Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pertahankan Aku #39

Diam-diam aku tarik perlahan lengan jaket Gery yang menenggelamkan lebih dari setengah tubuhku. Cukup melirik karena aku gak mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Sebuah sudut 30 derajat antara dua jarum di dalam arlogiku. Jam 11 malam. Sudah malam sekali. Sekarang aku tahu kenapa udara Malang luar biasa dingin. Seluruh kancing jaket Gery yang aku pakai ini tertutup rapat.

Gery? Masih dengan kemeja abu-abunya. Satu tangan bersembunyi di balik kantong blue jeans yang dia pakai. Tangan yang lain merangkulku erat. Seolah-olah aku selemah bulu yang sebentar lagi akan ambruk.

Aku masih bingung. Apa Gery kehilangan salah satu sarafnya, jadi dia sama sekali buta dengan suhu udara sedingin ini? Padahal setengah otakku sudah mulai membatu. Membeku.

Rumah tante Diah bukan di tepi jalan yang mudah diakses dengan mobil. Gery harus memarkirkan mobilnya di depan gang nan jauh disana. Agak jauh karena rumah tante Diah melewati gang-gang kecil dan sempit. Mungkin sepeda motor masih bisa lewat.

Jalanan sempit yang cukup remang dan sepi. Sekarang aku tahu kenapa Gery keberatan kalau aku harus jalan sendiri. Dan ini jam 11 malam. Kejadian yang tak diinginkan bisa aja terjadi.

“Makasih banyak untuk hari ya, Gery”

Aku menghentikan langkahku. Sedikit berbalik untuk menatap Gery yang kini ada dihadapanku. Rangkulan tangan Gery mereda, seiring pergerakan tubuhku yang sedikit berputar untuk menghadapnya.

Terima kasih untuk kehadiranmu yang tiba-tiba muncul di bangku taman sekitar aula seminar bisnis. Terima kasih untuk ide dadakan naik bianglala di alun-alun kota Batu. Terima kasih untuk senyum yang selalu aku inginkan setiap saat. Terima kasih.

Senyum ringan yang menenangkan. Itu yang aku lihat setelah Gery menolehkan kepalanya sejenak ke sebuah rumah mungil yang jaraknya sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri. Rumah tante Diah.

“Thanks a lot for this cute star”

Aku menundukkan kepalaku. Bintang kecil indah yang menggantung di leherku ini memantulkan sebagian cahaya remang dari lampu rumah-rumah penduduk di sekitar tempatku berdiri. Jempol dan telunjuk kananku merabanya pelan dan sedikit menggerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Dilihat dari sudut manapun bintang ini memang manis.

Aku mengangkat kepala tinggi-tinggi dan menatap Gery. Ya, Gery lebih tinggi dariku jadi aku harus sedikit meninggikan daguku. Senyum Gery makin lepas. Pasti dia senang karena aku menyukai hadiah pemberiannya. Itu naluriah. Setiap manusia pasti begitu. Aku pun begitu.

“See you next time, Gery”

Sepersekian detik setelah aku mengucapkan kalimat perpisahan, aku lanjutkan langkahku ke rumah tante Diah. Tapi baru beberapa langkah aku rasa ada yang kurang. Aku gak dengar suara Gery. Minimal hanya untuk berkata ‘Ya’ atau kalimat apa pun sebagai merespon kalimatku. Tak bersuara sama sekali.

Aku berbalik dan Gery masih berdiri disana. Kepalanya menunduk. Tak menatapku. Apa dia kedinginan. Aku baru berniat untuk menghampirinya tapi batal. Keburu kepala Gery kembali terangkat dan kini aku bisa lihat kedua matanya.

Aku tarik nafas refleks. Seperti ada daya lain yang mendorong tubuhku ke belakang. Aku mundur selangkah. Apa yang aku lihat benar-benar mengejutkan. Sekarang nafasku berantakan seperti orang panik. Entah panik atau apa. Atau takut?

Aku pernah lihat tatap itu. Tatapan yang cukup menyakitkan dan sedikit sesak setiap kali aku ingat-ingat lagi kapan terakhir aku lihat pemandangan seperti ini. Tatapan yang sama saat aku harus kembali ke Bandung karena tugasku sebagai LO di Semarang sudah selesai. Sorot mata dan ekspresi wajah yang tak pernah aku pahami. Bukan senang bukan juga benci atau sikap terganggu oleh sesuatu.

Apa iya Gery selalu memasang ekspresi seperti ini setiap kali aku akan pergi? Atau sebenarnya Gery gak mau aku beranjak dari tempatku saat ini?

Sekali lagi ini mengingatkan aku tetang kepergianku besok pagi. Seminar bisnis yang menjadi kedok kepergianku hanya berlangsung sehari jadi besok aku dan Tiwi harus kembali lagi ke Bandung. Tiwi harus menyelesaikan laporan dan aku juga harus menyelesaikan design bangunan yang harus aku asistensikan ke dosen pembimbing hari senin. Sekarang hari sabtu.

Aku lihat kepulan uap keluar dari mulut dan hidung Gery. Dari tadi sudah aku lihat kepulan uap dari mulut dan hidungnya tapi kali ini kepulan uap terbesar dan terpekat yang pernah aku lihat. Gery menghela nafasnya kuat-kuat? Apa nafasnya seberat nafasku saat ini?

“Re”

Sepertinya ada hal urgent yang ingin Gery utarakan malam ini juga. Suara Gery berat dan gemetar. Entah karena dia kedinginan atau apa. Tapi aku bisa tebak dia sedang kedinginan karena sekujur bibirnya pucat dan membiru.

“Aku selalu disini, Re. Ditempat yang mudah kamu temui atau sebaliknya”

Ya, aku ingat. Itu permintaan ku sesaat sebelum aku dan Gery berpisah di Semarang beberapa bulan yang lalu. Aku yang memintanya untuk tak berorientasi lebih jauh dari yang sudah-sudah ,aku takut kehilangannya. Belum kupikirkan bagaimana caranya aku bisa bertahan tanpa Gery. Belum.

“Pertahankan aku, Re. Aku mohon”

Kedua mata Gery kini terlihat sayu. Layu. Ini seperti dicubit dari dalam. Aku menyipitkan mataku. Bukan silau tapi lebih tepatnya memfokuskan penglihatanku. Kacamataku mulai berembun.

Aku letakkan satu tanganku untuk memastikan jantungku masih berdetak dengan ritme yang wajar atau gak. Masih dalam ritme yang wajar. Tapi sedikit sesak.

Mataku mulai perih. Nafasku makin berantakan tapi aku paksa untuk menghirup udara lebih banyak dan mengeluarkan karbondioksida lebih banyak lagi. Ini bukan saatnya untuk cengeng. Bukan adegan yang perlu didramatisir. Aku masih bisa tahan. Toh belum apa-apa air mata yang sudah mulai memburamkan penglihatanku sudah keburu kering. Udara yang dinginnya gak manusiawi.

Seketika aku ingat Jordan. Segala pengorbanannya. Segala keputusannya. Segala-galanya. Seperti ribuan gulungan film yang menghasilkan gambar bergerak-gerak. Mulai dari pertama kali aku bertemu Jordan di ruang tamu. Pertama kali aku mencengkram selimut, menahan emosi saat bicara dengan Jordan. Teriakan Jordan yang berulang-ulang saat aku jatuh tersungkur di lorong karena suster yang panik. Jordan yang memelukku lembut di ruang fisioterapi. Candaan Jordan yang ingin memasukkan aku ke dalam koper saat packing. Dan masih banyak lagi.

“Jordan?”

Satu nama yang spontan keluar dari mulutku yang sudah hampir beku karena tak bergerak untuk beberapa saat. Dinginnya Malang sudah mengendapkan sebagian kekuatan di kerongkonganku. Suaraku mungkin hanya terdengar seperti suara berbisik nan lirih.

“Jordan?”

Gery ternyata mendengar suaraku. Dia mengulang dengan intonasi yang sama tapi lebih berat dan lebih parau.

Sedetik setelah dia sebut nama Jordan, Gery memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain. Ketika pandangannya kembali jatuh ke arahku, ekspresi Gery berubah drastis. Kini matanya berkilat-kilat seperti memelototi aku yang sedang berdiri kaku di depannya. Salah satu tangannya yang tak bersempunyi di balik kantong celana mengepal kuat dan gemetar. Seperti ini kah Gery saat marah?

“Lantas, apakah ini jadi urusanku Re?”

Dengan intonasi yang sama namun volume suara Gery setingkat lebih tinggi dari volume sebelumnya. Masih dengan nada yang sama tapi kini menekanan ada di setiap kata yang dia ucapkan. Seperti menegaskan emosinya yang meluap-luap, Gery berbicara sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tapi tak mendekat. Dia masih berdiri di sana.

Daya itu muncul lagi. Aku terdorong ke belakang dan kembali mundur selangkah. Kedua tanganku kini menutupi mulutku yang menganga lebar. Apa yang aku dengar barusan? Itu kah nada marah Gery?

Apakah selama ini Gery risau dengan keberadaan Jordan? Dan dia enggan memikirkan kebimbanganku untuk meninggalkan Jordan. Seegois inikah kamu, Gery?

Aku kembali mundur selangkah. Dua langkah. Langkah ketiga aku membalikkan tubuhku dan berlari kecil ke arah rumah mungil yang ada di hadapanku saat ini. Aku sudah gak kuat lagi. Malang terlalu dingin dan Gery terlalu menakutkan.

Entah apa lagi yang menghantui isi kepalaku saat ini. Aku gak dengar ada langkah kaki yang mengikuti. Kemungkinan Gery gak mengejarku. Entah apa yang dilakukan Gery saat ini, aku urungkan niat walau hanya untuk melirik sedikit ke belakang.

Aku ayunkan begitu saja ganggang pintu ruang tamu.

Oh!! Gak terkunci…

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • Andrey says:

    Kadang aku bingung low bacanya. Aku berfikirnya ini fiktif tapi kadang aku berfikir ini kejadian nyata..hem…….

    August 12, 2012 at 12:10 am
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    Kadang aku bingung low bacanya. Aku berfikirnya ini fiktif tapi kadang aku berfikir ini kejadian nyata..hem…….

    Sebenarnya ini adalah… fiksi semata sodara-sodara hahaha ….

    August 12, 2012 at 12:37 am
  • Andrey says:

    karena ada bianglala sehingga muncul ? dalam kolom otakku..

    August 12, 2012 at 12:45 am
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    karena ada bianglala sehingga muncul ? dalam kolom otakku..

    emangnya ada apa dengan bianglala? hehehee

    August 12, 2012 at 1:27 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 + 4?