Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Rappelling #14

“udah siap?”

Aku hanya menatap instruktur simulasi tempur. Nafasku berantakan. Bibir bawah mungkin sebentar lagi akan berdarah, aku gigit sekuat tenagaku. Segalanya sudah siap. Tali pengaman sudah melilit kencang dilingkar panggulku. Sarung tangan sudah hinggap sempurna dikedua tanganku. Ya, tinggal meluncur ke bawah. Meluncur dari ketinggian 8 meter dari permukaan tanah.

Sorak sorai teman-teman regu 8 menyemangatiku dari bawah sana. Tetap aja aku sulit untuk memulai.

Kini tubuhku membelakangi pemandangan tinggi ini. Yang ada di hadapanku saat ini adalah instruktur simulasi yang masih menunggu jawabanku dan background pepohonan hutan cikole menjadi background si bapak instruktur. Jawaban, aku sudah siap atau belum? Jawabanku saat ini, belum. Kosa kata itu sudah sampai di ujung bibir, tinggal disebutkan aja.

“Semangat Rea!!!”

Sebuah teriakan dari kejauhan sekian meter. Sekian meter dari arah kiriku. Teriakan itu sentak membuat kepalaku berputar cepat. Gery dengan senyum lebar yang luar biasa berdiri sengan tangan mengepal dan mengayunkan kepalan itu ke arahku.

Senyumnya cukup membuat aliran darahku mengalir hingga saluran micro di seputar wajahku. Wajahku panas. Semua orang yang ada di wahana rappelling kini menatap Gery dengan penuh tanda tanya besar. Apa yang sedang dilakukan bocah ini? Jelas-jelas dia meneriakkan namaku berarti dia sedang mentransferkan semangat membaranya ke arahku. Dari jarak sekian meter.

Aku alihkan penglihatanku ke arah sepasang sepatu caterpillar yang gagahnya bukan main. Mentalku tak segagah sepatuku yang sudah mengesuaikan diri dengan medan ini.

Aku angkat kepalaku. Aku tatap lekat-lekat instruktur simulasi tempur yang ada di hadapanku. Wajahnya bosan, menunggu jawabanku sedari tadi.

“Siap!”
“Akhirnya”

Maaf ya pak.

Perlahan aku longgarkan genggaman tali ditangan kiriku yang ada di belakang panggulku. Kini papan rappelling dan kedua kakiku membentuk sudut sembilan puluh derajat.

Nafas ini kembali gak karuan. Aku tarik nafas kuat-kuat dan aku keluarkan dengan kencang dari mulutku, pipiku menggembung untuk mengeluarkan udara dari paru-paru.

Aku tekuk kedua kakiku dan loncat sekuat-kuatnya. Yeah tubuhku mental dengan sekian centimeter dari papan rappelling. Kemudian tangan kiriku melonggarkan genggamannya. Sangat terasa tali ini bergesekan cukup kencang dengan kedua sarungtanganku. Hap. Kedua kakiku kembali lagi memijak papan rappelling. Dan ternyata ini menyenangkan. Loncatan kedua lebih kuat dan lebih bersemangat dan aku semakin suka dan rasa takut ini hilang entah kemana.

buuuggg

Hentakan sol sepatu caterpillar dengan permukaan tanah berumput tipis. Jeritan teman-teman regu 8 membuat aku lepas kontrol. Aku berteriak sekuat tenagaku.

“wooohoooooo…..”

Kedua tanganku kini terangkat tinggi-tinggi. Seperti kedua tangan ini mau nonjok langit yang ada jauh di atas sana. Komandan regu 8, Endah, spontan memeluk dan mengusap-usap punggungku. Ya, aku bisa mengalangkan fobia ketinggian ini.

Reflek. Aku kembali melemparkan penglihatanku ke arah tempat Gery berdiri beberapa menit yang lalu. Gak ada. Seandainya Gery melihat pemandangan tadi pasti…. sebentar, kenapa aku ingin Gery melihatnya? Untuk apa? Memangnya apa yang akan aku lakukan kalau dia benar-benar melihat keberhasilan aku turun dari papan rappelling setinggi 8 meter?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    weleh-weleh… sepatunya caterpillar… (mupeng.com)

    hahahahaaaaa keren kaaaannn #pamer

    July 22, 2012 at 4:11 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?