Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Lutut (mental pemenang) #33

Entah sudah berapa lama aku hanya diam disini. Diatas ranjang pasien. Ranjang yang memuakkan. Diatas ranjang itu tak jauh berbeda dengan orang lemah. Aku benci kondisi seperti ini. Berbagai cara aku coba hanya untuk menggerakkan jari-jari kaki kiriku, tapi itu semua nihil. Perihnya seperti menyeruak ke berbagai arah. Satuan radius? Mungkin.

Ingatanku tentang turnamen saat itu. Ibarat dvd dengan kualitas gambar terbaik. Masih jelas. Seperti segar dalam ingatanku. Turnamen persahabatan antar SMA yang seharusnya akan berdampak baik. Kata persahabat di belakang kara turnamen mengisyaratkan pertandingan yang sportif. Tapi aku rasa gak untuk lawanku saat itu.

Seperti dalam tekanan karena tim yang aku pimpin akan mencapai kemenangan mutlak setelah angka seri 17-17. Dengan satu tree point, timku akan unggul tiga point di detik-detik terakhir. Kondisi ini sudah terbaca lawan. Baru beberapa centi aku melompat dari sayap kanan untuk mencetak tree point, tiba-tiba ada daya luar biasa besar menghantam punggungku. Bola belum sempat beranjak dari kedua telapak tanganku tapi tenaga itu membanting tubuhku ke lantai. Dan ada yang menimpa betis kiriku. Yang aku ingat, ada suara mirip seperti ranting kering patah. Setelah aku memutar pandangan ke belakang, ternyata satu seorang tim lawan sedang menimpa kakiku dengan berat badannya. Alih-alih melemparkan pukulan ke pelipisnya, aku hanya menjerit kesakitan. Tulang keringku patah.

Timku? Aku tutup telinga masalah ini. Lebih baik aku gak tahu bagaimana hasil turnamennya.

Berbulan-bulan pincang dengan dua tongkat yang aku kepit di ketiak hingga akhirnya kakiku terbebas dari gibs. Baru merasa sedikit senang aku justru kembali tersungkur ke lantai marmer rumah sakit. Seorang suster ceroboh yang berlari-lari panik memanggil dokter karena ada pasien yang hendak melahirkan. Suster pemula. Dia korbankan lututku untuk pasien melahirkan? Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku berkali-kali.

Belum kuasa menggerakkan jemari kaki kiriku. Ini benar-benar memuakkan. Kalau bisa aku jungkir balikkan ranjang ini, sayangnya aku gak bisa. Hanya meremas selimut hingga berbekas. Sedikit kusut di bagian yang aku genggang hingga tanganku berkeringat. Lututku sakit.

“Rea sayang, hari ini kamu belum makan. Ayo makan Rea”

Mungkin ini kalimat yang keseratus kalinya aku dengar sejak jam makan siang tiba.

“Aku gak lapar, bunda”

Ini juga jawaban yang keseratus untuk menanggapi ajakan bunda. Infus di tanganku ini membuat aku tak begitu lapar. Jadi aku rasa gak butuh mengunyah kalau nutrisi yang ada sudah masuk ke dalam tubuhku melakui selang.

Aku dengar bunda menghela nafasnya kuat-kuat. Aku harap bunda jera. Aku memang gak lapar. Aku hanya butuh apa pun yang bisa membuang rasa ngilu di lutut ini. Toh bubur itu gak akan bisa jadi bius untuk rasa sakit ini.

Maafkan aku bunda. Kali ini aku terlalu emosi untuk bisa menerima semua keadaan ini. Aku rasa bunda mengerti.

Ada beberapa langkah kaki. Langkahnya berantakan. Aku rasa lebih dari satu orang yang masuk ke dalam kamar pasien ini. Kamar ku sebagai pasien. Bunda bangkit dari tempat duduk tepat di sisi kanan ranjangku. Bunda berjalan lunglai ke arah pintu. Aku tahu ada yang berdiri di sana tapi aku gak tertarik untuk tahu siapa yang ada di sana. Di depan pintu sana. Pandangan mataku masih menatap lutut di balik selimut hangat ini. Kalau bisa kuhipnotis hingga rasa sakit ini hilang, tapi sayangnya aku bukan mentalis.

Sebagian langkah seperti menjauh. Aku bilang sebagian karena terdengar tak beraturan, itu pasti lebih dari sepasang langkah kaki. Tapi ada satu langkah kaki yang mendekat kearahku. Bukan bunda. Suaranya seperti dari sol sepatu pantofel.

Aku mengadahkan wajahku.

Jordan dengan tangan terlipat rapi di depan dadanya, tersenyum tipis. Senyum itu menggangguku.

“Kamu pikir ini lucu?”

Aku sedang tak ingin beramah tamah.

Jordan langsung paham dengan maksudku. Ia meredakan kedua tangannya yang kini bersembunyi dibalik kantung di jas putihnya. Senyumnya hilang. Berganti dengan wajah tanpa ekpresi.

Memandangku datar sambil berjalan mendekat. Semakin dekat dan duduk di sisi kanan ranjangku.

Pertama yang dia lakukan, melirik semangkuk bubur yang sudah tak hangat lagi. Mangkuk bubur yang masih penuh di atas meja. Kemudian kembali menatapku.

“Selang itu memang memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuhmu tapi bukan berarti kamu berhenti memberikan asupan makanan yang telah disediakan rumah sakit”

Tidak menatapku tapi menatap selang infus yang menancap di punggung telapak tangan kiriku.

“Aku gak suka bubur”

Tanggapan yang terlalu emosional. Aku memang gak suka bubur. Lembut tapi justru sulit untuk ku telan.

Jordan tak menanggapi kalimatku. Seperti ada yang ia tunggu.

“Kecuali makanan lembek itu bisa buat lututku kembali normal seperti sedia kala…”

Jangan harap aku akan tetap memakan bubur itu dengan dalih kesembuhan lututku. Tapi kalimatku yang satu ini dipotong oleh Jordan yang tiba-tiba angkat bicara.

“Kamu gak hanya butuh kesembuhan fisik, Rea”

Kini mata sipitnya memandangku lekat-lekat. Tanpa senyum.

“Dimana mental seorang pemenang yang selalu kamu tunjukkan di lapangan? Fisikmu lemah, mentalmu ikut-ikutan sakit”

Kenapa bawa-bawa mental? Kedua tanganku kembali meremas selimut hingga mengkerut.

“Kamu mau bilang mentalku lemah?”

“Kecuali kamu bisa bantah pernyataanku, Rea”

Gigiku bergemeletuk menahan emosi yang sedari tadi ingin meledak.

Jordan lekas bangkit dari kedudukannya. Berjalan mendekati pintu. Sepertinya dia mau meninggalkan ruangan ini. Tapi tubuhnya berbalik lagi. Memandangku lagi. Senyum itu hadir lagi.

“Bantah dengan tidakan yang bisa aku lihat, sampai bertemu di fisio terapi besok”

Kembali membelakangiku dan berlalu keluar ruangan. Kenapa dia begitu menyebalkan? Mengapa dia menantangku seperti ini? Berani-beraninya dia bilang mentalku bukan mental pemenang.

Sekarang kedua tanganku sakit. Aku mencengkram selimut terlalu kuat. Kini kedua tanganku merah dan panas.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 + 3?