapa jauh jarak antara rumah Tiwi dengan lokasi seminar hari ini sampai-sampai harus pakai taxi argo. Seminar yang akan menjadi seminar paling membosankan. Bisnis seperti bukan duniaku. Lebih baik harus berkutat dengan kertas roti atau CAD berjam-jam.

“Sebentar lagi kalian akan bertemu”

Kalimat Tiwi saat di kereta sudah seperti kaset rusak yang terdengar berulang-ulang di aula otakku. Otakku lagi kosong jadi suara itu bergema dengan leluasanya. Berisik.

Perasaan apa ini ya Tuhan. Aku bingung. Dulu waktu Tiwi memutuskan untuk ke Malang justru aku yang merengek-rengek untuk ikut. Berkedok partisipasi dalam sebuah seminar bisnis. Sebenarnya bukan seminar yang menjadi daya tarikku, tapi lokasi seminarnya.

“Re. Sudah dapat kabar dari Gery?”

Pikiran ku nanar kemana-mana. Aku baru sadar, sedari tadi aku cuma diam. Memandang handphone yang sudah berputar-putar berbagai gaya di tangan kananku. Memandang kosong. Masih kosong saudara-saudara. hhhmmm…

Aku gak merespon pertanyaan Tiwi. Aku justru cuma bisa gigit sebagian bibirku.

“Atau kamu yang belum menghubungi Gery?”

Belum sempat aku jawab pertanyaan Tiwi, handphone ku mendadak off. Lowbat. Tiwi juga menyaksikan kejadian ini. Sekarang dengan pasti aku putar kepalaku 90 derajat ke kanan. Aku tatap wajah Tiwi dengan tegas dan aku jawab

“Belum”

Aku tahu Tiwi kesal. Dia membuang pandangannya ke luar jendela setengah detik setelah aku jawab pertanyaanya.

“Begitu mudahnya kamu berubah pikiran, Re”

Matanya masih enggan menatapku lagi. Mungkin pemandangan di sana lebih menarik dari pada menatap aku yang duduk gelisah di sebelahnya.

Aku hanya diam. Sambil menyusun kata-kata yang pas sebelum aku keluarkan semuanya.

“Re?”

Ternyata Tiwi menantikan jawabanku. Kepalanya berputar cepat. Kini matanya menatapku kesal. Baru kesal, belum terlalu atau amat kesal.

“Tiwi. Aku pun gak paham. Memang kosong. Tiba-tiba aku berpikir lebih baik Geri gak perlu tahu keberadaan aku di Malang. Okey, aku tahu itu percuma dan terlambat. Bukan berarti aku juga kembali pada Jordan seutuhnya. Tetap kosong dan ada yang hilang Wi.”

Ini kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan sepanjang sejarah perjalanan ini bersama Tiwi.

“Aku memang salah. Gak seharusnya aku mengharapkan Gery. Gak semestinya aku mempertahankan dia sejauh ini sedangkan Jordan sedang berusaha sekuat tenaga mempertahankan aku.”

Aku lirik Tiwi, dia masih menyimak dengan seksama. Aku tarik nafas dan aku hembuskan perlahan dari mulut. Aku sebut ini terapi pernapasan.

“Tiwi kamu tahu kondisi aku kan? Tiba-tiba aku berpikir terbalik. Aku bukan siapa-siapa. Bukan siapa-siapanya Gery. Bukan siapa-siapa yang juga gak banyak mengerti tentang hidupnya. Tentang dunia. I’m just nobody. Aku kehilangan alasan untuk terus mempertahankan Gery lebih jauh lagi Wi. Aku baru sadar, aku gak memiliki hak apa pun akan Gery”

Aku harap penjelasanku gak terlalu sulit untuk dicerna oleh Tiwi.

“Kamu siap melapaskan Gery? Siap kehilangan Gery?”

Kalau bola mataku bisa diteliti, pasti sekarang iris mataku sedang terbuka lebar. Aku tersentak. Dari tadi taxi berjalan dengan kecepatan normal tapi seperti ada yang membanting tubuh jauh ke belakang. Pandanganku tertuju jauh ke depan. Seperti fokus melihat ke depan tapi tidak ada yang bisa aku lihat dengan jelas. Blur. Atas dasar apa aku bisa bertahan tanpa Gery?

Aku mengatur nafas berkali-kali. Belum saatnya aku keluarkan tabung oksigen yang selalu aku bawa di dalam tas.

Pertanyaan macam apa itu Tiwi?

Aku mendengar suara gesekan dari arah Tiwi. Tubuhku mendadak lebih hangat dari sebelumnya. Tiba-tiba Tiwi memelukku lembut. Seperti pelukan tante Diah. Aku balas menatapnya. Aku benar-benar gak ngerti apa yang sebenarnya dia lakukan. Dia tahu benar bagaimana cara menghiburku. Yang pasti bukan seperti ini caranya.

“Rea, aku baru kali ini melihatmu lebih mempertahankan perasaan ketimbang logika yang selalu kamu banggakan. Dimana logikamu sekarang, Rea? Dimana analisis mu yang 90% akurat? Dimana kekuatanmu yang luar biasa?”

Aku anggap itu bukan pertanyaaan tapi sebuah pengakuan. Tiwi melihat ada perubahan aneh pada diriku. Aku sadari itu.

“Thanks yah Tiwi. Baru kali ini pula aku bisa-bisanya bilang tidak tahu. Perasaan itu sulit untuk dianalisis. Aku terlalu banyak berpikir karena kondisi ini memang sulit diterima oleh nalarku”

Tiba-tiba Tiwi melepaskan pelukannya. Dia tinju lengan kananku, tidak terlalu kuat. Tubuh tidak goyah sedikit pun saat dia lakukan itu. Kemudian Tiwi tersenyum lebar nyaris tertawa. Dia lakukan lagi hingga berkali-kali dan sekarang aku yang tertawa.

“See. Aku memang kuat, Tiwi.”
“Baguslah, kekuatanmu cepat kembali. Semua solusi dan jalan keluar dari masalah ini ada di tanganmu, Rea.”

Ini baru cara Tiwi menghiburku. Sama seperti cara ayah saat pertama kali mengatakan padaku kalau aku punya kekuatan yang luar biasa besar. Ayah mendorong lenganku dan aku langsung jatuh ke lantai. Sakit memang, mata sudah berkaca-kaca tapi aku lebih memilih untuk tidak menangis. Kemudian ayah membopongku untuk berdiri lagi. Lenganku di dorong lagi tapi aku hanya goyah sedikit. Dorongan ketiga dan keempat aku akhirnya bisa tetap berdiri tegak. Kemudian dengan senyum yang luar biasa indah ayah membelai rambutku.

“Lihat kan Rea. Kamu adalah anak perempuan yang kuat dan akan menjadi wanita yang kuat. Jangan menangis kalau memang tidak perlu. Kunci dari semua masalah adalah bagaimana kamu bisa mencari solusinya. Kecuali jika menangis dapat menyelesaikan masalahmu, maka menangislah.”
“Rea gak mau nangis. Rea kuaaattt”

Saat itu aku masih 8 tahun. Aku meneriakkan pernyataan bahwa aku kuat. Kemudian aku dan ayah tertawa bersama.

Kenangan ini lah yang selalu membuatku kuat untuk menghadapi apa pun. Termasuk saat kepergian ayah. Aku adalah satu-satunya keluarga yang tidak nampak mengeluarkan air mata. Walau  hati ini sedihnya bukan main. Tapi menangis saat itu bukan lah solusi. Yang aku pikirkan, bagaimana caranya bunda juga bisa sekuat aku? Bila aku dan bunda sama-sama kuat maka kehidupan selanjutnya akan lebih mudah walau tanpa ayah.

Terima kasih ayah. Terima kasih Tiwi.

“Sudah sampai mbak”

Suara pak supir mengambalikan pikiranku dalam realita kehidupan. Aku buru-buru membuka jendela mobil dan melihat pemandangan beberapa gedung di hadapanku.

Lokasi seminar ini berada di sebuah universitas tempat Gery menuntut ilmu. Dengan dalih kelak akan bertemu dengannya. Tapi saat ini entah lah akan benar-benar bertemu atau bagaimana.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
Tag: ,
  • M Nurul Ikhsan Saleh says:

    Yahu… menarik Ayu. Ini kalimat yang menarik dari tulisanmu “Kamu adalah anak perempuan yang kuat dan akan menjadi wanita yang kuat. Jangan menangis kalau memang tidak perlu. Kunci dari semua masalah adalah bagaimana kamu bisa mencari solusinya.”

    June 29, 2012 at 8:28 pm
  • ayu emiliandini says:

    makasih kakak ehhehehe

    June 29, 2012 at 9:01 pm
  • Rahmat Wiraradi says:

    Two thumbs up
    *jempol

    July 2, 2012 at 1:20 am
  • ayu emiliandini says:

    yipiiii dapet jempol dari mamet.. #dancingpeppy

    July 2, 2012 at 5:37 am
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    suka banget ma part ini…. konflik batinnya kerasa… pesan moralnya juga dapet… nice… lanjut lagi ah ke part selanjutnya…

    yap yap *joged ubur-ubur*

    July 22, 2012 at 4:43 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?