Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bianglala #7

Aku pikir selesai makan bakal balik lagi ke aula ruang seminar dan kembali bosan, ternyata aku dan Gery justru terdampar di sini. Bukan terdampar juga sih, tapi memang Gery bilang mau menunjukkan sesuatu.

“I wanna show you something, Re, dan kamu gak mungkin gak suka”

Langkahku mulai tak terkontrol. Kepalaku berputar-putar. Mataku mulai asik memandangi setiap detail tempat ini. Langit sudah berubah warna jadi biru tua. Sangat tua nyaris hitam. Mungkin sudah jadi hitam. Lampu dimana-mana. Indahnya.

Tanpa sadar aku mengukir senyum yang entah mulai sejak kapan terbentuk di wajahku. Ini taman atau apa? Aku belum pernah ketempat ini sebelumnya. Dan benar-benar sekarang aku sudah seperti penari balet. Seluruh tubuhku ikut berputar-putar untuk memuaskan kedua bola mataku menyaksikan secara utuh tempat apa ini sebenarnya. Aku tarik nafas dalam-dalam. Udaranya dingin. Lebih dingin dari udara di rumah tante Diah atau di lokasi seminar.

Ya, aku baru sadar kalau tempat ini ternyata luar biasa dingin. Kemeja flanel ku sudah gak punya daya untuk menghangatkan tubuhku. Terlebih lagi kedua telapak tanganku yang sudah sedingin es.

Ada sesuatu di sana yang mengusik penglihatanku. Bergerak searah jarum jam. Memang sudah terhubung secara otomatis, kaki ku seketika melangkah perlahan mengikuti kemauan kedua bola mata untuk mencari kebenaran, benda apakah gerangan. Semakin lama seperti semakin dekat. Dikelilingi lampu dan seperti roda raksasa. Itu sebuah bianglala.

Masih terpana dengan bianglala yang sebenarnya biasa aja. Entah lah, aku belum menemukan alasan kenapa kedua mata masih enggan untuk melihat objek lain.

Eh, ada sesuatu di bahuku. Hangat. Oh jaket. Lebih mirip jaket jas atau apalah namanya karena panjangnya jaket ini mencapai lututku. Gery tiba-tiba sudah ada di sampingku. Begitu seksamanya aku memperhatikan si bianglala sampai-sampai gak sadar kalau Gery entah sudah berapa lama berdiri di sampingku. Aku gak paham bagaimana bisa jaket ini mendarat di bahuku, menutupi hampir seluruh tubuh. Aku lebih mirip kerdil, tenggelam dalam jaket. Hangat.

“Maaf yah kalo aku tiba-tiba bawa kamu ke alun-alun Batu tanpa persiapan apa pun termasuk jaket.”

Oh jadi ini yang namanya alun-alun Batu. Kota Batu. Kepalaku bergerak mengangguk-angguk kecil. Sekarang aku tahu tempat apa ini.

Kedua telapak tangan Gery bersembunyi di balik kantong celana jeansnya. Gak mungkin kalo Gery gak kedinginan. Senyumannya seperti memastikan kalau dia baik-baik saja walau kedinginan. Yang bisa aku lakukan hanya menatap dingin wajahnya yang selalu ceria setiap saat. Tidak seperti wajahku yang selalu tanpa ekspresi. Aku tidak sedang tersenyum saat ini.

Tapi yah sudahlah. Kalau nanti dia kedinginan itu bukan urusanku. Siapa suruh mengorbankan jaketnya untuk ku. Masih dengan wajah datar aku kembali menatap bianglala di depan sana. Gery juga mengikuti arah pandangan ku.

“Kamu mau ke sana?”
“Hah?”

Aku tidak begitu menyimak perkataan Gery tapi aku mengerti apa yang dia maksud. Seperti biasa, dia tarik tanganku dan berlari kecil mendekati bianglala itu. Gery melepaskan tanganku tepat di pintu masuk menuju wahana ini. Kedua mataku langsung terbelalak dengan pandangan nanar. Jadi begini yah bianglala dari dekat?

Tanganku kembali merasakan tangan Gery yang dingin. Kini langkahnya lebih pelan dan perlahan. Ada dua lembar kertas kecil di tangannya yang lain. Karcis yah?

Aku alihkan pendanganku ke wajah Gery. Walau dilihat dari samping, tapi tetap terlihat dia ceria sekali hari ini. Memangnya apa yang sedang kamu rasakan, Gery?

“Jangan kerutkan dahimu seperti ini, kayak nenek-nenek”

Ternyata dia sadar kalau sejak tadi aku memperhatikan garis ekspresi wajahnya. Tapi menurutku tak ada yang aneh dari kalimat Gery, jadi aku memutuskan untuk tidak tertawa. Begitu juga Gery yang menyadari bahwa guyonannya tidak lucu.

Kenapa orang-orang pada berbaris rapi? Aduh-aduh. Otakku sudah setengah beku, ini namanya antri. Antri untuk naik bianglala. Iya yah sekarang kan malam minggu.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
Tag: ,
  • Rahmat Wiraradi says:

    penasaran gmana kelakuannya rea pas naik bianglala, hahaha

    July 2, 2012 at 1:34 am
  • ayu emiliandini says:

    Yang pasti gak lebay kaya kamu met (っˆヮˆ)っhªªhªªhªª

    July 2, 2012 at 2:48 am
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    okeeee… jadi mereka berkencan di malem minggu nih… asek3x…

    yuk mariii malam mingguan di bianglala

    July 22, 2012 at 4:30 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 times 3?