Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Standing Applause #35

“Terapi hari ini selesai. Kamu hebat, Rea”

Pegawai fisio terapi yang menangani aku kali ini seorang wanita paruh baya yang luar biasa ramah. Senyum khas seorang ibu yang sabar. Bahkan sangat sabar. Lembut dan selalu tersenyum. Awalnya aku enggan menghiraukan keramahan ini tapi belum apa-apa aku sudah ikut tersenyum karenanya. Mungkin karena aku nyaman? Bisa jadi.

Bahkan hari ini ia berkali-kali mengatakan selamat atas peningkatan yang sudah terjadi. Aku sudah bisa berdiri dengan kedua telapak kaki ku. Tanpa gemetara dan menapak pasti. Minimal telapak kaki dan tulang keringku sudah membaik. Lebih dari membaik aku rasa.

Sudah kucoba berjalan selangkah dua langkah. Bisa tapi kemudian oleng dan hampir jatuh. Hampir karena bu Meta dengan cekatan menahan tubuhku. Aku kurang fokus. Aku panik. Kejadian saat seorang suster menabrakku dari belakang masih terlalu segar untuk membusuk di otakku.

Aku masih mau meneruskan terapi ini tapi waktu sudah habis. Bu Meta harus menangani pasien lain yang memiliki masalah yang sama denganku. Patah tulang.

“Ibu”

Suaraku memecahkan keheningan di ruang terapi. Tak ada siapapun di ruangan ini. Hanya aku dan bu Meta.

“Ya?”

Bu Meta harus membalikkan tubuhnya karena tiba-tiba aku memanggilnya. Bu Meta memunggungi aku. Bu Meta mulai beranjak meninggalkan ruangan. Kali ini masih tersenyum tapi seperti ada tanda tanya besar yang sedang ia pikirkan. Aku memanggilnya, lagi.

“Kenapa ibu selalu tersenyum? Memangnya apa yang sudah saya lakukan?”

Setau aku, seseorang tersenyum pasti ada sebabnya atau mungkin itu sebuah reward yang diberikan kepada orang yang ia tatap. Jadi apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku harus mendapatkan reward itu?

Lekuk wajah yang semakin memperlihatkan kerut di sekitar sudut bibir dan matanya. Walaupun sudah sore tapi wajahnya masih terlihat. Aku tahu, bu Meta bahkan sudah ada di rumah sakit ini jauh sebelum aku bangun dari tidur malamku. Apa karena ia selalu tersenyum dan itu membuatnya terlihat lebih ceria? Dan segar?

Bu Meta tertawa ringan sambil menghampiriku lagi. Ia membungkukkan tubuhnya. Wajahnya sejajar dengan wajahku. Kedudukanku lebih rendah karena aku sedang duduk di kursi sedangkan Bu Meta berdiri di depanku. Walaupun saat aku berdiri pun tinggi badan kami tak jauh berbeda.

Kedua tangannya bertumpu di atas kedua bahuku. Sepertinya wanita hangat ini akan menjelaskan sesuatu yang cukup serius. Kelopak mata yang kini kulihat dengan jelas. Banyak kerutan tapi tak membuatnya terlihat layu.

“Sebelum ibu menangani terapi untuk lututmu ini, ibu sudah membaca riwayat perkembangan kakimu, nak. Ibu takjup dengan semangat dan peningkatan yang konstan dari waktu ke waktu. Pasti membutuhkan mental yang kuat walau ibu sangat paham sekali. Berada di posisimu saat ini pasti sangat sulit. Kamu anggota tim basket dan sekarang harus berjalan dengan tongkat”

Aku masih menyimak. Antara gak percaya atau memang bu Meta sedang berusaha untuk menghiburku? Sorot mata seperti ini, aku yakin bu Meta sedang berkata jujur. Dari mana dia tahu aku anggota tim basket?

“Dokter Anggara banyak sekali cerita tentang mu, nak”

Aku hanya bisa tertawa karena kaget. Sedekat ini kah hubungan Bu Meta dengan om Anggara?

Bu Meta menegakkan punggungnya. Tangannya pun mereda dari atas bahuku. Aku masih menatapnya. Aku tahu bu Meta belum benar-benar menyelesaikan kalimatnya.

“Setiap pasien yang memiliki masalah patah tulang, pasti dokter Anggara meminta pertolonganku untuk menanganinya. Salah satu pasien itu adalah kamu, nak Rea. Dokter nampak sangat mengenalimu”

Jadi begitu. Aku paham. Benar-benar partner kerja yang baik. Aku hanya menggerakan kepalaku ke atas dan ke bawah seraya menggangguk-angguk kecil.

“Minggu depan kita coba lagi. Apa kamu bisa sampai ke pintu itu tanpa tongkat dan tanpa terjatuh atau tidak?”

Aku mengikuti arah pandang bu Meta yang sempat melirik pintu masuk ruang fisio terapi yang berjarak sekitar 10 meter dari kursi yang aku dudukin saat ini.

Keyakinanku seperti gumpalan salju yang bergelinding dari bukit. Menuruni lereng. Sebesar kerikil namun terus membesar. Semakin besar. Semakin kuat. Aku semakin yakin. Aku gak butuh waktu lama lagi untuk sembuh.

Aku masih tersenyum walau kini bu Meta sedang memunggungiku. Minggu depan aku masih bertemu dengannya lagi. Pasti akan menyenangkan. Bu Meta benar-benar hangat.

“Hello there. Sepertinya aku melewatkan moment terapi hari ini”

Itu Jordan. Kemeja biru tua dengan motif garis-garis vertikal. Lengan kemejanya dilipat hingga mendekati siku-siku tangannya. Tangan kanan menenteng kostum kedokterannya. Tangan Jordan yang lain membawa kantong plastik ukuran kecil berwarna putih transparan. Seperti minuman kardus. Susu kalsium?

“Aku tahu pasti kamu bertanya-tanya kenapa aku bawa susu kalsium khusus tulang. This is for you, captain”

Ya, Jordan selalu seperti ini. Setiap kali aku selesai terapi, pasti dia datang dengan susu kalsium kemasan kardus yang bisa langsung aku minum. Kali ini rasa cokelat. Aku suka cokelat.

Jordan nampak sedikit lesu. Apa iyah praktik laboratorium kali ini berjalan cukup rumit? Jordan pernah cerita kalau kampus tempatnya kuliah sudah menjalin kerja sama dengan rumah sakit ini jadi ada beberapa praktikum yang langsung dikerjakan di sini. Rumah sakit ini. Berhubung jadwal praktikum bersamaan dengan jadwal terapi jadi tadi Jordan sengaja jemput aku dari rumah.

“Minggu depan kita coba lagi. Apa kamu bisa sampai ke pintu itu tanpa tongkat dan tanpa terjatuh atau tidak?”

Perkataan bu Meta tiba-tiba merisaukan pikiranku. Bergema kencang di setiap sisi otakku. Terus menerus, berulang-ulang, dan aku sukses dibuat resah.

Aku tahu apa yang harus aku lakukan.

Buru-buru aku meletakkan kantong plastik pemberian Jordan ke atas meja. Kedua tongkat yang biasa aku pakai sebagai alat bantu berjalan, sedari tadi bersender santai di sisi meja. Kini aku menyodorkan kedua tongkat itu ke arah Jordan. Wajahnya makin terlihat lesu. Pasti Jordan bingung dengan tindakanku yang satu ini.

“Tolong pegang dulu”

Tanpa kata-kata Jordan meletakkan jas putih kedokterannya di atas meja dan mengambil tongkat itu dari tanganku.

“Sekarang kamu berdiri disitu”

Pintu masuk ruang terapi yang jaraknya sekitar 10 meter dari tempat Jordan berdiri. Selesai mengikuti arah jari telunjukku Jordan memutarkan kepalanya ke arahku. Putaran kepalanya aku rasa cukup kuat. Sebagian rambut Jordan bergeming. Matanya memelototiku. Dia sudah paham apa yang akan aku lakukan.

Aku menirukan senyum yang bu Meta tunjukkan pada ku selama terapi tadi. Percaya padaku Jo. Aku hanya ingin mencoba.

Masih dengan ekspresi yang tak bisa aku tafsir, Jordan akhirnya berjalan ke arah pintu. Begitu ia berbalik badan, aku sudah berdiri dari kursi. Dari kejauhan, wajah Jordan seperti tak berekspresi. Aku tahu, pasti dia sedang menunggu pertunjukan yang akan aku lakukan.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan.

Selangkah. Sukses. Dua langkah. Baik-baik saja. Masih sambil mengatur nafas dan emosi. Aku gak mau terlalu emosi kemudian jatuh.

Kedua kakiku berkoordinasi dengan baik. Walau masih tertatih-tatih. Entah energi apa yang bu Meta transfer ke dalam tubuhku. Semuanya terasa mudah. Kini aku sudah melewati setengah dari jarak 10 meter yang harus aku tempuh.

Aku lihat Jordan bergerak dari tempatnya. Dengan langkah lebar dan terburu-buru, ia datang mendekatiku. Aku terkejut. Pergerakannya tiba-tiba. Terlalu kaget hingga aku tanpa sadar menghentikan langkah dan diam ditempat.

Jordan memandangku lekat. Kenapa dengan kedua matanya? Tajam. Jordan marah? Memangnya apa salahku?

Rasa senang dan senyum yang sedari tadi menghiasi wajah kini memudar. Aku bingung dengan sikap Jordan yang satu ini. Ada apa?

“Walk with me please, Rea”

Itu sebuah permohonan? Aku gak ngerti. Jordan meminta aku berjalan bersama dengannya? Kemana?. Aku rasa bukan itu yang ingin Jordan sampaikan, tapi… hhhmm… Bukannya bertanya balik tentang maksud kalimat Jordan, aku lebih memilih diam.

Apa? Apa artinya ini?

Aku masih membalas sorot mata tajan Jordan. Itu bukan sikap kasihan yang selama ini aku asumsikan. Bukan juga sekedar empati dengan musibah yang sedang aku hadapi saat ini.

“Kamu gak perlu berusaha sampai sejauh ini. Cukup bersandar denganku dan kamu akan baik-baik aja”

Ini? Antara terperangah dan senang yang berbunga-bunga. Aku pikir sikap sabar yang dia tunjukkan padaku hanya sopan santun karena aku adalah anak dari sahabat karib om Pratama. Sahabat dekat ayahnya. Ternyata aku salah.

Let me think. Selama ini Jordan selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Sekolah dan terapi di rumah sakit. Melihat perkembangan kaki ku yang semakin membaik, itu artinya kelak aku bisa berjalan sendiri. Bisa melakukan ini itu sendiri. Jordan? Bisa jadi aku tak membutuhkan pertolongannya lagi tapi… Jordan masih membutuhkan satu alasan lain untuk bisa selalu hadir di sekelilingku. Bukan alasan khawatir atau hal-hal sederhana. Ya ya aku paham tapi sulit aku jabarkan.

“Thank you so much, Jordan”

Seketika tubuh tinggi tegap itu menarik tubuhku yang tak seberapa ini. Aku tenggelam dalam pelukan Jordan yang terkesan hati-hati.

“Trust me”

Dan kalimat itu yang membuat aku tersenyum dalam pelukan Jordan. You make me feel so special, Jordan.

Kedua mataku dikejutkan oleh kemunculan om Pratama dan bunda di balik pintu ruang fisio terapi yang terbuat dari kaca transparan. Aku buru-buru melonggarkan pelukan Jordan. Aku masih memandang mereka.

Jordan ikut membalikkan tubuhnya. Aku rasa dia tahu apa yang menjadi objek dalam penglihatanku. Tiba-tiba senyum dari bibir bunda dan om Pratama merekah begitu indahnya. Sebuah tangan Jordan memeluk bahuku. Pelukan ringan. Setelah aku alihkan kedua mata ini ke arah Jordan. Senyumnya juga ikut merekah. Jadi ini namanya senyum restu dan kebahagiaan? Aku senang melihat bunda bisa senyum seindah ini lagi. Aku juga ikut tersenyum. Euforia yang tak ku mengerti apa namanya tapi ini menyenangkan sekali.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ricardobenmorissimanjuntak says:

    asik

    August 7, 2012 at 7:40 pm
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    Cie cie cie….

    ciieee ciiiee kak dod

    August 7, 2012 at 9:36 pm
  • ayu emiliandini says:

    ricardobenmorissimanjuntak :

    asik

    asololee…

    August 7, 2012 at 9:37 pm
  • johantectona says:

    kerennnn…

    kamu punya bakat nak… :D

    masih ngowoh baca tulisan” kamu.. hihihiiii

    August 7, 2012 at 11:09 pm
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    kerennnn…
    kamu punya bakat nak…
    masih ngowoh baca tulisan” kamu.. hihihiiii

    awas itu ada yang ngalir dari mulut (re: iler) hahahaaa… makasih kak Jo.. walopun sometimes annoying..

    August 7, 2012 at 11:30 pm
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    ayu emiliandini :

    johantectona :
    kerennnn…
    kamu punya bakat nak…
    masih ngowoh baca tulisan” kamu.. hihihiiii

    awas itu ada yang ngalir dari mulut (re: iler) hahahaaa… makasih kak Jo.. walopun sometimes annoying..

    jo emangg selalu annoying dek… anyway… revisinya jadi bikin lebih jelas… mantab…

    iyaah makasih yaaah kakak-kakak ganteng… yipiii

    August 11, 2012 at 9:32 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 * 2?