Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Magetan (Telaga Sarangan) #1

Perjalanan ini dimulai sekitar 5 tahun yang lalu. Yah sekitar itu. Aku masih duduk di bangku SMP. Kelas 3. Kacamata? Sudah pasti, aku sudah pakai kacamata. Minus 0,25. Yeah aku masih ingat. Tapi bukan sejarah tentang kacamata yang pengen aku bahas disini.

Sekitar sejam yang lalu aku, papa, mama dan dua ade ku turun dari bus. Turun di daerah Ngawi. Awalnya kami dari Yogyakarta. Ada acara dari teman-teman lama papa. Toh sekalian liburan anak sekolah.

Indri (ade pertamaku) seingatku masih duduk dibangku SD, kelas 6 SD. Sedangkan Kiki (ade keduaku) kelas 2 SD. Kami bertiga sekolah swasta di bawah yayasan yang sama jadi udah pasti jadwal liburnya sama. Terkesan gampang yah heheheee.

Tadinya aku bingung kenapa tiba-tiba papa nyuruh kami semua turun dari bus. Aku yah ngikut aja. Setelah turun papa pergi entah kemana. Mama nyuruh aku nunggu di depan ruko yang sudah tutup. Aku lupa waktu itu jam berapa. Aku gak pake jam tangan.

Dan aku baru tau kalau sekarang aku ada di daerah yang namanya Ngawi. Aku lihat di berbagai banner iklan atau toko-toko yang mencantumkan alamat lengkapnya di sana.

Ngawi itu sendiri sebenernya sama salah satu kabupaten di Jawa Timur. Kalo kata om Wikipedia, Kabupaten Ngawi ini terletak di wilayah barat Propinsi Jawa Timur yang berbatas langsung sama Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Ngawi ini dilewati dua jalur utama, yaitu: jalur utama Surabaya – Yogyakarta dan jalur utama Cepu, Bojonegoro – Madiun. Kabupaten ini menjadi gerbang utama Propinsi Jawa Timur dari jalur selatan.

Jalur yang aku lewatin bersama keluarga itu jalur bus antar kota Yogyakarta – Surabaya tapi turun di Ngawi. Ya, tepatnya seperti itu.

Tiba-tiba papa datang dengan satu mobil. Ternyata papa lagi nyari mobil sewaan lengkap sama supirnya. Lah kita mau kemana?

***

Diluar sana sudah gelap. Gak asik, gak ada yang bisa aku lihat. Di dalam mobil juga senyap. Gak ada musik. Cuma sekelebat suara papa yang lagi ngobrol sama supir mobil di bangku depan. Aku pilih kursi paling belakang dan disamping jendela. Tapi percuma, semuanya gelap.

Kalau aku perhatikan, di sepanjang pinggir jalan ini kayanya sawah. Sedikit terlihat dari sinar lampu jalan dan rumah penduduk yang ala kadarnya. Yah minimal kelihatan dikit.

***

Mulai ada yang aneh dari pemandangan di luar sana. Asap? Tapi masa iyah setebal ini? Penampakan? Hahaaa…

Mobil juga tiba-tiba berhenti. Kedua adeku sudah tidur. Jadi cuma aku sama mama aja yang celingukan. Papa? Kayanya ikutan ke luar mobil buat ngecek kondisi mesin mobil.

Aku masih penasaran sama asap yang ada di luar jendela. Dibuka aja kali yah jendelanya. Baru juga nyentuh kaca jendela. Aku dibuat kaget sama apa yang aku temukan di kaca jendela mobil. Kacanya dingin. Yah padahal sewaktu diperjalanan suhu kaca gak sedingin ini.

FYI (For Your Information) , sejak kejadian ini aku jadi punya kebiasaan baru. Yah, nempelin telapak tangan ke kaca mobil setiap kali mobil berhenti di tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Okey kembali ke leptop.

Makin penasaran aku buka aja jendela mobilnya. Tipikal kaca mobil yang digeser. Untungnya gak susah digeser.

Ini bahkan diluar nalarku saat itu. Nalar seorang anak usia 15 tahun.

Kulit mukaku jadi spontan berkerut. Ternyata udara di luar sana dingin banget, kaya pake AC. Jadi asap yang aku pikir ini asap ternyata kabut pemirsa. Asumsi aku salah.

“Ma ini dimana? Kok ada kabut?”

“Kita sudah sampai di Magetan”

Magetan? Ini tempat apa? Kenapa tujuan kami kesini? Tapi yah sudahlah, gak tertarik untuk tanya lebih jauh. Suara pak supir dan beberapa orang di depan sana lebih menarik perhatianku. Mesin mobil kenapa yah? Semenit kemudian mesin mobil hidup lagi.

Yah mogok sesaat. Tapi setelah itu mobil jalan lagi. Jendela mobil? Aku tutup lagi. Aku gak kuat sama udara yang mendadak dingin begitu. Kaca mobil? Masih tetap dingin dan tanganku terus nempel anteng di kaca mobil.

Akhirnya sampai di sebuah rumah kosong. Aku baru tau kalo rumah mungil itu ternyata vila. Cuma bisa lihat rumah itu aja soalnya di sekitar rumah itu gelap, jarang banget lampu dan aku makin gak tertarik untuk melihat-lihat ini itu.

Yang aku tau, kami sekeluarga pasti bermalam di rumah ini. Memang mungil dan simpel. Aku suka.

Baru beberapa saat meletakkan barang bawaan di ruang tamu, tiba-tiba penjaga vila nawarin makan malam. Awalnya aku gak begitu lapar tapi yah makan aja lah. Ntar mama ngomel-ngomel kalo malam ini gak makan. Aku belum makan malam.

Lagi, aku dikagetkan dengan respon kulit telapak kakiku yang napak diatas lantai vila ini. Lantai keramiknya dingin banget. Pantesan aku lihat ada beberapa pasang sandal di ruang tamu. Ternyata disediakan untuk tamu.

***

Tiba-tiba ada suara motor dari teras. Ternyata penjaga vila dateng bawa bungkusan. Itu makanan yang tadi di pesen mama sama papa. Aku pesen mie kuah waktu itu. Makan malam di Magetan. Walaupun aku gak tau pemandangan apa yang ada di sekitar vila ini. Gelapnya bikin muak.

“Ayo cepet dihabisin mie nya ntar keburu dingin”

Itu dia suara papa yang ternyata sudah duduk anteng di meja makan. Kayanya papa kelaparan heheheee. Karena gak begitu laper, aku makan sepiring berdua sama Indri. Kiki? Sudah tidur pulas.

Aku lupa jam berapa waktu itu. Yang pasti butuh waktu berjam-jam lagi untuk nunggu matahari terbit. Okey sambil menunggu matahari terbit aku percepat makan mie kuah nya dan berangkat tidur.

***

Kukuruyuuuukkk…. (kurang lebih suara ayam seperti ini pemirsa)

Kedua mata ini tiba-tiba melek begitu dengar sayup-sayup suara ayam. Waktu buka mata, objek pertama yang aku lihat ya langit-langit kamar. Ada yang berubah. Warnanya ternyata bukan putih tapi sedikit kekuningan seperti putih gading. Semalam terkesan putih karena pengaruh warna lampu yang putih cemerlah. Cahaya lampu sedikit menipu.

Cepat-cepat aku lirik indri yang sama kiki yang tidur di ranjang sebelah. Ternyata mereka juga baru bangun tidur. Sama seperti aku.

Jadi di villa mungil ini ada dua kamar. Satu kamar isinya dua ranjang kasur ukuran single (kamarku, indri dan kiki) dan kamar yang satunya lagi (kamar papa sama mama) isinya satu kasur ukuran double. Tapi saat itu bukan masalah kasur yang ada di otakku. Aku lirik jendela mungil yang ada di kamar ini. Jendela yang dari semalem tertutup gorden kuning pudar. Bukan kusam tapi karena memang warna kuning nya pucat.

Dari atas kasur, aku geser kuat-kuat gorden kuning ini. Dan tiba-tiba gumpalan sinar matahari buru-buru masuk ke dalam pupil mataku yang masih malas-malasan. Untungnya gak silau. Tapi ada yang kurang. Ya, jendelanya terlalu sempit.

Niatnya mau keluar kamar, ambil kunci dan keluar vila cepet-cepet. Tapi aku ber aw-aw dulu waktu mendaratkan kaki ke lantai vila tanpa sandal. Dinginnya lantai bikin kaget dan aku hampir jatuh gara-gara ini. Hampir, jadi belum jatuh beneran. Sambil berjinjit aku setengah berlari ke arah pintu kamar. Nyamber kunci yang ada di atas meja makan. Buka pintu utama. Dan waaaaaawww jadi ini pemandangan gelap semalam. Kayanya ada yang kurang deh.

Udah sampai teras vila tapi aku balik lagi masuk ke dalam vila. Aku ambil camera dan tripod dari tas ranselku. Trus balik lagi ke teras vila. Cape deh. Dan akhirnya aku sambar sendal jepit nganggur di ruang tamu. Lumayan lah walaupun itu sendal ukurannya gede banget. Berasa pake sandal kaki bebek yang biasa dipake penyelam. Hahaaha..

Mau lihat pemandangan apa aja yang aku lihat pagi itu? Ini dia gambarnya.

Ternyata tepat di balik pagar teras vila ini ada kebun sejenis tanaman kacang-kacangan. Selama ini aku liat kacang polong di supermarket dan udah di kemas dalam wadah kotak plastik. Tapi sekarang aku liat sendiri bentuk pohonnya kaya apa. Ternyata kaya gini. Heehehehee… Tanaman merambat jadi banyak batang-batang kayu yang menancap tegak dari tanah. Tinggi sekitar 1 meter dari tanah. Batang itu buat sandaran si tanaman merambat biar gak berantakan kemana-mana. Minimal terlihat rapih.

Pantesan gelap. Ternyata pemandangan di depan vila ini dominan bukit-bukit.

Pantesan gelap. Ternyata pemandangan di depan vila ini dominan bukit-bukit.

Itu dia bukit yang bikin aku berkali-kali bilang ‘waauuww’. Agak lucu yang bentuknya. Dibagian tengahnya ada petak-petak begitu. Kayanya itu petak kawasan perkebunan juga deh. Yah asumsi aku sih gitu soalnya zoom camera ku gak nyampe sana.

Tau gak? Aku berkali-kali tarik nafas dalam-dalam. Udaranya adem banget. Kalo AC kan dingin tapi terkesan kering. Nah kalo yang ini selain adem, pas masuk ke paru-paru juga jadinya adem sampe dalem. Asik banget udaranya. Tiba-tiba berkhayal gimana rasanya udara kota bisa asik kaya gini hehehee…

Magetan adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi, Kota Madiun dan Kabupaten Ponorogo. Dan vila tempat aku dan keluarga bermalam ternyata terletak di Kecamatan Sarangan. Mau lihat villa mungil tempat aku bermalam? Ini dia.

yang atapnya warna cokelat, nah itu dia si vila mungil. Bahkan di belakang sama masih ada bukit yang membentang. Saatnya aku bilang WAAW

yang atapnya warna cokelat, nah itu dia si vila mungil. Bahkan di belakang sana masih ada bukit yang membentang. Saatnya aku bilang WAAW

Selama nongkrong di teras vila, mata aku ini gak berhenti scanning kesana-kemari. Sampai akhirnya aku sadar. Tempat ini dominan perkebunan. Mulai dari perkebunan sayur mayur kaya wortel dan kembang kol, kacang-kacangan kaya kacang polong yang ada di depan vila, sampai buah-buah unyu kaya strawberry. Pantesan perkebunan dimana-mana, udaranya seger begini, tanamannya pasti seger-seger juga begitu dipanen.

Lagi asik-asik memanjakan mata yang sudah melek 100%, tiba-tiba aku dengar ada suara percikan air dari samping vila. Ternyata ada mbak-mbak yang lagi jemur cucian. Nyuci pagi-pagi sih biasa tapi kostum mbak-mbak ini yang gak biasa. Aku pake jaket dan celana panjang masih ngerasa adem sama angin pegunungan yang semilir-semilir, tapi mbak yang satu ini malah pake kaos lengan buntung sama celana pendek. Aku yang masih polos otomatis bengong. Parahnya lagi, mbak yang lagi sibuk meres cuciannya ini sadar banget ada bocah lagi bengong ngeliatin dia. Mbak ini cekikikan.

“Lagi ngapain mbak?”

Walaupun aku sudah tau dia lagi jemur cucian tapi aslinya ada pertanyaan lain dari yang satu ini.

“Lagi jemur cucian, dek”

Si mbak jawabnya sambil senyum-senyum. Mungkin pikirnya, ‘ada bocah mau sksd (sok kenal sok deket) ni kayanya ‘.

“Pake baju begitu gak dingin ya mbak?”

That’s it!! Ini dia pertanyaan yang dari tadi bikin gatel kerongkongan.

“Udah biasa dek”

Masih senyum-senyum ramah si mbak ini jawab pertanyaan aku yang hhhmmm… pertanyaan macam apa ini? (jedotin kepala ke tembok).

Tapi bener juga kata si mbak. Dia kan udah lama tinggal di sini jadi udah biasa sama hawa-hawa adem Magetan. Sedangkan aku dari lahir sampe besar tinggal di kota pesisir Pulau Kalimantan sana. Balikpapan. Wajar aja kalo aku masih butuh jaket dan celana panjang.

Berhubung pertanyaanku sudah terjawab jadi gak ada lagi alasan aku berlama-lama di dekat jemuran. Kecuali kalo aku mau bantuin mbak ini jemur cucian. Tapi kayanya gak deh. Dengan muka datar bin polos aku tinggalin aja mbak-mbak ini. Balik lagi ke teras vila.

Lagi-lagi aku baru sadar ternyata banyak banget tanaman bunga di area teras ini. Aku suka bunga. Alhasil bunga-bunga unyu ini aku potretin satu-satu. Ini dia beberapa penampakan bunga yang aku kurang tau namanya apa hehehee…

100_8400

100_8394
100_8389

100_8393

100_8392

100_8391

100_8388

100_8387

Mulai terdengar suara berisik dari dalam rumah. Kayanya papa, mama sama ade udah pada bangun. Waktunya mandi.

***

Antara percaya dan gak percaya. Kata papa ada telaga di belakang vila mini nan mungil ini. Kata papa juga, nama danau itu Telaga Sarangan. Yang berputar-putar di otakku waktu itu cuma satu. Telaga sama danau itu sama yah? Aku rasa gak perlu dijawab.

Waktunya berangkat ke telaga yang katanya lumayan jauh dari vila tempat aku dan keluarga bermalam. Sedikit mikir juga, pergi ke sana naik apa yah? Di daerah sini gak ada angkot. Yang ada sewa mobil untuk ke kota. Ya, rata-rata penduduk sini menyewa mobil tujuan kota Madiun untuk menjual hasil perkebunan disini. Mayoritas penghasilan penduduk di sini memang berkebun. Jelas banget, soalnya lahan perkebunan tuh menbentang luas disini.

Baru berjalan beberapa langkah dari pintu utama, aku dengar suara gemerincing lonceng sama suara hentakan sepatu. Tapi bukan sepatu manusia yah. Sepatu kuda. Memang benar itu suara dua ekor kuda. Tapi bukan kuda peliharaan warga setempat. Kuda itu ternyata bisa disewa sampai Telaga Sarangan. Yah, salah satu sarana wisata disini.

Awalnya sih takut naik ke atas kuda. Ntar kalo kudanya mendadak ngamuk gimana yah? Tapi mas-mas pawang kudanya berani jamin kalo kuda ini sudah jinak. Setelah perang lirik-lirikan antara aku, Indri, dan Kiki dengan papa dan mama, akhirnya kami sepakat pergi ke telaga naik kuda. Yipiii.. Ini pengalaman pertama naik kuda.

Berhubung si kuda badannya besar banget jadi aku duduk bertiga sama Kiki dan Indri. Maklum, kami bertiga badannya kecil-kecil ahaha alias kurus-kurus.

Trus papa sama mama gimana? Kali ini aku lupa, papa sama mama ikutan naik kuda juga atau jalan kaki heheehe.. maaf yah beneran lupa ini mah.

Duduk di atas kuda itu lumayan pegel juga ternyata. Badan goyang-goyang naik turun, njut-njutan ngikutin pergerakan engsel kaki si kuda. Lumayan bikin pusing. Tapi asik.

Selama perjalanan aku dan ade-adeku sibuk dengan penglihatan kami masing-masing. Penduduk setempat pada sibuk kerja di kebun. Ada yang lagi panen kembang kol. Ada yang lagi nyabutin rumput yang tumbuh disekitar tanaman sayur. Ada juga yang lagi sibuk nyangkul tanah. Benar-benar pemandangan yang gak biasa. Menurut aku gak biasa, soalnya pemandangan kaya gini gak ada di Balikpapan.

Jalan yang kami lalui mulai menanjak. Ini nih yang bikin deg-degan. Masa iyah kudanya gak kuat angkut kami bertiga trus mogok. Hehehee emangnya mobil semalem. Tenang aja, itu cuma khayalan belaka.

Oyah, ada pemandangan lain yang aku lihat disini. Selain perkebunan, ada beberapa rumah mungil yang ada di sekitar sini. Aku pikir itu rumah penduduk ternyata itu vila yang sengaja disewa untuk pengunjung. Sama seperti vila yang aku tempati saat itu. Berarti ada pemasukan lagi selain hasil perkebunan yaitu pemasukan dari hasil sewa vila. Menarik.

Begitu tanjakan berakhir sekarang jalan yang kami lewati mulai menurun. Wuiiih si kuda jalannya makin cepet. Setengah berlari. Gak sampe lari-lari juga sih. Kalo gitu mah aku sama ade-ade bisa teriak-teriak histeris hahahaa..

Mulai kelihatan Telaga Sarangan yang papa sebut-sebut tadi. Dari jauh telaganya luas banget. Kaya kolam raksasa. Dan ini bikin aku merinding. Entah kenapa, mungkin ini telaga terluas yang pernah aku lihat.

Susah payah motret ni telaga dari atas kuda tuh rasanya ampun deh. Dikit-dikit goyang. Gak fokus. Sampai pada akhirnya ‘jepreeett’, dapet juga gambar telaganya ehehhe..

Ini dia hasil motret Telaga Sarangan sambil nunggang kuda. Not bad lah yah

Ini dia hasil motret Telaga Sarangan sambil nunggang kuda. Not bad lah yah

Oya ada yang unik dari telaga ini. Di tengah-tengah telaga ternyata ada pulau kecil. Terus terang aku jadi penasaran dong, gimana ceritanya bisa ada pulaunya gitu kaya Danau Toba. Waktu aku nanya ke mas-mas pawang kuda, jawabannya sangat mengecewakan.

“Emang dari dulu udah ada pulau disitu, dek”

Kirain bakal dapet jawaban yang bisa bikin aku bilang ‘waauuw’ tapi ternyata memamg waauw banget.

Aku gak sempet motret pulau di tengah Telaga Sarangan ini tapi tenang aja, aku dah nemu gambarnya dari salah satu blog yang aku temui di google. Ini dia wujudnya.

pulau kecil di tengah telaga (http://mypariwisata.blogspot.com/2011/10/telaga-sarangan-magetan.html)

pulau kecil di tengah telaga (http://mypariwisata.blogspot.com/2011/10/telaga-sarangan-magetan.html)

Singkat cerita, awal mula terbentuknya Telaga Sarangan ini dari sebutir telur. Seorang Kyai bernama Pasir menemukan sebutir telur di ladang dekat rumahnya. Berhubung Kyai lapar, telur ini dibawa pulang dan meminta Nyai Pasir (istri Kyai Pasir) untuk memasak telur itu. Beberapa saat setelah memakan telur, Kyai dan Nyai Pasir berubah wujud menjadi naga yang besar dan menakutkan. Karena perubahan wujud itu menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, Kyai dan Nyai Pasir berguling-guling di tanah hingga terbentuk cekungan seluas 30 hektar dengan kedalaman 30 meter. Kemudian dari bawah tanah keluar air yang akhirnya menggenani cekungan itu. Tadaaaa… jadi telaga deh. Selain Telaga Sarangan, telaga ini juga dikenal dengan nama Telaga Pasir. Jadi begitu ceritanya. Harusnya sih mas-mas pawang kuda bisa jelasin ke aku. Tapi yah sudah lah.

Masih ada lagi lho. Disekitar telaga ternyata banyak warung-warung makanan yang menyediakan sate kelinci. Padahal kelinci kan makhluk unyu-unyu tapi kenapa dimakan yah. Berhubung gak tega jadi aku gak mau makan sate kelinci heehhee…

Sudah keliling-keliling telaga sekarang waktunya sarapan. Tapi sebelum sarapan foto-foto dulu dong. Ini dia penampakannya.

***

Sore-sore masih di Magetan. Langit warnanya keabu-abuan. Aku pikir bakal hujan tapi ternyata langit sore di Magetan memang seperti ini. Kabut mulai turun jadi terkesan seperti mendung padahal itu gumpalan kabut. Kalau sudah malam kabut itu bisa turun sampai menghalangi jarak pandang. Seperti yang terjadi waktu pertama kali aku lihat kabut waktu mobil mogok semalem.

Ya, sambil menikmati langit Magetan yang lumayan unik ini, papa sama mama asik makan nasi pecel khas Madiun di teras vila. Papa sama mama beli nasi pecel dari seorang nenek yang jualan pecel keliling alias pake bakul. Kayanya nenek penjual pecel ini gak sengaja lewat di depan vila. Trus dipanggil sama papa ke vila. Papa sama mama doyan banget nasi pecel. Kalo aku kurang begitu suka. Aku gak kuat makan pedas heehhe biasanya kan bumbu nasi pecel rasanya pedas.

Tapi ada yang lucu dari nenek yang satu ini. Aku kaget waktu nenek ini bilang beliau juga jualan pecel ayam. Udah pasti aku pesan pecel ayam aja. Tau kan pecel ayam pada umumnya. Ayam di goreng trus ada sambel tomatnya. Ternyata pecel ayam versi nenek penjual pecel ini beda sama imajinasi aku. Analoginya begini,  pecel ayam = nasi pecel + ayam. Voalaaaa this is it! Nasi pecel ayam ala nenek penjual nasi pecel khas Madiun. Aku, mama, papa dan ade-ade jadi ketawa sendiri begitu liat wujud pecel ayam yang satu ini. Keren juga.

Next destination? Malang. Wohoooo… Ikutin cerita selanjutnya yah ehhhehe… caaoo

Category: Lensa Bercerita
  • suprayogi says:

    Hai yu…. pertama aku liat gambar2nya, aku ngira ini di Jepang. haha.. nggak tau knapa rada-rada mirip. tapi ternyata di Magetan. aku belum pernah k sana, menarik nih ulasannya, dengan gaya cerita kisah2 sebelumnya. belum banyak orang-orang daerah Indonesia barat yang tau.

    yu, kalau boleh saran, fotonya agak digedein lagi dh biar bagus :)

    August 13, 2012 at 10:42 pm
  • Andrey says:

    Telaga sarangan itu kecil..masih gedean telaga ngebel….

    August 13, 2012 at 10:47 pm
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    Telaga sarangan itu kecil..masih gedean telaga ngebel….

    kan ane belum pernah ke telaga ngebel beroooo

    August 13, 2012 at 10:52 pm
  • ayu emiliandini says:

    suprayogi :

    Hai yu…. pertama aku liat gambar2nya, aku ngira ini di Jepang. haha.. nggak tau knapa rada-rada mirip. tapi ternyata di Magetan. aku belum pernah k sana, menarik nih ulasannya, dengan gaya cerita kisah2 sebelumnya. belum banyak orang-orang daerah Indonesia barat yang tau.
    yu, kalau boleh saran, fotonya agak digedein lagi dh biar bagus

    digedein aja yah gambarnya? tadinya mah pengen gitu tapi takut jadi annoying gambarnya hahaha.. okeh okeh kak yog

    August 13, 2012 at 10:57 pm
  • Andrey says:

    makanya neng maen kesana…hehehe…..

    August 13, 2012 at 10:59 pm
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    makanya neng maen kesana…hehehe…..

    emang tempatnya dimana?

    August 13, 2012 at 11:11 pm
  • johantectona says:

    panjang sekali.. namun aku tidak menyesal menghabiskannya, keren!

    haahaa saking penasaran ama paragraf berikutnya eh ga sadar itu difoto kamunya masih sangat unyu :p

    aku juga pernah loh ke magetan heheee

    August 13, 2012 at 11:19 pm
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    panjang sekali.. namun aku tidak menyesal menghabiskannya, keren!
    haahaa saking penasaran ama paragraf berikutnya eh ga sadar itu difoto kamunya masih sangat unyu :p
    aku juga pernah loh ke magetan heheee

    namanya juga 15 tahun kak jo.. masih unyu dan masih pake kawat gigi ahahha.. oyah? backpacker kesana yuuks ahhaha…

    August 13, 2012 at 11:52 pm
  • admin says:

    Seperti baca novel tapi gak bosen karena disisipkan gambar yang indah. Ayu yuk didaftarin tulisannya dan tetep semangat ngeblog :)

    August 14, 2012 at 12:03 am
  • Andrey says:

    Ada di ponorogo..

    August 14, 2012 at 12:23 am
  • johantectona says:

    namanya juga 15 tahun kak jo.. masih unyu dan masih pake kawat gigi ahahha.. oyah? backpacker kesana yuuks ahhaha…

    ayo ah.. hehe kemana kita pergi? eh,. sorry loh ya (yogi, dodd, & andry) yang di ajak aku hahaha

    langsung liat kalender ama jatah cuti hahahaha
    pasti seru nih klo beswan backpackeran rame”… :D

    August 14, 2012 at 1:46 am
  • ayu emiliandini says:

    admin :

    Seperti baca novel tapi gak bosen karena disisipkan gambar yang indah. Ayu yuk didaftarin tulisannya dan tetep semangat ngeblog

    wah ada mimin comment heheee.. iyah mau di daftarin tapi masih satu nih postingnya. ntar kalo dah buat 3 posting baru di daftarin semuanya heehehehe… makasih yaah mimin..

    August 14, 2012 at 2:57 am
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    Good job… nice story dod juda udah beberapa kali maen ke yelaga ini…. favorit dod ya maen speed boat tapi minta nyetir sendiri…. anyway sate kelinci itu enak bgt lho… teksturenya lebih halus daripada ayam #MasterChefMode:on

    zzzz kelinci itu terlalu unyu buat dimakan *emotnangis.
    eh iyah lupa, ada bebek-bebekan sama speedboat di Telaga Sarangan. Tapi aku gak mau naik speedboat. taku hehehehee

    August 14, 2012 at 2:59 am
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    namanya juga 15 tahun kak jo.. masih unyu dan masih pake kawat gigi ahahha.. oyah? backpacker kesana yuuks ahhaha…
    ayo ah.. hehe kemana kita pergi? eh,. sorry loh ya (yogi, dodd, & andry) yang di ajak aku hahaha
    langsung liat kalender ama jatah cuti hahahaha
    pasti seru nih klo beswan backpackeran rame”…

    Yeeeyyy kesannya kaya cuma ngajakin kak jo aja ni yah hhmmm… haahaha mari-mari ditengok dulu kalendernyaa

    August 14, 2012 at 3:01 am
  • suprayogi says:

    yu.. ati2 sama masjo ya.. hahhaha :)

    August 14, 2012 at 4:40 am
  • suprayogi says:

    aaa Modussssssssssssssssssssss!!!!!! mas Jo ini

    August 14, 2012 at 4:44 am
  • ayu emiliandini says:

    suprayogi :

    yu.. ati2 sama masjo ya.. hahhaha

    wah wah ada apa? ada modus? waduuhhh….

    August 14, 2012 at 8:05 am
  • rizkinovianda says:

    bagus yu paket komplit.. kayak kuliah 6 sks ya… hehe

    August 16, 2012 at 4:32 am
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    Ada di ponorogo..

    Itu yang ada reog nya yah ehhehe

    August 16, 2012 at 4:36 am
  • ayu emiliandini says:

    rizkinovianda :

    bagus yu paket komplit.. kayak kuliah 6 sks ya… hehe

    Ajigile 6 sks?? ahahhaha setara tugas akhir dong ahahah…

    August 16, 2012 at 4:37 am
  • johantectona says:

    suprayogi :

    aaa Modussssssssssssssssssssss!!!!!! mas Jo ini

    apa salah ku? kenapa aku menjadi tertuduh? hahahaha

    August 29, 2012 at 9:04 pm
  • uji says:

    ceritanya bagus yu, membuat orang pengen berkunjung, :)

    August 29, 2012 at 10:56 pm
  • ayu emiliandini says:

    uji :

    ceritanya bagus yu, membuat orang pengen berkunjung,

    Makasih kang Uji…. #lonjaklonjak

    August 30, 2012 at 3:49 am
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    suprayogi :
    aaa Modussssssssssssssssssssss!!!!!! mas Jo ini

    apa salah ku? kenapa aku menjadi tertuduh? hahahaha

    #nyimak

    August 30, 2012 at 3:50 am
  • Bu Wai says:

    Cerita yang menarik dan inspiratif. Makasih sudah sharing…

    August 25, 2014 at 12:27 pm
  • ayu emiliandini says:

    sama-sama… terima kasih sudah berkunjung ke sini :)

    August 25, 2014 at 6:09 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 times 5?