Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Belum Sembuh Total #32

“Selamat ya”

Suara Jordan terdengar ceria. Seperti bersemangat ingin cepat-cepat merayakan kesembuhanku. Nada ini membuatku nyaman. Tapi ada yang aneh dari kalimat Jordan.

Selamat? Untuk kesembuhan kakiku?

“Terlalu pagi”

Tidak segirang intonasi nada bicara Jordan. Nada bicaraku justru lebih datar. Karena memang terlalu pagi. Toh masih harus melawati beberapa tahap fisio terapi. Sembuh itu kalau aku sudah gak membutuhkan dua tongkat yang selalu aku kepit diketiak ini.

Terapi kali ini seperti balita yang baru belajar berjalan. Ada dua tiang mendatar sejajar tanah. Itu tempat kedua tanganku meraba. Jadi aku berjalan diantara dua tiang tersebut, tanpa tongkat. Panjang tiang tersebut sekitar 5 meter. Tapi baru berjalan 1,5 meter, betisku mulai terasa ngilu. Sempat berhenti beberapa saat, menunggu rasa ngilu itu reda kemudian latihan berjalan diulang lagi dari titik awal.

Jordan tak hanya mengantarku ke tempat terapi. Ternyata dia juga ikut ambil andil dalam fisio terapiku kali ini. Sebenarnya aku kurang paham kenapa staf fisio terapi bisa kenal dengan Jordan. Atau karena dia anak dari om Anggara yang notabene dokter spesialis bedah di rumah sakit ini? Bisa jadi. Gak hanya staf fisio terapi aja, tapi beberapa staf dari bidang lain pun melayangkan sapaannya ketika melihat Jordan melintas.

Selama belajar menapakkan telapak kaki ke atas lantai, aku berkali-kali lengah dan hampir jatuh. Tapi gak sampai jatuh karena Jordan dan satu staff fisio terapi standby di samping kanan dan kiriku. Cepat menopang tubuhku yang oleng. Ternyata memang sulit. Tulang keringku belum benar-benar siap menopang sebagian berat badanku. Hanya bisa menghela nafas setiap kali aku kehilangan keseimbangan.

Jordan tertawa ringan setelah mendengar tanggapan dingin ku. Sambil menunduk lalu memandangku yang berjalan seperti siput di samping kirinya. Siput yang berjalan sambil lompat-lompat kecil.

Tiba-tiba handphone Jordan berbunyi. Ada telpon. Entah dari siapa.

Suasana lorong yang sedang kami lalui cukup ramai jadi Jordan mencari tempat lain untuk bisa mendengar jelas suara si penelpon. Bisa jadi signal di sini juga buruk. Aku dengar Jordan berkali-kali mengulang perkataan yang sama. Haloo… Haloo…

Sebelum pergi Jordan memberikan isyarat dengan gerakan tangannya. Dia gak akan lama. Secepatnya akan kembali. Aku hanya menganggukkan kepalaku sekali. Aku mengerti. Selesai mengangguk Jordan langsung berlari kecil menuju luar lorong. Aku lirik handphone dari kantong jaketku. Emergency call only. Pantesan.

Belum banyak kesimpulan yang bisa aku ambil dari sosok Jordan. Entah dia selalu senang atau apa. Aku sering melihat dia tersenyum. Gak seperti aku yang mengeluarkan senyum hanya dalam kondisi tertentu. Diam itu lebih menyenangkan. Gak ada yang tahu dengan apa yang aku pikirkan. Walau terkesan seperti pemikir ulung.

Masih tertatih-tatih dalam melangkah. Aku berjalan dengan kepala menunduk. Aku takut jatuh karena tersandung.

“Dokter Vanyaaa…”

Suara teriakan seorang wanita dari arah belakang cukup mengagetkanku. Tak hanya aku, orang lain yang berada di lorong ini juga ikut terkejut. Diikuti hentakan kaki yang sama lantangnya dengan suara teriakannya. Berlari dengan sepatu wedges memang berisik.

“Dokter.. Dokter Vanya…”

Panggilan itu berulang. Seperti tak ada tanggapan dari orang yang dipanggil dokter Vanya itu. Suara hentakan kaki yang berlari mengejar dokter Vanya semakin terdengar jelas.

Jauh di depan sana. Jordan sudah kembali. Berjalan tergesa-gesa. Diselingi dengan larian kecil. Senyum ringan dari kejauhan sudah terlihat. Tapi senyum itu pudar. Mata sipitnya terbelalak memandangku. Aku bingung. Ada apa?

Langkahnya melambat, hampir berhenti. Tak benar-benar berhenti. Tangan kanannya menjulur ke arahku yang masih 5 meter di depannya. Mulutnya terbuka seperti hendak memanggil namaku.

buugg!!!

Satu tongkatku terlempar entah kemana.

“Reaaa…”

Itu suara Jordan.

Aku hanya meringis. Wanita yang sedari tadi membuat keributan di lorong ternyata seorang suster. Aku lihat dia tersungkur di sampingku. Aku jatuh terduduk dengan lutut kiri sebagai tumpuan berat badanku.

Andai aku berkuku panjang. Lantai marmer ini mungkin sudah terkoyak. Rasa apa ini ya Tuhan. Sakit. Sakit. Sakit. Bukan main sakit. Benar-benar sakit. Aku gak bisa bergerak. Hanya untuk bangkit. Sakit sekali.

Air mata meleleh dari kedua mataku. Mengalir di tungkai hidungku dan menetes di lantai marmer. Aku seperti mencium lantai. Bukan. Aku kesakitan. Kedua tanganku ingin angkat tubuh ini tapi hanya bisa gemetar di tempat.

Aku dengar Jordan berkali-kali memanggil namaku. Mulai dari berteriak hingga berbisik sedikit lirih.

“Sakit… Sakit…”

Kalau aku bisa temukan kosa kata yang lebih mendeskripsikan rasa di sekujur kakiku ini. Aku akan meneriakkan kata itu. Tapi sayangnya aku gak tau istilah apa lagi yang lebih sakit dari kata sakit. Teriak pun sudah tak ada daya lagi. Seperti teriakan orang yang kehilangan suaranya. Bisikanku parau.

Hiruk pikuk seisi lorong memekakkan telingaku. Aku mendadak tuli. Hanya ada satu saraf yang dominan. Sakit di kaki kiriku.

Wajahku basah karena keringat dan air mata. Masih mengigau sakit.

Ada rasa lain selain sakit. Itu tangan Jordan yang membopong tubuhku. Tapi penglihatanku sudah terlampau kabur karena kacamataku hilang entah kemana dan terbias oleh air mata.

Tuhan ini sakit sekali

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • Ndee says:

    wah,, udah tingkat sinuhun nih.. he he he,, karena minta saran, aku cuma mau bilang kalau gaya bahasa harus dipertegas, :),, sekali baku, tetapkan baku, kalau mau pakai kata2 gaul ex: gak de el el, bagusnya ya gaul semua, #soktahu… :)
    oh iya,, penulisan bahasa asing seperti fisioterapi(kalopun ntu udah diserapkan) harus miring yaa.. supaya terkesan profesional gitu, hihihi… #sokberpengalaman :D

    semangat nulisnya ya

    August 6, 2012 at 10:31 am
  • ayu emiliandini says:

    Ndee :

    wah,, udah tingkat sinuhun nih.. he he he,, karena minta saran, aku cuma mau bilang kalau gaya bahasa harus dipertegas, :),, sekali baku, tetapkan baku, kalau mau pakai kata2 gaul ex: gak de el el, bagusnya ya gaul semua, #soktahu…
    oh iya,, penulisan bahasa asing seperti fisioterapi(kalopun ntu udah diserapkan) harus miring yaa.. supaya terkesan profesional gitu, hihihi… #sokberpengalaman
    semangat nulisnya ya

    iyah iyah masih bingung sebenernya masalah gaya bahasa… hehehe.. untuk tulisan bahasa serapan baru tau kalo mesti di tulis miring.. setau aku bahasa asing aja… iyah deh besok-besok di edit lagi buat kata2 asingnya…
    thank you so much… (^_____^)

    August 6, 2012 at 4:00 pm
  • Ndee says:

    aha ha ha ha,, saya juga salah ketik mbak,, yang dalam kurung tuh maksudnya ‘kecuali’, bukan kalopun.. aduh maaf yah,, bego sih … :(((

    August 7, 2012 at 10:34 am
  • ayu emiliandini says:

    Ndee :

    aha ha ha ha,, saya juga salah ketik mbak,, yang dalam kurung tuh maksudnya ‘kecuali’, bukan kalopun.. aduh maaf yah,, bego sih … :(((

    ahahaha gapapa lah toh aku juga gak ngeh klo salah tulis hahaha

    August 7, 2012 at 9:58 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 8?