Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi (tidak mau atau tidak akan) #29

“Re, masih packing?”

Aku lihat Nadia sudah siap. Koper di samping kakinya sudah tertutup rapat bersama satu gembok mungil mengunci resletingnya.

“Tinggal sedikit Nad. Bentar lagi juga beres”

Aku hanya lihat Nadia sekilas setelah dia menanyakan proses packing ku yang tak kunjung selesai. Pandanganku kembali ke dalam isi koper yang masih berantakan. Sebenarnya sudah mau selesai. Tinggal disusun ini itu sampai rapi.

Semalam aku lupa packing sebelum tidur. Sepulang dari PRPP. Aku sudah terlalu lelah. Nadia juga sama lelahnya bahkan lebih dulu ambruk ke atas kasur. Tapi entah kenapa urusan packing dia bisa lebih cepat dariku. Mungkin itu keterampilan yang dia miliki. Besok-besok aku bisa berguru dengannya.

Nadia tampak ragu dengan jawabanku. Nampak tak sinkron dengan handuk, beberapa lipatan baju kotor dan alat mandi yang masih beserakan di atas kasur. Belum berpose manis di dalam koper. Ya aku tahu dia berpikir demikian. Wajahnya yang bengong dan terkesan terlalu mengamati terpampang jelas. Bahkan aku bisa lihat itu walau sekilas.

“Aku duluan aja Re. Sekalian mau cek anak-anak”

Seketika kepala ini mendongak ke arah Nadia. Punggung ini menegakkan dirinya setelah aku terbungkuk-bungkuk saat menata isi koper yang aku letakkan di atas kasur.

“Ya, aku rasa itu lebih baik dari pada kamu bengong melihat betapa leletnya aku packing”

“Efisiensi waktu?”

“Yep!”

“Check out?”

“Aku yang handle. Kamu cek aja anak-anak”

“Okey”

Nadia tak perlu lama-lama lagi mengamati aku sampai mati gaya. Sekali ayunan, koper kecil Nadia sudah bergelinding sesuai dengan kecepatan langkahnya. Yang terdengar sekarang langkah kaki Nadia yang ringan dan sedikit cepat semakin samar-samar hilang.

Sedikit lagi. Aku tarik 2 kepala resleting hingga bertemu di puncak koper. Satu kali tekan gembok mungil hingga terkunci. Selesai.

Aneh. Seketika aku mendengar lagi suara langkah kaki mendekat. Lebih berat dan pelan. Masa iya Nadia kembali lagi ke kamar? Aku lirik kartu kunci kamar yang tergeletak manis di atas meja. Ada dua kartu. Memang gak semestinya Nadia bawa kunci kamar toh aku yang urus masalah check out kamar ini.

Langkah itu berhenti. Tepat di depanku. Di ambang figura pintu.

“Hai Gery”

Sapaanku gak dijawab Gery. Tadinya aku senang dan tersenyum dengan spontan. Yah, spontanitas ini semakin terlatih selama aku berada di Semarang. Setelah bertemu lagi dengan Gery. Bertemu lagi.

Sebentar. Ekspresi apa itu? Aku bahkan gak bisa menafsirkan suasana emosinya yang biasanya mudah terbaca seperti buku yang terbuka. Gery sangat ekspresif untuk bebagai hal. Kali ini apa? Aku dibuat bingung.

Aku masih berdiri terpaku di tempatku. Gery melangkah mendekat. Dan aku baru sadar kalau ternyata Nadia gak menutup pintu saat pergi jadi Gery juga gak perlu mengetuk pintu untuk masuk.

Langkah pertama, matanya nanar mengelilingi sekitar kamarku. Sudah gak ada lagi barang-barang kecil yang berserakan. Langkah kedua, Gery menatap koperku yang sudah berdiri dengan gagahnya di sebelah kakiku. Langkah ketiga, kembali menatapku lekat-lekat dan berhenti. Ini langkah terakhir. Tapi masih ada jarak sekitar setengah meter antara aku dan Gery.

Aku mengulangi urutan sudut pandang Gery tadi. Sekeliling kamar sudah tak ada lagi barang-barang miliku dan Nadia yang berserakan. Koper kecilku juga sudah siap menggelinding hingga lobby hotel.

Tatapan mataku terhenti saat aku tahu. Aku paham. Aku baru mengerti. Ini saatnya aku kembali ke Bandung. Gery? Kembali ke Malang. Itu artinya…. Itu…

Walau hanya bergumam dalam hati tapi ini cukup buat aku terbata-bata hanya untuk mengeja satu kata yang tak seberapa ini.

“Gak bisa stay untuk sehari lagi yah?”

Suara Gery akhirnya terdengar. Suara yang lebih mirip parau. Ada beban yang ditanggungkah atau apa? Atau Gery lagi sakit? Mau sakit atau apalah, aku gak perduli. Masih berkutat dengan analisis tentang ekspresi aneh di wajah Gery.

Seketika berat untuk mengakui. Memang aku menunggu saat-saat seperti ini. Menunggu untuk bertemu Gery lagi. Melihat senyum yang sekarang jadi senyum favoritku. Mendengar ocehannya yang cukup membuat indera pendengarku tak berhenti bekerja. Dan aku harus bisa bertahan tanpa semua ini? Setelah seluruh organ tubuhku terbiasa dengan keberadaannya yang tak pernah jauh?

Aku melangkah mendekati Gery. Bukan untuk berjabat tangan atau tersenyum bersama di depan camera. Langkahku berat. Kini aku mengerti. Pantas saja langkah Gery pun sama beratnya dengan ku. Berat untuk pergi.

Aku tak tahu harus bicara apa. Mulutku terkunci rapat walau tak ada gembok yang bergelantung di bibirku. Aku hanya bisa menatap Gery. Aku yakin, kini wajahku sama anehnya dengan Gery.

Satu tanganku melayang ke atas lengan jaket yang dikenakan Gery. Lebih mirip menggengam erat lengan jaket Gery, bukan tangannya. Mataku gak sanggup lagi memandang Gery terlalu jauh. Cuma buat aku sesak nafas.

“You will always find me, Rea. Because I won’t go to anywhere”

Setengah detik setelah suara Gery menggema di corong telingaku, aku membanting fokus kedua mataku. Seutas senyum Gery tiba-tiba hadir.

Aku lega. Entah karena apa. Aku juga ikut tersenyum. Aku tenang. Minimal aku tahu. Aku gak perlu beradaptasi lagi karena Gery akan selalu bisa aku temukan. Tak akan jauh.

Maafkan aku Jordan. Untuk apapun yang kini terjadi begitu cepat.

Ego ini mulai mendoninasi. Mungkin sampai beberapa saat kedepan. Tuhan, apa ini dosa?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
Tag: ,
  • dodod says:

    Laporin rea ke jordan ahhhhhhh…..

    August 3, 2012 at 12:44 am
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    Laporin rea ke jordan ahhhhhhh…..

    hahahah sok ath gak takuut ahahhaa

    August 3, 2012 at 2:10 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 plus 4?