Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Akrab #27

“Laper, Re?”

Pertanyaan Gery cukup mengagetkanku tapi mulut ini masih tetap gak berhenti mengunyah. Gak cukup kaget sampai menghentikan pergerakan rahangku. Aku hanya mengadahkan kepala sampai kedua mata ini sejajar dengan mata Gery. Melihat wajah Gery. Wajahnya datar. Mulutnya terkatup dengan sedotan dari segelas soft drink bergelantung disana, tapi matanya memandangku heran. Aku tahu itu ekspresi wajah keheranan Gery. Cukup satu anggukan aku rasa cukup menjawab pertanyaan Gery. Aku kelaparan. Dan kembali fokus pada ayam goreng chrispy dan gumpalan nasi sebesar kepalan tangan di atas piringku.

Continue reading

Dua Tahun Kemudian #11

Selembar kertas di atas meja. Ada logo di kop surat yang sudah aku kenal sejak lama. Surat undangan. Sebuah surat undangan untuk menghadiri sebuah konser pre-competition Festival Paduan Suara 2012.

This is July 2012.

Segala kesibukan di perkuliahan, berbagai rentetan event nasional dari Beswan Djarum dan kegiatan kemahasiswaan di kampus benar-benar menyita perhatianku untuk yang satu ini.

Continue reading

Wisuda #10

Masih ingat sama tujuan awalku? Ini dia saatnya.

Aku akhirnya berkesempatan bernyanyi bersama dengan jinggaswara di gedung serba guna kampus ITENAS. Tepat dihari kelulusan seseorang yang selama ini mensupport segala hal positif yang aku pilih dan aku jalani. Kelulusan pacarku. Angga Pradipta.

Mungkin sebagian yang tahu kalo Angga Pradipta itu salah satu anggota Beswan Djarum 24 Teknik Mesin ITENAS Bandung.

Continue reading

Belum #9

Sekitar jam 10 malam handphoneku berdering. Ada sms. Kabar tentang hasil kompetisi FPS 2010.

Tahun itu (2010) belum saatnya Jinggaswara menang. Aku bilang belum. Belum. Itu artinya masih ada kesempatan lain. Kesempatan di Tahun 2012 nanti.

Yang pasti segala hal yang sudah kami lewati adalah perjalanan yang gak mudah. Ada perselisihan. Ada air mata. Ada keringat dan kelelahan. Ada canda tawa riang gembira. Ada pengorbanan. Dan pastinya ada evaluasi dari setiap kesalahan yang menjadi guru terbaik di waktu yang akan datang.

Continue reading

The Day #8

Akhirnya saat itu tiba juga. Festival Paduan Suara 2010.

Pagi-pagi jam 7 sudah standby di kampus untuk make up. Saat itu aku belum bisa make up sendiri jadi aku lebih baik datang lebih awal. Teh Nanda yang bantu aku make up.

Belum selesai make up, kami harus pindah ke rumah Teh Nanda di Ranggagempol karna Mas Wan dan beberapa teman yang lain sudah menunggu di sana. Peralatan latihan seperti keyboard dan speaker juga sudah ada di sana. Meluncurlah kami dengan kendaraaan seadanya. Yang pasti bukan angkot. Gila aja pake angkot bisa pake macet ke Ranggagempol.

Continue reading