Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jogja (tidak ada kamu) #22

Suara gemuruh mesin pesawat benar-benar buat aku pusing. Pemandangan biru langit dan gumpalan awan dimana-mana memang cukup menghibur tapi pusing ini bukan main rasanya.

Headset.

Tangan ini semangat 45 mengobrak-abrik isi ransel yang sedari awal aku sembunyikan di bawah kakiku. Malas kalau harus disimpan di bagasi atas, harus berdiri lagi dan ini itu.

Sedikit aku lirik Chris yang duduk disampingku. Ternyata dia sudah tertidur pulas, topi hitamnya menutupi seluruh wajahnya dan earphone menutupi seluruh daun telinganya. Harusnya aku sudah tertidur juga kalau sejak awal pesawat ini take off aku sudah pasang headset.

Aku kembali bersandar pada sandaran kursi dan menatap ke luar jendela. Sudah mulai nampak pemandangan hijau dan beberapa bagian merak cokelat warna genting rumah penduduk. Mungkin sudah mau sampai.

Alunan irama gitar. Duo gitaris asal Jepang, Depapepe, mengalun ringan ditelingaku. Aku suka group ini. Tak ada lirik tapi ada judul di setiap lagu-lagunya. Hanya dua gitar akustik tapi bisa memainkan berbagai genre musik. Tak perlu repot menghafal lirik untuk bisa menikmatinya. Itu sebabnya aku suka memutar lagu-lagu Depapepe dari mp3 playerku.

Penerbangan ke Jogja kali ini dalam rangka rentetan event yang diselenggarakan oleh beasiswa yang aku terima. Masih ingat dengan National Building di Semarang dan Character Building di Cikole? Ya, ini rentetan acara terakhir yaitu Leadership Development Training yang diselenggarakan di Kota Jogja. Ada 10 mahasiswa perwakilan dari Bandung, termasuk aku dan Christian.

Apa aku akan bertemu lagi dengan Gery? Atau pertemuan terakhir di event charcter building adalah moment terakhir? Aku seperti kehilangan obat penenang atau mungkin lebih tepatnya aku kehilangan obat yang bisa menghilangkan rasa ketagihan ini. Ketagihan melihat senyum Gery yang selalu membawa kesan cerah, ceria dan menenangkan.

No clue. Tidak ada kabar dari email lagi. Atau karena aku gak membalas email Gery? Tapi aku rasa gak perlu dibalas.

Kepalaku berputar ke kiri. Chris masih tertidur pulas.

Sebenarnya bisa aja aku tinggal bertanya kepada Chris nomor handphone Gery atau tanya apa pun untuk sekedar tahu bagaimana kabar Gery. Tapi entah lebih baik seperti ini. Sedikit menunggu sampai akhirnya aku tahu. Waktu yang menjawab pertanyaanku. Tapi mau menunggu sampai kapan? Sedangkan Chris jelas-jelas ada di depan mataku.

Gak. Gery pasti akan mengabari aku lagi. Atau sebaliknya. Kalau memang kita akan bertemu.

Aku berharap sampai sejauh ini? Ada apa denganku?

***

Sudah sampai di hotel. Seperti hotel pada umumnya. Aku mahasiswa jurusan teknik arsitektur tapi aku sedang gak minat mengomentari ekterior dan interior gedung hotel ini. Isi kepalaku berkutat dengan Gery. Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih ingat denganku?

Sesampai di lobi, aku registrasi ulang di meja receptionist. Ada 2 lembar kertas absen yang harus aku tanda tangani. Tapi aku tidak tertarik menggenggam pulpen dan menggoreskan tanda tangan di kolom namaku. Mata dan jari telunjuk ini sibuk menelusurin puluhan nama. Mana nama Geraldyansyah Gumilang? Lembar pertama nihil, gak ada. Lembar kedua? Cepat-cepat aku buka lembar kedua. Nihil juga.

Gak ada nama Gery atau Geraldyansyah Pratama dari regional Surabaya.

Gak ada nama Gery.

Pernyataan ini harus aku ulang berkali-kali sampai mantap. Kenapa aku seperti belum percaya sepenuhnya?

“Re, mau sampai kapan kamu pelototin kertas absennya?”

Chris sedikit mengaketkanku. Ya, sedari tadi aku belum mengangkat pulpen yang ada di samping tangan kiriku. Aku buru-buru menyambar pulpen dan menggoreskan tanda tangan karena Chirs nampak sedikit suntuk menungguku selesai menelusuri puluhan nama di absen ini untuk mencari Gery.

***

Sudah jam 7 malam, acara pembukaan leadership training akan dimulai. Aku dan puluhan mahasiswa yang lain sudah selesai makan malam dan menunggu di depan ball room yang pintunya masih tertutup.

Tiba-tiba keluar satu LO dari balik pintu ball room. Untuk masuk ke dalam ball room ternyata diabsen terlebih dulu untuk menentukan kelompok-kelompok.

Satu per satu nama disebut. Satu persatu mahasiswa penerima beasiswa (sama seperti ku) masuk ke dalam ball room. Sampai akhirnya nama ku dipanggil.

***

Pintu ball room sudah tertutup kembali. Aku gak mendengar LO menyebutkan nama Gery atau melihat keberadaan Gery di dalam ball room. Gery benar-benar gak disini? Jadi aku dan Gery berbeda batch?

Dan aku sulit menerima kenyataan ini. Perasaan macam apa ini?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • M Nurul Ikhsan Saleh says:

    Pikiran menjadi GALAU ya? hahaha… klik next mbak bro!

    July 16, 2012 at 12:48 am
  • ayu emiliandini says:

    galau cyiiinn hahahahaa

    July 16, 2012 at 5:01 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 * 4?