Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Lantai 11 di Depan Lift #24

“Check.. check.. Rea masuk, ganti”

“Disini Rea pak, ganti”

“Okey, gimana lantai 11? Ganti”

“Bagasi di lantai 11, check. Semua sesuai list kamar. Regional Bandung lantai 11 selesai, ganti”

“Okey, kamu bekerja cepat sekali Rea. Sekarang tolong kamu handle yang di lantai 14, yang lain masih ada trouble, ganti”

“I got it, sir”

Sedikit berisik memang tapi mau bagaimana lagi namanya juga handy talky. Alat ini harus tetap standby di saku belakang celana jeansku. Headset yang terhubung dengan handy talky hinggap sempurna di salah satu telingaku.

Sudah setahun lamanya. Terakhir aku ke kota ini, aku datang sebagai peserta event National Building di Semarang. Ini yang kedua kalinya aku datang ke Semarang. Kali ini sebagai LO. Entah angin macam apa yang berhembus sampai-sampai aku terpilih jadi salah satu LO regional Bandung.

Yang aku lakukan sekarang? Aku memastikan barang-barang milik peserta National Building (mahasiswa angkatan setahun dibawahku) apakah sudah dimasukkan ke kamar yang tepat. Memang sedikit ribet. Peserta langsung berangkat ke PRPP setelah beberapa saat menginjak ibu kota Jawa Tengah ini. Rangkain acara sudah dimulai. Jadi yang memastikan sekian banyak tas ini masuk ke dalam kamar hotel yang tepat, ya aku sebagai LO. Yeah, salah satu job desk ku.

Setiap barang bawaan sudah diberi name tag berisi nama dan regional jadi ini cukup memudahkan aku.

Aku harus secepatnya loncat ke lantai 14. Instruksi dari pembina regional Bandung yang membuatkan aku alasan untuk naik lagi 3 lantai keatas. Semoga lift gak terlalu banyak yang pake jadi gak perlu waktu lama menunggu. Biar urusan bagasi ini cepat beres. Aku sudah setengah lelah. Baru setengah. Belum benar-benar lelah.

Aku berjalan dengan cukup pasti di lorong lantai 11 ini. Sedikit berlari kecil biar lebih cepat sampai ke depan lift. Hanya terdengar suara hentakan sepatu converseku dan karpet yang aku pijak sedari tadi. Dan suara gemeresik handy talky yang seraya menggeliting pendengaranku.

Sial! Ada dua lift tapi yang satu masih di lantai 5 dan lift yang satunya lagi masih di lantai 1. Aku di lantai 11. Yah minimal saya masih ada waktu untuk bernafas sejenak.

Ada suara langkah kaki dari lorong yang lain. Tergesa-gesa dan berat. Mungkin pegawai hotel atau pengunjung hotel yang lain.

Langkahnya semakin pasti. Asumsi orang ini berjalan mendekat kearaah ku.

“Lantai 11 semua sudah beres,ganti”

Suara itu. Logat itu. Kalimat itu. Sepertinya ada LO dari regional lain yang menghandle urusan yang sama denganku.

Mata ini masih memandangi deretan lampu di atas pintu lift yang menunnjukkan angka 3 dan 8. Dua-duanya sedang bergerak ke atas. Masih butuh berapa lama lagi? Kelima jari tangan kananku sudah bergemeletuk di atas lengan kiriku. Tanganku terlipat agak kaku di depan dadaku. Itu artinya aku sudah mulai bosan. Terpikirkan untuk lari aja ke pintu emergency. Tapi aku urungkan aja. Tenaga yang tersisa ini khusus untuk mengecek lantai 14.

“Okey siap, aku turun ke lantai 5 sekarang juga”

Semakin jelas. Mungkin sudah semakin dekat.

Seluruh perhatianku masih tertuju ke lampu-lampu di atas gerbang lift dan berpikir. Apa ada cara lain untuk bisa mempercepat perubahan angka dan seketika lift sampai di lantai 11?

Suara itu menghilang tapi hentakan langkahnya semakin jelas. Semakin dekat. Sangat dekat. Dan berhenti.

Langkahnya terhenti. Suara pembicaraan di handy talky juga berhenti. Sebentar, tapi aku gak mendengar ada suara pintu terbuka. Si pemilik kaki pasti gak sedang masuk ke dalam kamar. Pingsan? Gak mungkin, pasti akan ada suara gaduh semacam ‘gubraaag’ atau apalah itu. Tak ada suara apa pun.

Perasaanku aneh.

Aku putar kepalaku perlahan ke arah sumber suara.

Gemeletuk jari-jari tangan kananku terhenti. Lipatan tangan ku juga mereda. Aku atur nafas sedemikian rupa dan menahan saraf wajahku untuk berekspresi berlebih. Gagal.

Masih dengan senyum yang aku kenal dan selalu menyenangkan. Masih dengan tubuh kokoh dan handy talky di tangan kirinya. Gery tersenyum ringan. Gery juga menjadi LO.

Aku gak bisa tahan lagi kebahagiaan ini. Senangnya bukan main. Aku bisa lihat senyum itu lagi. Bibir ini melengkung lebar. Aku gak bisa tahan keinginan saraf ini untuk membentuk senyum yang sama dengan Gery.

“Hai Re”

Suaranya masih sama persis seperti yang aku kenang dan gaungkan di aula otakku berkali-kali. Kenapa aku gak sadar kalo dari tadi aku sudah dengar suara ini. Suara yang menggema dari lorong yang lain. Aku sudah mulai gak fokus.

Ting

Pintu lift terbuka

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • Andrey says:

    Wah…Gery??. hehehehe……Hai Rea…

    July 20, 2012 at 10:59 am
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    Wah…Gery??. hehehehe……Hai Rea…

    haii andrey…. hehhehee

    July 20, 2012 at 3:27 pm
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    #eaaa… #eaaa… #eaaa…

    hebooh deeeh kak dod

    July 22, 2012 at 3:58 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 7?