Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Next National Event #11

Gemuruh suara lantai bus. Ditempa hentakan belasan pasang kaki yang sibuk berjalan kesana-kemari. Bus sudah berhenti dengan sempurna. Sekarang giliran isi dari bus yang harus turun. Termasuk aku. Butuh dua langkah yang lebar agar aku bisa sampai ke tanah. Kenapa anak tangga bus terlalu tinggi? Atau kenapa tubuhku yang terlalu mini? Yeah, tanyakan saja pada rumput basah. Basah habis diguyur hujan. Sekarang pun masih gerimis.

Satu ransel di punggungku yang beratnya bukan main. Lima kilogram di punggung itu menurutku masuk dalam kategori berat. Isinya perlengkapan selama empat hari hidup di dalam hutan. Aku gak sebut ini hutan belantara, toh masih ada akses jalan beraspal seperti ini. Lebih tepatnya di area out bond Cikole, Bandung.

Di sebuah lahan kosong yang mirip dengan lapangan parkir tanpa pafing blok, ada spanduk raksasa. Character Building. Ya, out bond dan character building. Kali ini semuanya akan diuji, mental, emosi dan nalar.

Ini adalah lanjutan dari National Building yang beberapa bulan lalu aku lewati di Semarang.

“See you next time. See you next event.”

Dua kalimat dari isi email Gery dihari ulang tahunku tiba-tiba bergaung dengan sendirinya. Apa ini yang dimaksud dengan next event?

Kanan. Kiri. Tidak ada peserta out bond dari regional lain selain regional bandung yang lagi sibuk dengan bawaannya masing-masing. Ada yang bilang kalau regional Bandung adalah regional terakhir alias datang terlambat dari regional yang lain, regional Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Tapi dimana mereka semua? Dimana Gery?

***

Medical check up selesai. Kaos, sleeping bed, celana training, topi, botol minum dan tempat minum yang diikat di perut, semua sudah ada di tanganku. Sekarang tinggal berjalan beberapa meter menuju barak. Aku sebut tempat itu tenda raksasa yang bisa menampung puluhan orang. Tempat tidurku selama 4 hari kedepan.

Tanah licin dan lembab. Aku melewati area paint ball. Banyak sekat-sekat dari potongan seng dan tumpukan ban mirip seperti maskas. Aku harus jalan ekstra hati-hati atau belum apa-apa aku sudah berkutat dengan lumpur alias kotor.

Tendanya benar-benar besar. Ternyata mereka disini. Peserta out bond dari regional lain. Didalam barak putri yang berlantai ubin putih dan ranjang tingkat berjejer rapi.

Aku turunkan ransel ini tepat di depan ranjang yang masih kosong di bagian atasnya. Aku akan tidur di atas malam ini. Ranjang bagian atas. Ranjang ini memang tinggi, butuh sedikit kesabaran dan skil untuk sampai di atas. Hap. Sampai juga di atas.

Aku hanya duduk bersila di atas ranjang. Mengamati seluruh hiruk-pikuk isi barak. Ada beberapa wajah yang masih aku ingat. Wajah yang aku lihat di PRPP Semarang. Sebagian masih ada yang asing bagiku.

Getar handphoneku cukup mengagetkan. Bbm dari Jordan.

“Rea sayang, sudah sampai Cikole? Gimana perjalanannya? Beneran tidur di dalam tenda? Kamu bawa jaket tebal kan, Re?”

Yang terbayang dalam benakku adalah wajah panik Jordan dan rentetan kalimat tanpa titik koma. Bayangan ini cukup lucu untuk aku ulang berkali-kali di ruang visualisasi dalam otakku. Aku terkekeh pelan.

Kedua jempolku menjelma sebagai dua balerina di atas keypad.

“Sempat hujan deras, sepatuku basah tapi tenang aja aku bawa dua sepatu. Ya, tidur di tenda raksasa yang namanya barak. Aku bawa 3 jaket tebal. Sekarang aja sudah pakai dua lapis jaket. Tenang yah Jojo, ada ranjang bertingkat disini dan aku tidur di atas :)”

Jojo, aku lebih suka nama ini dibandingkan Jordan. Jojo sebenarnya panggilan kecil Jordan. Jojo lebih… hhmmm lebih menyenangkan.

Send

Pikiran ku beralih memikirkan Gery. Apa iya aku akan bertemu dengannya disini? Itu juga kalau memang benar ini yang dia maksud dengan next event. Atau memang bukan?

Bergetar lagi. Masih dari Jordan.

“Kamu sudah siap ke medan perang yah, Re. Haaahah aku senang, minimal kamu nyaman disana. Ohya, hari ini aku sudah selesaikan semua urasan untuk kuliah spesialis di Belanda. Dua sampai tiga tahun gak lama kok, Re. Selesai menyandang gelar dokter spesialis bedah aku langsung pulang.”

Ini memang masa depan Jordan, masa iya aku mau hentikan langkahnya menuntut ilmu di Belanda hanya karena menuruti ego labilku. Itu tindakan ababil. Aku juga harus secepatnya menyesuaikan diri tanpa kehadiran Jordan secara fisik.

Setiap kesempatan, Jordan selalu memastikan keadaan mentalku. Jordan hanya belum tahu aja kalo aku perempuan yang kuat. Luar biasa kuat. Sekuat bunda dan ayah.

Senyum lebar menghiasi wajahku yang masih menunduk. Menatap layar handphoneku.

“Baguslah kalo semuanya sudah selesai. Aku paham. Aku akan selalu baik-baik aja. Ohya Jojo, malam ini handphoneku akan disita panitia out bond. Ya, 4 hari kedepan aku tidak akan bisa balas bbm atau angkat telpon. Hanya 4 hari kok”
“Wow, sampai harus disita. Semangat yah Reaku sayang.”
“:) thanks yah Jojo. Jojobi.”

Tersenyum sambil menghela nafas lega itu indah. Selalu seperti ini setelah selesai berbincang dengan Jojo. Dia sudah berusaha keras menyesuaikan diri dengan gaya komunikasiku yang seperti ini adanya. Sampai sejauh ini, ya dia berhasil. Good job for Jojo.

Next event?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
Tag: , ,
  • ayu emiliandini says:

    edisi ramadan.. itu juga kalo mungkin ad ahahaha

    July 4, 2012 at 4:25 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 times 4?