Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Percakapan di Ruang Fisio Terapi #34

Kaki kiriku mulai terasa hangat.

Aku masih belum mampu menekuk kaki kiriku. Dari kamar hingga ruang fisio terapi, aku diangkut dengan ranjang pasien yang dilengkapi roda untuk bergerak. Ada dua pegawai rumah sakit yang membantu proses pemindahan.

Rasanya aneh. Semua orang memandangku. Ini benar-benar risih. Semua orang yang aku temui berjalan dengan kedua kaki mereka. Yeah, ada sebagian yang menggunakan kursi roda. Tapi tak separah aku, ranjang beroda.

Masih di ruang fisio terapi yang sama dengan terapi sebelumnya. Dua tiang besi mendatar sepanjang 5 meter juga ada disana. Sekarang dua pegawai rumah sakit dan satu suster sibuk menegakkan sandaran kasur supaya aku bisa duduk bersandar dengan nyaman. Selimut hangat yang menyelimuti setengah tubuhku kini sudah terlipat rapi di atas kursi dekat ranjang.

Seorang pegawai fisio terapi mendorong sebuah alat yang mirip seperti lampu yang biasa di pakai untuk membaca di atas meja. Tapi ukurannya lebih besar. Jari-jari lampu itu kira-kira 20 cm. Aku hanya menatap heran. Alat macam apa ini.

Lampu ini mengarah ke kaki kiriku.

Nyala. Sinarnya warna merah. Aku penasaran tapi aku sedang tak berselera bertanya ini itu. Toh dua pegawai rumah sakit, seorang suster dan seorang pegawai fisio terapi hanya memandang ku berkali-kali, tanpa bersuara. Aku terlalu malas. Aku tak membalas tatapan mereka. Gak penting.

“Selamat pagi”

Intonasi yang pernah aku dengar sebelumnya. Dua meter dari arah kiriku. Jordan berjalan santai dengan kedua tangan berayun ringan di sisi tubuh tegapnya. Senyum ini hadir lagi. Selalu. Tak pernah absen.

Masih diam tapi keceriaan itu hanya kubalas dengan tatapan kosong. Aku belum punya alasan untuk tersenyum.

“Alat itu akan membuat kakimu menjadi lebih hangat”

Aku mengikuti arah pandang Jordan. Lampu raksasa yang sinarna berwarna merah.

“Tujuannya untuk mencegah pembekuan darah di sekitar lututmu”

Memang perlahan-lahan mulai terasa hangat.

“Kamu terlihat lebih tenang, Re. Ini sebuah kemajuan”

Senyumnya semakin lebar. Ya, aku pun baru menyadari itu. Kemarin aku terganggu dengan senyumnya yang lebih mirip meledek. Tapi kali ini senyumnya cukup menghiburku. Jadi lebih baik.

“Bagaimana sarapan pagi ini?”

Sepertinya aku sudah bilang kalau aku gak suka bubur. Makanan lembut dan lembek yang tak akan pernah bisa aku telan. Rasa terhibur mulai memudar. Aku lebih memilih buang muka ke arah lain.

“Ya ya ya… Aku akan minta pihak rumah sakit untuk mengganti menu makananmu. Nasi tim?”

Kepalaku kembali berputar ke arah Jordan yang masih berdiri di sisi kanan ranjangku.

“Itu lebih baik”

“Okey. Berarti kamu gak punya alasan lagi untuk gak makan siang hari ini”

Jari telunjuk Jordan berayun maju-mundur seperti menuding dan mengingatkanku bahwa ini sebuah perjanjian antara pasien dan, hhmmm anak dokter mungkin? Atau dokter? Tapi Jordan menggunakan jas putih yang biasa dipakai dokter di rumah sakit ini.

Aku masih tak bergeming. Hingga akhirnya Jordan jera.

“Baiklah, aku rasa kamu butuh sendiri”

Sembari berjalan menjauh, kedua mataku mengikuti pergerakan langkahnya. Jordan menyadari itu. Langkahnya berhenti dan berbalik menatapku. Aku masih menatapnya kosong. Tanpa ekspresi.

“Aku gak mau mati bosan disini”

Memang akan sangat membosankan. Gak ada apa pun selain lampu raksasa yang bersinar merah.

Jordan tertawa kecil. Sedikit menunduk dan menatapku lagi. Masih tertawa. Sambil tersenyum dia kembali ke posisi semula. Di sisi kanan ranjangku. Ia tarik kursi tempat selimut hangat terlipat rapi diatasnya. Dia pindahkan selimut itu ke atas ranjang dan duduk manis disitu.

Satu tarikan nafas dan dia hembuskan kuat-kuat. Seperti mempersiapkan diri untuk menyimak apa pun yang akan aku lontarkan. Kini Jordan menunggu. Baiklah. Dari pada aku kesurupan karena bengong seperti orang aneh.

“Kamu dokter seperti om Anggara?”

Pertanyaan pertama. Aku rasa ini gak terlalu konyol untuk di jawab.

“Bukan. Tapi kelak aku akan seperti ayahku. Sekarang aku masih kuliah di bidang kedokteran. Beberapa bulan ini aku libur semester pendek. Ayah memintaku untuk membantunya di rumah sakit ini. Yah itung-itung magang sekalian cari pengalaman”

Benar-benar jawaban yang lengkap. Aku tak menyangka dia begitu luwes menjawab. Kalimat yang sudah tertata rapih. Aku butuh beberapa menit untuk menata kalimat sepanjang itu. Aku kurang terampil berbicara.

“Sepertinya semua orang di rumah sakit ini kenal kamu?”

“Tentu. Sejak kecil ayah sering ajak aku ke sini”

“Bermain di rumah sakit?”

“Ya. Itu sebabnya sistem imun tubuhku lebih kuat dari tubuhmu. Aku sudah terbiasa dengan aura orang-orang sakit di sini. Jadi aku lebih bebal dari penyakit”

Jawaban macam apa itu? Aku menyunggingkan senyum berat sebelah dan menahan tawa. Lelucon ala mahasiswa kedokteran. Jordan juga ikut tertawa renyah sambil membenarkan posisi kacamatanya.

“Sekarang giliranku”

Kini aku yang menyimak pertanyaan apa yang akan dia lontarkan.

“Aku pernah lihat kamu berlaga di lapangan basket. Tepatnya saat insiden patah tulang”

Aku terkejut. Mataku lebih mirip terbelalak. Tak bisa aku bayangkan ternyata Jordan sudah mengenalku sebelum insiden itu.

“Ayahku pernah bercerita tentang sahabat karibnya”

“Antonio Abraham, itu ayahku”

“Ya aku tahu”

Jordan masih tersenyum walau wajah sudah lebih serius dari beberapa menit yang lalu.

“Awalnya aku datang ke turnamen itu karena ingin menemui teman lamaku. Tiba-tiba suasana lapangan ricuh. Aku lihat kamu tertimpa pemain lawan yang tubuhnya setengah lebih besar dari tubuhmu. Setelah mendengar kabar, anak dari sahabat karib ayahku masuk rumah sakit karena cedera patah tulang, aku baru tahu kalo ternyata pemain bernomor punggung 9 itu kamu”

Oh aku salah. Dia belum mengenalku saat itu.

“Kamu kapten?”

“Ya, dulu”

Aku menjawab dengan asal-asalan. Kedua tanganku mulai mengepal perlahan. Mengingatkanku tentang kenyataan memuakkan ini.

“Sudah kuduga. Pergerakanmu sedikit berbeda dengan yang lainnya”

Jordan menghentikan perkataannya. Tarik nafas dan dihembuskan lagi.

“Kamu bisa mengalahkan lawan hanya dengan sekali tree point. Apa bedanya dengan mengalahkan lutut dan tulang kering kaki kirimu? Gak akan sulit untuk seorang kapten, kan”

Kini aku mengerti tentang  mental kemenangan yang kemarin ia bahas. Menang untuk melawan rasa sakit ini. Aku terperangah dengan untaian kalimat yang benar-benar membuatku berkobar. Semangat untuk cepat-cepat sembuh.

“Mental juara itu gak harus identik dengan piala. Yang harus kamu lawan saat ini adalah ketakutan yang menghantui pikiranmu, Rea”

Takut? Aku sekarang paham. Aku takut perubahan akan terjadi pada keadaanku. Aku belum siap dengan perubahan yang akan aku hadapi. Apakah aku masih bisa menggiring bola dan mencetak tree point lagi atau tidak. Itu yang aku takutkan.

Pelan-pelan aku menekuk bibirku seperti senyum kecil.

“Ekspresi itu jauh lebih baik, Rea”

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 plus 7?