Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kedua Kali (aku sebut ini lebih baik) #28

Ribuan potongan kertas sebesar kuku berjatuhan. Laksana hujan dalam ruang raksasa PRPP. Sebagian ada yang berwarna gold dan silver. Memberi kesan berkilau saat memantulkan cahaya lampu yang menembakkan warnanya ke berbagai arah. Ini dia celebration penutupan acara puncak event national building. Sama persis seperti yang aku alami setahun yang lalu.

Aku seperti mundur dengan kecepatan tinggi dan menginjak lantai yang sama namun di waktu yang berbeda. Dulu aku dengan jas almamater kampus yang masih melekat di tubuh. Jingkrak-jingkrak kegirangan di bawah panggung bersama teman-teman sesama regional bandung. Meneriakkan yel-yel yang membakar ego ku untuk menggerakkan seluruh sendi-sendi tulangku. Aku lepas kontrol. Tapi saat itu gak ada yang perduli. Semua juga pada fase yang sama. Fase kegembiraan bisa bergabung dengan beasiswa sehebat ini. Mungkin terhebat di negeri ini.

Satu kedipan mata aku kembali ke dimensi waktu yang benar. Bukan setahun yang lalu. Aku berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Melihat adik-adik angkatanku tersenyum lebar dan berjingkrak-jingkrak di depan sana.

Lampu sorot masih asik bermain dengan engselnya. Musik gegap gempita dari band dan orkestra masih mengalun. Bintang tamu masih bernyanyi dengan lihainya untuk memaksimalkan flow acara. Aku menikmati sekali atmosfir ini.

“Gak kerasa yah, padahal setahun yang lalu kita ada di sana”

Entah sejak kapan Nadia berdiri di sampingku. Sembari berbicara, matanya tidak menatapku. Matanya memandang jauh ke depan sana. Ke depan panggung. Tubuh yang sedikit bergoyang. Pasti dia sedang menahan egonya untuk ikutan berjingkrak di depan sana. Sebut aja pencitraan LO.

***

“Re, Bandung sudah siap semua?”

Pak Herman tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang.

“Siap pak. Talent dan choir sudah ngumpul semua, tinggal naik bus”

Pak Herman, pembina regional Bandung, hanya menganggukkan kepalanya sekali kemudian berlalu di hadapanku dan menghampiri LO yang lainnya.

Peserta national building dibagi dua kelompok, tim choir dan tim talent. Yang paling sulit itu mengkoordinir tim talent karena mobilitasnya lebih tinggi. Bolak-balik dan keluar masuk panggung. Center of gravity nya ada di back stage. Kalau choir hanya duduk manis di tribun yang sudah disediakan panitia. Tapi yang penting, untuk peserta regional Bandung sudah berhasil dikumpulkan oleh LO dan siap untuk langsung naik bus.

Bersama LO Bandung yang lainnya, kami menuntun peserta untuk keluar dari gedung PRPP dengan teratur. Seketika menginjak lantai parking area yang berlapis aspal, mata ini otomatis menatap langin PRPP. Masih hitam legam, sama persis seperti setahun yang lalu.

Satu dentuman keras dari kejauhan sana. Disusul dentuman berikutnya yang benruntun gaduh seperti suara pistol saat perang. Tapi aku gak perduli dengan kegaduhan itu. Pantulan warna warni bercak kembang api menari-nari di retina mataku.

Kaki ini lupa bergerak. Mata ini lupa berkedip. Kembang api memang menyita hampir seluruh saraf motorik dan panca inderaku. Aku malas memikirkan durasi. Aku gak perduli harus berdiri lama hanya untuk kembang api ini. Senyum ini mewakili perasaan hati yang mendadak senang. Tidak terlalu senang. Senang yang cukup. Cukup untuk melengkungkan bibirku.

“Say cheese, Rea”

Gery. Masih dengan tenaganya. Tubuhku berputar 180 derajat membelakangi kembang api. Satu tangan hinggap di pinggangku. Tangannya yang lain memegang camera pocket yang membidik ke arah kami. Seketika aku ikut tersenyum lebar. Tangan kiriku membalas rangkulan Gery. Tubuhnya jadi sedikit membungkuk karena aku merangkul bahu Gery.

Selesai blits berkedip, tanganku meredakan rangkulan di bahu Gery. Gery menyesuaikan pergerakanku. Kini kedua mata kami menatap hasil jepretan di layar camera. Aku dan Gery memiliki senyum yang sama lebarnya. Seketika gelak tawa membeludak.

Pikiranku nanar hingga memutar kembali kejadian setahun yang lalu. Kejadian di bawah langit PRPP. Kemudian aku bandingkan dengan kejadian yang baru saja aku lewat. Satu tahun membawa banyak perubahan. Gery seperti memikirkan hal yang sama.

Apa akan memicu perubahan yang lebih jauh lagi? Tiba-tiba aku khawatir. Apa yang aku khawatirkan, aku gak tahu.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    ayooo…manaini part 29-nya ???

    in process masbroo hahaaha

    August 2, 2012 at 10:25 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 2?