Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Ternyata (keputusan ditanganku) #40

Pintu terbuka. Aku ayun sekuat tenaga hingga hampir jatuh terjerembab, tapi belum sampai jatuh. Kepalaku langsung menghadap sosok berwajah cemas yang duduk di atas sofa ruang tamu.

Isi hati dan kepalaku sudah berantakan kaya kapal pecah. Tapi aku menata wajahku sedemikian rupa agar terlihat datar. Minimal Tiwi gak semakin cemas. Diam-diam menata nafas setelah sedikit berlari. Cukup berhasil.

“Akhirnya kamu pulang juga, Re”

Tiwi bangkit dari sofa. Aku lirik cekungan tempat Tiwi duduk. Cekungan itu butuh waktu yang lama untuk bisa kembali ke posisi semula. Perlahan-lahan serta merta pelan-pelan. Sudah berapa lama Tiwi menungguku pulang?

“Maaf aku pulang jam segini, Wi”

Tapi aku gak fokus dengan gadis sebaya yang ada di hadapanku. Aku sama sekali gak melihat sosok tante Diah.

“Ibu sudah tidur, tadi ibu nanyain kamu tapi aku bilang kamu pulang malam jadi gak usah ditungguin”

Tiwi mengerti apa yang aku cari. Kalimat itu terlontar tepat saat kedua mataku kembali menatapnya yang berjalan mendekat. Mengeluarkan kunci dari kantong celana pendeknya dan mengunci pintu.

“Terus kenapa kamu belum tidur, Wi?”

Aku masih menatap Tiwi yang kini sudah lebih dekat denganku. Tiwi menghela nafas panjang. Sepertinya jawaban yang akan aku dengar ini cukup menguras tenaganya kelak.

“Kamu bawa kunci?”

Oh! Bodohnya kamu Rea. Jelas aja Tiwi nungguin aku pulang. Siapa lagi yang bakal buka pintu kalau semuanya sudah tidur. Handphone ku juga sudah tak bernyawa sejak tadi pagi. Aku tak bisa dihubungi.

“Maaf ya Tiwi. Kamu jadi mesti nungguin aku”

Ini lebih mirip memelas dari pada minta maaf. Aku benar-benar gak terpikir sampai sini. Pikiran aku mencelat jauh kemana-mana tapi gak sampai menggapai hal sederhana seperti ini.

Sambil tersenyum, Tiwi melayangkan satu tangannya ke atas bahuku.

“Yang penting kamu gak mati gaya karena bosan di dalam aula”

Aku sedikit tersentak. Aku tiba-tiba ingat dengan gerakan tangan Tiwi yang sedikit mencurigakan saat aku mulai mati bosan di aula seminar bisnis.

“Tiwi aku mau tanya. Bagaimana bisa kamu…”

Aku menghentikan kalimatku. Senyum Tiwi semakin mengembang. Heran. Memangnya ada hal yang membahagiakan? Atau apa?

Tangan Tiwi mereda. Kini dia berjalan menjauh, seperti hendak menuju kamarnya. Aku yang masih dengan bengongnya terpaku ditempat. Tatapanku seperti lampu sorot yang mengikutin pergerakan artis di atas panggung. Menyoroti Tiwi yang membalikkan tubuhnya setelah beberapa kali melangkah.

“Aku belum sempat cerita tentang Chris”

“Aahh ya. Dia jurusan manajemen bisnis”

Berguman sendiri tapi aku yakin Tiwi juga bisa mendengar gumamanku dengan latar suasana sehening ini. Aku mengerti sekarang. Chris dan Tiwi kuliah di kampus dan jurusan yang sama. Gak menutup kemungkinan mereka saling kenal. Kalau Gery mendapatkan alamat emailku dari Chris, gak terlalu sulit untuk Tiwi mendapatkan nomor handphone Gery. Dari sumber yang sama. Chris.

Kepalaku naik turun berkali-kali karena baru kupaham kondisi yang sebenarnya. Manggut-manggut kaya ayam.

Kedatangan Gery di bangku sekitar aula memang bukan hal tanpa sengaja. Tiwi pasti mengabari Gery. Jelas demikian, handphoneku sudah tak bernyawa sejak perjalanan menuju lokasi seminar.

“Sebenarnya aku sudah dapat kabar dari Gery kalau kamu dalam perjalanan pulang”

Kalimat Tiwi belum selesai. Intonasinya menggantung.

“Tapi aku terlalu khawatir jadi memilih nunggu”

“Thanks ya, Tiwi”

Masih tersenyum di sana.

“Yang penting kalian sudah bertemu. Itu kan yang kamu mau, Re?”

Iya. Tapi jawaban ini bukan keluar dengan lugasnya dari mulutku. Senyum ringan dari lekukan bibirku juga sudah menjawab pertanyaan Tiwi.

“Cepat tidur, besok kita harus berangkat pagi-pagi”

Kalimat Tiwi mengingatkan aku tentang keberangkatan kereta besok pagi. Besok saatnya kembali ke Kota Bandung. Singkatnya hari ini. Baru aku sadari ini semua seperti sesaat setelah sudah tiba waktunya kembali pergi.

“Tiwi, sebelum tidur aku boleh pinjam leptopmu sebentar”

***

Ini jauh lebih baik dan lebih segar. Wajahku memang gak berkeringat karena Malang dan Batu terlalu sejuk untuk berkeringat. Minimal kotoran di wajah berminyakku sudah hilang bersama dinginnya air. Aku baru beres cuci muka.

1 mail message

Aku sengaja membiarkan leptop Tiwi menyala. Koneksi modem di rumah ini ternyata tak selancar yang kukira. Sempat ku tinggal cuci muka sambil menunggu loading.

Email dari Jordan.

Tak banyak kalimat dalam email ini. Hanya beberapa dan satu file. Foto. Aku lebih tertarik membuka file terlebih dulu.

Entah dari mana datangnya daya ini. Kedua ujung bibirku seperti di tarik dari kanan dan ke kiri. Aku benar-benar tersenyum saat melihat apa yang telah Jordan lakukan.

Hamparan rumput yang hijau. Terlihat segar. Beberapa manusia yang tergeletak di atas rumput. Membentuk qwerty body yang bertuliskan ‘happy birthday Rea’. Entah berapa orang yang berjejer rapi seperti ini. Yang pasti aku lihat ada Jordan yang berperan sebagai huruf ‘i’ dan Bernard berperan sebagai huruf ‘r’. Ekspresi Bernard nampak kesal. Mungkin terlalu lelah terus membungkuk. Jordan tersenyum dengan lepasnya menghadap camera yang memotret objeknya dari atas. Entah bagaimana teknis dari pembuatan foto ini. Benar-benar sukses membuatku sumringah sendiri.

“Selamat ulang tahun ya Rea ku sayang. Wish you all the best. Mungkin kalimat itu terlalu umum dan awan tapi memang aku terus mendoakan segala yang terbaik untukmu. Miss you so much honey.”

Seketika aku teringat dengan apa yang baru terjadi beberapa jam yang lalu. Mata ini masih menyoroti layar leptop tapi tidak dengan penguhi otak ini. Pikiranku.

Ini lebih mirip menggenggam ketimbang meraba bintang kecil berkilau di leherku. Sekarang bola mata ini sedikit berputar ke aras tepi meja rias. Jaket Gery yang tak sempat ku kembalikan masih tergeletak di sana.

“Minimal setelah aku bertemu Gery kali ini, aku punya keputusan untuk menentukan bagaimana aku nanti. Bantu aku Tiwi”

Aku mendengar suaraku sendiri bergaung dalam kekosongan otakku. Aku ingat pernah melontarkan pernyataan ini beberapa saat setelah membeli tiket kereta api tujuan Malang. Tiwi sudah sangat… amat sangat membantu. Bahkan berinisiatif menghubungi Gery melalui Chris.

Lantas bagaimana keputusanku? Bagaimana setelah ini? Apa yang harus aku lakukan?

Disini benar-benar sesak tapi masih kosong. Entahlah, lebih mirip lorong yang sesak walau sangat lapang. Kalau sesak begini berarti ada yang kurang. Kurang udarakah? Atau justru sudah terisi penuh dan menekan dinding lorong hingga jadinya sesak? Terisi apa?

Genggaman tangan ini sekarang bersandar tepat di atas organ paru-paruku.

Tuhan tolong aku. Harus aku tinggalkan Gery dalam keadaan seperti ini? Bukan. Ralat. Sanggupkan aku meninggalkan Gery dalam keadaan sesak seperti ini? Gery? Bagaimana Gery?

Aku jadi lebih takut ketimbang khawatir. Mata yang berkilat. Tangan yang mengepal. Rahang yang mengeras. Gery lebih serupa dengan monster.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    Eeaaaa…. Rea lagi galau tingkat dewa…

    eeeaaaaaa

    August 22, 2012 at 9:44 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 8?