Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Akrab #27

“Laper, Re?”

Pertanyaan Gery cukup mengagetkanku tapi mulut ini masih tetap gak berhenti mengunyah. Gak cukup kaget sampai menghentikan pergerakan rahangku. Aku hanya mengadahkan kepala sampai kedua mata ini sejajar dengan mata Gery. Melihat wajah Gery. Wajahnya datar. Mulutnya terkatup dengan sedotan dari segelas soft drink bergelantung disana, tapi matanya memandangku heran. Aku tahu itu ekspresi wajah keheranan Gery. Cukup satu anggukan aku rasa cukup menjawab pertanyaan Gery. Aku kelaparan. Dan kembali fokus pada ayam goreng chrispy dan gumpalan nasi sebesar kepalan tangan di atas piringku.

Hari ini memang hari yang panjang dan melelahkan. Pagi-pagi buta sarapan. Lebih mirip sahur ketimbang sarapan. Makan pagi jam 5 pagi.Kemudian buru-buru berangkat ke Kudus untuk kunjungan ke situs bersejarah, pabrik kretek dan GOR olah raga yang masih dibawah bimbingan perusahaan yang sama dengan perusahaan yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa beruntung seperti aku. Dan Gery. Dan beratus-ratus mahasiswa beruntung lainnya.

Terakhir makan malam itu jam 6 sore. Sedangkan deretan kegiatan di PRPP benar-benar menguras tenagaku. Mengatur pergerakan peserta menyita energiku. Ya, sepulang dari Kudus, bus langsung mendarat ke PRPP. Aku berharap bisa langsung pulang ke hotel. Hanya harapan belaka yang terbang menguap bersama cairan tubuhku karena tingginya suhu udara di Semarang.

Seingatku tadi pagi aku sempat demam. Obat paracetamol ini benar-benar membantuku. Setelah makan pagi, aku tertidur cukup pulas di bus. Pengaruh efek kantuk dari obat yang aku minum. Walau pada akhirnya pening kepala masih belum reda begitu sampai di Kudus. Setelah makan siang pun aku kembali tertidur di bus selama perjalanan dari Kudus ke Semarang. Sesampai di Semarang pening sudah mulai berkurang tapi masih pusing. Sedikit.

Sekarang jam 12 malam. Sejam yang lalu aku dan yang lainnya pulang dari PRPP tapi perut ini sudah minta diisi lagi.

Gery menyelamatkan aku dari kondisi kelaparan yang menyiksa ini.

Nadia langsung tertidur tanpa sempat mengganti baju begitu sampai kamar. Nadia teman sekamarku. Aku Cuma bisa pasrah tapi gak benar-benar pasrah ketika Gery datang dan mengajakku makan di salah satu fast food 24 jam. Jarak fast food ini kurang dari 30 meter jadi cukup dengan jalan kaki dan sampai.

Tiba-tiba aku merasakan lagi hal yang sama di dahiku. Gery mendaratkan telapak tangannya di dahiku. Lagi. Kali ini suhu tangannya tak jauh berbeda dengan suhu tubuhku. Perbedaan suhu yang tak begitu kontras.

“Wow, cepat juga demammu reda, Re”

“Untuk apa berlama-lama? Kamu pikir demam itu enak. Nyiksa”

Akhirnya bisa aku jawab juga pertanyaan Gery setelah menelan semua makanan di mulut dan dibantu daya dorongan dari soft drink yang juga ikut aku telan.

Demam itu menyiksa. Lebih tepatnya menyiksa orang-orang yang ada di sekitarku.

Bunda seperti mengutuk dirinya yang gak akan pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah sakit manapun setelah kepergian ayah. Ini membentuk mindset baru dalam otakku. Kalau aku sakit, bunda akan tersiksa ketika harus mengantarku ke rumah sakit. Jadi kesimpulannya aku gak boleh sakit atau bunda gak perlu tahu kalau aku sakit. Kalau bunda gak boleh tahu brarti orang lain juga gak perlu tahu. Yeah, terus.. Terus.. Dan terus berkembang hingga aku mengganggap sakit itu seperti orang lemah dan aku malu kalau terlihat lemah di depan bunda. Di depan semua orang.

“Untung kamu datang ke kamarku, Ger. Kalau gak, mungkin aku sudah mati kelaparan. Di kamar gak ada apa pun yang bisa dimakan”

“Aku pikir kamu butuh banyak makan untuk cepat sembuh. Jadi aku ajak kamu aja. Yeah, aku pikir kamu seperti yang lain, gak nafsu makan karena alasan ini itu. Tapi ternyata biar sakit pun kamu makan udah kayak orang kalap. See, dua potong ayam, dua porsi nasi dan soft drink ukuran large”

“Hei Gery, kamu pikir kita gak pesan porsi yang sama? Dasar monster kelaparan”

“Kamu tuh yang lebih mirip moster kelaparan”

“Mana ada moster yang tinggi badannya kurang dari 160 cm. Kamu yang monster”

Gery jauh lebih tinggi dan kokoh. Lebih mirip moster kelaparan.

Seketika aku tertawa karena kekonyolan Gery yang satu ini. Dua manusia yang kelaparan di tengah malam buta. Mendengar ocehan Gery yang lebih mirip seperti mengabsen menu makanan yang sudah aku makan benar-benar konyol. Aku dan Gery memesan makanan yang sama. Menu yang sama dan porsi yang sama.

Tertawa bersama seperti mengingatkan aku moment saat sedang berdendang di sebuah sanggar angklung entah berapa bulan yang lalu. Sekali lagi. Gery orang yang menyenangkan.

Canda tawa ini merembet sampai kemana-mana. Cerita tentang dirinya. Ternyata Gery mengambil jurusan teknik lingkungan. Bukan jurusan yang dia sukai tapi ia bisa bentahan sampai saat ini karena sudah tercebur lebih jauh. Jadi sekalian aja berenang dan basah semua. Berbeda dengan aku yang memilih teknik arsitektur karena aku ingin seperti ayah.

“Oya, cowo yang waktu itu jemput kamu di saung angklung…”

“Jordan”

Gery belum sampai titik tapi aku sudah potong kalimatnya lebih dulu. Ayam dan nasi di mulutku ini hampir membuatku tersedak karena tiba-tiba Gery menanyakan Jordan. Gak sampai batuk-batuk kayak nenek, aku sudah buru-buru menelan gumpalan nasi dan ayam ini dengan dorongan soft drink.

Aku baru sadar kenapa Gery tiba-tiba menanyakan Jordan.

Handphoneku yang sedari tadi tergeletah pasrah di depan piring kini sudah tergenggam pasrah di tangan Gery. Berdampingan dengan handphone Gery di tangannya yang lain. Handphone kami ternyata memiliki tipe yang sama, Cuma beda warna. Entah apa yang sedang dia lakukan. Mungkin sedang memindahkan file mp3 via bluetooth atau apalah. Pertanyaan tentang Jordan? Ya sudah pasti akan Gery tanyakan. Aku pasang foto berdua dengan Jordan di wallpaper handphoneku.

“Okey, Done. Kalau begini kan kita bisa ngobrol kapan aja”

Gery mengembalikan handphoneku ke posisi semula. Ternyata dia menukarkan pin blackberry.

Terjadi lagi. Entah ini untuk yang kesekian kali. Senyum sumringah yang tak sempat aku bayangkan akan selebar apa tersembunyi dengan sempurna di balik bibirku yang mengatup dan rahang yang masih terus mengunyah.

Tanpa sengaja aku melirik wallpaper di handphone Gery. Aku seperti familiar dengan bercak warna yang ber-background hitam itu.

“Aku mau pesan cream soup”

Tiba-tiba Gery menggerakkan tubuh seperti hendak berdiri.

“Aku juga mau”

“Okey”

Aku buru-buru menggeser handphone Gery yang sengaja dia tinggalkan di atas meja. Kini foto yang terpajang jelas di wallpaper handphone Gery cukup membuat pupil mataku melebar. Lensa mataku memfokuskan bayangan dari setiap sisi foto yang sangat aku kenal ini. Foto setahun yang lalu. Bercak warna itu adalah kembang api di langit PRPP yang hitam legam. Ada aku dengan ekspresi bingung dan Gery dengan senyum lebarnya.

Pasti Gery punya alasan khusus terhadap foto ini.

Jantungku seperti tak terkendali. Kenapa aku seterkejut ini?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?