Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Denpasar & Bocah Tujuh Tahun

Aku baru pulang dari kampus sore itu. Belum semenit duduk selonjoran di kamar kos, Bibi berteriak dari lorong.

“Ada paket dari Balikpapan neng?” kata Bibi sambil menyerahkan amplop cokelat padaku. Amplopnya agak lecek.

Ini dia paket yang aku pesan khusus dari kampung halaman, Kota Balikpapan. Aku memastikan alamat dan nama pengirimnya, semua benar. Tepat di sudut kanan atas amplop, ada sesuatu yang menarik perhatian manik mataku untuk meliriknya. Cap biru kusam, Pos Express Balikpapan

Aku merobek sisi amplop dan menuangkan semua isinya ke atas lantai kamar kos. Segenggam tumpukan foto berukuran 3R membuncah di lantai kala itu. Semuanya foto lama jadi wajar bila tidak terlihat kinclong. Kusam dimakan usia. Kuperhatikan satu per satu, sebagian ada yang aku kenal sebagai pajangan manis di ruang tamu. Berarti mama rela melepasnya dari bingkai dan mengirimkan semuanya ke Bandung. He-he… mamaku, mama yang totalitas.

***

Liburan di rumah nenek memang selalu menyenangkan. Liburan sekolah, siapa sih yang gak suka? Tapi ada yang aneh dari liburan kali ini. Tiba-tiba papa dan mama terlihat berkemas-kemas dengan beberapa koper dan kardus.

“Pa, kita mau kemana?” Tanyaku pada papa.

Aku yang lagi asik lari-larian bersama sepupu seumuran dan beberapa anak tetangga di sekitar rumah nenek serta-merta lari mendekati papa. Waktu itu papa sedang mengatur nafas yang ngos-ngosan setelah selesai menutup satu kotak kardus dengan selotip warna cokelat.

“Kita mau ke rumah bude Pur,” jawab papa yang bertelanjang dada karena gerah. Rumak nenek di Sidoarjo juga sama gerahnya dengan Balikpapan.

Aku tahu bude Pur. Aku panggil bude karena beliau kakak perempuan papa. Tapi kenapa harus dengan berkotak-kotak kardus dan koper?

“Kita mau ke Kota Denpasar,” lanjut papa lagi sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan.

Intonasi papa nampak riang namun tidak dengan reaksi wajahku. Dahi berkerut dan manyun. Denpasar? Kita mau ke pasar? Rumah bude Pur deket pasar yah? Batinku tak berhenti bertanya-tanya.

***

Masih dengan tanda tanya yang beterbangan di atas kepala. Kita mau ke pasar? Tapi kenapa harus pake bus? Tempat ini ramai dengan berbagai jenis bus yang sedang parkir. Aku dan keluarga sedang berada di terminal bus. Orang sekitar sini biasa menyebutnya dengan Terminal Bungurasih Surabaya.

Aku sudah berkali-kali tanya, Denpasar itu apa tapi jawabannya selalu sama, “lihat saja besok”. Yah sudahlah, kita lihat saja besok.

Selain papa, mama dan Indri (waktu itu Kiki belum lahir) bulek Santi juga ikut pergi bersama kami. Bulek itu panggilan untuk adik perempuan dari orang tua, bulek Santi itu adiknya papa. Aku duduk berdua dengan bulek Santi di dalam bus. Aku duduk di samping jendela raksasa karena aku yang minta.

“Bulek, kapan kita sampai di Denpasar?” Tanyaku sambil duduk anteng di kursi bus.

“Besok, begitu matahari terbit kita sudah sampai,” begitu saja jawaban bulek. Baiklah, aku dirundung rasa penasaran.

Perjalanan dari Surabaya ke Denpasar memakan waktu semalaman. Dan saat aku berangkat langit sudah mulai gelap. Senja menuju malam.

“Nanti kita naik kapal veri lho,” tahu-tahu bulek Santi berseru padaku.

“Kapal veri itu apa?” Belum selesai urusan kota aneh bernama Denpasar, ditambah lagi istilah kapal veri. Aku cuma tahu kapal Pelni. Kapal penumpang yang biasa aku dan keluarga tumpangi setiap pulang kampung ke Sidoarjo, rumah nenek.

“Itu kapal kecil, transportasi penghubung antar pulau,” demikian bulek Santi menjawab dengan amat singkat.

Antar pulau? Jadi Denpasar itu diluar Pulau Jawa? Lantas sebenarnya kita mau kemana???? batinku geregetan. Baiklah, malam ini aku mati penasaran.

***

Aku sempat ragu kapan tepatnya foto-foto ini diambil. Tidak kutemukan keterangan tanggal berwarna kuning yang biasanya ada di sudut kiri bawah foto. Kemudian aku menemukan tulisan mama di balik salah satu foto yang aku genggam.

Alas Kedaton Bali, Februari – 1998.

Aku tertawa kecil waktu melihat lagi Ayu kecil tanpa kacamata. Kulit cokelat kemerahan karena tidak hobi main di dalam rumah. Rambut pendek di atas bahu dan poni rata di atas alis. Aku lebih mirip tokoh Dora The Explorer tanpa ransel dan bando polos hasil pinjaman sepupu melingkar di atas kepalaku.

Ini adalah kisah Ayu kecil 14 tahun yang lalu.

***

“Ayu, sudah sampai Denpasar nih,” suara bulek Santi membangunkan aku.

Aku mengucek mata yang masih lengket saat sinar matahari telah menerobos masuk dari kaca jendela tanpa permisi. Orang-orang di dalam bus mulai bersiap-siap untuk turun termasuk bulek Santi. Dari tadi bulek yang satu ini nggak beres-beres persiapannya, ternyata lagi nyariin sandalku yang hilang sebelah. Lah?!

Ayu kecil cuma bisa duduk manis dan bengong melihat tingkah buleknya. Sambil menunggu bulek mencari sandal, aku beralih pada pemandangan di luar jendela. Matahari sudah terang. Banyak wanita-wanita yang masih menggunakan kebaya berseliweran kesana-kemari. Kebaya dengan warna-warna cerah dan rambut panjang menjuntai hingga pinggang. Sesaji beruba lembaran kelopak berbagai bunga dan dupa. Sebagian bapak-bapak ada yang menggunakan ikat kepala khas yang sepertinya pernah aku lihat. Pernah lihat di foto-foto tentang majalah nusantara atau dari televisi.

Ini kok kayak di Bali yah? Aku bingung bukan kepalang.

***

Lembar demi lembar aku perhatikan dengan seksama. Dari sepuluh lembar foto yang dikirim dari Balikpapan, aku selalu ada di dalam foto. Dari bocah saja sudah eksis. Yang pasti, aku masih ingat dengan baju yang aku pakai dalam foto. Baju itu dibeli di Bali. Sepatu dan ransel sengaja dibawa dari Balikpapan karena aku yang minta. Dulu itu sepatu dan ransel kesayanganku. Aku masih ingat. Wow hebat!

***

Seperti perumahan pada umumnya. Sepi. Rumah bude Pur memang berada di area perumahan. Yang berbeda di sini, yang berkeliaran itu bukan ayam atau bebek seperti rumah nenek di Sidoarjo, tapi anjing-anjing liar. Gara-gara ini aku minta digendong dan enggan turun sampai benar-benar masuk ke dalam rumah bude Pur.

Cape deehh… Dasar bocah.

***

Pagi pertama di rumah bude Pur. Pagi ini aku sarapan sate. Kebetulan ada bapak-bapak penjual sate keliling yang lewat semalam. Akhirnya beli sate (lagi… lagi… dan lagi… karena aku yang minta). Semalam beli sate kebanyakan, jadinya dipanaskan lagi untuk sarapan.

Ada pemandangan yang cukup buat aku terperangah. Tetangga bude sedang berdiri di depan batu yang mirip patung. Dengan ikat kepala khas adat Bali, bapak ini memejakan mata dan menyatukan dua telapak tangannya seperti sedang berdoa. Aku baru pertama kali melihat pemandangan ini.

Bapak-bapak yang sebaya dengan papa ini selesai melakukan aktifitasnya dan membuka mata. Aku masih terpaku di tempat. Kemudian pertanyaan konyol khas anak usia tujuh tahun pun terlontar dengan polosnya.

“Om lagi ngapain?” Tanyaku pada tetangga bude.

Dengan senyum sumringah, tetangga bude ini menjawab dari sana. Saat itu ada pagar dinding yang membatasi pekarangan rumah bude dengan tetangga yang satu ini. Jelas aja aku bisa nongol dari balik dinding pagar karena aku berdiri di atas kursi yang lagi nganggur.

“Om tadi sedang sembahyang. Sama seperti adik kalau shalat di masjid,” jawab tetangga bude dengan amat ramah. Seketika aku senang bertemu dengannya.

Tapi ada yang aneh. Ya, logat bicaranya aneh. Beda dengan logat papa, mama dan juga bude Pur. Berbeda dengan logat teman dan guru-guruku di sekolah. Apa ini yah logat orang Bali?

Kemudian bapak ini mendekat, seperti ingin menunjukkan sesuatu dari luar pagar. Aku mengikuti.

“Kalau adik sembahyang kan perginya ke masjid,” salah satu tangan bapak itu menunjukkan masjid yang jaraknya sekitar 7 meter dari tempat aku dan bapak ini berdiri.

Aku manggut-manggut tanda mengerti. Aku kerap shalat disana ketika adzan tiba.

“Nah kalau om sebahyangnya disana, namanya pura,” jari telunjuk bapak ini bergeser ke arah bangunan yang awalnya aku pikir candi. Ukirannya mirip candi borobudur yang biasa aku lihat di buku atlas. Ternyata itu bukan candi tapi pura.

Oya! aku ingat. Kalau ibadahnya di pura berarti bapak ini memeluk agama hindu. Guruku pernah bilang waktu di kelas.

Dan sangat mengejutkan. Pura ini terletak tepat di depan masjid. Jadi posisi masjid dan pura saling berhadapan. Ayu kecil terkesiap. Belum pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.

Tempat ibadah yang berdampingan ini seperti simbol perdamaian itu indah.

Ayu kecil sumringah dan tersenyum lebar memamerkan deretan gigi susu mengikuti senyum tetangga bude yang baik hati ini.

***

Bolak-balik kedua tanganku sibuk melihat lembar-lembar foto ini. Sudah berulang-ulang kulihat. Tapi aku terhenti di salah satu foto. Ada aku, mama, Indri dan seekor kera di dalam foto itu.

Ini foto yang diambil di Alas Kedaton. Sebenarnya nama Alas Kedaton ini adalah nama pura yang terdapat di Desa Kukuh, Kecamatan Marga yang berjarak 4 km dari Kota Tabanan, Bali. Selain terkenal sebagai pura suci tempat ibadah para umat hindu, Pura Alas Kedaton ini juga terkenal dengan sebutan Kerajaan Monyet. Ya, banyak sekali satwa primata yang satu ini dibiarkan berkeliaran hidup bebas di dalam pura. Bebas, tanpa rantai pengikat dan tanpa kandang. Ayu kecil dalam foto, saat itu datang sebagai pengunjung dan dapat berinteraksi langsung dengan monyet-monyet disana.

Aku difoto dari samping. Terlihat bengong dengan si monyet yang hendak menyambar kacang rebus dari tangan mama. Kalo dilihat-lihat, monyet dewasa ini ukurannya besar sekali. Kalau dibandingkan dengan tubuhku saat itu, bisa dibilang monyet ini dua per tiga dari tubuhku. Ekspersiku lebih mirip takut ketimbang bengong he-he… Ayu kecil takut sama monyet

***

Aku bingung tempat apa ini. Banyak pepohonan tinggi seperti hutan tapi ada bangunan mirip sekali dengan pura yang aku lihat di komplek perumahan bude Pur. Tapi pura yang ini lebih besar dan anggun. Bangunan tua di tengah-tengah pepohonan rindang dan monyet. Banyak monyet di sini. Ini pertama kalinya aku melihat hewan liar dengan jumlah yang banyak tapi tidak di dalam kandang.

Antara takut tapi penasaran akhirnya aku melangkah pasti menghampiri monyet-monyet itu. Ada anak monyet yang masih bergelayutan di tubuh induknya. Ada monyet dewasa yang tubuhnya tambun. Ada monyet mungil yang tubuhnya lebih kurus. Ternyata ukuran monyet bisa berbeda yah. Aku pikir semuanya sama.

Tiba-tiba ada yang menyentuh tanganku. Waktu aku putarkan kepala ke arah tangan kananku, ternyata ada seekor monyet yang berusaha mencuri sekantung kacang rebus yang sedari tadi aku genggam. Aku yang kaget justru teriak histeris. Kantung kacang rebus? Terlempar entah kemana. Kemudian kantung kacang jatuh ke tanah dan langsung diserbu beberapa ekor monyet, begitu bubar kacangku sudah lenyap. Tersisa kantung plastik yang terkoyak. Ayu kecil terkesiap dan bengong ditempat. Monyetnya lapar ya?

Kemudian aku dengar suara bude Pur memanggil nama ku dan berpose. Hap.

papa, monyet kelaparan, mama, Indri, dan aku (bocah sumringah)

papa, monyet kelaparan, mama, Indri, dan aku (bocah sumringah)

Kejar-kejaran dengan monyet memang seru. Aku sibuk lari-larian mengejar seekor monyet yang sukses merebut kacang dari tanganku (lagi, untuk yang kesekian kalinya). Ada kalanya aku dikejar monyet tambun dan besar yang ngiler dengan pisang yang aku bawa. Niat pamer malah diuber monyet seukuran bagong. Dasar bocah (geleng-geleng kepala).

Selesai sudah kompetisi maraton dengan monyet, santai-santai dulu di saung yang ada di sekitar pura.

***

Tanah Lot Bali, Februari – 1998

Aku temukan tulisan ini di balik sebuah foto yang diambil di Tanah Lot. Ya, aku ingat. Setelah mengunjungi Pura Alas Kedaton, aku dan keluarga pergi ke Pantai Tanah Lot

Bisa dibilang pantai yang satu ini adalah maskotnya Pulau Dewata. Pantai ini terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

***

Pantai yeah. Bocah mana sih yang nggak suka pantai. Walaupun di kota kelahiranku juga banyak terdapat pantai tapi tetap aja aku dan Indri girang. Saking semangatnya, aku dan Indri melepas sepatu kemudian berganti sadal jepit yang ternyata sudah dipersiapan mama. Masih ada lagi, aku dan Indri dibelikan topi kembar bertulisan Pantai Tanal Lot.

Tapi pantai ini sedang dalam kondisi gelombang pasang. Arus pantainya ganas. Ombak besar yang terpecah saat terhantam dengan tebing-tebing di sekitar bibir pantai. Air cipratan cukup buat baju jadi basah kuyup. Angin juga bertiup kencang. Karena sudah ada peringatan disana-sini akhirnya kami hijrah ketempat yang ombak dan anginnya lebih bersahabat.

Untuk dua bocah yang satu ini, dimana pun tempatnya yang penting happy.

Di sekeliling Pantai Tanah Lot ternyata terdapat pura tapi ukurannya lebih kecil dari pura Alas Kedaton. Asik juga ya kalo tempat sembahyangnya di pinggir pantai begini. Khayalan semata bocah  usia tujuh tahun.

Bertingkah ajaib dulu di depan kamera.

Bertingkah ajaib dulu di depan kamera.

***

Tarik nafas dan buang kuat-kuat dari mulut.

Masa-masa paling indah itu memang masa kecil. Nggak ada beban. Bebas berkhayal apa pun, berbas berpikir apa pun, bebas bertindak apa pun. Bertindak apa pun? Ya, mulai dari ngejar monyet yang nyolong kacang sampai akhirnya dikejar balik gara-gara pamer pisang, apa lagi kalo bukan bebas bertindak apa pun haahhaaa… Kalau sekarang mau bertingkah begitu hhhmmm… sepertinya sulit hahaha… Semakin dewasa, semakan banyak hal yang membatasi pergerakan. Pengen jadi bocah lagi.

Ternyata memori otakku tidak seburuk yang aku kira heheheheee… Keajaiban Ayu kecil ternyata tetap lestari hingga saat ini (backsound suara tepuk tangan, prook prook prooook).

Ini cerita #travelingwitherigo ku untuk #blogcompetitionerigo2016. Mana ceritamu?

Category: Lensa Bercerita
  • Andrey says:

    Ini si Ayu waktu kecil ya…

    August 29, 2012 at 9:43 am
  • yohaneselnikodimas says:

    tatapan matanya masih sama sampe sekarang *aseeeek hahha

    August 29, 2012 at 10:02 am
  • fuadhasan says:

    tulisannya seperti ayu biasanya :)
    dari dulu tengil yes, gedenya apalagi :DD

    August 29, 2012 at 11:43 am
  • ayu emiliandini says:

    Andrey :

    Ini si Ayu waktu kecil ya…

    iyaaaaaa #suarabocah

    August 29, 2012 at 7:53 pm
  • ayu emiliandini says:

    yohaneselnikodimas :

    tatapan matanya masih sama sampe sekarang *aseeeek hahha

    auuuw auuuww #nyanyi lirikan matamu menarik hati #jogediwakpeyek

    August 29, 2012 at 7:53 pm
  • ayu emiliandini says:

    fuadhasan :

    tulisannya seperti ayu biasanya
    dari dulu tengil yes, gedenya apalagi :DD

    Gedenya back to normal dong ahahahaha

    August 29, 2012 at 7:55 pm
  • johantectona says:

    siaulll, kenapa kamu ajak aku kembali merasakan menjadi bocah nak? hahaha

    denpasar? kita mau ke pasar? kapal veri itu apa? ini kok kayaknya bali ya? dari bocah sudah eksis, ayu kecil tanpa kaca mata, om lagi ngapain? hahaha dasar bocah sumringah yang POLOS..

    jempol deh tulisannya… keyeeeennn :D

    August 29, 2012 at 8:30 pm
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    siaulll, kenapa kamu ajak aku kembali merasakan menjadi bocah nak? hahaha
    denpasar? kita mau ke pasar? kapal veri itu apa? ini kok kayaknya bali ya? dari bocah sudah eksis, ayu kecil tanpa kaca mata, om lagi ngapain? hahaha dasar bocah sumringah yang POLOS..
    jempol deh tulisannya… keyeeeennn

    auuw aauuw masjo mujinya ketinggian.. aku tak kayang sek yo #kayang

    August 29, 2012 at 8:39 pm
  • uji says:

    masa kecil, dulu kita ngerasanya udah bisa tau semuanya,
    pas udah gede kita nyadar, kita belum tau ini itu,
    tapi kita bisa bertambah terus pengetahuannya..

    tapi pengalaman mah ga bakal pernah berkurang berkesannya,
    kata bang haji juga, masa muda masa yang berapi-api..hehe

    August 29, 2012 at 10:46 pm
  • Marhaindra Gary says:

    wuish, si ayu, gak gede gak kecil tetep aja sumungeringah (ntah gimana tulisannya)….

    August 30, 2012 at 3:48 am
  • ayu emiliandini says:

    uji :

    masa kecil, dulu kita ngerasanya udah bisa tau semuanya,
    pas udah gede kita nyadar, kita belum tau ini itu,
    tapi kita bisa bertambah terus pengetahuannya..
    tapi pengalaman mah ga bakal pernah berkurang berkesannya,
    kata bang haji juga, masa muda masa yang berapi-api..hehe

    hahaaha makasih kang uji..
    #suararocker Judiiiii……

    August 30, 2012 at 3:49 am
  • ayu emiliandini says:

    Marhaindra Gary :

    wuish, si ayu, gak gede gak kecil tetep aja sumungeringah (ntah gimana tulisannya)….

    Sumringah ger,,, sumringah ahahahhaa

    August 30, 2012 at 3:51 am
  • P. Agnia Sri Juliandri says:

    Kamu bakat nulis novel yaaahhh :)

    September 2, 2012 at 1:30 am
  • ayu emiliandini says:

    P. Agnia Sri Juliandri :

    Kamu bakat nulis novel yaaahhh

    ihiiiyy bakat terkubur ahahah bukan terpendam lagi sebenernya…

    September 2, 2012 at 10:22 am
  • ahmadzikra says:

    kalo nules cerpen atau novel, pasti bakalan jadi best seller ini.
    salut sama cara penulisan terutama alur maju-mundurnya.
    *dan semakin pengen ke pasar… eh salah, denpasar :D

    September 4, 2012 at 12:27 am
  • ayu emiliandini says:

    ahmadzikra :

    kalo nules cerpen atau novel, pasti bakalan jadi best seller ini.
    salut sama cara penulisan terutama alur maju-mundurnya.
    *dan semakin pengen ke pasar… eh salah, denpasar

    makasih kang.. jadi best seller? Amiin banget yah amin hahaaa…
    iyah itu katrok banget jaman bocah gak tau denpasar. maaf masih bocah ahahahaa..
    Salam kenal.. saya ayu beswan 27 kang

    September 4, 2012 at 5:50 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 times 9?