Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

See You Next Time #16

“Gery”

Tubuh kokoh itu berputar kearahku. Aku tepat dibelakang Gery. Hanya setengah detik Gery memandang tepat ke wajahku tapi selebihnya dia fokus pada ransel yang sudah bergelantungan dipunggungku. Ransel yang beratnya bertambah. Lebih dari 5 kilogram. Gimana beratnya gak nambah kalo baju-baju kotor bercampur dengan lumpur dan basah.

“Kenapa sudah ambil ransel dari bagasi bus?”
“Aku sudah dijemput”
“Dijemput kakak?”

Tatapan mata Gery bukan lagi melihatku atau ranselku. Seperti melihat sesuatu yah jauh di belakangku. Aku ikuti arah pandang Gery. Setengah memutarkan sebagian tubuhku.

Jordan melambaikan tangannya ke arahku. Kacamata hitam, kaos putih oblong, satu tangan melambai kecil setinggi telinganya dan tangan yang lain sembunyi dibalik blue jeansnya. Bersandar di depan mobil sedan hitamnya. Sepertinya Jordan sudah menunggu cukup lama. Kalau dia baru datang, pasti lebih memilih menunggu di dalam mobil.

Senyum kecilku membalas lambaian tangan Jordan.

Aku kembali pada Gery yang ternyata masih terus memandang Jordan setelah aku kembali memandangnya. Wajahnya datar. Ekspresi ini pertama kalinya aku lihat. Gery terlihat aneh tanpa senyum yang selalu jadi perhiasan indah diwajahnya.

“Bukan”

Mungkin ucapanku mengagetkan Gery. Buru-buru bola matanya berputar ke arahku.

“Dia pacarku”

Ya Tuhan, perasaan apa ini? Aku sempat berpikiran untuk mengiyakan aja pertanyaan Gery. Kenapa jadi berat walau hanya bilang Jordan itu pacarku? Kenapa aku sempat berpikir lebih baik Gery gak perlu tahu siapa Jordan? Masih banyak lagi pertanyaan bergelinding dengan bebasnya di otakku.

“See you next time, Gery”

Saking beratnya, aku terbata-bata hanya untuk satu kalimat singkat yang tak seberapa ini. Apa aku masih bisa melihat senyumnya lagi? Kenapa aku jadi seperti ketagihan?

Langkah sedikit lunglai karena beratnya beban ransel. Kini aku memunggungi Gery.

“See you, Rea”

Setelah beberapa langkah menjauh baru Gery membalas salamku. Senyum kecil seperti yang aku lihat beberapa saat yang lalu. Manis. Entah aku menjadi lega karena senyum Gery tidak benar-benar sirna. Hanya ketakutan bodohku aja. Kini tak perlu ragu untuk melangkah lebih jauh.

Aku gak melangkah untuk meninggalkan kamu kok Ger. Semoga aja gak.

Jordan berlari kecil menghampiriku. Tangan kokohnya langsung menyabet ranselku. Jordan sudah menangkap signalku. Ransel ini bisa buat aku encok kalo bertahan lebih lama di atas punggungku yang rapuh ini. Begitu tahu betapa beratnya ranselku, Jordan hanya tertawa kecil dan merangkulku erat. Selalu nyaman bila berada di sekeliling Jordan.

Aku penasaran apakah Gery masih memangdangku atau gak tapi aku seperti gak punya daya untuk menoleh ke belakang.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    #eaa #eaa #eaa…. awkward moment…

    tadinya sempet bingung loh kak gimana caranya bikin atmosfir awkward tapi ternyata aku berhasil ahahahah

    July 22, 2012 at 4:09 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 in addition to 4?