Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Tiket (tolong aku Tiwi) #37

“Kenapa harus pulang di pertengahan bulan perkuliahan, Wi?”

Aku membuka pembicaraan selama perjalanan menuju stasiun Bandung. Suasana dalam mobil Tiwi tak terlalu canggung. Masih ada alunan musik dari siaran radio. Tapi aku rasa Tiwi gak akan terganggung kalau harus berbicara sambil menyetir. Bukan percakapan yang berat.

“Bukan pulang, Re. Ada seminar bisnis yang harus aku hadiri di sana. Kebetulan aja lokasinya di Malang”

Kampung halaman Tiwi. Sebenarnya kampung halaman ayah juga. Ayah pindah ke Bandung karena meneruskan studi di teknik arsitektur di kampus yang sama denganku saat ini. Kemudian bertemu dengan Bunda yang notabene asli dari tanah sunda. Jadi ayah memutuskan untuk menetap di sini. Kota Bandung.

“Kenapa harus jauh-jauh ke Malang? Memangnya gak ada seminar bisnis yang bagus di Bandung?”

Sebenarnya aku masih penasaran. Dan bingung. Memangnya ada bedanya ya? Ya, kalo ada instasi yang mengadakan seminar tentang bisnis di Bandung, untuk apa jauh-jauh ke Malang. Aku pikir itu sama aja.

“Bukan masalah kota nya, Re. Tapi materi dari seminarnya. Yah sekalian aku jenguk ibu walaupun cuma dua atau tiga malam”

Mungkin kalau aku jadi Tiwi, berada jauh dari orang tua, pasti kesempatan ini aku gunakan untuk menjenguk bunda. Ya, sekarang aku paham. Naluri untuk pulang juga selalu ada untuk anak kosan seperti Tiwi.

Aku dan bunda adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di Bandung. Tak seperti anak manja lainnya, Tiwi memilih untuk ngekos ketimbang menumpang di rumahku. Aku dan bunda gak keberatan dengan keputusannya. Dia ingin mandiri. Aku benar-benar salut.

Kembali terdiam. Gerbang stasiun mulai terlihat. Sampai

***

“Ada yang bisa kami bantu?”

Setelah antri beberapa saat akhirnya sampai juga di depan loket. Seorang wanita dengan pakaian rapi menyapa aku dan Tiwi dengan ramah.

“Saya mau pesan tiket kereta tujuan Malang untuk keberangkatan bulan depan”

Tiwi berbicara sedikit membungkuk supaya suaranya terdengar jelas oleh pegawai di dalam loket tiket. Ada lubang kecil untuk mempermudah transaksi yang dibatasi kaca transparan. Tiwi mendekatkan wajah ke lubang kaca itu.

“Sebentar ya, saya cek dulu”

Tiwi kembali menegakkan punggungnya. Pegawai wanita ini sibuk menggerakkan mouse dengan lincah. Pupil matanya terus bergerak kesana-kemari. Ada yang sedang ia baca dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian..

“Untuk pemesanan berapa tiket?”

Masih ada kursi kosong. Itu artinya bisa pesan tiket sekarang.

“Dua tiket”

Tiwi tercengang di tempatnya berdiri. Seharusnya hanya satu tiket karena cuma Tiwi yang akan pergi. Belum sempat ia menjawab pertanyaan pegawai itu, aku sudah mendahuluinya. Melihat ekspresi Tiwi yang memandangku bingung. Dahinya berkerut. Alisnya tertekuk di tengah-tengah. Pegawai tiket ini juga ikut bingung. Seperti masih menunggu kepastian. Matanya bolak-balik memandangku kemudian ke arah Tiwi dan memandangku lagi.

“Iya mbak, dua tiket tujuan Malang”

Begitu pandangannya kembali jatuh ke arahku, aku ulangin kalimatku dengan lebih tegas. Tak kupedulikan Tiwi yang masih menganga. Heran dengan tindakanku yang satu ini. Mungkin dia sedang berpikir, untuk siapa tiket itu. Untuk aku? Lantas untuk apa?

Pegawai tiket yang tadinya seperti orang bingung kini menganggukkan kepalanya sekali dan langsung bergerak kesana kemarin. Mempersiapkan tiket yang akan Tiwi beli. Bukan. Yang akan Tiwi dan aku beli.

Sukses meyakinkan pegawai loket di hadapanku. Kini aku menegakkan tubuhku hingga Tiwi bisa lebih mudah memelitotiku. Aku memilih untuk memasang wajah tanpa ekspresi.

***

Tiwi meletakkan secangkir teh jasmine hangat yang barusan ia seruput pelan. Masih panas. Uapnya masih mengepul dari dalam cangkir. Aku? Aku tepat dihadapan Tiwi. Duduk bersandar di sebuah kursi dalam cafe yang tak jauh dari stasiun.

“Lantas bagaimana hubunganmu dengan Jordan?”

Ini pertanyaan pertama yang Tiwi ungkapkan setelah aku ceritakan semuanya. Semua yang terjadi begitu cepat.

“Sebenarnya gak perlu kamu pahami sampai sejauh itu, Wi. Minimal kamu tahu alasanku untuk ikut pergi kesana. Aku rasa itu sudah cukup”

“Kamu yakin, Re? Kamu yakin pertemuan dengan Gery nanti gak akan berdampak lebih jauh? Jordan?”

“Kenapa ragu, Tiwi? Gak akan ada yang berubah antara aku dan Jordan”

Aku masih menafsirkan ekspresi wajah Tiwi. Antara ragu, gak percaya, dan khawatir. Matanya masih menyipit seperti ada yang ia fokuskan setiap kali melihatku.

“Maaf Rea. Aku hanya khawatir”

Yah salah satunya benar. Khawatir.

“Selama kamu lihat aku baik-baik aja, gak ada yang perlu dikhawatirkan”

Tiwi masih memaandangku aneh. Aku tahu pasti dia sedikit terganggu dengan keputusanku ini.

“Minimal setelah aku bertemu Gery kali ini, aku punya keputusan untuk menentukan bagaimana aku nanti. Bantu aku Tiwi”

Aku menggigit sebagian bibirku. Sebenarnya aku takut. Aku butuh seseorang yang bisa yakin kan aku. Tiwi, aku butuh dukunganmu. Kali ini tolong aku. Aku ingin akhiri ego ini. Benar-benar ingin aku hentikan karena semakin hari semakin sesak. Aku gak ingin ada yang berubah antara aku dan Jordan tapi Gery… Aku belum tahu bagaimana aku tanpa dia.

Tiba-tiba Tiwi tersenyum. Jari-jari tangannya nampak baru selesai mengetik sesuatu dari handphone androidnya.

“Kalian pasti akan bertemu. Ternyata masih ada satu kursi kosong untuk seminar nanti. Tak perlu kamu pikirkan isi materi seminarnya. Temui dia. Itu aja kan?”

Senyum Tiwi merekah tiba-tiba. Ini menangkan hatiku. Aku gak sendiri. Minimal aku masih punya satu tenaga cadangan ketika ego ini mulai menghantam naluri analisaku. Aku balas senyum terlebar yang pernah aku miliki.

Aku dan Tiwi sama-sama menyerupun minuman hangat yang ada di hadapan kami. Aku mengendus uap yang menyeruak dari dalam cangkir dengan lembut dan nikmat. Aroma hot chocolate memang menenangkan suasana hatiku saat ini.

Gery, tunggu aku disana.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?