Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Operasi Patah Tulang Cedera #30

Suasana sore di bawah langit kota Bandung itu surga dunia. Sinar matahari masih semangat tapi langit biru di atasnya teduh. Udara yang sejuk memberikan kesan hangat setelah menyatu dengan suhu sinar matahari. Aku sebut itu balancing themperature hehehee.

Aku tarik dan hembuskan nafas ini berkali-kali. Seolah-olah esok enggan bertemu suasana seperti ini lagi. Yah, ini waktu luang berharga di sela-sela tugas kuliah yang makin tinggi levelnya makin ganas aja.

Aku duduk sendiri di susunan tribun yang mengitari lapangan basket di kampusku. Tribun yang terbuat dari semen. Semennya hangat setelah terjemur seharian. Aku suka. Sambil menyimak cerita Jordan di emailnya yang ia kirimkan beberapa jam yang lalu. Entah ini email yang keberapa. Sebulan bukan lagi sekali tapi bisa dua sampai tiga kali. Banyak hal menarik yang tak kuasa dia pendam sendiri jadi selalu dia luapkan ke dalam cerita di setiap emailnya.

Aku hembuskan pelan-pelan nafas ini dan masih tersenyum menatap tab sebesar buku tulis.

Jordan cerita tentang pengalaman pertamanya praktek di salah satu rumah sakit di sana. Jordan menangani seorang gadis usia sekitar 16 tahun yang cedera mengalami cedera di tulang kering kaki sebelah kirinya. Bukan hal yang spesial sebenarnya. Tapi kejadian ini mengingatkan Jordan tentang moment pertama kali dia bertemu denganku. Kejadiannya sama persis. Pertemuan beberapa tahun yang lalu.

***

Gelap. Pusing. Bingung dan berat. Kelopak mataku berat. Suara apa ini? Berisik. Suaranya berirama. Teratur. Tapi lantang dan ini mengganggu. Masih berusaha mengangkat kelopak mata yang buru-buru ingin tahu, benda macam apa yang berbunyi seperti ini?

Jari tanganku mulai bisa bergerak. Tapi ada sesuatu yang ada di jari telunjukku. Jari telunjuk di tangan kiriku.

Yeah, akhirnya aku bisa melihat. Masih buram. Okey tunggu beberapa saat sampai mata ini bisa fokus. Tapi bukan berarti rasa penasaranku juga harus ditunda. Pelan-pelan aku tolehkan kepala ini ke kiri. Sebuah alah yang menampilkan grafik yang dinamis setiap detiknya. Ini alat pendeteksi detak jantung. Aku gak tahu apa namanya. Jariku? Ya, mendeteksi denyut nya dari jari telunjukku.

Kaki kananku? Kenapa ini?

“Kamu sudah siuman, Rea?”

Seorang suster tiba-tiba sudah hadir di salah satu sisi tempat tidurku. Senyumnya ramah tapi masih buram. Dimana kacamataku?

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, suster itu sudah berlalu entah kemana. Bagus lah aku gak harus repot-repot. Untuk bicara dengan alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulutku ini memang bikin repot.

Operasinya berjalan lancar? Tapi kaki kananku mati rasa.

Tiba-tiba datang seorang dokter diikuti seorang wanita dewasa yang aku hafal sekali gaya berpakaiannya. Begitu dekat dan bunda pelan-pelan memakaikan kacamata. Sangat hati-hati agar tak mengganggu alat pernafasan yang menutupi setengah dari wajahku ini. Dokter itu ternyata om Anggara.

“Selamat Rea, operasinya berjalan dengan lancar. Tapi untuk beberapa saat kamu libur dulu yah dari ekskul basket”

Walaupun om Anggara mengucapkan kalimatnya dengan lemah lembut dan senyum ramah tapi aku terganggu dengan kalimat terakhirnya. Dahiku berkerut. Bunda paham itu artinya aku gak setuju. Tangan bunda tak henti-hentinya mengusap-usap lengan tanganku. Ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan bunda untuk meredakan emosiku. Aku kapten tim basket putri, mana mungkin aku harus berhenti.

Sebentar, bukan berhenti tapi libur untuk sementara. Okey, maafkan aku, bius ini masih menidurkan beberapa sel di otak jadi aku belum mencerna kalimat om Anggara secara seksama.

“Selama kamu mengikuti semua saran om dan bunda, kamu pasti bisa cepat pulih. Satu lagi, kamu harus melewati beberapa terapi agar tulang kakimu ini cepat sembuh”

Pasti butuh waktu yang gak sebentar kalau begini caranya. Sebentar, aku di rumah sakit?

Aku baru menyadari hal ini. Aku cepat-cepat menatap bunda yang sedari tadi ada di sampingku. Membelai lengan tanganku. Aku tatap mata bunda. Tapi tak ada yang sedang dia tutup-tutupi. Bunda hebat. Aku pikir bunda gak akan menemaniku di sini setelah traumatik atas kepergian ayah di ruang operasi. Maafkan aku bunda. Ini gak akan terjadi dua kali. Aku janji.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?