Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Disana #12

Pagi-pagi buta, masih dingin, luar biasa dingin. Sayup-sayup gemuruh suara ribut dalam barak putri sudah sampai ke telingaku. Walau berat. Lengketnya ampun-ampun tapi bagaimana pun caranya mata ini harus bisa terbuka.

Masih blur dan samar-samar, Tika yang tidur tepat di sampingku sudah lenyap dari ranjangnya. Sleeping bed miliknya juga sudah dilipat rapi. Mungkin dia sedang mandi.

Apa? Mandi? Dengan suhu sedingin ini? Belum sempat kubayangkan bagaimana bulu kudukku berdiri saat jari kelingking ini aku celupkan ke dalam air yang ada di ember kamar mandi. Dinginnya air benar-benar gak manusiawi.

***

Langit mulai sedikit demi sedikit membiru indah tapi matahari belum muncul. Sudah bermunculan para peserta character building di lapangan depan barak putri. Kalau semalam aku hanya melihat perserta perempuan, sekarang peserta laki-laki sudah terlihat. Gery belum terlihat. Masih belum terlihat hingga upacara pembukaan dimulai. Mungkin tidak terlihat olehku karena badanku yang kurang tinggi dan posisiku berada tepat di tengah-tengah barisan seluruh perserta out bond.

Upacara? Awalnya aku lupa total bagaimana rangkaian upacara. Aku tidak tertarik dengan gerak-gerik kaku cara berjalan paskibra dan berbagai istilah yang berotasi di lapangan. Gerakannya lebih mirip robot. Begitu juga dengan opening ceremony acara character building ini. Begitu upacara berakhir, aku leganya bukan main.

Kini akan dibentuk beberapa kelompok peserta out bond. Tidak dibentuk secara acak karena pihak panitia telah menentukan nama-nama yang ada dalam kelompok.

Satu per satu nama disebutkan. Nama-nama yang sebagian kecil sudah aku kenal karena memang sesama regional Bandung. Ada juga nama-nama yang aku kenal walau bukan dari regional Bandung. Rata-rata aku tahu jadi jejaring facebook atau groub yang ada di kontak blackberry ku.

“Geraldyansyah Gumilang”

Apa?

“Siap hadir pak”

Aku buru-buru mencari kebenarannya. Aku gak salah dengar kan? Cepat-cepat aku gerakkan kedua kaki ini secara perlahan dan pasti agar bisa sampai ke barisan kedua dari depan.

Mataku seakan gak percaya dengan apa yang aku lihat. Yang selama ini aku nantikan. Yang selama ini aku pikirkan. Yang selama ini cukup aku resahkan. Aku menekan kuat dadaku. Detak jantungku tiba-tiba kecepatannya meningkat. Aku cukup terkejut. Aku gak mau orang lain tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. Itu akan menjadi hal yang sangat memalukan. Aku harus berusaha tenang.

Aku lihat Gery di barisan regu 3.

Sambil membenarkan posisi kacamata. Kelopak mata sedikit menyipit. Ya benar, itu Gery yang berdiri disana.

Sekali lagi. Bibir ini menyimpan senyum senang yang luar biasa walau dari luar terlipat tertutup rapat. Tapi kenapa aku segirang ini?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 multiplied by 7?