Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Di Bawah Langit Kudus #26

Kudus sedang cerah-cerahnya. Tangan kananku seolah-olah memayungi kedua mata dan kacamata old style ku. Silaunya bukan main. Kalau bisa berjalan dengan mata tertutup mungkin sudah aku lakukan dari tadi. Memangnya aku mau akrobat.

Entah berapa jauh jarak dari tempat parkir bus ke masjid dan menara Kudus yang sudah lama jadi maskot kota ini. Bus gak mungkin bisa sampai tepat di depan menara Kudus. Jalannya terlalu sempit. Alhasil harus jalan kaki.

Pelan-pelan aku lirik langit cerah Kudus. Tanpa awan. Tapi birunya indah. Biru teduh. Tak seteduh teriknya matahari yang nampak bersemangat hari ini.

Aku jalan sekuat tenaga dengan pusing yang masih nyut-nyutan.

Aku hentikan langkahku sebentar. Pusingnya mendadak makin kuat.

Dan gelap.

Bukan, aku gak lagi pingsan. Apa ini? Ada yang menutupi kepalaku. Mendadak terasa teduh dan lebih baik. Jaket? Tiba-tiba ada tenaga yang menuntunku berjalan lagi. Langkah yang pendek dan pelan. Buru-buru aku lepas jaket ini.

“Gery?”

Wajahnya lebih gelap karena tertutup bayangan topi. Topi yah? Ide sederhana yang gak sempat terpikirkan olehku. Gak sedang manatapku yang seperti orang kebingungan. Gery memandang lurus kedepan dan tangan kirinya merangkul bahuku. Bukan merangkul tapi sebenarnya dia sedang membopong setengah dari beban berat badanku.

Gery gak tersenyum seperti biasa. Sedikit meringis karena panasnya suhu Kota Kudus. Keringat dimana-mana. Begitu juga dengan aku.

“Siapa yang mau angkut kalo kamu pingsan disini, Rea. Kalau kamu sakit kaya gini mending kamu stay aja di bus atau apalah”

“I’m okay, Gery”

Sepertinya aku sudah mengatakan kalimat ini. Karna aku cuma bisa bilang aku baik-baik aja walupun gak. Cuma demam. Toh tadi aku sudah sarapan, minum obat dan tidur selama perjalanan dari Semarang ke Kudus.

Gery gak kunjung memutarkan kepalanya ke arahku.

Aku posisikan jaket seperti kerudung di atas kepalaku. Masih dengan tangannya yang merangkulku untuk terus berjalan. Menara kudus sudah mulai terlihat.

Sinar matahari sedikit terhalang dengan jaket ini. Sedikit lebih baik dan lebih teduh.

“Thank you, Gery”

Aku yakin Gery gak mendengarku. Suaraku lebih mirip berbisik. Kemudian tersenyum. Aku baru tahu Gery gak seaneh yang terlihat saat dibawah langit PRPP dan kembang api setahun lalu. Ternyata dia baik.

Jaket ini membantuku menutupi senyum kegirangan ini.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    akhirnya tuntas sudah membaca cerita rea runtut dari part 1 sampai 26 ini… bagus yu’… dod tunggu part2 selanjutnya…

    bagus deh klo kak dod suka…. Lg ngumpulin niat buat lanjutin lg hehehehee makasih udh baca dr awal yah kak dod

    July 22, 2012 at 5:48 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 * 5?