Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Aku & Ketinggian Sekian Ribu Kaki

Ibarat salah satu makhluk ciptaan Tuhan.
Aku gak lebih dari susunan beberapa indera untuk membaca segala semesta yang Tuhan ciptakan.

Aku punya kulit untuk merasakan panas dinginnya suhu segala hal yang tersentuh. Kali ini dingin dan kering. Aku terpapar AC untuk beberapa saat kedepan.

Aku punya mulut untuk bicara. Namun indera yang satu ini lebih populer dengan fungsinya untuk mencela dan protes. Terus menerus bicara dan lupa dengan fungsi otak yang harusnya bekerja lebih dulu. Berpikir.

Aku punya hidung untuk menghirup berbagai jenis udara beserta polutannya. Terbatuk-batuk. Berdahak gatal. Tapi kini aroma AC cukup buat sesak sesaat. Segar tapi kering. Bukan hawa sejuk yang aku idam-idamkan. Aku harap 2 jam cukup berkutat dengan ini.

Aku punya telinga sebagai tempat earphoneku singgah. Aku tau di dalam awak kabin, tekanan udara yang disediakan tidak akan membuatku mual karena mabok. Tapi suara mesin pesawat yang buat aku muak. Gak ada merdu-merdunya sama sekali. Walau volume dalam earphone sudah mentok.

Ini dia, indera favoritku. Itu sebabnya aku benci gelap yang melumpuhkan indera yang satu ini. Satu-satunya indera yang butuh alat bantu untuk bekerja optimal dan aku bangga dengan alat ini. Perpaduan kaca dan mata. Yeah, Kaca Mata Saya.

Saat ini aku dibatasi dengan jendela oval yang tak tertarik aku ketahui berapa ukurannya. Yang pasti lebih lebar dari lensa kacamata old style ku.

Dengan melihat aku paham. Dengan melihat aku belajar. Dengan melihat aku terbatas (memang mataku tak seluas semesta). Dengan melihat aku merasa kecil. Dengan melihat selalu berkata ‘waw’ dan melayangkan jari telunjukku, masih berkata,”itu keren”. Dengan melihat aku menjadi aku.

Seperti melihat langit yang kini sejajar dengan kedudukanku. Seperti melihat awan yang ternyata mirip selaput kapas yang sebagian menggumpal dan sebagian terberai. Seperti indera peraba yang mengeras dan mengendur saat mendaratkan sebagian kulitku di permukaan kaca jendela pesawat. Dingin ini suhu awak kabin. Bukan suhu semesta langit di luar sana. Aku lihat ada dua lapis kaca yang pasti berbeda material.

Seperti biru langit yang baru kutau punya berbagai jenis warna biru. Biru cerah, biru gelap, biru hangat, biru temaram, dan biru keabu-abuan kemejaku. Seperti warna laut yang tak melulu biru gelap dengan kesan dalam, dingin kemudian sesat. Ada hijau cerah, ada tosca hangat, ada biru terang menyapa, “lihat keindahan tubuh dibawah sini”, ada cokelat pasir pantai.

Tapi aku masih punya organ tubuh yang menjadi senjata tanpa peluru. Senjata yang menembak visualisasi setiap orang yang memandangku. Memandangku langsung atau memandang deretan huruf dari tulisanku. Sepuluh jari mungil yang alhamdulillah masih lengkap.

Aku pernah menobatkan diri sebagai seniman lukis ber-crayon. Aku suka warna, aku suka kertas berwarna, aku pahan gradasi warna, aku telaten, aku teliti. Aku mengabadikan keindahan yang aku lihat dengan goresan crayon Tapi crayon itu habis, seperti cat air yang kadang kala kering.

Aku melanjutkan penobatan diri dengan camera semi SLR. Berawal dari asisten fotografer aku harap aku semakin lihai mendokumentasikan perjalanan hidupku. Berkutat dengan waktu yang gak mau tahu. Ibarat kereta yang tak dilengkapi rem. Tapi ketika kamera rusak. Maka kamera enggan melihat seperti layaknya mata.

Lantas aku harus apa? Mengabadikan keindahan semesta hanya dengan memori payah yang terkenal dengan bad shorthem and longtherm memory? Otakku bisa-bisa over load.

Kemudian menarilah sepuluh jari ini di atas puluhan alphabet dari a sampai z yang lengkap dgn titik dan koma. Terus mengalir bersamaan dengan kecepatan otakku memutar dokumentasi memori film yang mataku rekam beberapa saat lalu. Terus menulis seperti orang gila yang keranjingan.

Kalo dulu aku selalu bangga dengan istilah “picture tells everything”, namun kini aku punya cerita baru.

“My words imagine you everything”

Kemudian tersenyum sesaat karena puas. Aku menemukan duniaku yang cukup lama mati suri. Kalau kehilangan mulut aku masih bisa menulis. Kalau kehilangan telinga aku masih bisa membaca. Kalau kehilangan mata dan jari-jariku, lebih baik aku mati karena aku sebut ini buta…

Category: Mata Kata Sajak
Tag:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?