Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Dendam Sopran #4

Terus berpegang teguh dengan keyakinan bahwa aku bisa lebih baik dari JB Maunier yang hanya bocah 14 tahun. Kelak suaranya pasti akan menurun, toh ujung-ujungnya gak akan jauh dari Tenor. Aku? Aku perempuan dan dianugrahi Tuhan suara sopran. Ini wilayah kekuasaanku. Ini range suaraku.

Ya pikiran ini yang terus aku ulang-ulang sampai mantap. Sampai paten. Sampai jadi harga mati. Sampai-sampai aku punya satu selogan yang selalu aku serukan ke teman-teman sopran. Dendam sopran. YEAH!!!

Aku sebenarnya bosan kalao sopran selalu dimarahin sama mbak Vina dan Mas Wan. Come on guys!!!!!

Hanya akan menambah masalah baru kalau aku menyalahkan lagi teman-teman yang salah. Kalau sudah tau salah, harus di mark. Kemudian diingat-ingat lagi tone yang benar. Ya, semangatku ini harus dimiliki juga dengan teman-teman sopran yang lain. Itu yang jadi tugas baruku.

HIDUP DENDAM SOPRAAAANNNN!!!!!!

Mulai dari haming, pemanasan, ambitus, teknik pernapasan perut, power… Semua ada tekniknya. Kalau semua masalah teknik brarti apa? Berarti itu semua bisa dipelajari. Berarti itu semua bisa dilatih. Dilatih.

Semua mp3 dan midi lagu-lagu yang akan dikompetisikan aku jadikan satu playlist khusus di memori handphoneku. Setiap ada kesempatan, headset menggantung mantap ditelingaku. Di kelas, di perpustakaan, di student centet, di kosan, dimana pun.

Bengawan solo karya Gesang Martohartono yang diaransemen oleh Prihatawan Djalle (Mas Wan). Ave Verum Corpus oleh Prihatawan Djalle. Cantique de Jean Racine, Op.11 oleh Gabriel Faure. Velorene Jugend oleh Johannes Brahms. Take O Take Those Lips Away karya William Shakespeare, Lebur Dalam Bakti karya Sri Kusdyantinah. Lagu-lagu ini selalu menggema indah di telingaku. Berputar-putar di otak sampai ngelotok mampus.

Aku dengar. Aku hafal. Aku simak. Aku pahami setiap part dan note. Partitur? Selalu hadir dalam tas ranselku.

Ini semangatku.

Ada teman-teman sopran yang ingin ikut latihan tapi terlalu sibuk dengan kuliah dan kegiatan lain. Aku pikir mengajaknya memaksa ikut latihan, hadir dalam latihan, bukan jalan terbaik saat itu.

Aku punya cara lain. Bagaimana caranya teman-teman sopranku bisa mengikuti perkembangan latihan tanpa harus ikut hadir dalam latihan. Ikut mengejar ketertinggalan, bukan teman-teman lain yang ikut mundur karena ada yang tertinggal.

Ya aku harus bertindak dua kali. Aku rasa aku sanggup menginformasikan segala bentuk dinamika lagu yang aku pelajari di saat latihan ke temen-temen sopran lain. Temen-temen sopran yang punya niat dan semangat sama dengan aku tapi terhalang dengan berbagai hal.

Karena aku yakin sopran pasti bisa. Bisa lebih baik dari Jean Baptiste Maunier si bocah soprano boy.

Category: jinggaswara

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?