Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Alunan Musik Angklung #15

Segala yang ada dihadapanku ini benar-benar menyita perhatian hampir seluruh panca inderaku. Mata, ibarat kamera yang hanya fokus pada objek yang ada di depan sana. Telinga, dengan kekuatan penuh menangkap berbagai gelombang bunyi yang dihasilkan si objek. Kulit, ya aku merinding melihat sekumpulan anak-anak kecil yang bernyanyi, bermain angklung dan menari begitu lincah. Ada yang ekspresinya datar, ada yang loncat-locat kesana-kemari dengan riangnya, ada pula yang pandangan matanya nanar kemana-mana memandangi penonton yang terpukau oleh pertunjukannya, termasuk aku.

Masuk lah sesi menari bersama.

Seorang anak kecil berbaju merah. Lucu. Tanpa make up namun terlihat lucu. Mungkin karena tanpa make jadi terlihat lucu. Rambut tipisnya dicepol tinggi dan poni ratanya berayun kesana-kemarin. Lincahnya bukan main. Senyumnya khas anak-anak seusianya. Dia datang menghampiri dan menarik tangan seorang penonton yang duduk tepat di sampingku. Ditariknya tangan penonton itu dan diajaknya berjaipong di tengah-tengah pendopo pertunjukan mungil ini.

Lagu daerah yang dimainkan dengan alat musik dominan terbuat dari bambu dan sebagian ada gong dan gendang. Semuanya menyenangkan untuk disimak. Santapan lezat kedua mata dan sepasang lensa kaca mata old styleku.

Semakin lama makin banyak penonton yang turun ke tengah-tengah lantai yang bisa aku sebut dance floor. Aku kaku untuk urusan seperti ini. Aku duduk saja, menikmati dan tersenyum dengan ringan. Senyum terhibur.

Sebuah tangan tiba-tiba muncul dihadapanku. Entah dari mana asalnya. Aku telusuri dan aku temukan si pemilik tangan. Gery sedikit membungkuk dan tersenyum kecil. Ternyata ada varian baru dari senyum Gery. Yang ini lebih manis. Apa? Apa yang aku pikirkan barusan?

Aku kembali memandang telapak tangannya. Masih di depan wajahku.

Aku pandangi sekelilingku. Semua menikmati euforia pertunjukan angklung riang gembira. Aku sambut tangan Gery dan berdiri dari kedudukan awalku.

Langkah kaki yang sedikit bergoyang karena alunan arumba yang menyenangkan. Semua berdansa. Ada yang mengelilingi lantai dansa dan ada yang hanya sekedar menggoyangkan sebagian tubuhnya seperti aku. Aku sudah bisa menebak. Gery nampak senangnya bukan main.

Aku? Mulai dari hanya sekedar senyum kecil karena terhibur. Kini aku tertawa bersama dengan Gery ditengah-tengah kerumunan anak-anak kecil dan peserta character building. Aku menggendong salah satu anak yang menurutku paling menggemaskan. Aku lepas kontrol dan berharap alunan ini tidak cepat berakhir. Aku tidak sedang ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Event telah usai dan perpisahan siap menjemput di gerbang utama sana.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    banget.. novel di kamar ampe numpuk hehehee

    July 6, 2012 at 7:05 am
  • ayu emiliandini says:

    ohyah? jadinya puitis? diluar dugaan hahaha okey masbroo… heheheheh thanks yah supportnya

    July 6, 2012 at 6:18 pm
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    jadi penasaran sama saung udjo… dulu waktu jamannya dod gak ada acara ke saung udjo…

    Ke bandung atuh kak ntar aku tunjukin saung udjo dimana heheehhe

    July 22, 2012 at 4:11 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?