Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

I Won’t Stop, No Way #6

Semangat harus konstan karena perjuangan masih panjang. Memang sudah di depan mata tapi bukan berarti diabaikan.

Aku inget banget waktu ada jadwal latihan seperti biasa jam 5 sore di lantai 3 gedung perpustakaan. Hujan besar dan harus menunggu beberapa saat supaya teman-teman yang masih berjuang dengan hujan di sana bisa tetap hadir. Ternyata terjadi kesalahan teknis. Bukan kesalahan sih tapi ada yang rusak. Ya, speaker gak bisa berfungsi dengan semestinya. Keyboard was not working without sound system.

Continue reading

Jinggaswara Goes To Ranggagempol #5

Karantina. Langkah ini dipilih Kak Ijal sebagai ketua Jinggaswara untuk lebih mengefektif dan efisienkan waktu latihan yang hanya tinggal beberapa bulan lagi menuju FPS 2010.

Rumah yang digunakan untuk karantina ini rumah Teh Nanda Tarda di daerah Ranggagempol, Bandung. Termasuk aku yang selalu menyempatkan waktu untuk stay di sana sampai beberapa hari. Bahkan bukan cuma jadi tempat karantina, tapi rumah ini udah jadi saksi bisu kegigihan teman-teman Jinggaswara latihan. Entah tetangga harus terganggu atau justru menikmati suara kami semua heheheheee… semoga mereka menikmati.

Continue reading

Dendam Sopran #4

Terus berpegang teguh dengan keyakinan bahwa aku bisa lebih baik dari JB Maunier yang hanya bocah 14 tahun. Kelak suaranya pasti akan menurun, toh ujung-ujungnya gak akan jauh dari Tenor. Aku? Aku perempuan dan dianugrahi Tuhan suara sopran. Ini wilayah kekuasaanku. Ini range suaraku.

Ya pikiran ini yang terus aku ulang-ulang sampai mantap. Sampai paten. Sampai jadi harga mati. Sampai-sampai aku punya satu selogan yang selalu aku serukan ke teman-teman sopran. Dendam sopran. YEAH!!!

Continue reading

Kabar #23

“Ini dia!”

Sadar akan suaraku yang nyaris menggelegar seantero perpustakaan, aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku rasa ini cuma sugesti semata. Ratusan rak buku yang ditata nyaris berdempetan. Bagaimana kalau ratusan rak buku yang tingginya lebih dari dua meter ditata berjejer dan jarak antar rak kurang dari setengah meter. Lebih tepatnya seperempat meter. Yang ada suaraku gak akan sampai bergema seperti di dalam goa karena terhalang rak buku raksasa ini.

Continue reading

Keluarga Pratama (potongan kenangan ayah) #21

Suara ramai seperti menggumpal di ruang tengah. Bernard dan om Pratama sudah datang.

Bernard yang langsung menatapku lekat-lekat begitu aku dan Jordan nampak di hadapannya. Sama seperti yang aku lihat di foto. Tinggi badannya hanya sekian centi lebih tinggi dari jordan. Wajahnya setengah bule tapi masih dominan Indonesia. Rambut dan alisnya cokelat tua, cocok dengan namanya, Bernard Brown. Kulitnya putih pucat seperti bule pada umumnya tapi ada yang menarik dari Bernard. Iris matanya biru, biru cerah. Membawa kesan ceria.

Continue reading

Malaikat #20

Ada suara jepretan kamera dari arah pintu. Gak kaget, lapisan cream cheese yang sudah hampir selesai juga masih rapi. Aku menegakkan kepala dan Jordan sudah di tepi pintu dapur dengan kamera dari handphone blackberry yang menghadap kearahku. Senyum tipisnya sudah nangkring di wajah dewasanya sejak mata ini tertuju pada si sumber suara.

Continue reading