Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Packing (kosong) #38

Duduk terdiam menatap monitor pc. Kesepuluh jariku hanya parkir kaku di atas keyboard. Garis cursor yang hanya berkedip tak kunjung keluarkan satu huruf pun. Aku belum menekan huruf apa pun dari keyboard.

Tertera alamat email Gery di kolom email tujuan. Sedari tadi aku hanya pandangi nama itu lekat-lekat. Mungkin saat ini bibir bawahku sudah memerah. Kugigit perlahan, mulai dari gigitan ringan hingga gigitan yang mampu mengalirkan darah. Antara takut dan ragu. Sebenarnya aku cukup mengatakan niatku yang akan pergi ke Malang untuk menemuinya. Tapi ada hal lain yang membuatku ingin mundur teratur. Hal yang baru dan cukup mencengangkan.

Siapa Gery sebenarnya? Bukan orang berarti yang gak seharusnya mengusik aku sampai sejauh ini. Bukan orang yang memberikan aku semangat hidup sekali lagi seperti yang sudah Jordan lakukan. Jordan korbankan banyak hal ketika aku terpuruk dengan cedera.

Siapa aku? Itu dia yang buat aku berpikir sedemikian lamanya. Siapa aku? Siapa aku di samping Gery? Kalau jawabannya bukan siapa-siapa lantas apa yang sudah aku lakukan selama ini? Mempertahankan ego yang jelas-jelas hanya menyesakkan organ pernafasanku. Sesak itu sakit tapi aku nikmati. Tapi aku hadapi. Iyah sakit. Iyah aku tahu itu sakit. Terus apa? Apa lagi Rea?

Ini seperti membentak diri sendiri. Membentak egoku yang tak bertelinga. Walau sekedar tahu ini percuma.

Aku tarik nafas ku kuat-kuat. Berat jadi harus lebih kuat.

Aku alihkan indera penglihatanku ke pemandangan kacau yang ada di samping kiriku. Koper kecil terbuka lebar. Baju-baju yang sebagian sudah terlipat dan sebagian masih menggantung di dalam lemari pakaian yang terbuka lebar. Alat mandi yang masih berjejer di atas kasur. Tadi belum selesai aku absen apa-apa yang kelak akan aku butuhkan selama di Malang. Sebenarnya hanya dua malam di sana tapi seheboh ini proses packing yang aku lakukan.

Tiba-tiba teringan Gery yang harus aku beri kabar agar bisa bertemu di sana. Tadinya aku mau kabari lewat bbm tapi sepertinya aku ingin ini sedikit kesan mengejutkan. Jadi aku beranjak ke depan pc dan menyalakan komputer dengan riangnya.

Ketika internet sudah connect dan halaman compose email sudah di depan mata, aku hanya berpikir ini itu dalam lamunan. Banyak hal yang baru terpikirkan karena selama ini bukan otakku yang bekerja. Egoku mendominasi. Mensabotase kekuatan nalarku. Hingga jadi seperti ini.

Sekarang aku bisa bernafas ringan. Lapang. Jelas aja, kalau aku bilang di area dada yang harusnya ada paru-paru dan jantung, sekarang hanya ruang kosong yang entah kemana perginya organ-organku. Kekosongan ini meresahkan bukan main.

Apa iyah aku akan pergi dengan keadaaan seperti ini. Ini masih pagi tapi aku harus berangkat sore ini juga.

Dengan sekali tarik nafas akhirnya aku kuatkan kesepuluh anak jari-jariku. Aku ayunkan mereka kesana-kemari.

“Temui aku di sana, Gery. Di Malang”

Message sent

Suara handphoneku sedikit mengejutkan aku yang lagi gak santai. Ternyata sms dari Tiwi.

“Re, masih ada waktu untuk membatalkan kepergian ke Malang”

Tiwi ternyata sangat mengkhawatirkan aku. Apa iyah dia juga paham dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini? Toh aku belum menghubunginya lagi sejak pertemuan terakhir di stasiun kereta api Bandung.

Ya Tuhan, perasaan apa ini. Menggerakkan jempol untuk membalas sms Tiwi harus gemetaran seperti ini.

“Kita pergi sore ini, Tiwi”

Maaf kalau aku sedikit merepotkanmu Tiwi. Maaf.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    dan setelah ini saya harus kembali membaca mulai part 1 agar ceritanya berlanjut… #looping

    Dan sayastuck di part 39 ni kak.. soalnya alurnya mulai kembali ke alur normal.. bukan flashback lagi… uumm.,, mungkin release nya agak lama… mohon doanya heehhe

    August 11, 2012 at 9:36 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 4?